Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Diam, Jika Ingin Posisimu Aman!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Awal pekan yang cerah, secerah hati Raksa hari ini. Tanpa beban pekerjaan yang menumpuk, dia datang ke kantor dengan setelan jas biru tua yang menjadi pilihannya hari ini.


"Selamat pagi, pak?" beberapa staff menyapanya.


"Pagi," ucap Raksa yang belum terbiasa disapa dengan begitu sopan.


Padahal dulu ya, kalau mau nyapa ya cuma pake 'Hey. Sa? apakabar! masih idup lo? kok nggak pernah keliatan?' ya udah kayak gitu doang. Malahan lebih asik menurut Raksa daripada sekarang yang malah kerasa kikuk.


Raksa pun naik lift menuju ruangannya yang baru.


"Eh, Farid udah dateng belum, ya?" Raksa pun memencet angka lain. Dia yang tadinya mau ke ruangannya sendiri, jadi naik ke atas lagi ke ruangan yang dulu jadi tempat ajang lembur.


Setelah sampai disana, Farid belum ada.


"Tumben banget jam segini belum nongol? kemana tuh orang?" gumam Raksa.


"Widih, pak Raksa lagi sidak divisi lama apa giman, neh?" tanya Febrian, yang duduk di deket mejanya Farid.


"Jangan manggil 'Pak' lah, nggak enak gue dengernya. Biasa aja lagi, Yan!" kata Raksa.


"Farid kemana? tumben mejanya masih bersih?" lanjutnya.


"Sakit dia! kemaren lembur sampe malem. Mungkin ketempelan setan disini, makanya besoknya langsung meriyang. Katanya sih hari ini dia mau ke rumah sakit, mau periksa!" kata Febrian yang mulai menata lembar demi lembar kerjaan.


"Tumben dia mau lembur?"


"Ya kan kerjaan lo yang segunung itu dihandle Farid semua sekarang. Sebenernya kan kita yang paling kekurangan tenaga, bayangin aja segini orang buat ngurusin sekian ribu karyawan! ajiib banget lah, definisi budak yang dibayar!" kata Febrian.


"Ya udah, gue balik lagi ke ruangan gue! thank you, ya?" ucap Raksa yang kemudian keluar darisana dan menuju ruangannya.


Lagi bosen naik lift, Raksa iseng naik tangga darurat.


"Suara apaan, tuh?" Raksa penasaran karena ada suara-suara aneh disana. Kayak ada orang yang lagi adu lambe.


Penasaran Raksa pun naik ke atas.


"Nggak ada setan pagi-pagi gini, ah!" gumamnya yang dengan langkah penuh hati-hati.


Dia menaiki satu anak tangga demi anak tangga, suara ceplak-ceplok telor pun makin kedengeran.


"Udah nggak bener nih! karyawan mana yang berbuat tidak-tidak di kantor ini? sepagi ini pula?!" ucap Raksa yang udah makin jelas apa yang didengernya.


"Nanti siang kita ketemu di restoran biasa," ucap seorang pria dengan suara yang serak-serak basah.


"Hemph?!" sebelum si wanita bicara, Raksa denger orang yang sedang dibungkam.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, langkah Raksa berhenti.


Raksa ngeliat Tania yang sedang dicium seseorang. Dengan blouse yang ditarik talinya. Si Tania pakai blouse yang bertali, yang nanti talinya dijadikan simpul pita. Nah, si tali itu udah terlepas.


"Tania?" panggilnya lirih.


Mata Tania membulat saat ngeliat Raksa yang berdiri di salah satu anak tangga. Tania segera melepaskan tautan bibirnya dengan pria yang sedang bersamanya.


"Raksa? ehm, ini..." Tania gugup, dia kepergok sekarang.


Pria itu berbalik dan menatap Raksa dengan tatapan tajamnya.


"Pak Galang?" lirih Raksa nggak percaya.


Orang yang sedang berada berduaan dengan Tania adalah orang yang mempunyai jabatan lebih tinggi diatas Raksa.


Pak Galang pun berusaha menormalkan air wajahnya, "Emh, ini tidak seperti yang---"


Raksa hanya geleng kepala melihat kondisi Tania yang udah acak-acakan.


