
Tapi siapa sangka, dengan hanya satu kalimat itu membuat jantungnya dan jatung Kalin saling bersahutan deg-deg annya.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Kalin makin cepat saat mencium aroma parfum maskulin di baju sekolahnya, mungkin di rambutnya juga. Aromanya nggak kuat, tapi kok berasa seger banget di hidung Kalin.
Raksa yang udah diluar, baru inget kalau motornya ada di basement. Yang itu artinya dia harus bawa Kalin masuk lagi.
"Astagaa!!! begooo!" Raksa geplak jidatnya sendiri.
"Kenapa masuk lagi?"
"Salah jalan!" jawab Raksa yang kini melepaskan rangkulannya dan beralih menggandeng tangan Kalin.
Rahmi yang masih disitu hanya bisa mereka berdua lewat, dan nggak sengaja mata Rahmi ngeliat kedua tangan yang bertautan itu sama-sama memakai cincin.
Dia menggeleng, "Nggak mungkin..." tiba-tiba jantungnya berasa ditusuk-tusuk jarum jait.
"Mbaakk? ini pesanannya, Mbaaak?! saya ada orderan lain," kata pria berjaket ijo yang di tangannya masih megang pesanannya Rahmi.
"Oh iya, makasih ya!" ucap Rahmi. Matanya masih mengawasi dua orang yang secara muka nggak mirip.
"Kenapa mereka pakai cincin yang sama?" Rahmi bergumam sendiri.
Sedangkan Raksa yang ngegandeng Kalin, nggak sengaja nabrak Farid yang baru krluar dari lift.
Bughjj!
"Sorry!" kata Farid reflek. Dia bareng Tania.
"Raksa?" pekik pria jangkung itu.
"Deuuh, bahlul! keluar dari lift jangan nyerodot begitu! untung rem kaki gue pakem!" kata Raksa.
Farid nggak ngegubris repetannya si Raksa, matanya beralih pada gadis SMA yang cantik sekaligus unyu-unyu yang digandeng sahabatnya itu.
"Jadi ini tunangan---" Farid segera dibekep sama Raksa.
Tapi Farid ngebuka bekepannya lagi, "Adek? adek? tun----" mulut Farid dibekep Raksa lagi.
"Rid?! jangan rese!" Raksa melotot. Sedangkan Tania ngeliatin Kalin dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Emang cantik! apalagi kulitnya yang putih dan rambut hitam yang panjang lurus. Muka tanpa make up berlebihan, hanya dengan bibir yang diulas ligloss yabg glossy banget, mengkilat.
"Kantin? atau gue sebar semua?!" ancam Farid.
"Bahlul emang lu, yakkk?!!" bisik Raksa.
"Terserah lo!" Farid naik turunin alisnya.
Lantas Raksa melepaskan Farid dan ngegandeng tangan Kalin, "Kita ke kantin sini aja!"
Sedangkan Farid yang ngeliat temennya yang salting itu pun nggak bisa nahan buat nggak ketawa.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tania.
"Nggak apa-apa!" Farid pun ngajak gebetannya ngikutin Raksa dari belakang.
Dan sekarang mereka duduk berhadapan, antara Raksa dan Farid. Sedangkan Raksa bisa ngeliat wajah bingung dari tatapan Tania.
"Mau pesen apa? ntar gue yang pesenin. Gue traktir!" kata Farid.
"Lo aja, gue udah ada makanan!" nunjuk bungkusan yang ada di depannya, Kalin yang duduk disamping Raksa pun hanya bisa diem. Antara malu dan canggung di tengah-tengah manusia yang udah mature begini.
"Ohhhh, dibawain taaaahh?" sindir Farid
"Minum aja deh! beliin jus stroberry dua! kata Raksa.
"Oohh, jadi samaan nih selera minumnya?" Farid naik turunin alisnya.
"Lo pengen apa, Tan? ntar gue ambilin!"
"Gue? gue ikut lo aja, ntar gue pesen sendiri," kata Tania.
Tania dan Farid pun pergi buat mesen makanan. Sedangkan Raksa masih duduk anteng sama Kalin. Para karyawan yang lain sempet nyuri pandang pada kalin yang masih pakai seragam sekolahnya.
'Pengen gue colok nih matanya!' batin Raksa yang ngeliat balik laki-laki yang ngeliatin tunangannya.
'Astaga, nih orang pada kenapa sih? emang mereka nggak pernah liat anak yang pakai seragam sekolah?' Raksa masih ngebatin aja.
Tiba-tiba ada mas-mas magang yang ngeliat keberadaan Kalin, yang waktu itu pernah ketemu di lobby.
Si mas magang dadah-dadah, Kalin pun akan membalas lambaian tangan itu tapi Raksa berbisik.
"Nggak usah dibales!" ucap Raksa yang pura-pura nengok padahal bibirnya membisikkan sesuatu di telinga Kalin.
Kalin pun nurunin tangannya lagi berbarengan dengan Raksa yang menatap ke depan. Dia hanya senyum pada laki-laki yang menyapanya tadi dengan lambaian tangan.
"Jadi, lo beliin gue apa?" todong Raksa.
"Beliin?"
"Ini loh ini..." Raksa ngeluarin dua papper bowl beserta alat makannya.
