Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Gue Udah Nikah! Hentikan Kegilaan Ini.


__ADS_3

Raksa nggak habis pikir, Rahmi yang dia kenal lemah lembut, bisa berlaku seperti ini.


"Sejak kapan kamu jadi seorang pembohong?" tanya Raksa.


"Sejak kamu nggak bisa aku dapatkan lagi, Sa!"


"Jangan bicara yang aneh-aneh. Mana dokumennya, aku tanda tangani dan silakan pergi," kata Raksa yang mengambil dokumen yang ada di tangan Rahmi.


"Urusanku sudah selesai!" lanjutnya setelah membubuhkan tanda tangan di atas kertas utu.


"Dan aku jelas ingat, dokumen ini sudah aku tanda tangani kemarin! jadi, setelah ini aku dan perusahaan sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi," lirih Raksa, dua nggak mau sampai ibunya tau soal Rahmi. Dia nggak mau menambah daftar keruwetan dalam hidupnya.


"Tunggu, Sa!"


"Maksudku, maaf. Aku nggak mau tapi aku bisa apa. Aku masih cinta sama kamu---"


"Shhhht! nggak usah bicara yang aneh-aneh, Rahmi! ini rumahku dan tolong kamu hargai itu," ucap Raksa.


"Aku pengen kita bicara, kalau nggak? aku bisa memperlihatkan ini pada gadis itu?" ancam Rahmi, padahal dia udah menunjukkan pada Kalin.


"Astaga, Rahmi!" Raksa menggelengkan wajahnya.


"Silakan," ucap bu Selvy yang tiba-tiba keluar dengan nampan yang berisi teh.


"Terima kasih, Bu? maaf jadi merepotkan,"


"Ah, tidak merepotkan, kok! silakan diminum!" ucap Bu Selvy.


Rahmi mengangkat cangkir itu dan menatap Raksa penuh maksud. Raksa berdiri dan mengajak ibunya untuk masuk. Dia bicara pelan di ruang makan.


"Bu, ternyata keberangkatan aku dan Kalin dipercepat. Ada urusan di universitas yang mengharuskan Kalin kesana. Jadi besok sore, rencananya aku dan Kalin akan berangkat ke Manchester!" kata Raksa.


"Bukannya 2 minggu lagi?"


"Ya Raksa taunya juga masih seminggu atau dua minmggu lagi. Tiket udah dipesan, jadi mau nggak mau besok kami berdua harus berangkat,"


Bu Selvy memeluk anaknya.


"Ya sudah, yang penting kamu jaga diri, jaga Kalinj juga! Yang rukun dan jangan sering berantem, kasian dia..."


"Bu? ternyata ada dokumen lain lagi yang harus dikelarin. Jadi Raksa keluar dulu, dan sekalian Raksa pamit..." ucap Raksa.


"Bapak sama Nova kemana?" tanya Raksa.


"lagi belanja. Nanti malamĀ  ibu dan bapak ke rumah Kalin. Nggak apa-apa, sekarang kamu urusi dulu urusan yang belum selesai. Biar nggak jadi beban," kata bu Selvy.


"Raksa pamit, Bu..." raksa mencium tangan ibunya dan keluar lagi.

__ADS_1


Dia melihat Rahmi sedang membereskan kertas-kertas yang menurutnya nggak berarti sama sekali.


"Kita keluar sekarang!" ucap Raksa pada wanita yang sudah menjadi mantan.


"Baik, Pak..." Rahmi bangkit dan menyalami ibu yang seharusnya menjadi calon mertuanya, seandainya saja hubungannya dan Raksa nggak sampai kandas.


"Mau pakai mobilku atau?" tanya Rahmi menunjuk mobil merahnya.


"Kita naik kendaraan masing-masing!" ucap Raksa dengan tegas.


Namun ternyata mobil bapaknya datang. dan keluarlah pak Hendra dan juga Nova sesaat setelah Rahmi masuk ke dalam mobil dan Raksa yang memacu kendaraannya mendekati bapaknya.


"Raksa pamit dulu, pak?"


"Loh kok udah pamit aja? siapa itu?" tanya pak Hendra.


"Staff di kantor, ada urusan. Raksa duluan," Raksa pun menutup helmnya lagi kemudian pergi mengikuti mobil yang kini bergerak maju. Sedangkan Kalin yang berada di dalam taksi, air matanya sudah mengucur.


"Ternyata benar wanita itu!" dia hanya tersenyum kecut dan menyuruh supir taksi bergerak maju.


"Ikuti mobil merah itu, pak!"


Dan selama perjalanan, hati Kalin bergemuruh. Kali ini dia semakin yakin kalau Raksa masih ada hubungan dengan wanita yang kemarin ditemuinya


"Ternyata kamu lebih parah dari Reno!" ucapnya lirih, dia terus memandangi dua orang yang menaiki kendaraan yang berbeda, namun saling berdekatan.


