
Sementara di tempat lain Reno bawa belanjaannya tapi dengan muka yang sedikit asem Tapi dia mencoba selalu tersenyum meski dalam hati dongkol.
"Kemana lagi kita?" tanya Melody yang makan eskrim cone yang dibeliin Reno.
'Susah banget digasak duitnya! apa emang nih cewek kaya tapi pelit? beda banget sama Kalin! atau karena gue belum jadi pacarnya? hemmm, bisa jadi...' Reno dalam hatinya.
"Ren? Renooo?" pqnggil Melody.
"Eh, gimana beb?!"
"Beb?" Melody agak salting.
"Ehm, sorry! gimana?" Reno sengaja melancarkan pandangan penuh kasih sayang.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Melody, dia mencoba menyembunyikan rona wajah.
"Kemana aja yang lo mau, gue ngikut...."
"Ehm..." Melody mikir.
"Gimana kalau duduk dulu disana, kaki gue pegel banget.
"Oh ya udah boleh! yuk," Reno reflek menggandeng tangan Melody. Yang digandeng pun pipinya tambah merah, jantungnya marathon saat tangannya bertautan dengan tangan cowok paling populer di sekolahnya.
Apalagi saat Reno geserin kursi buat Melody, tuh cewek berasa jadi putri. Sedangkan Reno yabg penuh kepalsuan itu duduk tepat di hadapan Melody.
Dengan gentle nya Reno berdiri dan antri buat pesen minuman.
'Makin tipis nih dompet gue?! perasaan dari kemarin gue terus yang bayarin. Kalau kayak gini terus, gue bisa bokek! ck, kenapa gue putusin Kalin kemarin. Harusnya gue tahan-tahan aja dulu, setelah gue dapetin Melody dan mastiin kalau Melody lebih toyal dari Kalin, baru deh gue akhiri hubungan gue. Astagaaaa, kenapa gue jadi bego kayak gini?!' Reno ngebegoin diri sendiri. Sampai dia nggak sadar kalau kini giliran dia yabg pesen minuman.
"Silakan, Kak!" ucap si kasir.
"Ehm, iced chocolate 2 yang small ya!" ucap Reno saat ngeliat harga di papan.
"Atas nama siapa?"
"Reno!" sahut Reno yang kemudian ngasihin lembaran uang pada si kasir.
"Mohon ditunggu ya, Kak!"
"Hem," Reno minggir dan duduk nggak jauh dari tempat pengambilan pesanan.
Dan nggak lama namanya dipanggil, Reno ngambil minuman yang dia pesan.
"Nih, gue oesenin yang kecil. Takut lo kekenyangan, kan udah makan eskrim dan ini sama-sama manis!" kata Reno yang menaruh minuman milik Melody.
"Iya, nggak apa-apa. Lagian kan kita disini cumamau numpang duduk," ucap Melody.
"Oh ya, lo jalan sama gue nggak ada yang marah?" Reno buka pembicaraan.
"Marah?"
"Ya cowok lo misalnya..." Reno lalu nyeruput minumannya.
__ADS_1
"Ehm," Melody merona, dia ikutan nyeruput juga tuh es coklat.
"Gue nggak mau ya tiba-tiba ada cowok yang nggebrak meja kita!"
"Gue nggak punya cowok kok, tenang aja!" kata Melody cepat.
"Masa? gue nggak percaya..."
"Beneran, gue nggak punya cowok atau gebetan. Kalau lo gimana? bukannya lo deket sama temen satu les kita? ehm, Kalin kalau nggak salah ya..."
"Gue udah nggak sama dia kok, kita udahan..." ucap Reno sendu.
"Sorry, gue nggak tau. Kalian udah putus? kenapa?" Melody kepo.
"Karena dia jalan sama cowok lain. Cpwok yang lebih tua dari gue! Dan mana mungkin gue bisa ngajak lo jalan sedangkan gue masih pacaran sama Kalin? kan nggak mungkin..." kata Reno.
"Lebih tua dari lo? kok bisa?"
"Nggak tau! mungkin cowok itu yang bisa bahagiain dia, dan bisa ngimbangin sifat hedonisnya, belanja dan beli barang-barang bermerk!" Reno dengan senyuman getirnya.
"Kalau gue kan masih sekolah, mana mungkin sih gue punya duit sebanyak itu? kecuali kayak lo yang lahir dari kelyarga kaya..." kata Reno menyinggung Melody.
"Ehm, lo bisa aja, Ren..."
"Dan mungkin gue bakal sering ngajak lo, karena gue butuh temen. Supaya gue bisa ngilangin bayangan Kalin dari pikiran gue! lo nggak keberatan kan?" Reno dengan wajah mendungnya.
"Nggak apa-apa. Lagian lo bisa andelin gue, kapan pun lo butuh!" kata Melody.
"Hem, oke, makasih ya?" Reno sekarang senyum, membuat getaran di hati Melody.
