
Sementara di dalam mobil, Raksa nyetir dengan mode selow cenderung lambat. Biasanya sat set, licin banget kek belut.
Kalin yang masih pusing, cuma ngeliat ke depan sambil menyangga kepalanya pakai tangan.
"Kalau lo masih pusing, gue anterin ke klinik. Biar diperiksa dan diobatin," kata Raksa buka pembicaraan.
"Nggak, nggak usah..." Kalin agak serak.
"Daripada kepala lo disangga terus kayak gitu," Raksa mulai care.
Namun tiba-tiba...
Tik...
Tik..
Rintik gerimis mulai lagi, dan nggak berselang lama, hujan pun turun lagi. Kali ini langsung deres.
"Ya ampun, bisa langsung deres kayak gini?!" ucap Raksa.
"Ya kan mau masuk musim penghujan, ya wajar langsung deres..." Kalin nyeletuk dengan suaranya yang lemes.
"Aturan lo tiduran di kamar Nova, masih lemes kayak gitu maksa minta pulang..." Raksa dengan jutek mode on.
"Besok mau ada pengumuman kelulusan," Kalin singkat.
"Gue? gue boleh dateng?" lirih Raksa. Tapi kayaknya Kalin nggak ngedengerin.
Gadis itu malah nempelin kepalanya di kaca jendela saking pusingnya. Apalagi liat whipper yang gerak-gerak, bikin dia makin lama makin pusing aja.
"Molor nih bocah?" Raksa ngeliat ke arah samping, dia bergumam sendiri.
'Kalau udah lulus, artinya nih bocah udah tambah gede dong?' batin Raksa.
Nggak tau kenapa, Raksa masih pengen berlama-lama berdua sama si bocil. Dia nyetir terlalu pelan, bahkan udah banyak kendaraan lain yang nyelipin dia dan ngira kalau yang nyetir itu masih mode belajar. Untung kaca mobilnya gelap, jadi dari luar nggak keliatan siapa yang nyetir.
Lama kelamaan, napas Kalin mulai teratur.
"Kan apa gue bilang. Molor nih bocah?!!" Raksa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Ngerti kayak gitu, Raksa cari jalan lain yang muternya lebih jauh. Berasa lagi bawa bayi yang lagi tidur dia. Sengaja mobilnya dibawa pelan dan nyetel musik yang bikin tambah ngantuk. Lagu yang selow dan melow.
Karena nggak ada yang diajak ngobrol, Raksa pun keinget sama masalahnya sendiri. Mungkin besok atau lusa dia harus beberes buat nempatin ruangan yang baru. mau nggak mau dia akan lebih sering ketemu sama Rahmi. Padahal selama ini dia udah mnecoba menghindar, eh malah sekarang satu divisi kan amsyong bener.
"Padahal gue pengen ngobrolin itu, tapi kayaknya waktunya kurang tepat..." gumam Raksa sambil ngeliat ke arah samping.
Jiwa ngemong Raksa diasah ketika bersama Kalin, sedangkan ketika bersama Rahmi jiwanya tenang dan nyaman. Karena sejujurnya Rahmi ini orangnya lebih kalem dan dewasa. Jadi hubungan mereka sebenernya bakalan baik-baik aja kalau si Rahmi kagak minta putus. Bahkan Raksa udah yakin banget kalau she is the one and only buat dia, buat menjadi calon ibu dari anak-anak nya kelak. Namun apadaya takdir berkata kalau dia bukan orangnya.
Singkatnya, mobil Raksa akhirnya sampai di depan gerbang rumah Kalin. Ujan makin deres bahkan beberapa kali ada petir dar dor dar dor macam petasan yang dinyalain bocah-bocah.
"Lin? Kalin?" Raksa tarik hand rem nya dan mencoba membangunkan Kalin. Niatnya dia mau turun, mau buka gerbang, cuma dia bangunin dulu nih anak yang punya rumah. Biar nggak kaget denger besi yang digeser.
"Kalin?" suara raksa lama kelamaan berat apalagi ngeliat wajah adek gemes nya.
