
Sekarang, Kalin udah siap.
Pak Abdul sengaja nganterin Kalin, sedangkan bundanya naik taksi online. Pokoknya pak Abdul disuruh nungguin Kalin sampai selesai, nggak boleh ditinggal. Maklum ya, anak satu-satunya. Pasti dijagain banget sama emak bapaknya, kagak boleh sampe lecet dikit.
Pak Abdul pun melongo saat melihat anak majikannya.
"Pak, mobilnya masih dikunci!" kata Kalin yang belum bisa ngebuka pintu.
"Oh, iya iya, Mbak! sebentar Mbak Kalin!" pak Abdul gugup, dia nampak tergesa-gesa jalan menuju mobil yang udah dicuci bersih.
"Mbak Kalin kenapa dandan kayak gitu?" gumam pak Abdul.
Sepanjang perjalanan, Kalin diem aja. Sejujurnya dia lumayan deg-degan buat ketemu mamang Raksa di kantornya. Biasalah takut dicengin, diledek-ledek bocil gitu.
"Semangat! hari ini gue nggak jadi bocil!" ucapnya penuh semangat.
"Stay kalem, Kalin! stay kalem!" ucapnya berulang.
Nggak berapa lama, mobil pun sampai di parkiran depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dia merapikan rambutnya sebelum turun.
"Mbak Kalin yakin mau masuk kesana?" tanya pak Abdul.
"Emangnya kenapa, Pak?"
"Nggak apa-apa, Mbak!" kata pak Abdul.
Kalin pun angkat kedua bahunya, "Kalin masuk dulu, Pak?!"
"Iya, Mbak!" ucap pak Abdul.
Sedangkan Kalin turun dengan tas yang nyangkol di pundak dan tangannya membawa bekal kotak dan minuman yang udah siap dalam satu cangkingan tas kain.
"Maaf, Mbak? ada perlu apa dan mau ketemu siapa?" tanya satpam.
"Saya ehm---"Kalin mikir.
"Saya tunangannya Mam---" dia menjeda ucapannya lagi.
"Saya tunangannya Mas Raksa. Saya sudah janjian,"
"Tunangannya pak Raksa?" tanya si satpam lagi.
"Iya, saya tunangannya! bapak nggak percaya?"
"Percaya, percaya..."
"Atau saya telfon pak Raksa sekarang?" Kalin mau ngebuka tasnya.
"Oh boleh kalau gitu..."
'Gue kira bakala bilang nggak usah!' batin Kalin.
Dia pun menelepon si Mamang.
Dia sengaja nyalain laudspeeker, "Gue laudspeeker neh!" ucapnya.
"Kenapa?"
"Gue maksudnya aku udah nyampe loh di kantor kamu, Mas!" ucap Kalin dengan nada yang dilembut-lembutin.
"Oh, gitu? masuk aja kesini..." Raksa pun hanya bicara dengan nada yang cukup aneh juga. Karena tumben-tumbenan si Kalin bilang aku sama kamu, biasanya kan lo gue.
"Oh ya, minta anterin satpam aja! takut nyasar, ntar yang ada lo tawaf di kantor lagi!" lanjutnya.
__ADS_1
"Gitu ya, sayang?"
"Iya..." sahut Raksa singkat.
"Eh, bilang lagi, dong..." lanjut pria itu.
Sementara percakapan itu masih terdengar oleh kang satpam yang ada di depan Kalin.
"Ehm, ya udah ya, Sayang!" Kalin dengan nada yang ditekan.
Tut!
Tut!
Dia pun mengakhiri panggilannya.
"Tuh kan? bener? bapak nggak percaya, sih?" Kalin kesal.
"Iya iya, maaf, Mbak! ya sudah kalau begitu saya antar ke ruangannya pak Raksa!" ucap si satpam yang kemudian minta temennya buat gantiin posisinya sebagai patung selamat datang.
Bebrapa orang yang berpapasan, nampak memperhatikan Kalin. Si gadis yang beranjak dewasa itu pun hanya tersenyum tipis. Sampai akhirnya si satpam nyuruh dia masuk ke dalam lift bergabung dengan beberapa orang yang kebetulan masuk di satu kotak besi yang sama.
Sama seperti yang lain, mereka pun nengok ke belakang, mencoba ngeliat siapa yang datang bersama dengan si satpam. Dan satu diantaranya, nggak kuat nahan ketawanya.
"Sumpah gue nggak tahan!" ucapnya pada teman di sampingnya.
"Syuut! ntar dia tersinggung!" ucap teman satunya.
Sedangkan kalin cuek aja. Dia pura-pura nggak denger percakapan dua wanita yang ada di depannya.
Ting!
Pintu lift terbuka, beberapa orang keluar. Sedangkan Kalin masih harus naik lagi.
Kalin pun berjalan kemana si satpam itu pergi. Dan dia masuk ke dalam sebuah ruangan yang semuanya ngeliat ke arah dia.
Tok!
Tok!
