Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Noda


__ADS_3

Malam itu Raksa mengompres Kalin dan maksa tuh bocah minum obat penurun panas sampai akhirnya Raksa tidur setelah suhu tubuh Kalin kembali normal.


Pagi-pagi sebelum Kalin bangun, Raksa udah nyiapin sarapan seadanya.


"Emphh!" Kalin bangun dengan kepala yang udah lebih baik.


"Udah bangun? makan dulu baru minum obat lagi,"


"Kok makan terus sih?" protes Kalin, dia masih lemes.


"Kamu itu masuk angin, karena suka ngremehin nasehat suami. Kan aku bilang harus dikeringin rambutnya. Ngeyel sih?!"


"Udah marahinnya? tambah pusing aku tuh yang ada!" kata Kalin.


"Itu supaya kamu lain kali nurut kalau aku bilangin,"


"Iya!"


Kalin jawab kayak gitu supaya Raksa nggake mrepet lagi.


"Aku pengen kita pergi ke taman!" Kalin menghentikan.


"kamu kan masih sakit, kalin. Ke taman kan bisa besok..."


"Tapi kan beberapa hari lagi kita mau pulang ke Indo! aku nggak mu ngelewatin satu hari pun dengan diam di rumah. Masih banyak tempat yang belum kita kunjungi..."


"Kita disini hampir 4 tahun, kalin. Kamu baru kepikiran jalan-jalan setelah kita mau pulang?" ucap Raksa.


Tapi ucapan Raksa ini kayak nggak didengerin sama Kalin. Hawanya si Kalin ini marah-marah mulu. Raksa aja sampe bingung. Nih bocah kesambet setan mana kenapa tiap hari pengennya ngider mulu.


'Jangan-jangan istri gue hamil? kayak si Rahmi kan kelakuannya aneh-aneh. Ada minta tahu gejrot segala, padahal dia kan tau lagi di luar negeri! jangan-jangan kelakuan aneh Kalin ini akibat bawaan bayi?!' Raksa menebak-nebak. 


Sembari Kalin dengan susah payah menghabiskan sarapannya Raksa searching ciri-ciri wanita hamil. Dan semua ciri itu kayknya ada tuh sama Kalin.


"Kenapa?" tanya Kalin saat suaminya melihatnya dengan tatapan yang aneh.


"Kayaknya kamu harus periksa ke dokter kandungan deh!"


"Kenapa? emang aku kenapa?" Kalin deg-degan.


"Ya nggak apa-apa. Barangkali aja udah ada bayi di perut kamu..."


Kalin langsung tersedak saat Raksa menyebut bayi, "Uhuuukkk!"


"Minum minum, Sayang!" Raksa bersikap sangat lembut.


"Kita periksa aja ya?" lanjut Raksa.


"Aku sakit biasa kok. Bukan karena hamil,"


"Ya kalau nggak hamil juga nggak apa-apa. Cuma ngecek aja, kali aja iya kamu hamil. Kan kita bisa menjaga kandungan kamu supaya nggak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan..."


Ya udah Kalin nggak bisa menolak buat periksain kandungan. Tap dalam hati dia takut dan belum siap. Dia masih muda dan gimana nanti ngurus bayi. Sedangkan Kalin ngeliat Raksa mukanya udah berseri-seri banget, dia paling semangat nganterin Kalin salah satu klinik dokter kandungan.


Tapi baru juga Kalin mau pergi, dia ngerasa perutnya kram dan melilit.


"Kenapa? sakit? apanya?" Raksa panik.


"Nggak tau. Perutku kram, sakit!" ucap Kalin.


"Ya udah kamu duduk dulu!" kata raksa menyuruh Kalin buat duduk di pinggir tempat tidur.


"Kayaknya kamu emang harus diperiksa. Aku takut kamu kenapa-napa!" ucap Raksa.


Dan saat sakitnya mereda Kalin berusaha buat bangun. dan dia sangat kaget saat melihat darah di sprei yang dia duduki.

__ADS_1


Kalin pun ngibrit ke kamar mandi, dia mau ngecek nih apa bener itu darah atau bukan.


Sedangkan Raksa manggilin dia dari luar.


"Kalin? kamu kenapa, Kalin?" Raksa sembari mengetuk pintu.


"Nggak apa-apa!" sahut Kalin dari dalam.


Dan beberapa saat kemudian, Kalin membuka pintu.


"Udah?" tanya Raksa.


Kalin cuma ngangguk.


