
Begitu sampai di kamar, Raksa menutup pintu dan menyalakan ac sampai di suhu terendah. Cuaca di luar lumayan cerah, dan sekarang dia kepanasan.
Baju yang basah keringat, Raksa lepas dan menggantinya dengan kaos yang lebih adem. Dia juga mengganti celananya, dengan bahan yang lebih nyaman.
Tapi panas badannya nggak ilang begitu aja.
"Apa ada yang salah sama gue? kenapa gue nggak bisa mengontrol has-rat gue?" ucap Raksa.
Sesaat dia terdiam.
"Tadi pagi gue nggak kenapa-napa, gue interview dan ketemu Kalin..." Raksa meruntut kejadian.
"Dan habis ketemu Kalin, kita mau jalan ke resto. Gue ngerasa udah mulai nggak enak badan pas di trem," gumamnya, sambil merasakan sakit di badannya.
"Berarti masalahnya, sewaktu gue ketemu sama Kalin...rrghhh," Raksa emngerang, dia ngerasain sakit di badannya.
"Gue ketemu sama Kalin, gue haus dan gue minum dari botol soda yang dia bawa!" ucap Raksa.
Pria itu pun lantas berpikir, kalau dia nggak punya alergi soda. Dia juga biasa minum soda merk yang kemarin Kalin bawa. Nggak ada masalah seharusnya.
"Kecuali kalau ada yang memasukkan obat lain ke dalam minuman Kalin. Tapi siapa? siapa yang berniat jahat sama istri gue?" Raksa ngerasain suhu ruangan ini nggak membantu sama sekali.
"Jangan-jangan cowok yang waktu itu bareng sama Kalin? kalau bener iya, gue bakal bikin perhitungan sama cowok bang-sat itu!" Raksa meskipun badannya udah nggak karuan , dia mencoba untuk tetap berpikir waras.
Lantas dia mengambil hape dan searching si inyternet mengenai gejala-gejala yang dia alami./ Namun matanya membulat saat tau kalau apa yang dialaminya ini karena suatu obat yang sangat dilarang, karena membuat orang yang meminumnya akan mengalami halusinasi tentang sesuatu yang halal bagi suami istri.
"Kalin anak yang polos, dia nggak mungkin sengaja beli obat kayak gitu buat dia minum. Tujuannya juga apaan? Nggak mungkin, gue tau banget siapa Kalin. Gue yakin cowok yang namanya Arvin itu yang merencanakan semua ini. Gue yakin banget dia suka sama Kalin, rrgghh!"
Ditengah rasa panas yang membara, tiba-tiba Kalin masuk dengan membawa handuk kecil yang dikasih beberapa kotak es batu.
"Aku...."
"Sebaiknya kamu keluar sekarang, Kalin," Raksa mencoba menjauh dari Kalin, dia nggak mau membuat Kalin takut sama dia.
"Aku cuma mau ngobatin luka kamu, aku nggak sengaja tadi," kata Kalin yang merasa bersalah. Dia sadar kalau sudah menjadi seorang istri dan apa yang dilakukan suaminya itu ya wajar, tapi Klain yang biasanya diperlakukan lembut mendadak kaget dengan sisi Raksa yang lain.
"Taruh aja disitu, biar nanti aku pakai sendiri,"kata Raksa.
"Aku mau minta maaf, aku udah keterlaluan tadi,"
"Aku maafin, rrgh! sekarang mending kamu keluar aja, Kalin. Aku nggak mau bikin kamu takut, abaikan aja kalau aku teriak. tutup kuping kamu, dan bersantai aja di depan tivi," kata Raksa.
Sementara kalin mendekat, keqadaan Raksa semakin kacau. Dia sedang berada di puncaknya.
Tiba-tiba ada telepon dari hape Kalin.
"Halo? ya?"
"Buku lo ketinggalan," ucap Arvin yang sengaja memancing Kalin buat keluar.
