
Arkan segera menutup pintu. Dia yakin kalau suara ayahnya udah sampai keluar, karena jarak rumah ini yang deket bahkan nempel satu sama lain.
"Ayah, ayah sabar ayahhh!" Arkan segera menghampiri ayahnya.
"Istighfar, Yaaah!" Arkan mencoba menurunkan tangan ayahnya. Anak sulung itu mengajak ayahnya untuk duduk.
"Reno, lo---"
"Apaaa? lo mau nyalahin gue juga, iya?! mending lo nggak usah ikut campur, karena gue udah muak sama semuanya," Reno dengan tatapan bencinya.
"JAGA BICARAMU, RENOO! ARKAN INI ABANG KAMU, ABANG KANDUNG KAMU. KAMU JANGAN KURANG AJAR!" Ayah yang udah berhasil duduk.
"Udah, Yah udah. Jangan terpancing emosi," Arkan mencoba menarik ayahnya supaya duduk.
"Reno sudah keterlaluan, Arkan! bagaimana bisa, dia pinjam segitu banyaknya uang pada gadis itu!
"Ayah, ayah masih aja percaya omobgan kedua orang tadi. Sekarang itu banyak sindikat penipu yang ngakalin duit orang dengan cara-cara kayak gitu, Yah! Reno mana mungkin minjem duit sebanyak itu, buat apa? ayah itu harusnya percaya sama Reno, seperti apa yabg ayah tunjukkan pada semua orang!" Reno nggak tau malu.
"DIAM KAMU RENO!"
"Reno, kamu jangan kelewat batas! ini ayah kamu, Reno. Kamu lagi bicara sama ayah, bukan sama temen kamu!" lanjut ayah.
"Arkan tadi udah ketemu sama Kalin dan juga Raksa.
"Arkan sudah duduk bareng, udah minta maaf dan minta penjelasan dari semua yang terjadi. Dan apa yang mereka katakan itu bener, Kalin itu pacarnya Reno, Yah. Dan Arkan udah cek, nomor yang tersimpan di hape Kalin itu ya nomor Reno. Dan setelah kuta bicara, akhirnya Arkan memutuskan buat ngelunasin semua hutang Reno, dan alhamdulillah semuanya udah selesai. Mereka juga udah memaafkan Reno, begitu juga dengan Raksa yang udah maafin ayah,"
"Heh, kok lo ikut campur masalah gue? mau jadi pahlawan kesiangan?!" Reno sinis.
"Ren? gue nggak mau jadi aphlawan kesiangan. Gue nokongin adek gue sendiri, dan harusnya dari awal kalau lo ada keperluan, lo bisa bilang sama gue, Ren! bukan dengan minjem sama orang yang sekarang udah lo putusin..." kata Arkan.
"Halah, ngomong aja lo suka kan sama dia? lo pengen kan apa yang gue pengen?! udah punya pacar, masih aja ngemodus sama cewek laen!"
"RENOO...! JAGA MULUT KAMU!"
"Apa? ayah mau tampar Reno? iya? tampar aja, Yah. Tampaaarrr! pukul sekalian sampai ayah puas! bukannya waktu itu juga ayah udah pernah nampar Reno?" Reno tepokin wajahnya. Sedangkan Arkan kaget dengan pernyataan Reno. Karena setau Arkan, semarah aaoun ayahnya pada anak-anaknya, dia pasti akan mencoba bersabar.
"Reno! ini ayah, jangan ngelawan sama orangtua!" Arkan udha gemes banget sama adeknya yang pembangkang ini.
"Biar ayah pukul dia! biar dia sadar dengan apa yang dilakukannya, Reno!"
"Jangan, Yah! jangan! ayah yang sabar, ini ujian Yah. Ini ujian keluarga kita..." Arkan mencoba menurunkan intonasinya.
"Dulu lo nggak kayak gini, Ren! apa salah abang sama kamu, Ren? sampai lo benci banget sama abang lo sendiri? apa yang udah abang lakuin?"
"Abang udah curiga, karena lo sering banget beli barang-barang. Beli baju, beli jaket, dan hal lainnya yabg nggak relate sama uang jajan lo yang dikasih sama ibu. Apa yang bikin lo berubah katak gini? hidup dengan mementingkan kesenangan,"
"Peduli apa lo tentang gue?! sekarang lo seneng kan? gue yakin hati lo sekarang meledak-ledak saking bahagianya," tuduh Reno.
__ADS_1
"Reno kamu itu sudah keterlaluaaan!" Ayah mengangkat tangannya dan...
PLAKK!!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Reno. Tangan ayah tercetak dinkulit putih anaknya.
Dan mirisnya adegan itu diliat oleh ibu Rini yang baru masuk bersama dengan Nadila
"Assalamualaikum..." ucap bu Rini pelan.
Ayah yang ngeliat istri dan anak bungsungnya masuk, matung aja gitu.
"Di rumah banyak nyamuknya, Yah?" Nadila ngeloyor ngeliat pipi abangnya.
Dia elus itu pipi, "Kenapa nyamuknya suka banget nempel sama abang?"
"Sini Bang, Reno. Nadila punya lotion yang bisa bikin nyamuk nggak mau npel sama abang lagi!" Nadila dengan polosnya narik abang nya dan pergi dari situ.
