Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Kesempatan


__ADS_3

Teman-teman yang lagi ngegerombolin Raksa pun akhirnya minggir alon-alon. Mereka agak segan dengan Kalin si cewek pinter yang populer di sekolah mereka. Mereka dengan wajah melongonya pun ngeliat Kalin yang berjalan mendekat.


Kalin mengambil spidol dari tangan Raksa, "Ini punya lo?" tanya Kalin pada temannya yang lain.


"I-iya?" sahut salah satu gadis dengan baju yang penuh dengan tulisan, nggak jauh beda sama bajunya Kalin lah.


"Cowok gue!" ucap Kalin dengan senyum khas nya.


"Duluan, ya?" ucap Kalin yang menarik Raksa menjauh. Kemudian Dia mengajak Raksa ke suatu tempat. Pria itu berasa jadi Park Seo Joon dengan segala kearifan lokal yang melekat padanya setelah mendengar ucapan Kalin pada temannya.


"Nova mana?" tanya Raksa yang nggak ngeliat adeknya.


"Masih di dalem!" ucap Kalin yang menggandenga tangan tunangannya itu sampai akhirnya mereka sampai di lapangan yang cukup besar. Dua sudut Raksa tertarik ke atas secara otomatis, dia seneng diselametin dedek gemesnya sebelum tangannya pegel nyoret-nyoret di baju gerombolan para gadis.


"Ada apaan sampai harus kesini?" Kalin melepaskan tangan Raksa dia sekarang berbalik dan menatap tunangannya itu.


"Nggak apa-apa. Emangnya nggak boleh? Gue ngucapin selamet buat tunangan gue yang lulus hari ini?" ucap Raksa yang sebelumnya udah dikasih tau tentang kabar lulusnya Kalin dan Nova oleh ibunya, Bu Selvy.


"Ya boleh, sih!" ucap Kalin males-malesan.


"Selamat ya?!" Raksa pun mengeluarkan sekuntum bunga dari dalam saku jaketnya.


Kalin yang awalnya bete pun kemudian tersenyum dan menerima bunga itu, "Makasih..." ucapnya setelah menerima bunga pemberian tunangannya. Kalin mencium bunga mawar yang terlihat sangat santik.


"Bukan anak sekolahan lagi dong ya sekarang?" Raksa naik turunin alisnya.


"Yaaa iyaaa...." Kalin malu-malu, dia melempar pandangannya ke arah lain.


Raksa pun tersenyum, dia menyentuh pipi Kalin. Dia arahin supaya ngeliat ke arahnya. Perlahan Raksa nyelipin rambut panjang gadis itu ke belakang telinga, "Jadi habis ini lo mau kemana?"


"Maksudnya?" Kalin memandang  kea arah Raksa.


"Bukannya lo udah diterima di beberapa universitas? jadi, mana yang lo pilih?"


Kalin menggeleng, "Gue belum tau..."


"Cepet tentuin, jangan buat mereka nunggu!" ucap Raksa.


'Apa gue harus bilang ya? Kali aja ini salah satu peluang gue buat sekolah di LN!' batin Kalin.


"Kenapa lo diem?" tanya Raksa.


"Nggak apa-apa!" Kalin senyum aja.


Raksa ngeliat ada satu bola yang mungkin lupa dimasukin siswa yang udah selese olahraga. Dia bergerak dan mengambil bola itu.


**********Dugh**********!


Dugh!


Raksa mendrible bola itu santai. Dia membawanya ke tengah lapangan.


"Anggap aja bola ini adalah kesempatan. Dan kesempatan itu udah lo ambil, lo bawa digenggaman lo dengan sebuah usaha. Bola peluang udah lo pegang tinggal lo lempar ke tempat yang benar!"


Bugh!

__ADS_1


Raksa melompat dan mengarahkan bola ke dalam keranjang.


Bluss!


"Dan kesempatan itu milik lo sepenuhnya!" ucap Raksa ketika bola itu masuk senfan tepat.


Dugh!


Dugh!


Raksa mengejar bola yang udah menggelinding. Dia mendrible bola itu lagi menuju keranjang basket.


Bluss!


Bola itu masuk lagi, dan kini Raksa setengah berlari dan membawa bola itu menuju Kalin.


"Sekarang kesempatan ada di tangan lo! San tugas lo sekarang jadikan kesempatan itu menjadi sesuatu yang nyata!" Raksa menyuruh Kalin buat memegang bola itu, lalu mengarahkan tangan gadis itu untuk melemparnya bersama-sama dengannya.


