Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Gigitan Kalin


__ADS_3

Besoknya pagi-pagi Raksa udah siapin baju dan semua dokumen penting yang harus dia bawa ke Manchester, berikut dengan baju yang seadanya yang bisa dia bawa. Raksa orangnya nggak mau ribet, dia hanya siapin satu koper besar untuk memuat semua keperluannya.


Sedangkan hari ini dia mau ngeliat istri kecilnya dulu sebelum berangkat kerja. Dia sengaja dari rumah berangkat lebih awal, supaya dia bisa mampir ke rumah Kalin.


Jam 7, Raksa sudah sampai rumah mertuanya. Dilihatnya sudah ada beberapa orang yang sepertinya lagi bikin satu kotak ruangan kecil.


"Pagi, Pak!" seru Raksa pada pak Abdul.


"Eh, pagi, Mas!"


"Mau buat apa ini, Pak?" Raksa masih nangkring di motornya.


"Buat bikin pos satpam, Mas!"


"Oh gitu. Saya ke dalam dulu, ya?" ucap Raksa yang kemudian menutup kaca helmnya dan masuk ke pelataran.


Raksa merapikan baju kemejanya sebelum sebelum menekan bel rumah itu.


Ting tong!


Pintu pun dibuka perlahan, dan terlihat mbok Sinah.


"Mas Raksa?" ucapnya sopan.


"Kalin sudah bangun, Mbok?" tanya Raksa.


"Sudah, tapi kayalnyaasih di dalem kamar..."


"Loh loh loh, mantuku udah dateng pagi-pagi," ucap bunda dari dalam.


"Cuma mau ketemu Kalin sebentar, Bun?!" Raksa meraih tangan bunda Lia.


"Ayah mana, Bun?"


"Pagi-pagi sudah berangkat. Katanya ada meeting di luar kota, teman lamanya katanya mau invest di perusahaan ayah,"


Raksa manggut-manggut, "Ohh gitu?"


"Oh ya Kalin ada di kamar itu, masuk aja, nggak apa-apa!" ucap bunda.


"Oh ya, kamu sudah sarapan belum, Raksa?"


"Sudah, Bun! kebetulan tadi sudah sarapan di rumah," kata Raksa.


"Raksa ke kamar dulu, Bun?!" ucap Raksa yang buka pintu dan kemudian disambut sebuah teriakan dari dalam kamar.


"Aaaaaaaaaak!" Kalin yang kaget habis dari kamar mandi pun menjerit saat dengan tidak rau dirinya Raksa masuk tanpa ketuk pintu dulu!


Pria tampan dan rupawan itu segera membekap mulut Kalin, "Apa-apa sih bocil? pake teriak segala! mau bikin gue jantungan, iya?"

__ADS_1


"Emmphh!" Kalin menggeleng. Satu rangannya mencoba melepas bekapan Raksa sementara satu tangan yang lain menahan handuknya supaya nggak melorot.


"Kalin? kamu kenapa, Sayang? Kalin?" tanya bunda.


"Nggak ada apa- apa, Bun? Kalin ngeliat ada kecoa, makanya dia teriak. Tapi ini kecoanya sudah ketangkep, jadi sudah aman, Buuun!"


"Kecoa? oh ya udah, masukin plastik aja! jangan dipenyet! nanti mbok Sinah Bunda suruh bersihin lagi kamar itu!" ucap bunda yang kemudian mwnjauh dari sana.


"Siap, Bun!" seru Raksa.


Sedangkan...


Posisi Kalin yamg memunggungi suaminya pun seketika melihat sepasang mata yang melihatnya dengan tatapan yang berbeda.


"Jam segini baru selesai mandi?" tanya Raksa.


Mendengar kata 'mandi', Kalin pun baru teringat kalau saat ini dia hanya memakai handuk.


Gadis itu mengigit tangan Raksa.


"Aaawwwwkhh!" Raksa melepaskan tangannya dari mulut Kalin. Sedangkan Kalin mengambil bed cover dan menutup badannya.


"Awwwwk!! kenapa lo tiba-tiba tangan gue?!" Raksa mengibaskan tangannya, ada bekas hujaman gigi Kalin di punggung tangannya yang putih.


"Salah gue apa coba?" Raksa meniup-niup bekas luka gigitan Kalin.


"Salah gue dimana? ya itu, lo masuk kamar orang sembarangan!" Kalin menutupi badannya dengan bed cover yang super empuk.


"Ya tapi kan bukan berarti lo bisa masuk sembarangan kayak gitu. Main nyelonong aja, bikin gue kaget!"