"Ya udah, kita pergi sekarang!" Raksa dengan menggandeng tangan istrinya.


Tapi saat sudah sampai ruang tamu, Kalin ngadat. Dia berhenti.


Raksa menoleh, "Kenapa? sakit perut lagi?"


"Nggak usah periksa!"


"Tapi kenapa?"


"Karena aku jelas nggak hamil! aku baru dapat menstruasi!" ucap Kalin nggak enak.


Dia menarik tangan Raksa buat ngikutin dia ke kamar, dan dia nunjukin sprei yang bernoda merah.


Raksa yang tadinya sangat bersemangat, tiba-tiba langsung terdiam untuk beberapa detik.


Kalin tau kalau suaminya ini pasti kecewa.


"Oh gitu? ya udah nggak apa-apa! kamu istirahat dulu aja. Bentar spreinya aku lepas dulu, ya?"


Sedangkan sprei nya dia bawa, "Aku cuci dulu ya?"


"J-jangan, Mas! biar aku aja! biar aku yang nyuci sendiri..."


"Ini tinggal di cuci yang bagian yang kena darah, terus masukin ke mesin! gampang! kamu istirahat dulu aja oke, Cil?" Raksa mengusap kepala Kalin dengan membawa sprei yang kotor.


Sedangkan Kalin gercep pake celana pembalut, biar ngak tembus sana-sini. Dia baru sadar kalau kalender tanggalan haid nya mundur. Mungkin itu terjadi karena dua stress dan kecapean. Makanya siklus haidnya kacau sebulan ini.


Raksa ke kamar mandi, dia mengambil bagian sprei yang terkena noda dan mencucinya dengan sabun cair. Jujur ada perasaan kecewa, tapi ya udahlah mungkin belum rejeki dan bisa dicoba lagi nanti. Yang jelas untuk beberapa hari ke depan dia nggak bisa mancing-mancing Kalin lagi.


Kalin yang sudah mengganti pakaiannya pun ngeliat kalau celana yang di pakai tadi kan tembus darah, dia berniat buat cuci aja sendiri. Meskipun mereka berdua udah menikah, tapi Kalin rasanya nggak enak kalau ngeliat Raksa yang nyuciin.


Dia sengaja membawa celana ditu dan menyembunyikan tangannya dibelakang badannya.


"Kenapa? mau ke toilet lagi?" tanya Raks ayang udah selesai mencuci.


"Iya!"


"Bentar, aku keluar dulu!" Raksa pun segera mematikan kran dan keluar dari kamar mandi, sedangkan Kalin ketika mendapatkan kesempatan, dia langsung masuk dan menutup pintu.


Raksa membawa spre ke tempat laoundry yang ada di rumah mereka, dan memasukkannya ke dalam mesin cuci. Dia sering melihat kalau ketika Kalin datang bulan dia akan merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan dia selalu ijin ngampus kalau dia dapat hari pertama dan kedua. Dia bakal guling-gulingan di kamar karena saking sakitnya.


Makanya Raksa merasa beruntung dilahirkan sebagai seorang laki-laki, karena dia nggak bisa bayangin gimana tersiksanya harus mengalami kram perut setiap bulan, dan itu sangat mengganggu aktivitas.


Beberapa saat kemudian, Raksa mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. Dia segera menghampiri Kalin yang keluar dengan membawa celana yang sudah diperas.


"Kmau habis nyuci?" tanya Raksa.


"Cuma ini," Kalin menyembunyikan di balik badannya, dia malu.


"Kenapa cuci sendiri. Tuh wajah kamu aja pucet kayak gitu," Raksa mengambil paksa apa yang Kalin sembunyikan .

__ADS_1


"Aku masukin ini ke mesin cuci! kamu ke kamar aja, istirahat. Nanti aku nyusul," Raksa pergi lagi ke tempat dia menaruh mesin cuci.


Sementara Klain balik lagi ke kamar. Wajahnya berkeringat menahan nyeri perut yang sangat menyikisa. Perlahan dia merebahkan diri, dengan perut bawah yang diganjel bantal.


"Ck, shhhh .... pasti Mamang kecewa kita gagal dapat bayi!" tebak Kalin, dia meringis kesakitan. Perutnya seperti sedang di pelintir nggak habis-habis.


'Apa Tuhan ngabulin doa nggak sengaja gue? gue yang belum siap punya anak? tapi kok gue juga ikut sedih, ya?' Kalin bicara dengan dirinya sendiri.