Bluss!


Dugh!


Dugh!


Dugh!


Bola itu masuk ke keranjang untuk kesekian kalinya dan menggelinding ke sembarang arah.


"Kalau lo mau, lo bisa jadiin peluang itu sepenuhnya milik lo bareng sama gue..." ucap Raksa.


Kalin pun nengok ke belakang, kedua mata mereka bertemu.


"Lo mau?" tabya Raksa dengan nada yang lembut.


Kalin berpikir sesaat, 'Apa ini artinya gue bisa pergi ngeraih cita-cita gue buat belajar di luar?'


Raksa menggenggam satu tangan Kalin, dia menempelkan di dadanya sendiri, "Raih apa yang lo mau. Karena kemana pun lo pergi, gue bakal ada disitu! Gue nggak bakal ngebiarin lo sendirian!"


Pria yang menyebalkan, yang selalu bersikap jutek padanya sekarang bicara dengan tekanan yang lembut dan dalam. Entahlah, Kalin ngerasa kalau dia hanya bisa terpaku melihat wajah itu.


Tap!


Tap!


Tap!


Mereka mendengar suara langkah mendekat.


Raksa pun menjarak tubuhnya dengan Kalin, dia takut kepergok sama guru.


"Astagaaaa, gue cari-cari satu sekolahan! ternyata ada disini?!!" teriak Nova dengan wajah yang bete.


"Ngapain?" tanya Nova pada kedua orang yang panas-panas di siang bolong.


"Main gundu!" sahut Raksa ngasal.

__ADS_1


Dan ternyata adabsatu orang lagi yang dateng setelah Nova.


"Kalin?!" panggil satu laki-laki yang memakai seragam sekolah.


"Radit?" gumam Kalin.


"Ternyata lo ada disini, gue kira lo udah pulang..." kata laki-laki itu.


"Kenapa emangnya?" Kalin memunggungi Raksa dan menanggapi teman satu sekolahnya.


Laki-laki itu mencoba menormalkan nafasnya, yang sedikit ngap-ngapan.


"Ehm, lo belum tanda tangan di baju gue!" kata Radit.


"Betewe selamat ya!" Radit memamerkan senyumnya.


Sedangkan Raksa jangan ditanya dia gondok banget dengan laki-laki yang ada di hadapan tunangannya ini.


Radit menyodorkan spidol ke tangan Kalin, "Sebelah sini!" dia menunjuk dada sebelah kirinya.


"Di punggung aja di punggung!" celetuk Raksa.


"Udah penuh, Om!" ucap Radit dengan sedikit penekanan.


"Am Om Am Om, gue gibeng baru tau rasa nih bocah!" gumam Raksa.


"Udah deh, Bang! diem," Nova taruh telunjuknya di depan bibir.


Sedangkan adeknya iru mendekat, dia juga pengen minta tanda tangan Radit makanya dia nyuruh abangnya jangan berisik.


Kalin nengok ke belakang bgeliat wajah Raksa yang kesel banget.


"Kalin?" panggil Radit.


Kalin meraih spidol itu dan menuliskan namanya di dada kiri Radit. Baju yang semula putih, sekarang penuh dengan tulisan-tulisan penuh kenangan.


"Disitu nama lo selama ini!" lirih Radit.


Ucapan itu membuat Kalin terhenyak sesaat, dia ngeluat ke arah Radit yabf mebatapnya dengan tatapan lain.


"Udah? gue juga minta tanda tangan lo, Dut?!" ucap Nova.


'Astagaa, sejak kapan adek gue jadi kecentilan begitu?!! apa istimewanya bocah ini sih?!' batin Raksa.


"Dimana?!" tanya Radit yang ngebiarin Kalin yang masih terdiam.


"Dimana ya? ih kenapa pada penuh sih?" Nova kesel.


"Nih disini aja deh?!" Nova menunjuk lengan baju sebelah kanan.


Radit pun membubuhkan tanda tangan beserta nama.


"Udah!" ucap Radit setelah menutup spidolnya.


"Oh ya? gue mau ngoming bentar sama lo. Lo ada waktu kan?" tanya Radit pada Kalin.

__ADS_1


Namun pertanyaan itu segera dijawab oleh Raksa, "Nggak bisa! kita ada acara!"


Raksa menarik Kalin menjauh dari Radit, sedangkan Nova teriak, "Eehh, tungguiiiiiiinn?!!"


__ADS_2