"Gue nggak sembarang! gue disuruh masuk sama bunda. Jadi kalau mau marah, sono marah sama bunda, biar nyaho sekalian!" Raksa kesal.


Niatnya ingin mesra-mesraan sebagai pengantin baru, tapi harapannya kini pupus setelah dapet bonus cap gigi Kalin di tangannya.


"Kenapa liat gue kayak gitu?" tanya Raksa.


"Ya keluar lah! gue mau ganti baju!" ucap Kalin.


"Ya uda mau ganti ya ganti aja?!" Raksa ngeliat tangannya yang membiru.


Dia duduk di pinggir ranjang, sementara Kalin bingung dengan keadaanya sekarang.


Raksa ngeliat jam tangannya lalu bangkit lagi, Dia mendekat pada Kalin yang mundur ke belakang.


Cup!


Raksa menarik kepala istrinya dan mencium sekenanya, "Gue berangkat kerja dulu!"


Pria yang bajunya agak basah karena ketempelan rambut Kalin yang habis keramas itu pun pergi begitu saja dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


Brakk!!


"Huff," Kalin bergerak dan membuka pintunya, dan melihat kalau Raksa lagi pamitan sama bunda.


Raksa pun akhirnya pergi meninggalkan rumah Kalin dan menuju kantornya.


Sementara Kalin mengunci kamar dan mendekati ranjangnya.


"Apa gue udah keterlaluan, ya?" gumam Kalin.


"Tapi kan salah dia sendiri, kenapa main masuk! gue kan kaget!" ucap Kalin dia membuka bed cover yang membungkus badannya sendiri.


Sedangkan Raksa memacu motornya menuju sebuah gedung perkantoran. Jas nya basah dia merasakan dingin di bagian dadanya.


"Boro-boro dapet ucapan good morning, ini gue malah kena gigit!" gumam Raksa yang secepat kilat sampai di parkiran motor khusus karyawan. Berbeda dengan satu orang lagi yang menduduki jabatan seperti Raksa yang begitu naik jabatan, pegangannya langsung stir mobil.


Raksa mau beli mobil bisa aja, cuma dia berpikir lagi dan lagi kalau harus ngutang hanya buat gaya-gayaan. Iya kalau masih kerja disitu, ya kalau ada apa dengan perusahaan dan dia kena PHK? Mau bayar pakai apa itu cicilan.


Tap tap tap!


Langkah panjang Raksa menuju lift yang akan mebawa dia ke lantai divisi operasional. Raksa masuk ke dalam ruang kaca, dengan jas dan kemeja yang mulai mengering.


Dia mengambil dokumen yang ada di dalam laci mejanya, lalu dia pergi lagi menuju ruangan pak Galang. Dia mau mundur secara jantan.


"Pak---" ucap Rahmi yang diacuhkan begitu saja.


"Kenapa raut wajahnya kayak gitu? mau kemana dia?" gumam wanita itu.


Tapi saat akan mengikuti Raksa tiba-tiba ada seseorang memanggilnya untuk minta data dari dirinya.


Sekarang Raksa yang tadinya mau naik luft nggak jadi, dia pengen lewat tangga darurat supaya nggak usah ketemu sama orang yang suka banget bikin gosip yang aneh-aneh, apalagi jasnya kini sedikit keliatan basah.


"Kalin, Kalin!" kepalanya geleng-geleng saat teringat kejadian tadi pagi.


Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara yang jelas di telinganya.


"Kamu harus pastikan dia tidak jadi menikah dengan anak dari Diki! Kamu mengerti? Aku sangat tidak menyuaki orang sok seperti dia! Aku ingin melihatnya hancur dan malu akrema anaknya yang ditinggal oleh orang yang digadang-gadang akan menjadi calon menantunya"


"Mengerti, Pak!" ucap Tania.


"Sekarang perbaiki penampilanmu! Kita ketemu lagi saat makan siang!" ucap pak Galang.


Sedangkan Raksa langsung bersembunyi saat ada suara langkah yang mendekat padanya.


"Siapa itu?" ucap Tania yang sepertinya yakin kalau ada orang di bawah sana.


Hanya Raksa mencoba diam dan nggakembuat suara apapun yang akan membuat Tamia curiga.


'Apa yang sedang kamu rencanakan dengan pak Galang, Tania?' gumam Raksa dalam batinnya.

__ADS_1


Tadinya dia akan melangkah dan mengundurkan diri pada pak Galang, sekarang dia berubah pikiran. Pria itu kembali berbalik keluar dari tangga darurat dan menuju sebuah ruangan


__ADS_2