Banyak hal yang belum diraih, baru lulus kuliah. Kalin juga pengen ngerasain dunia kerja, jadi jujur kalau ditanya soal anak ya siap nggak siap. tapi kalau ngeliat Raksa yang udah menahan diri selama bertahun-tahun, Kalin ngerasa kalau dia bakal menjadi orang yang paling jahat kalau nggak ngasih hak yang seharusnya Raksa dapatkan.


Ceklek!


Sontak Kalin menengok ke arah pintu, dan dia melihat seseorang yang masuk ke dalam kamar sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Masih sakit?" tanya Raksa, dia membawa botol yang dilapisi handuk kecil.


"Nih, aku buatin botol anget, buat ganjel perut kamu!" kata Raksa, dia hafal kebiasaan istrinya yang harus ngeganjel perutnya pakai botol itu.


"Makasih, tapi harusnya biar aku aja yang ngisi botolnya!"


"Udah nggak apa-apa, sekarang pake dulu. Biar nyerinya sedikit berkurang!" kat Raksa.


"Berrati besok gagal jalan-jalan?"


"Lagi sakit masih aja mikirin jalan-jalan? dasar bocil!" Raksa mengetuk kening Kalin dengan telunjuknya.


"Ya kan kita cuma punya waktu seminggu!" lirih Kalin.


"Ya ya ya, nanti kita jalan sepuas kamu tapi nanti kalau nyeri kamu udah sembuh. Aku nggak mau kamu pingsan gara-gara maksain jalan, padahal kamu lagi kesakitan!"


Kalin pun memamerkan senyum manisnya, "Makasihhh..."


Raksa ikut tiduran sambil mengelus pinggang Kalin yang ikutan pegel kalau lagi nyeri haid. Beberapa saat mereka diam, sampai salah satu diantaranya kemudian bersuara.


"Mamang pasti kecewa, ya?" Kalin dengan takut-takut.


"Nggak sih!"


"Nggak? berarti Mamang nggak pengen punya anak?" tanya Kalin dengan posisi Raksa yang kini tiduran di hadapannya, dengan tangan yang terus mengusap pinggang belakang Kalin.


"Ya pengen lah punya anak. Tapi kan Allah belum ngasih. Jadi ya udahlah, gampang nanti dicoba lagi!"


"D-dicoba lagi?" mata Kalin membulat.


"Iya, coba lagi! kita masih muda, masih banyak waktu buat memiliki anak. Jadi ya aku sih nggak terburu-buru. Kalau kamu nggak mau punya anak ya, nanti kita cari solusinya supaya kamu nggak hamil!"


Deg!


Ucapan Raksa yang terakhir, langsung membuat hati Kalin berdenyut nyeri.


"Jadi? kamu mau cari wanita lain? atau rahim pengganti?" tebak Kalin.


Raksa tertawa melihat ekspresi panik Kalin, "Hahha, ya nggak lah! ngapain cari wanita lain? tapi ya gimana? kalau istriku nggak siap punya anak, masa iya aku mau paksa? ya udah saling menerima aja. Capek juga kalau harus ngejar ini itu, kebahagiaan tiap rumah tangga kan beda-beda. Tergantung kita mau pilih yang mana..."


Namun bukannya senang, Kalin malah ngerasa kalau ada perasaan bersalah karena Raksa bisa menebak kalau memang dirinya belum siap punya anak.


"Dan kamu akan stop untuk membuatnya?' tanya Kalin ragu.


"Kalau itu kayaknya aku nggak yakin bisa! lagian nggak sehat juga kalau aku terus-terusan menahannya, Kalin!" ucap Raksa yang kemudian memeluk istrinya.


Kalin mendongak, "Kamu pengen banget punya anak?"


"Ya pengenlah. Siapa sih yang nggak pengen punya anak? apalagi kalau punya sepasang, beuuh pasti rasanya bahagia banget. Tapi itu bukan tolak ukur kebahagiaan kita ya? aku akan tetap bahagia dengan atau tanpa kehadiran mereka. Aku bakal tetap bahagia selama kamu ada disampingku, Kalin..." ucapnya dengan mata yang menatap Kalin dalam, sebelum aRaksa membawa Klain ke dalam dekapannya lagi.


'Aku tau apa yang lo pikirkan, Kalin! semua tergambar jelas, lo nggak bisa menyembunyikannya apalagi dari gue!' batin Raksa

__ADS_1


__ADS_2