
Kalin sudah dirias subuh. Rencananya ijab akan dilaksanakan jam 9 nanti.
"Bun? apa nggak berlebihan?" tanya Kalin.
"Berlebihan apanya? sama sekali nggak! malah bunda merasa kalau ini sangat sederhana. Tapi bunda janji kalau nanti kamu resepsi, bunda akan jadikan kamu seperti ratu!" kata bunda Lia.
"Ratu? apaan sih, Bun? Bunda lebay banget, deh!" ucap Kalin.
"Kamu cantik banget, Sayang!" Bunda Lia melihat Kalin cantik dengan make up yang flawless.
"Kamu udah makan kan?"
"Udah, Bun!" kata Kalin.
"Ya udah, sekarang kita turun ke bawah," ucap Bunda yang menuntun anaknya.
Kalin deg-degan luar biasa. Meskipun pernikahan ini akan berbeda dengan pernikahan pada umumnya, tapi iru nggak mengurangi rasa gugup Kalin yang akan dipinang oleh seorang pria yang mulai dia sukai.
Setelah mereka turun, Bunda membuka kamar tamu yang sudah dihias tampa sepengetahuan Kalin.
"Cantik banget, Bun?! wangi lagi!" Kalin yang mengagumi kamar yang jarang ditempati itu.
"Kamu suka?"
Kalin mengangguk.
"Ya sudah, kamu duduk dulu! sambil menunggu dari pihak Raksa datang!" kata bunda.
Bunda pun menutup pintu, meninggalkan Kalin yang semakin dibuat deg-degan.
Sedangkan Raksa dan keluarganya baru saja sampai. Mereka disambut oleh ayah Diki dan juga bunda Lia. Sementara pak penghulu juga sudah datang.
"Calon mantuku gagah sekali!" puji ayah Diki.
"Ayo, ayo, masuk!" lanjutnya.
Pak Hendra, bu Selvy dan Nova, masing-masing membawa hantaran untuk calon istri nya Raksa.
Senua orang kini sudah menempati posisinya. Bunda sengaja memanggil fotografer untuk mengabadikan momen itu.
"Silakan di cek dulu dokumennya," ucap pak penghulu pada Raksa. Dan kebetulan ada satu orang lagi dari pihak KUA yang menjadi saksi pernikahan antara dua anak manusia yang terpaut jarak umur yang lumayan jauh itu.
"Ya, sudah sesuai, Pak!" kata Raksa.
Sebuah meja yang dilapisi dengan untaian bunga melati membuat suasana semakin sakral, meskipun hanya dihadiri segelintir orang.
"Jangan gugup!" bisik bu selvy.
"Karena waktu sudah hampir jam 9, mungkin bisa dipanggilkan calon pengantinnya..." kata pak penghulu.
__ADS_1
Mas kawin yang sudah dibawa Raksa diletakkan di meja, sebagai tanda bukti cintanya pada si bocil.
Bunda mangetuk pintu kamar, dan masuk ke dalam.
"Sayang, sudah ada Raksa. Kita keluar, ya?" ucap Bunda.
Sedangkan Raksa sendiri, mencoba untuk menetralisir kegugupannya menghadapi peristiwa penting dalam kehidupannya ini.
Mata Raksa melihat ke arah Kalin yang cantik dengan kebaya berwarna putih. Dia terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki calon istrinya itu.
"Ojo ndowoh, Le! ( Jangan melongo, Le?!)" ucap bu Selvy lagi.
Seketika mulut Raksa pun menutup dan nggak percaya dengan bidadari yang akan dinikahinya ini.
Bunda memasakan kain berwarna putih di atas kepala Raksa dan Kalin. Semua orang duduk, kecualu kang poto yang daritadi mencari angle-angle terbaik.
Dan pak penghulu pun bertanya sebelum menjabat tangan Raksa, "Dilihat baik-baik dulu, sudah benar ya calonnya yang ini?"
"Ehm, ya, Pak! benar!"
"Baiklah kita mulai saja!" pak penghulu kemudian bertanya pada ayah Diki.
"Bapak ingin menikahkan anak bapak sendiri atau diwakilkan?" tanyanya.
"Saya sendiri!"
"Saya terima nikah dan kawinkan nya Kalin Arsila Cayapata binti Diki Arya Cayapata untuk diri saya sendiri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Raksa dngan sekali tarikan nafas.