"Udah, jangan bahas kisah cinta gue yang kandas. Sekarang ceritain yang lo suka dan semua tentang lo yang gue nggak tau..."
"Tentang gue?"
"Ya misal lo berapa saudara di rumah dan apapun itu..." Reno mancing.
"Gue? hem gue anak tunggal, gue nggak punya saudara..."
"Kesepian dong! berarti rumah segede itu cuma ditinggal lo sama orangtua lo?"
"Hem, sebenernya cuma nyokap sama gue, dan beberapa pekerja...." jelas Melody, dia mengambil minumannya dan menyeruputnya.
"Bokap lo?"
"Bokap? oh ya bokap ya..." Melody meletakkan minumannya.
"Bokap lebih sering di luar negeri, jarang pulang. Yang sering di rumah ya gue sama nyokap, tapi nyokap juga nggak tentu! dia sibuk nemenin bokap gue kalau lagi ada kunjungan bisnis tertentu, belom lagi kalau lagi kumpul dengan temen sosialitanya..." jelas Melody.
"Tapi gue salut sama lo. Meskipun lo orang kaya, tapi penampilan lo termasuk sederhana," puji Reno.
"Ah masa sih?"
"Apa yang lo pakai terlalu biasa buat seorang anak pebisnis, Mel..." ucap Reno.
__ADS_1
"Tapi itu kan hal setiap orang. Gue aja nggak nyangka kalau gue nggak main langsung ke rumah lo," lanjut Reno.
"Ya, nyokap juga pernah bilang kayak gitu sih. Tapi gue nyamannya kayak gini..." kata Melody.
Sedangkan Reno cuma senyum aja sambil minum es coklatnya, "Terkadang lo harus menyesuaikan keadaan. Ya nggak hedon kayak Kalin juga, nggak. Tapi lo juga harus mempertahankan citra orangtua lo dimata orang. Meakipun tanpa itu sekua, lo.udah cantik banget, Mel..."
"Nanti gue coba ikutin saran lo!" kata Melody.
Sementara di sebuah perumahan, Raksa mulai memperlambat laju jalannya, "Liat yang bener. Jangan sampai lo salah rumah!"
"Iya iya, ini juga lagi liatin..."
"Ini masih lurus apa gimana?" Raksa udah capek dan laper sebenernya.
"Ya lurus aja dulu, ehm disini tulisannya ... ini nomor berapa sih? 25 apa 26 ya? agak nggak jelas gini," Kalin bergumam sendiri.
"Lo lulus SD ijazahnya nembak apa nggak sih?" tanya Raksa yang kemudian berhenti.
"Masa iya bedain angka 26 dan 25 aja nggak bisa?!" lanjut Raksa.
"Mana kertasnya?!" Raksa tengadahin tangannya.
"Nih! gue lulus SD debgan nilai sempurna ya! hadi nggak ada tuh acara nembak ijazah seperti yang om tuduhkan!"
"Manggil Om lagi gue tinggal lo disini!" ancam Raksa.
Kemudian matanya beralih pada kertas kecil yang diberikan Kalin, "Jl padalarang nomor----"Raksa berhenti dan naikin alisnya, dia mencoba memperhatikan lebih seksama.
"Ijazahnya nembak ya Om? baca dua angka aja, lama banget!" Kalin nyindir.
"Ck, nggak penting nomor berapa! tulisannya nggak jelas. Kita samperin aja, toh rumah
nomor 25 kan bertetangga sama 26!" ucap Raksa yang ngantongin kertas itu lagi.
"Nama bapaknya cowok lo itu siapa?" Raksa nanya lagi.
"Bapaknya Reno, ya? ehmmm, siapa ya?" Kalin mikir.
"Astagaaa, jangan bilang lo nggak tau siapa nama bapaknya?!" Raksa gelengin kepala.
"Gue lupa!" ucap Kalin.
"Udah ketwbak nih bakal kayak gini! muter-muter nggak jelas!" Raksa ngelepas helmnya.
Bau styling cream yang mainly seketika menabrak indera penciuman Kalin.
"Jadi siapa nama bapak nya?" tanya Raksa lagi.
Sibuk mengendus bau yang enak, Kalin spai lupa kalau dia harus mengingat nama bapaknya Reno, "Hem, ini gue lagi inget-inget siapa namanya!" Kalin garuk-garuk kepalanya.
Padahal di kaca spion Raksa ngeliat kalau Kalin gelagepan, 'Dasar bicah labil!' gumam Raksa dalam hati.
"Gue telfon bimbel aja! mereka asti tau nama bapaknya Reno!" Kalin ngeluarin hapenya, dia mencari kontak telepon.
__ADS_1
"Haloooo, ini saya Kalin. Yang tadinkinta alamatnya Reno, hem saya udah nyampe perumahannya. Tapi saya lupa nama bapaknya Remo siapa ya? terus itu rumahnya nomor 25 apa 26 ya? soalnya tulisannya nggak begitu jelas..." Kalin nyerocos tanpa basa basi.