"Hem? nanti aja, Vin! kamu pegang dulu aja, aku ... aku lagi nggak bisa keluar," kata Kalin.
"Tapi gue udah di deket pemberhentian trem. Lo kesini bentar, ambil nih buku. ..." ucap Arvin.
"Ehm, ya udah!" Klain akhirnya pergi dan menaruh handuk dan juga es batu.
__ADS_1
"Aku pergi bentar. Buku aku ketinggalan, ini Arvin mau balikin," kata Kalin yng kemudian pergi.
Tapi kemudian Raksa sadar kalau yang kalin akan temui ini orang yang berbahaya.
"Kalin?!! Kalin jangan pergi Kalinn?!!!" teriak Raksa.
Kalin denger suara teriakan Raksa, tapi dia mencoba mengabaikan sesuai dengan perintah suaminya. Kalin tetap pergi dan menemui Arvin.
Sedangkan Raksa, dia mengejar istrinya agar nggak ketemu sama laki-laki yang sratus persen Raksa yakin kalau ingin berniat jahat pada istrinya.
"Ada apa?" tanya Kalin saat sudah sampai di pemberhentian Trem.
"Buku," Arvin menyodorkan buku.
'Kenapa dia biasa aja? nggak mungkin obatnya belum bekerja,' kata Arvin.
"Ok, thanks! sorry, Vin! gue nggak bisa lama-lama, gue harus pulang. Harusnya lo nggak usah nganterin," kata Kalin.
'Tapi tunggu! darimana dia tau rumah gue?' tanya Kalin dalam hatinya.
"Tunggu!" cegah Arvin yang menahan badan Kalin.
'Tenang aja, Kalin! gue yang akan memimpin permainan ini. Gue akan jadi penawar buat lo,' Arvin dalam hatinya.
"Singkirkan tangan lo dari istri gue!" ucap Raksa yang menepis tangan Arvin.
"Santai aja, Bro!" Arvin dengan sinis.
Raksa dengan wajah yang tenang menatap wajah lawannya dengan tajam, percayalah dia sekarang sedang menahan sensasi panas di badan dan di pikirannya.
"Lo berhadapan dengan orang yang salah! gue nggak akan biarin satu semut pun mampu menyakiti istri gue!" Raksa dengan sangat jelas.
"Aaawkkk!!! sakit!" gumam Kalin, dia nggak berani memberontak. Dia tau kalau Raksa lagi sakit, jadi cengkramannya kali ini pasti karena dia nggak sengaja.
Brakk!!
Sampai di dalam rumah Raksa menutup pintu dengan kencang dan segera menguncinya.
Kalin sampai memegang kupingnya, kaget mendengar suara pintu yang dibanting seperti itu. Raksa memaksa Kalin buat masuk ke dalam kamar, rasa panas yang menjalar ditubuhnya, membuatnya semakin berkeringat. Dia membutuhkan suhu yang lebih dingin, dan itu di kamar mereka.
Dengan nafas yang terengah-engah Raksa lalu mendekati Kalin, "Kamu tau? orang yang kamu temui itu sangat berbahaya!"
"Aku udah bilang tadi, jangan pergi! tapi kamu masih aja ngeyel!" Raksa sekarang udah nggak bisa menahan emi.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau---"
JANGAN SELALU MEMBANTAH KALIN! SEKARANG ADA SESEORANG YANG SEDANG MENGINCARMU DAN ITU ARVIN! GUE KAYAK GINI KARENA SEDANG DALAM PENGARUH OBAT!" Raks berteriak, dia membuat kalin menutup matanya. Nggak mampu melihat amarah dari wajah suaminya.
"Sekarang gue mau tanya! siapa orang yang terakhir lo temui, sebelum keluar nemuin gue di kampus?" lanjut Raksa.
"Arvin,"
"Apa yang kalian lakukan?"
"Kamu nuduh aku?" Kalin balik bertanya.
__ADS_1
"Aku nggak nuduh, aku hanya tanya!" ucap Raksa.