Perlahan dari tepokan kini berusbah jadi usapan lembut, "Lin? Kalin? udah nyampe,"
Kepala yang tadinya disangka kaca jendela sekarang ditangan tangan Raksa, "Kalin, bangun Kalin..." Raksa bisa ngeliat jelas wajah Kalin. Semua bagian wajahnya pun diliatnya bahkan disentuhnya.
Perlahan mata yang indah itu terbuka. Dia keliatan masih ngantuk. Sedetik kemudian, mata Kalin melebar saat tau kalau di depannya terpampang nyata wajah sang tunangan.
Ngeliat Kalin yang menarik dengan eskpresi kagetnya, Raksa malah mencium gadis itu.
Kalin hanya bisa diam, dia nggak tau apa arti balas yang dimaksud Raksa. Beberapa kali Raksa ngasih jeda Kalin buat bernapas. Sebelum akhirnya dia beneran berhenti.
'Gue bisa gilak kalau lama-lama sama nih bocah!' Raksa dalam hatinya, saat matanya dan mata Kalin beradu pandangan.
"Gue buka gerbang, lo disini aja..." ucapnya yang kemudian melepaskan Kalin yang sekarang udah nggak ada ngantuk-ngantuknya. Dia shock yang ada.
'Kayaknya pilihan bapak udah tepat!' batin Raksa setelah merasakan hal lain saat makin deket sama Kalin.
Pria itu pun nyamber payung yang udah dia siapin di kolong jok mobilnya dan pergi menerjang hujan yang bikin orang pengen kemulan selimut di dalam kamar.
Greeekkkk?!!
Bunyi gerbang yang digeser,
Raksa kembali masuk buat markirin mobilnya. Beberapa tetesan air ngebasahin baju pria itu, sedangkan Kalin agak-agak canggung tapi dia diem aja. Pura-pura nggak kejadian apa-apa gitu.
Cup!
__ADS_1
Sedangkan Raksa mencium sekilas sebelum dia masukin mobil ke pelataran rumah Kalin. Kalin pun kaget dengan jantung yang dag dig dug nggak karuan.
'Apa ini orang titisan soang?' batin Kalin ngeliat wajah Raksa yang kini berubah jadi cool lagi, nggak nggragas kayak tadi.
Raksa pun berhenti saat mobilnya udah dapet tempat yang pas, "Rumah lo," kata Raksa.
"Iya," Kalin buka seatbelt gugup, alhasul itu sabuk susah dilepas karena dia yang grusa-grusu.
"Nggak usah sating gitu!" sindir raksa, tangan pria itu pun ngebantu Kalin buat terlepas dari jeratan sabuk pengaman.
"Siapa yang salting?" Kalin mengelak, dia ngerapihin rambutnya pakai jari tangan.
Pas Kalin mau buka pintu, tiba-tiba Raksa mencegahnya, "Tunggu, ada yang mau gue tanyain..."
Kalin pun nengok, saat tangan Raksa menahan tangan kanannya, "Tanya apa?"
"Ehem, apa lo sama Reno udah---" Raksa menggantung ucapannya.
Pria itu berhenti sejenak sebelum akhirnya dia mengganti pertanyaannya, "Apa gue jadi yang pertama buat lo?"
"Pertama?" Kalin mikir.
"Pacar pertama maksudnya? ya bukanlah, kan pacar pertama gue Reno, sedangkan lo tunangan gue, kita nggak pernah jadi pacar," Kalin lirih.
"Maksud gue bukan itu. Katanya lo pinter, masa lo nggak nangkep apa pertanyaan gue tadi?" Raksa agak jutek.
Dan raut wajah Kalin pun berubah selaras dengan Raksa jadi nyebelin sekarang.
'Sabar Raksa, dia masih bocil masih bocil ingeeet!' Raksa dalam hatinya.
Raksa kembali mengatur air wajahnya, "Gini loh sayang. Maksud gue tuh, apa yang kita lakuin tadi---"
"Nggak! nggak pernah!" ucap Kalin yang kemudian kabur menerjang hujan ninggalin Raksa yang kini giliran melongo.
Brakk!
Pintu mobil itu dibanting si gadis yang udah ngibrit masuk ke dalam rumahnya.
Raksa mengusap dadanya, kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
"Nggak? nggak pernah? artinya? gue itu---?" kedua sudut bibir Raksa ketarik ke atas.