Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Gregetan


__ADS_3

Tanpa ingin membuat keributan di dalam mall itu, Kalin menarik Raksa supaya menjauh dari pasangan yang kalau ngomong nggak ada saringannya.


"Dia lagi ngejatohin lo, kenapa lo tarik gue kesini? heran gue!" Raksa melayangkan tatapan kesal pada Kalin.


"Gue nggak mau kita diusir gara-gara bikin keributan di mall ini! lagian, apa kata dia juga nggak berpengaruh banyak buat gue, buat hidup gue. Karena apa yang mereka sangka semuanya nggak bener," Kalin yang berusaha bersikap dewasa.


"Gue emosi, gue jadi pengen minum!" Raksa ngajak Kalin buat duduk lagi di salah satu kedai yang ada di mall itu yang menjual beraneka ragam minuman.


Raksa yakin sekarang hati Kalin nggk karuan. Dia kembali dengan minuman smoothies dengan low sugar sesuai permintaan kalin. Udah kebanyakan asupan gula dia hari ini.


"Manggo!" Raksa sodorin satu cup punya Kalin. Sedangkan gadis itu tersenyum tipis.


"Bentar, gue telpon bokap lo. Takutnya dia khawatir lo belum pulang. gue lagi yang kena masalah," Raksa scroll hapenya dan nemuin kontak ayah Diki.


Raksa sengaja nelpon di depan Kalin, dia ijin secara langsung meskpiun katanya Nova udah ijin juga, tapi tetep aja lebih baik ngomong sendiri.


Kalin ngeliat ke arah Raksa, dia memperhatikan setiap gestur dan mimik wajah pria itu.


'Kenapa nyebelinnya kalau ngomong sama gue?' batin Kalin yang nggak nyadar kalau awalnya dia duluan yang nyebelin.


Raksa menyudahi sambungan teleponnya dan bilang, "Bokap lo udah kasih ijin. Dia cuma bilang buat hati-hati,"


Pria itu memandang tunangannya yang masih terlalu bocil untuk disebut seorang tunangan. Raksa sendiri mengakui kalau gadis menyebalkan itu memiliki paras yang cantik, dan nggak ngebosenin.


"Kenapa? galau ketemu sama mantan?" Raksa buka obrolan.


"Nggak, siapa bilang gue galau? nggak, nggak sama sekali..." sahut Kalin, dia lalu menyedot minumannya.


"Oh ya syukur, berarti otak lo masih waras. Karena cowok kayak gitu nggak pantes buat ditangisin...." Raksa dengan senyum sarkasnya.


"Dia aja belum tentu mikirin lo, apalagi menangisi perpisahan kalian, itu lebih nggak mungkin lagi," lanjutnya.


"Iya, Om..." dua kata dari mulut Kalin yang sanggup bikin Raksa ngereog kaya kuda lumping.


Tapi ngeliat satu senyuman tertahan di bibir Kalin, bikin Raksa yang mau marah jadi nggak jadi marah. Cuma guondok mah pasti ya.


"Silakan lo mau panggil gue, Om! yang malu juga lo sendiri, kenapa anak SMA kayak lo malah jalan sama Om-Om!" tantang Raksa.


Makjleb!

__ADS_1


Kalin pun diam, seakan nggak ada lagi bisa dijadikan senjata buat nyerang balik ucapan Raksa.


Padahal mah dari tampang, Raksa jauh dari kata Om-Om. Kalau ngaku masih anak kuliahan juga, pasti banyak yang percaya.


Merasa ucapannya berhasil, Raksa pun tertawa di dalam batinnya.


'Dasar bocil, diomong segitu aja udah menciut! makanya jangan macem-macem sama gue!' Raksa senang dalam hatinya.


"Oh ya, berhubung ada lo disini. Gue mau minta tolong,"


"Nggak mau!" ucap Kalin.


"Heh!"


Tapi sesaat melihat tampang Raksa yang kesel, Kalin pun ketawa.


"Marah-marah mulu, cepet tua baru tau rasa!" ledek Kalin.


'Astagaaaa, bocah yang satu ini bener-bener yakkk, ck!' Raksa berdecak.


"Dengerin gue dulu," Raksa menjapit bibir Kalin dengan tangannya.


