
Mungkin bagi Reno, hubungannya dengan Kalin sebatas kebutuhan hedonisnya. Ya, dia pacaran sama Kalin selain dia suka, Reno juga bikin Kalin jadi atm berjalannya. Yang kapan pun bisa dia minta duitnya.
"Reno..."Melody dadah-dadah saat ngeliat cowok ganteng yang udah nyemprotin banyak parfun ke badannya itu ada di amang p[intu kelas dan kini menghampiri Melody.
"Gue kira lo masih lama..."kata Melody, dia buru-buru beresinn bukunya. Sementara temen satu bangku Melody hanya bisa terdiam, mengamati wajah Reno yang tetep ganteng meskipun waktu udah menunjukkan jam 3 sore.
"Gue duluan, ya?" ucap Melody yang memamerkan kedekatannya pada temen sekelasnya.
"Yuk, Ren..." Melody gendong tas nya dan berjalan menghampiri reno yang tersenyum tipis.
"Kita mau jalan kemana?" ucap Melody yang pelan, namun masih bisa terdengar oleh temannya yang lain.
"Kan kan kan, emang mereka tuh ada sesuatu..." ucap salah satu orang siswi yang ngeliat iri ke arah Melody yang berjalan beriringan dengan Reno yang keluar dari kelas mereka.
Melody menyembunyikan senyumannya, sejujurnya dia girang banget bisa jadi pusat perhatian seharian ini. Karena dia yang ngantin bareng sama Reno. Namanya mulai dikenal dan mulai banyak yang membicarakannya dari yang negatif sampai yang positif. Tapi itu semua nggak masalah bagi melody, karena itu memang tujuannya. Menjadi pusat perhatian semua orang.
Melody seneng banget saat dia dibawa Reno nemuin temen satu gengnya di parkiran motor, yang masing-masing udah ningkring di motor supernya.
'Astaga jantung gue...' gumam melody dalam hatinya, saat dikelilingi cowok-cowok tajir dan ganteng.
"Widiiih, yang udah dapet gandengan baru," salah satu dari temen Reno.
"Haish, jangan bikin gosip napa!" kata Reno.
"Lo sendiri yang bikin gosip itu merebak!" ucapan Reno ditimpali temannya yang tadi.
"Gue nggak bisa ikut kalian. Gue ada keperluan lain..." Reno yang berdiri disamping Melody.
"Beneran nih nggak ikut? ntar lo nyesel loh..." temen Reno yang lain yang menyahuti.
"Lain kali deh!"
Dan temen satu genk Reno pun satu persatu menyalakan motornya, "Kita duluan!" ucap salah satu diantara mereka sebelum benar-benar pergi.
"Jadi lo ada janjian sama temen-temen lo? tau gitu kita cari waktu lain aja!"
"Udah nggak apa-apa, lagian mereka ngajaknya juga dadakan," kata Teno yang nyodirin helm yang biasa dipakai Kalin kalau mereka boncengan.
__ADS_1
Emang mantan paxar kinim akhlak ya begini, habis putus bukannya sedih malah udah gandeng cewek laen.
Sedangkan Raksa yang kerja dengan perut yang konslet di bagian lambungnya pun terbawa emosi saat adeknya menteror dirinya dengan caption 'kasihanilah temen gue, baang' lengkap dengan emoticon nangis merana.
Baru kali ini Nova begitu ngebet minta tolong. Biasanya kalau Raksa bilang nggak mau ya udah, Nova nggak bakal maksa. Tapi hari ini beda, Nova terus aja WA dengan berbagai macam kalimat rayuan.
"Apa sih maunya adek gue? ampuuuun!" Raksa yang udah marah sampai ubun-ubun.
Dia bales WA Nova yang beruntun tanpa jeda.
DIEM, BRISIK BANGET LO, NOV! ABANG LAGI KERJA!!!!😠😠😈👿
Capslok Raksa jebol semua, dia ngetik dengan huruf besar dan penuh penekanan.
Napas Raksa ngos-ngosan, bukan karena abis lari ataupun liat syaithonirrojim tapi karena empet banget nahan emosi.
Ya ampun abang!🤧
Nova cuma bales emoticon buang ingus. Sesaat Raksa kembali ngeliat layar hapenya, seketika dia ngerasa versalah udah bales WA Nova dengan nada marah.