Sampai kahirnya mereka berhenti di sebuah restoran.


"Itu suami atau pacarnya, Mbak?"


"Itu suami saya, Pak!" ucap kalin dengan air mata yang udah nikin pipinya basah.


"Astagaaa, saya kira mbak masih anak-anak. Ternyata sudah dewasa. Wajahnya awet muda sekali, Mbak?" puji si supir taksi.


'Ya emang gue masih anak-anak! gue nikah cuma karena keadaan aja!' batin Kalin menimpali ucapan pak supir.


"Jadi mereka ketemuan disini?" gumam Kalin yang sengaja merekan keduanya dengan hape, biar menjadi barang bukti kalau suatu saat Raksa mengelak.


"Jalan, Pak! ke Bandara!" ucap Kalin yang menyuruh supir itu mengubah rute mereka.


"Berarti ini offline ya, Mbak?" tanya si supir.


"Iya, tenang saja! pokonya anterin saya, nanti saya bayar berapapun biayanya!" ucap Kalin yang kini menyeka air matanya.


Sementara raksa duduk sambil menatap lawan bicaranya.


"Gue udah bilang kan kalau kita udah selesai! kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kenapa lo jadi kayak gini, hem?"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu ngomong sama aku dengan cara kayak gitu, Sa?"


"Ya karena kita udah---" Raksa bosan harus mengulang ucapan yang sama berulang kali.


Dia menjeda ucapannya sesaat, "Berapa ratus kali gue harus bilang? di hati gue udah ada orang lain, Rahmi! gue udah menikah! ngerti?" akhirnya Raks aharus buka suara soal pernikahannya.


Wanita itu menggeleng, "Nggak! nggak mungkin kamu menikah dengan cewek yang bahkan masih suka jajan kayak ginian?!" Rahmi mengeluarkan sebuah cemilan rasa coklat berbentuk bulatan telur.


"Jadi lo yang ngambil ini?" Raksa membelalakkan matanya nggak percaya.


"Kinder joy gue?!!" ucapnya lagi.


"Lo nggak berhak ngambil apapun dari ruangan gue, Mi!" bentaknya.


Sedangkan wanita itu, bulir air mata jatuh ke pipinya, Dia menangis dengan apa yang barusan Raksa sampaikan.


"Terus inia rtinya apa?" tanya Rahmi menunjukkan lagi hapenya.


"Nggak ada!"


"Jahat!"


"Lo yang menjadikan semua ini seolah gue yang jahat, padahal sedari awal lo yang jahat Rahmi.


Lo yang ninggalin gue, setelah gue dapetin orang yang bener-bener gue cintai, lo muncul lagi dan bilang pengen balikan? lo masih waras, kan?"


"Lo coba pikir baik-baik," lanjut raksa dengan penekanan, dia mengetukkan pelipisnya dengan jari telunjuknya.


"Gue bosen dengan ini semua. Gue pengen hidup bahagia..." lanjutnya.


Raksa mereput paksa hape Rahmi dan menghapus vidio itu.


"Aku punya salinannya!"


"Aku nggak peduli!" ucap Raksa tegas, dia lalu bangkit meninggalkan Rahmi yang merasa harga dirinya terinjak-injak.


Dia duduk dengan air mata yang terus mengalir.


Sedangkan Nova yang sedari awal emang udah curiga mengikuti Raksa dan juga Rahmi dengan sepeda motornya. Dia bergerak dengan lincah membelah jalan raya. Dia nggak menyadari kalau Kalin juga berada di jalan yang sama dengan dirinya, dan kalin sendiri nggak tau kalau Nova juga ikut membuntuti Raksa.


"Jadi ini mantan pacar abang gue?" ucap Nova yang dengan berani duduk di kursi bekas abangnay.


"Gimana? udah jelas? kalau abang gue udah punya istri?" lanjut Nova,


Tapi Rahmi diam saja. Dia nggak mungkin membentak adik Raksa, meskipun sikapnya sudah begitu kurang ajar.


"Gue kalau jadi Kakak nggak bakalan ngemis cinta dari orang yang udah nggak cinta sama gue. Kakak itu cantik, dan nggak menutup kemungkinan buat dicintai sama oranglain. Inget, karma itu berlaku, loh? jika kakak menyakiti, berarti harus siap disakiti..." ucap Nova.

__ADS_1


"Karena gue nggak akan biarin siapapun merusak rumah tangga Bang Raksa dengan sahabatku, Kalin!" ucap Nova yang kemudian memberikan tisu pada wanita itu.


"Dunia ini memang kejam, tapi bukan berarti kita juga harus bersikap kejam dan menghalalkan segala cara. Gue Nova, gue adiknya bang Raksa..." ucap Nova yang kemudian menjabat tangan Rahmi.


__ADS_2