"Kalau tante Lia kan pasti kalau pun nyuruh lo bawain, pasti masakan rumahan yang dibikin sendiri. Kalau ini kan hasil dari beli di resto ya, kan?" tebak Raksa.
"Ehm," Kalin gugup.
"Gue udah tau!" ucap Raksa sambil ngebuka makanan.
Nggak lama Farid dan Tania pun dateng dengan makanan yang ada di nampan mereka.
"Soto lagi?" Raksa nunjuk mangkok Farid dengan alisnya yang terangkat satu.
"Ya kan gue emang duta soto nasional. Jadi hidup gue emang gue dedikasikan buat nyicip soto ke seluruh penjuru negeri!" ucap Farid.
"Halah, ngomong aja lagi bokek!"
"Sembarangan aja tuh mulut kalau ngomong!" ucap Farid melototin Raksa yang duduk di hadapannya.
Raksa menggeser satu bowl buat Kalin. Gadis itu nengok ke arah tunangan diam-diam nya.
__ADS_1
"Deuuuh, ngasihnya kagak romantis lu!" sindir Farid.
Hap!
Mulut Farid disuapin soto panas dari tangan Raksa yang nyawel sendok beserta kuah panas yang bikin mulut Farid rasanya mau melepuh, "Hah, hhh!" Farid ngipasin mulutnya yang terbuka pakai tangan.
Glek
Glek
Farid nelen tuh kuah panas-panas, lalu segera mengguyur tenggorokannya dengan es jeruk yang dia pesan.
"Sadis amat lo jadi orang! bibir gue bisa melepuh ini!"
"Betewe ini adek lo atau?" tanya Tania.
"Elah, Tan! Lo masih aja nanya, itu loh mereka pakai cincin yang sama. Kayak gitu aja lo nggak paham?" celetuk Farid.
Hampir aja Raksa siram Farid dengan soto yang ada di depannya, kalau aja tuh mangkok nggak dilindungi sama yang punya.
"Kenape? kagak bisa lo nyiram gue pakai ini?!!" Farid dengan tatapan ngeledeknya.
"Ehm, gue Tania. Gue---"
"Calon pacar gue ini?!!" Farid langsung memperkenalkan Tania di depan Kalin.
"Kalau gue Farid, gue temen si bahlul ini?!!" lanjutnya sambil nunjuk Farid dengan dagunya.
Sedangkan Raksa makan aja udah, males juga kalau harus ngeladenin si Farid mulu. Makin dia jengkel, makin diumbar semua apa yang tuh orang tau tentang hidupnya Raksa.
"Sa? lo nggak ngenalin dia sama kita?"
Sedangkan Kalin bingung harus ngenalin dirinya sendiri.
"Gue Kalin..." akhirnya Kalin ngomong karena pria yang ada disampingnya sibuk makan.
Raksa ngangkat wajahnya dan ngambil salah satu es jeruk yang ada di nampan farid, kebetulan tuh orang ngambil 3 gelas.
"Tunangan gue!" ucap Raksa tiba-tiba.
Dan laki-laki yang denger dan emang lagi curi-curi pandang ke arah Kalin pun ikutan shock, bukan cuma Tania yang mulutnya mangap nggak percaya.
"Kenapa?" Raksa memandang Farid dan Tania bergantian. Pria itu juga wajah melongo nya Kalin yang bikin dia malah makin menggemaskan.
"Gue nggak nyangka, lo jomblo ternyata karena suka nya yang daun muda. Tapi jujur gue penasaran, kenapa lo bisa tunangan sama dia. Dia kan masa depannya masih cerah, Bray! masih bisa cari cowok yang lain yang lebih ganteng dan lebih kaya, bukan rakyat jelata macam lo!" kata Farid yang makin kesini makin pengen ngorek cerita dari Raksa.
"Lo nggak perlu tau! dah kan? lo nggak bisa ngancem-ngancem gue lagi pakai itu," kata Raksa. Dia pikir dia buka aja semuanya, daripada dia terus-terusan diancem sama Farid yang katanya mau beberin kalau dia udah punya tunangan.
Lagian bertunangan kan bukan dosa atau pun hal yang jelek, malah sebaliknya. Itu bisa membangkitkan nilai yang ada di dalam diri Raksa.
"Makan, nanti makanannya keburu dingin. Abaikan aja mereka berdua," kata Raksa.
Kalin yang kikuk pun mengangkat sendoknya dan mulai makan, tapi jujur hati nya sekarang deg-deg an apalagi saat Raksa ngasih satu gelas es jeruk yang es nya lebih banyak daripada air jeruknya, biasa S3 marketingnya kantin kantor.
"Terus Rahmi gimana?" tanya Tania yang bikin Raksa menghentikan makannya dan ngeliat ke arah wanita yang duduk di samping Farid.
"Emang kenapa sama Rahmi?" tanya Farid pada Tania.
__ADS_1
"Bisa nggak kita makan dengan tenang? jam makan siang makin menipis kalau lo berdua ngajakin gue ngobrol mulu?" ucap Raksa.
'Emang siapa Rahmi? kenapa dia nggak mau ngebahas?' batin Kalin yang ngeliat ke arah Raksa yang fokus makan.