
"Memangnya yang namanya pak Galang itu baru 40 tahun?" tanya Kalin.
"Terus kamu percaya sama omongannya nih orang? ngelantur dia yang ada!" kata Raksa nunjuk Tania.
"Ya 40 lebih dikit..."
"Pak Galang itu ya seumuran sama bunda kamu. Udah ah, jangan bahas pak galang mulu. Oh ya, Tan kita pulang. Kabarin gue kalau lo udah keluar dari sini, dan semoga cepet ya?"
"Makasih ya, Raksa dan lo Kalin. Kalian udah mau maafin gue dan cabut laporan kalian. Dan..." Tania ragu buat ngomong tapi dia mencoba untuk tetap melanjutkan ucapannya meskipun terjeda sesaat.
"Dan Rahmi nggak bakal ganggu kalian lagi. Dia udah sadar kalau hubungan dia sama lo udah nggak bisa disambung lagi. Dia ngotot begitu juga karena gue yang komporin, jadi bukan salah Rahmi sepenuhnya juga, Sa!"
"Iya," sahut Raksa singkat dia malas membahas mantan di depan istrinya.
Kalin dan Raksa pun pergi, kali ini ke rumah ibunya Raksa karena katanya bunda sama ayah masih berkoordinasi dengan polisi untuk memulangkan Arvin yang asli yang ternyata selama ini disekap oleh anak buah pak Galang.
Arvin yang asli pun kembali ke keluarganya dan betapa shock mereka setelah mengetahui kalau selama ini anaknya telah disekap selama berbulan-bulan. Dia nggak mengalami kekerasan, dia hanya dikurung dan disuruh mengerjakan semua tugas kuliah yang Jonas kirimkan lewat adiknya, Martin.
Baik Martin dan Jonas sama sekali nggak bisa dihubungi, mereka yakin kalau bos mereka sudah ditangkap, jadi ya mereka kabur. Mereka nggak mau mendekam dipenjara.
Pak galang cukup kooperatif, dia nggak banyak tingkah dan semua urusan sudah dilimpahkan pada pengacara. Ayah Diki sekarang fokus pada istrinya. Makanya ayah Diki nyuruh Raksa bawa Kalin ke rumahnya, karena saat ini ayah Diki sedang mencari waktu yang tepat untuk membicarakan tentang Athalia.
Sudah pasti bunda Lia sangat kaget, dia bahkan memaksa ayah untuk mengantarnya ke negara di mana Athlia, saudarinya itu tinggal. Rencananya Kalin yang akan tidur di rumahnya pun akhirnya batal.
"Kenapa lo? kena sawan?" tanya Kalin pada Nova yang daritadi bengong mulu.
"Enak aja! mana ada ague kena sawan!"
"Ya abisnya daritdi lo diem mulu. Gue ngomong juga lo nggak ngejawab. Lo kayak lagi di dunia lo sendiri tau nggak?"
Nova yang biasanya akan nyerocos, kali ini nggak. Dia cukup kalem dan ya tiduran di tempat tidurnya dengan hape berada di tangannya.
"Gue cuma lagi---" ucap Nova menggantung.
"Lagi apa?"
"Lagi mempertimbangkan sesuatu!"
"Halah gaya banget lo, Nov!" Kalin ngasih satu bantal untuk Nova peluk.
"Gue disini dulu ya, selama bunda pergi ke LN!"
"Ya elah, Lin! kayak sama siapa aja lo! pakek acara nggak enak segala!" Nova ngeledekin.
__ADS_1
Kalin bisa ngerasain kehangatan dirumah itu meskipun dia harus merelakan telinganya untuk mendengar Nova yang jejeritan karena ulah abangnya yang usil. Sampai akhirnya setelah makan malam, Klain masuk ke kamarnya Nova. Mereka ngobrol ngalor ngidul sampi puas.
Sementara Raks di kamarnya sendiri gelisah, "Ngapain si kalin ke kamarnya Nova? lama banget? tadi katanya sebentar?" gumamnya.
"Apa gue samperin?" lanjutnya kemudian.
"Gue tunggu sejam lagi, kalau dia nggak balik juga kesini, apa boleh buat? gue harus jemput istri gue di kamar adek gue!" ucap Raksa. dia mengamati ke sekeliling ruangan pribadinya. Nggak ada satu barang pun yang dipindah. kamarnya masih bersih seperti biasa, nggak ada debu karena lama nggak ditinggali. Nova harus merelakan kalau dia hanya bisa kuliah di unversitas swasta. Draipada nggak kuliah karena udah ditolakin di universitas negeri, jadi ya udah dia jalani aja kehidupannya sebagai mahasiswi cantik yang suka dijulidin kakak seniornya.
