
"Beli air mineralnya satu jangan dingin, Pak!" ucap Raksa pada penjual minuman yang ramai disitu.
Dia menghampiri Kalin yang udah duduk lemes di salah satu tempat minum es cendol. Karena cuma disitu yang ada tempat duduknya, yang lain mah ada yang duduk di bawah, ada yang nongkrong di tempat bubur ayam.
Krek!
Raksa ngebukain tutup botolnya dan menyuruh Kalin buat minum, "Nih minum dulu!" ucap pria itu dengan coolnya.
Keringat membasahi dahi dan pelipisnya. Dadanya naik turun, mencoba mengatur nafas dengan baik.
Glek!
Glek!
Glek!
Kalin minum sampai rasa hausnya hilang.
"Kalau udah baikan, kita jalan sampai sana!" ucap Raksa.
Kalin ngangguk, dia minum sekali lagi lalu berdiri dan melanjutkan jalan santai ke tempat yang Raksa tunjuk.
"Oh ya, gue udah bilang sama ayah lo soal pernikahan kita..." ucap Raksa tiba-tiba.
"Gue udah pernah ngerasain kehilangan cita-cita, jadi jangan sampai lo ngalamin juga!" lanjutnya.
"Sampai lo tua nanti, penyesalan itu nggak akan berakhir. Lo bakal menyesal terus dan terus. Dan gue nggak mau lo ngerasain apa yang gue rasain dimasa lalu," pria itu ngomong pelan-pelan.
"Emang cita-cita apa yang belum kesampean?!" tanya Kalin pada pria yang berjalan di sampingnya.
"Jadi psikolog!"
"Hahahahaha," entah mengapa, Kalin malah tertawa mendengar jawaban dari tunangannya itu.
"Apa? psikolog?" Kalin geleng-geleng kepala.
"Iya kenapa? emang ada hal yang lucu?!"
"Ya ampun Mamang-mamang! kalau lo jadi psikolog yang ada pasien yang curhat sama lo, tingkat stress mereka bakalan nambah berkali-kali lipat!" Kalin dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
Di otaknya membayangkan kalau ada pasien yang datang niatnya mau curhat, malah kena omel sama si Mamang. Kalin pun lanjut ketawa.
"Lo ketempelan dimana, sih? ketawa mulu perasaan! denger, ya? segala ilmu itu bisa dipelajari tergantung kemauan kitanya!" Raksa mendengus kesal ngeliat reaksi Kalin yang malah nggak berhenti ketawa.
"Teruss? kenapa nggak jadi psikolog? kenapa malah jadi orang kantoran?" tanya kalin, dia mencoba buat nggak ketawa lagi.
"Klise! nggak boleh sama orangtua. Gue inget banget saat itu bapak gue bilang kalau 'Mau kerja apa kamu jadi psikolog? bapak nggak mau ya, bapak udah capek-capek sekolahin tapi ujung-ujungnya kamu nggak jadi apa-apa. Kamu anak laki-laki, penerus keluarga ini!' ya kayak gitu lah kurang lebihnya," Raksa menirukan saat pak Hendra memarahinya dulu.
"Padahal kalau kita melakukan sesuatu berdasarkan passion kita, kita malah akan unggul disitu!" lanjutnya.
"Oh, keras juga ya Om Hendra! pantes anaknya juga keras!" Kalin menimpali Raksa.
"Bapak bukan berasal dari keluarga yang berada. Dia dulu putus kuliah dan milih buat bisnis. Makanya dia nggak mau gue gagal dalam sekolah. Untungnya gue kuliah juga karena beasiswa buat mahasiswa berprestasi, jadi bapak gue nol rupiah buat nyekolahin gue. Dia puter duit itu buat usaha, ya emang kalau jiwanya dagang mah beda! semua bisa jadi cuan!" kata Raksa.
"Sekarang kita ke mobil!" ucap Raksa.
Dia nyalain mesin mobil berikut pendingin udaranya.
"Huuufhh, lumayan bakar kalori juga!" gumamnya dia mengambil tisu buat ngelap wajahnya.
Sedangkan Kalin masih terpaku dengan wajah Yang memiliki rahang yang macho banget.
Pwiiihh!