"Sah!" ucap pak penghulu dan saksi nikah.
"Alhamdulillah..." ucap semua orang.
Raksa pun akhirnya lega, karena mulai detik ini Kalin sudah sah menjadi istrinya.
Klain mencium tangan Raksa, tentu itu disuruh oleh bunda, sebelum mereka lanjut menandatangani dokumen.
"Selamat pak Raksa, sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri!" ucap pak pebghulu yang kemudian permisi untuk pamit.
Sedangkan Raksa dan Kalin disambut pelukan oleh orang terdekat yang mensyukuri kebersamaan anak-anaknya.
"jaga Kalin buat ayah sama bunda ya, Raksa?" ucap ayah Diki.
"Ya, Om! pasti!" kata raksa.
"Loh kok masih panggil, Om? panggil ayah, karena sekarang kamu juga anak kami, Raksa. sama seperti Kalin!" kata ayah Diki yang memeluk calon menantunya. Sedangkan Kalin udah pasti diperebutkan kedua orang ibu yang akan melimpahkan kasih sayang padanya.
"Jadi istri yang berbakti ya, sayang? bunda tau berpisah sama kamu merupakaan hal yang berat. tapi bunda yakin kalau Raksa akan menjaga kamu disana dengan sebaik-baiknya," ucap bunda.
"Jangan nangis, Bun?"
__ADS_1
dan mereka mengatur acaranya sendiri. Raksa dan kalin pun sungkeman,. sedangkan Nova ikut tersenyum bahagia melihat sahabatnya itu akhirnya bisa menjadi keluarganya
Dengan nggak tau dirinya, Nova sengaja duduk disamping ibunya. Dan setelah Raksa selesai sungkeman dengan bu Selvy, tangannya disambut tangan lain.
"Gue maafin lo kok, Bang!" ucap raksa yang nggak sadar lagi sungkeman sama aadeknya.
"Astagaaaa, Nova? ngapain kamu duduk disitu!"
"Lah? abang nggak jadi sungkeman inih?"
"Adik durhakaa!" kata Raksa.
"Siapa yang durhaka?" tanya bu Selvy.
"Itu Bu Nova Bu..."
Sedangkan suasana yang harusnya mengharu biru kini berubah seketika, semua orang tertawa melihat Raksa yang nggak berkutik di depan ibunya.
"Sudah, sudah lebih baik kita ke meja makan. Kita makan bersama. Kebetulan saya sudah pesan catering!" ucap bunda Lia.
Dan dengan otomatis, Raksa menggandeng Kalin yang cantik dengan gaun kebayanya yang simple tapi semakin memunculkan aura pesonanya .
"Daripada nanti jatuh!" raksa menunduk dan melrpaskan heels yang Kalin pakai.
"Nyeker dong?"
"Biarin! lo tetep cantik dengan atau tanpa heels ini!" ucap raksa yang bikin Kalin meleleng.
"Deeuuh, romantisnyaa. Mau dong digombaliiin?" Celetuk Nova.
"Digembelin mau?"
"Dih!" mulut Nova meleyot seketika.
mereka semua kini berkumpul untuk makan bersama.
Sementara di kantor ada yang belingsatan. ya, Rahmi sedari tadi mencuri pandang ke arah ruangan Raksa.
"Dia kemana lagi? apa dia sakit? atau ijin?" Rahmi menebak kemana perginya raksa.
Rahmi berpikir akan seperti kemarin, dimana Raksa datang siang, namun nyatanya sampai jam segini belum ada tanda-tanda Raksa akan muncul. Namun dalam hatinya merasa gelisah.
"Kenapa ya? kenapa sedari pagi perasaan gue nggak enak?" gumam Rahmi, sedangkan orang yang bisa menenangkannya nggak masuk kantor.
Tania yang duduk biasa duduk di sebelahnya, hari ini ijin.
"Ck, kenapa gue kepikiran Raksa terus? kenapa, ya?" Rahmi sambil menggenggam barang yang sempat dia ambil dari ruangan Raksa.
"Apa gue tanya Farid lagi? dia pasti tau kenapa akhir-akhir ini Raksa berubah. Gue yakin dia nggak mungkin move on secepet itu. Gue yakin dia cuma mau nguji seberapa besar usaha gue. Tapi Farid, gue minta bantuan Farid buat deketin gue lagi sama Raksa..." ucap Rahmi yang bebal.
__ADS_1