Balik lagi pada Nova dan Kalin yang biasa lagi nonton drakor dengan lampu yang sengaja dimatikan, mereka masing-masing memeluk bantal.
"Gue kira si cowok ini bakal mohon-mohon sama ceweknya, buat tetep sama dia!" Nova ngomentarin drama yang mereka tonton.
"Gue juga kira begitu, tapi kayaknya ada fase seseorang bisa bosen berjuang dan pengen berhenti. Kayak gue waktu itu..." kata Kalin.
"Waktu lo sama Reno?" tebak Nova.
"Ih, kok kita bahas Reno?" Kalin menggelengkan kepalanya.
"Kalau abangmu denger, bisa ngambek dia!" ucap Kalin.
"Emang sebucin itu ya abang gue?"
"Ya! orang gue kuliah dianter dan dijemput! gue kayak bocah TK yang ditungguin emaknya sekolah!" ucap Kalin dan mereka pun ketawa.
"Iya gue aja sempet marah karena abang beneran protective sama gue, tapi gue baru sadar kalau di dunia ini banyak hal yang gue nggak tau. Dia cuma nggak mau gue terluka, Lin! tapi caranya itu loh suka bikin orang emosi, nggak yang lembut ngejelasinnya kan kita bisa ngerti ya..." Nova ikutan mengiyakan ucapan Klain.
"Oh ya, sebenernya ada hubungan apa lo sama bang Farid?" tanya kalin.
"Nggak ada hubungan apa-apa, Lin! lebih tepatnya belum..."
"Jadi beneran? lo deket sama dia?"
Nova ngangguk.
"Ya gitu lah, cuma gue lagi kesel aja sama tuh orang!" kata Nova yang matanya masih liat ke arah leptop.
"Kenapa?"
"Ternyata dia pernah bantuin Rahmi buat balikan lagi sama abang gue! gara-gara yang namanya Tania. Dia ngarepin Tania sementara Tania itu minta tolong sama dia buat bikin abang gue balikan sama mantannya! kan kesel banget gue dengernya. Kayak apaan coba?"
"Ohhhh,"
"Kok ohh doang sih?" Nova malah heran.
__ADS_1
"Ya gimana? emang pertama kali ketemu bang Farid juga gue udah tau kalau dia ngincer yang namanya Tania. Tapi kan ya namanya juga cowok, kalau lagi pengen ngedapetin sesuatu, mereka bakal ngelakuin apapun supaya apa yang mereka inginkan bisa terwujud.Tapi itu kan masa lalu," kata Kalin.
"Emangnya dia masih suka sama Tania?" Kalin balik nanya.
"Ya gue nggak tau! emangnya gue apaan? bisa tau seluk beluk hati dan pikirannya. Yang jelas, dia lagi berusaha pedekate sama gue. Kita deket ya semenjak acara prom. Tapi itu deket-deket biasa, cuma gue yang udah mulai suka. Maklin kesini makin deket, terutama semenjak abang sama lo pergi ke Manchester," kata Nova.
"Dan kemarin dia berusaha nembak gue, tapi ya itu gue kesel karena ternyata dia orang yang udah bikin lo sama banag keselip sama yang namanya mantan. Coba kalau dia nggak bantuin Tania. Nggak akan ada tuh si mantan yang minta-minta balikan! untung waktu itu gue temuin dan kasih ultimatum tuh cewek," kata Nova.
"Ultimatum?"
"Intinya gue kasih tau supaya nggak gangguin hubungan lo sama abang gue,"
"Lo emang sahabat gue, Nov!"
Tok tok tok!
Nova pun berannjak.
"Bentar!"
Ceklek!
Dan terpampang nyata sosok abangnya di depan pintu.
"Ada apaan?"
"Kalinnya mana?" tanya Raksa
"Ada di dalem, ada apaan?"
"Suruh keluar!"
"Kenapa? kita lgi marathon drakor!" kata NOva keukeuh nahan pintu.
"Tapi ini udah malem!"
"Ya emang udah malem!" kata Nova.
"Gue mau tidur!' kata Raksa yang mencuri pandangan ke arah Kalin.
"Tidur tinggal tidur! wleeee!" Nova pun segera menutup pintu dan menguncinya.
Braaakkkk!
__ADS_1
"Novaaaaa!!!" teriak Raksa.