"Sembarangan! gue kagak ngiler!" Kalin mengelak, padahal dia baru saja menikmati keindahan ciptaan tuhan berupa wajah yang tampan dan rupawan.
Kalin bisa merasakan wajahnya merasakan hawa dingin yang bikin keringatnya hilang seketika. Dan saat itu juga Raksa mulai ngomong lagi.
"Balik lagi soal lo. Gue udah minta ijin Om Diki buat mempercepat pernikahan kita. Jadi lo urus deh tuh sekolah lo, terserah lo mau pilih yang mana. Berhubung lo udah disiapin tabungan pendidikan, jadi mau sampai ujung dunia pun lo bisa mewujudkan itu. Dan soal kehidupan kita disana, gue bakalan cari kerja dan gue bakal biayain rumah dan makan kita berdua! tenang aja, gue nggak akan minta lo buat bereproduksi dulu, karena gue udah janji sama bokap lo soal itu!" ucap Raksa tegas.
Kalin hanya bengong.
'Apa mamang ini yang dikirimin tuhan buat jadi guardian angel gue?' batin Kalin nggak percaya.
"Kita akan nikah secara legal. Sah secara agama maupun negara! cuma kita keep dulu berita ini, gue juga nggak mau nanti ada isue yang nggak baik mengenai pernikahan kita. Terlebih di kalangan kolega-kolega bisnis bokap lo!" Raksa masih ngejelasin.
"Gimana? keren kan gue?" tanya Raksa yang kini menghadap Kalin.
"Ini beneran? atau lo hanya bohongin gue?"
__ADS_1
"Gue seserius ini lo bilang gue bohongin lo? astagaaaaa?!!" Raksa nggak habis pikir dengan Kalin.
"Ya, kenapa lo mau berkorban buat gue? cewek yang dijodohin sama lo?!"
"Karena gue mulai cinta sama lo! Dan itu jawabannya!" Raksa mengusap bibir tipis Kalin.
"Gue nggak tau kenapa lo sekarang menuhin pikiran gue?! yang jelas, gue pengen kita berdua menikah. Selain biar gue awet muda bergaul sama bocil kayak lo, gue juga akan bertanggung jawab dengan sesuatu yang udah kita mulai. Pertunangan ini..." Raksa menunjukkan cincin di tangannya.
"Mungkin secara magis, cincin ini seperti penyalur rasa antara lo sama gue! gue juga bingung kenapa gue yang dewasa dan keren ini bisa suka sama bocil yang masih kremian kayak lo! tapi ya itulah, semuanya nggak ada yang bisa nebak..." lanjutnya sambil membelai wajah gadis yang ada di hadapannya.
"Susah buat gue nahan saat kita berdua kayak gini, tapi gue bakal berusaha! gue bakal tahan-tahanin sampai lo lulus kuliah. Tapi kalau cium-cium dikit boleh lah ya?" Raksa nawar.
"Ogahhh!" Kalin menempelkan telapak tangannya di bibir Raksa yang udah dimonyong-monyongin.
Grepp!
Raksa menangkap tangan itu.
"Jadi? apa jawaban lo? jalan lo udah terbuka lebar sekarang," Raksa menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat dalam.
"Gue pikirin dulu!"
"Astagaaaa!!! apalagi yang harus lo pikirin Kalin? kita nikah, terus kita berangkat bareng-bareng! apa lagi yang harus lo pertimbangin?" Raksa mijit kepalanya, puyeng.
"Ya, mikir dulu lah! emang gue cewek apaan langsung jawan iya? wleee!" Kalin meletin lidahnya.
"Nggak bisa! lo harus jawab sekarang atau gue cium lo sampe jontor!"
"Dih, maksa?!"
Raksa perlahan maju, "Gue nggak becanda ya?!"
"Ih iya iya iya, gue setujuuuu?!!!" Kalin menahan dada Raksa. Dia sampai terpojok.
"Nah gitu dong! masa harus dipaksa dulu sih?" Raksa naik turunin alisnya. Dia lalu tersenyum penuh kemenangan.
Cup!
Raksa mengecup Kalin sekilas.
__ADS_1
"Oke, sekarang kita cari makan! laper gue!" ucap pria itu, sementara Kalin shock dengan kejadian barusan.