Mungkin juga karena didikan sang ibu dari kecil yang selalu mengajak Raksa buat bantu beberes rumah. Menurut ibu, jadi laki-alki itu harus tanggung. Nggak boleh kerjaannya cuma nyuruh-nyuruh perempuan doang.
"Udahan, Sa?" tanya perempuan yang disamping kubikelnya, dia masih keliatan sibuk.
"Kerjaan gue udah selesai, gue duluan!" Raksa ambil tas dan pergi dari ruangan itu sebelum Farid berdiri dan mau ngomong sesuatu.
"Cepet banget kaburnya?!" gumam Farid yang duduk lagi, dia masih riweuh dengan kerjaannya di depan layar komputer.
Sedangkan Raksa, dia melangkah terburu-buru, lambungnya sudah bergejolak.
"Minimal gue makan dulu aja lah," ucap Raksa.
Pria dewasa yang udah cukup umur buat menikah itu pergi dengan motornya. Sepanjang perjalanan dia ngelirik tempat makanan yang ada disana.
"Seblak? gue sering denger si Nova beli makanan yang namanya seblak. Jadi penasaran..." gumam Raksa saat nyetir.
Raksa yang tadi sempet mual, sekarabg melipir ke apotek. Dia beli obat maagh. Niat hati mau nyuruh si Kalin nganterin dia makanan, nggak jadi karena teror WA dari adeknya, Nova yang minta dia buat jadi kang tagih utang dadakan.
__ADS_1
Raksa buka botol obat cair yang barusan dia beli, dia main tenggak aja obat itu dikit, "Minimal biar lambung gue adem dulu, daritadi kok senat-senut mulu!"
Raksa menyimpan obat yang dia pegang ke dalam tas kecil yang biasa buat simpen hape dan dompet. Pria itu melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang pernah Nova ceritain kalau seblak disana tuh terkenal enak.
Dari tempat kerja Raksa, lumayan jauh menjangkau tempat makan yang pengen Raksa cicipi.
"Kok gue kayak orang ngidam?" Raksa ngetawain dirinya sendiri, karena dia udah ngelewatin berbagai tempat makan demi menjangkau sesuatu yang belum dia tau rasanya kayak gimana.
"Perasaan tadi nggak laper-laper amat!" Raksa ngerasa perutnya agak membaik. Yang tadinya perih dan cekit-cekit sekarang lebih bisa ditoleransi sakitnya.
Beberapa kali dia harus berhenti karena lampu merah. Sepanjang perjalanan itu juga bayangan bocah setan menyebalkan terbayang-bayang dipikiran Raksa. Terutama foto yang dikirim Nova, disana Kalin keliatan sedih dan kayak orang kena sawan.
"Apa iya gue harus bantu bocah yang selalu ngrepotin gue? nggak nggak, gue nggak boleh ikut campur masalah orang!"
Padahal saat Kalin diputusin dan dia nunjukin vidio Reno yang boncengin cowok, Raksa tuh udah ikut campur dan ikut andil dalam kandasnya hubungan dua bocil yang lagi dalam urusan percintaannya. Yabg satu matre dan yang satu terlalu bucin.
Bang! kalau pulang tolong beliin minyak kayu putih, perut gue nggak karuan!
Nova WA lagi, Raksa cuma bales iya tanpa embel-embel emoticon apapun.
Sedangkan di lain tempat, Kalin yang sebenernya udah laper pun pamit pulang dengan alasan, mau mampir toko buku.
"Gue anter..." kata Nova.
"Nggak usah lo disini aja, lagian mau nganter pakai apa. Motor lo ditinggal di sekolah. Udah deh, nggak apa-apa, gue bisa berangkat les sendiri.
"Bentar, bentar!" Nova beranjak dan menyuruh Kalin buat nunggu bentar.
Nova ngorek-ngorek tasnya, dia kembali dengan beberapa lrmbar uang di tangannya, "Lin, buat ganti ongkos yang tadi!" kata Nova.
"Astaga, nggak usah, Nov!"
"Nggak apa-apa, udah pakai aja. Gue nggak enak lah udah dianter pulang, masa iya gue dibayarin juga!" kata Nova.
'Gue aja belum bayar utang sama abang lo, Nov!' Kalin dalam hatinya, dia seketika inget utang belanjaan sama Raksa.
"Udah, pakai buat ke tempat les," Nova masukin duit ke dalam tas Kalin.
__ADS_1