"Ibu, ayah bisa jelasin..." ayah ngeliat istrinya dengan air mata yang udah memupuk. Hatinya begitu pedih saat ngeluat anak yang udah dilahirkan, digedein digampar sama suaminya.
Bu Rini pun pergi masuk ke dalam kamarnya.
"Astaghfirullah, apa yang udah ayah lakukan?!" ayah Hakim begitu menyesali dengan apa yang udah dilakukannya tadi.
"Ayah tenangkan diri ayah dulu, biar Arkan yang mencoba menjelaskan sama ibu..."
Sedangkan di dalam kamar Nadila, Reno disuruh duduk di ranjang kecil si adek.
"Abang tunggu yah? Nadila mau ambil lotionnya," ucap Nadila.
Reno cuma diem, dia ngeliat si bocil yang bukain laci di kamarnya nyari barang ajaib yang katanya bisa ngusir nyamuk. Padahal Reno ditampar bukan karena ada nyamuk nempel yang waktu itu pernah dijadika alasan ayah saat kepergok Nadila yang habis pulang ngaji.
"Nahhhh ketemuuu!" Nadila segera naik ke atas ranjang di samping abangnya, "Sini, Bang..." kata Nadila.
"Mau diapain?" Reno menjauhkan wajahnya.
"Nad kasian abang diteplak sama ayah terus, jadi sekarang Nad olesin ini biar nggak ada nyamuk yang nempel di muka abang lagi," Nadila ngolesin lotion anti nyamuk.
Reno yang awalnya marah, guondok sama ayahnya, redam karena perlakuan Nadila yang polos kayak gini.
"Abang boleh tanya sesuatu?" Reno ngajak ngomong saat tangan mungil Nadila ngolesin lotion.
"Tanya aja, Bang! tapi tanya nya jangan susah-susah ya?"
"Kalau abang pergi dari rumah, Nad bakalan sedih nggak?"
"Emang abang mau pergi kemana? abang nggak betah karena di rumah banyak nyamuknya?" Nadila ngunyel-nguyel muka abangnya, berasa lagi main salon-salonan.
__ADS_1
"Kalau abang pergi ya Nad sedih banget. Nad bakalan nangis karena kangen sama abang..." lanjut gadis kecil itu.
"Kenapa?" tanya Reno.
"Karena Nad sayang banget sama abang," Nadila jujur. Sedangkan Reno yang denger ungkapan sayang dari adiknya ngerasa dicintai dan dibutuhkan di keluarganya itu, dan itu sangat berarti buat Reno.
"Nadila, lebih sayang bang Reno atau bang Arkan?"
"Lebih sayang siapa ya? Nad nggak bisa milih, karena Nad sayang semuanya..."
Reno cuma tersenyum tipis ,mendengar jawaban Nadila itu.
"Udah selesai," Nadila nutup botol lotion dan ngeliatin wajah si abang yang kini mengelus ubun-ubun adiknya.
Sedangkan di tempat lain.
Kalin ditelponin mulu sama bunda. Nggak biasanya si anak gadis udah maghrib tapi belum ngandang juga ke rumah.
"Iya, Bun. Tadi... iya, tadi kalin ada urusan ke rumah temen. Ini udah selesai urusannya. Ini kalin lagi otewe balik, macet bun di jalan!" Kalin nempelin hape di kupingnya.
"Kalin udah deket rumah kok, bunda nggak usah khawatir..." lanjut Kalin. Sedangkan raksa no komen sih, dia fokus aja nyetir.
'Kalau dipikir-pikir, ini si bocil yang ada masalah , lah gue ikutan kecipratan juga!' batin Raksa.
Sampai akhirnya pria itu berhenti tepat di sebuah rumah yang cukup besar, "Udah nyampe..." ucap Raksa saat motornya dihalangi sebuah pagar besi hitam.
Kalin turun dan nyerahin helm pada Raksa, "Makasih banget ya, Om!"
"Lo belum tau rasanya bibir dijepret pakai karet gelang 7 lapis kan?!!!" Raksa kesel.
Baru Kalin mau jawab, itu pintu gerbang didorong sama pak Abdul.
"Loh pak Abdul? belum pulang?" tanya kalin.
"Nungguin mbak kalin. Masuk, Mbak. Udah dicariin bunda..." ucap pak Abdul.
"Masuk aja, Mas..." lanjut pak Abdul pada Raksa.
Raksa sih ngeh kalau itu artinya dia disuruh buat nganterin Kalin sampai pintu rumahnya, bukan cuma pintu gerbang.
"Naik!" suruh raksa pada kalin.
Jadilah Kalin yang udah turun, sekarang naik motor Raksa lagi sampai ke dalam area teras rumahnya.
"Lo nggak langsung pulang?"
"Lo nggak denger kata bapak yang tadi? gue disuruh masuk. Itu artinya gue harus nganterin lo secara langsung. Gitu aja nggak ngerti..." sahut Raksa.
__ADS_1
Kalin turun nungguin Raksa naruh helmnya, dan mereka jalan menuju pintu utama. Hati Kalin lumayan deg-degan, dia takut kena omel malam ini.