"Permisi, Pak!" kang satpam ngetokin pintu yang dikelilingi kaca. Jadi keliatan banget Raksa lagi duduk di dalam dengan beberapa lembar pekerjaan yang harus diperiksanya.
"Ya, masuk aja, Pak!" ucapnya dari dalam.
Ceklek!
"Permisi, Pak! tunangan anda ingin bertemu, " ucap pak satpam yang kemudian mempersilakan Kalin buat masuk.
Dan setelah Raksa mendongak, "Alamaaaakkkk!" gumamnya dengan tatapan nggak percaya.
"saya permisi, Pak!" ucap kang satpam yang kemudian pergi dan menutup ruangan itu dari luar.
"Pak, Pak! siapa perempuan tadi?" tanya Rahmi yang menghampiri seorang pria berseragam hitam.
"Oh itu tadi, tunangannya pak Raksa!" ucapnya.
"Saya ke bawah dulu, Mbak!" Satpam pun meninggalkan Rahmi yang menatap ke dalam ruangan atasannya.
Sementara Raksa yang tadinya duduk kini mendekat, "Cil? lo kenapa? bibir lo diantup tawon?" ucap Raksa yang kini menyuruh Kalin duduk, sementara bawaan kalin dia taruh di atas meja.
"Sembarangan aja kalau ngomong!" Kalin mendengus kesal.
Pria itu menangkup wajah Kalin, "Ini kenapa alis kayak dakocan begini? tebel amat?!" Raksa menyentuh alis Kalin.
__ADS_1
"Hahhaha," Raksa pun ketawa.
Sementara Kalin ngeliat tunangannya itu ketawa nggak abis-abis pun akhirnya nanya, "Emang seaneh itu ya gue?"
"Nggak aneh, cuma gue nggak biasa liat lo kayak tante-tante girang kayak gini!"
"Sembarangan!" Kalin geplakin lengan Raksa.
"Lo kenapa sih? pake kayak gini?"
"Biar gue nggak dianggap bocil lah!"
"Lah emang lo masih bocil, kan?" Raksa gelengin kepala. Dia dongakin wajah Kalin, buat menilai bagian mana aja yang terlihat nggak biasa.
"Udah, ah! malu gue!" ucap Kalin.
"Coba ya, lo liat dulu di kamera!" Raksa buka hape dan beralih pada aplikasi Kamera, dia malah ngajak Kalin buat foto.
"Selpi dulu, Cil!"
"Ibuk lo, dong?!"
"Gue bilang selpi, bukan selvy! denger dong yang baik," kata Raksa.
Kalin pun mleyotin bibirnya saat kamera memuat wajahnya dan juga sang tunangan.
"Ji, ro ,lu, Tek! (satu, dua, tiga, Tek?!" ucap Raksa.
"Hahahaha?!" Kalin malah ketawa ngeliat wajahnya di kamera kok aneh banget.
"Apa iya gue semenor itu, bhuahahajah?!"bukannya malah malu Kalin malah geli dengan wajahnya sendiri.
"Perasaan di kamar bunda nggak begini!" lanjutnya.
"Jadi bocil gue nyolong make up bunda nya? biar apa? biar keliatan dewasa? gue kira lo dandan kayak gini lagi uji nyali!" ucap Raksa yang ambil satu kursi dan duduk berhadapan dengan Kalin.
"Uji nyali mah bukan disini, tapi Noh dikuburan nenek moyang lo!"
Dan mereka ketawa lagi, apalagi Raksa. Dia geli banget ngeliat bibir Kalin merah ngejreng.
"Terus gimana nih?" tanya Kalin.
"Ya gimana?" Raksa nanya balik.
Ketika bibir Kalin manyun, Raksa ngambil tisu yang ada di meja nya dan mulai menghapus lipstik yang ada di bibir Kalin.
Raksaengelap bibir itu dengan penuh kehati-hatian. Sementara Kalin terpana melihat sepasang mata yang tajam bagai burung elang yang akan menghuj siapapun yang menatapnya.
"Lo bikin hari gue 'puffft', gue sampai nggak bisa berkata-kata lagi. But thank you annyway!" ucap Raksa sambil senyum, dia sibuk ngehapus make up tebal Kalin.
Sedangkan si perempuan, pasrah aja mukanya disapu tisu.
"Ntar kalau udah jadi istri jangan kayak gini tengah malem, ya? takut gue shock!" ucap Raksa.
"Diiih, nyebelin!" Kalin menjauhkan wajahnya
Dia ogah dipegang-pegang.
Raksa menarik wajah itu lagi, plus dikasih bonus cubitan di hidung mancungnya, "Ngambekan banget jadi bocah!"
"Kayak sendirinya nggak!"
Sementara di luar, Rahmi rasanya mendidih melihat Raksa yang begitu perhatian pada tunangannya.
__ADS_1
"Dia harus tau, kalau Raksa itu masih punya gue!" ucapnya dengan hati yang terbeset-beset.