Raksa kemudian melepaskannya dan duduk dengan coolnya, "Bantuin gue bikin candle light dinner super romantis!"


"Bukan buat eluu bociiil, tapi ini buat istri bos gue!" Raksa berusaha buat sabar.


"Istri bos?"


"Bukan kayak yang ada di otak lo. Gue nggak ada main ya sama istri bos gue?! lo jangan mikir yang macem-macem!"


"Ya terus?!" Kalin dengan muka polosnya ngeliatin Raksa yang udah gregetan.


"Bos gue minta tolong gue buat nyiapin candle light dinner buat istrinya yang lagi ngambek. Lo kan cewek, jadi harusnya lo tau dong apa yang biasanya seseang wanita sukai!" Raksa mengetukkan jari jemarinya di meja, seakan mengetik sesuatu yang abstrak disana.


"Gue belum jadi istri, jadi maaf gue nggak tau apa yang para istri sukai!"


"Heyyyy, jangan coba-coba ngeles!" Raksa yang nyingkirin gelas yang ada di hadapan Kalin dan mencondongkan badannya ke depan, ngeliat kedua mata gadis itu tanpa penghalang apapun.


Kalin yang ditatap dalam seperti itu jadi kagok, "Ih iya iya iya!"

__ADS_1


"Iya apa?" Raksa sengaja nggak melepaskan tatapan matanya.


"Iya nanti gue bantu, puas?!" Kalin mencoba lari dari tatapan Raksa tabg begitu menusuk, mungkin sampai relung hatinya.


Bikin jantungnya mulai jedag jedug nggak karuan.


"Puas puas? heh, kagak sadar lo sering gue bantuin? nih bekas gamparan bapaknya mantan pacarblo aja membekas!" Raksa nepok pipinya.


"Ya maap!" Kalin nggak berani ngeliat wajah tunangannya.


"Udah ah, jangan deket-deket!" Kalin seketika mendorong bahu Raksa yang lebar itu.


"Mumpung kita lagi bareng dan nggak lagi berantem. Jadi gimana? apa yang gue perluin buat menciptakan super candle light dinner malam jumat nanti?"


"Maap, itu mau nuyul apa mau makan malam romantis? jangan ngadi-ngadi deh," Kalin gelengin kepala.


"Istri bos gue ngambeknya udah lama. Bos gue kagak sabar nungguin sampai malam minggu. Pokoknya kita turutin aja, soalnya ini berpengaruh sama keberlangsungan kesejahteraan gue di kantor. Gue nggak pengen di cut dari perusahaan," Raksa serius.


"Nggak usah banyak tanya, yang lo harus lakuin cuma kasih tau gue apa aja yang harus gue beli, dan lo juga harus bantuin gue nyiapin itu semua..." lanjutnya.


"Iyaaaaaa..." sahut Kalin yabg masukin lagi sedotan ke dalam mulutnya, dia minum sebanyak-banyaknya sampai kembung rasanya.


Untung yang diajak ngebolang di mall ini ya murid teladan di sekolahnya, tapi nggak teladan di tempat les. Karena beberapa hari dia suka bolos dengan alasan yang nggak jelas, pokoknya ngilang aja bawaannya.


"Cewek itu suka dengan hadiah, tanyain istrinya itu suka warna apa! dan barang apa yang lagi dia pengen!"


"Gue nanya sama bos gue gitu?!"


"Bukan, tapi sama tukang las depan bimbel gue! dah sono tanya!" Kalin kesel.


"Tinggal jawab aja apa susahnya sih?!" Raksa felengin kepala, ngadepin bocil yang juga suka emosian.


Raksa pun mengeluarkan hapenya dan kulai mengetik.


Pak, istri bapak suka warna apa? dan kasih tau saya juga barang apa yang lagi dipengenin istri bapak.


"Dah gue kirim ke bos!" Raksa nunjukin chat WA nya pada pak Tomi.


"Ya udah tinggal nunggu. Bos lo bales apaan!"

__ADS_1


Ketika Kalin ngomong kayak gitu, tqngan Raksa pengen ngejitak ubun-ubun tuh bocah tapi nggak jadi.


'Bikin gue gemes mulu nih bocah' Raksa gregetan dengan Kalin yang kini fokus pada hapenya.


__ADS_2