"Sepertinya kita perlu bicara! ke ruangan saya sekarang!" ucap pak Galang pada Raksa.


Pak Galang pun membuka pintu darurat dan pergi menujuĀ  ruangannya, sedangkan Raksa masih menatap Tania nggak percaya. Dia nggak menyangka seorang Tania bisa berbuat hal yang memalukan.


"Kayaknya lo perlu perbaiki penampilan lo, Tan?!" ucap Raksa.


Raksa hanya tersenyum, "Lo harusnya tau kalau pak Galang sudah punya keluarga, Tan! astaga..." Raksa pun meninggalkan Tania sendirian di sana.


Raksa berjalan mengikuti kemana pak Galang memintanya buat bicara. Dia tersenyum pada beberapa orang yang berpapasan dengannya.


Tok!


Tok!


Raksa mengetuk pintu.


"Masuk!" ucap pak Galang dari dalam.


"Permisi," Raksa pun membuka handle pintu.


"Kita duduk disana," ucap pak Galang menunjuk sebuah sofa.


Raksa menurut saja, dia duduk dengan nyaman di salah satu sofa panjang. Sedangkan pak Galang duduk di salah satu soffa single menghadap lawan bicaranya.


"Oh ya, saya dengar kamu kepala divisi operasional yang baru? apa benar begitu?" tanya pak Galang.


Tapi bukannya menjawab, Raksa malah mengambil tisu dan memberikannya pada pak Galang, "Maaf ada noda lipstik di bibir anda!"

__ADS_1


Pak Galang pun menerimanya dengan salah tingkah, "Hahahaha, ini hanya---" ucapnya menggantung.


Dia mengusap bibirnya dengan tisu putih yang kini berubah warna jadi kemerah-merahan. Dia meremmas tisu bekas itu dan menaruhnya di atas meja.


"Kamu tau kan kalau saya ini direktur operasional? yang artinya saya memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari kamu," ucap pak Galang dengan tatapan mengintimidasinya.


"Tentu anda memiliki itu," Raksa dengan santai.


"Dan tentu juga kamu tau apa yang harus kamu lakukan!" ucap pak Galang.


"Anda ingin saya tutup mulut?"


"Ya semacam itulah! karena kalau tidak, kamu akan mendapatkan masalah besar!" pak Galang dengan pedenya.


"Sebenarnya bukan urusan saya, anda ingin berhubungan dengan siapapun, tapi Tania itu---"


"Apa?"


"Tania itu teman saya. Dan saya tidak menginginkan hal buruk terjadi padanya!" Raksa yang untungnya nggak keceplosan kalau Tania itu gebetannya Farid.


"Hal buruk tidak akan terjadi kalau kamu melupakan apa yang kamu lihat tadi. Dan bekerjalah dengan baik, karena asal kamu tau. Kamu berada di posisi ini juga karena Tania yang memintaku untuk mengangkatmu saat posisi kepala divisi mengalami kekosongan. Jadi, jaga sikapmu mulai sekarang!" kata pak Galang.


'Tania? kenapa Tania?' batin Raksa yang terkejut dengan ucapan yang terlontar dari pak Galang.


"Kamu boleh keluar sekarang!" suruh pak Galang.


Raksa pun berdiri dan sedikit membungkukkan badannya, "Kalau begitu saya permisi!"


Dan saat Raksa menyentuh handle pintu, pak Galang pun bicara lagi.


"Diam, jika kamu ingin posisimu aman! ingat, tidak mudah untuk tetap bertahan, apalagi di perusahaan ini!" ucap pak Galang.


Ceklek!


Raksa pun menarik handle pintu itu dan keluar dari ruangan sang direktur.


"Astagaa, keisengan gue malah berakhir kayak gini..." gumam Raksa yang menaiki lift buat turun ke bawah, kembali ke divisinya.


Dan ternyata Tania langsung menghampirinya saat Raksa baru aja kembali, "Pak..."


"Kita bicara nanti, Tania! Sorry..." Raksa pun menutup pintu.


Sedangkan Tania dengan wajah yang pucat hanya berdiri melihat pintu ruangan Raksa yang ditutup agak kencang.


Brakkkk!


"Ck, kenapa jadi runyam gini sih?!" gumam Tania.

__ADS_1


__ADS_2