"Duduk aja, dia tanya ya aku jawab. Itu juga paling hanya 1 atau 2 menit aja," sahut Kalin, takut-takut.
"Apa botol soda yang aku minum pemberian Arvin?" tanya Raksa.
Kalin menggeleng.
"Bukan, itu aku yang beli. Kenapa? isinya berkurang karena aku yang minum,"
"Dimana kamu minum? kamu membuka sendiri segel botolnya?" tanya Raksa detail.
"Ya!"
"Lalu?" Raksa masih terus menggali jawaban dari Kalin.
"Lalu ya aku taruh dimeja dan menggendong tas, dan botol itu disosorkan Arvin karen aku nggak sengaja mau ninggalin di meja!"
"Lalu dimana botol itu?"
"Kan udah dibuang, sama kamu juga tadi buangnya!" ucap Kalin.
"Oh, shiiittt!" Raksa menjambak rambutnya, dia kesal karena hampir gagal menjaga istrinya. Dia ngerasa kalau dia sama sekali nggak berguna. Dia merasa nggak punya musuh, kenapa ada orang yang mengincar Kalin disini.
'Tapi tunggu, musuh? apa mungkin ini perbuatan Rahmi yang dendam sama gue dan Kalin? tapi masa iya Rahmi?' batin Raksa.
Dia kembali menatap tajam istrinya.
"Dengar, Kalin. Kita nggak aman disini, terutama kamu. Arvin bukan sekedar cowok kuliahan yang suka sama kamu, aku yakin dia punya niat terselubung dan aku yakin banget kalau dia berniat jahat. Yang aku simpulkan, dia memasukkan sebuah obat ke dalam minuman soda kamu. Dan beruntung aku yang minum bukan kamu!" ucap Raksa badannya semakin nggak karuan, makin dia lawan makin sakit rasanya. Dia sengaja nggak menyentuh Klain, dia nggak mau sengatan itu berlanjut.
"Obat?" Kalin mengernyit.
Raksa mengeluarkan hapenya dan menunjukkan semua gejala yang dia lamai persis dengan efek yang ditimbulkan ketika seseorang mengkonsumsi obat laknat itu.
Kalin pun menutup mulutnya dengan tangan, dia membaca sampai tuntas, lalu beralih melihat ke arah suaminya.
"Udah tau kan sekarang?" Raksa mengambil lagi hapenya.
"Mulai sekarang berhati-hatilah. Arrggh, aku nggak tau apa jadinya kalau kamu yang minum obat itu sedangkan kamu bersama dengan dia. Rgghhhh..." Raksa menatap Kalin dengan sayu, dia ngerasa sulit sekali untuk tetap waras ditengah gempuran rasa yang nggak jelas.
"Sekarang, keluar! biarkan aku sendirian!" Raksa mengusir Kalin.
"Tapi---"
"Keluarlah Kalin! aku harus menaklukkan diriku sendiri, dan itu sangat sulit jika kamu ada disini!" kata Raksa.
Sedangkan Kalin malah menangis.
Dia menangis bukan Karena diusir, melainkan dia baru menyadari sebegitu sayangnya Raksa sama dia. Kalau orang lain mungkin saja akan memaksanya untuk melakukan sesuatu.
"Tapi aku nggak bisa ngeliat kamu tersiksa kayak gitu..."
Raksa menggeleng, " Cepat keluar, Klain! aku nggak mau mengingkari janjiku sendiri sama ayah. Janji itu yang membuat kita ada disini. Aku nggak mau mengecewakan ayah, Kalin..."
Kalin pun menangis. Dia melihat wajah Raksa yang begitu frustasi. Tapi dia sendiri nggak bisa apa-apa.
__ADS_1
"Aku yakin ayah akan berubah pikiran jika melihat kondisi mas saat ini..." ucap Kalin yang kini mendekat.
"Aku istrimu..." ucapnya antara takut dan kasihan.