Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Tatih Tayang


__ADS_3

Raksa pun menceritakan semua hal yang dia ketahui pada Kalin. Dan dia inget pernah nemuin foto Bundanya yang lagi berdiri dengan seseorang yang seratus persen mirip banget dari segi wajah dan bentuk badannya.


Kalin manggut-manggut, karena selam ini dia nggak pernah denger soal kembaran bundanya. Dia ngira kalau foto yang dulu dia lihat di album foto keluarga, itu hanya editan. Tapi ya ngapain juga ngedit foto kayak gitu, kayak nggak ada kerjaan lain aja, emang agak beda nih pemikiran Kalin.


"Terus gimana?"


"Udah ditangkep! sekarang lagi diperiksa polisi!" ucap Raksa. yang kini berpindah duduk di sisi ranjang Kalin.


"Aku yang penting kamu selamat, kamu nggak apa-apa!"


"Tapi kamu yang kenapa-napa, Mang!"


"Bisa nggak sih jangan ngerusak suasana? Mamang lagi mamang lagi! geli tau!" ucap Raksa.


"Iya iya deh suamiku!"


Raksa membawa kepala Kalin ke dalam pelukannya, "Untuk sementara ini kita nikmati liburan musim panas kamu disini, ya? sambil menunggu si Arvin KW itu ditangkap juga, lagi jadi buron dia!" ucap Raksa.


"Terserah kamu aja, kamu pasti udah mempertimbangkan semuanya..." kata Kalin.


"Ya sudah, sekarang kita tidur. Udah malem, badanku juga sakit semua..." ucap Raksa.


"Aku ganti baju dulu, ya? nggak enak dari rumah skait drai kantor polisi, hawanya udah campur-campur!' kata Raksa.


Kalin pun mengiyakan, dia menunggu suaminya untuk ganti baju. Dan beberapa detik kemudian, Kalin masuk ke dalam selimut, karena tanpa tau malu Raksa mengganti pakaiannya begitu aja disitu.


Raksa hanya menggelengkan kepalanya, melihat istrinya bagaikan siput yang masuk ke dalam rumahnya saat merasa ada bahaya yang datang.


"Dasar bocil!" gumamnya dengan seringai di wajahnya.


Dia pun ikut bergabung dengan Kalin, memeluk istrinya dan membelai rambutnya sampai Kalin tertidur untuk yang kedua kalinya.


Malam itu, bunda dan ayah, mereka sempat terima telepon dari kantor polisi mereka minta Klain dan Raksa buat kasih keterangan mengenai satu orang masih masih dalma pencarian.


"Gimana, Yah?" tanya bunda pada ayah.


"Nggak apa-apa. Cuma Raksa sama Kalin disuruh ke kantor polisi. Mereka masih mencari orang yang bernama Jonas..." kata ayah Diki.


"Huufh, aku nggak nyangka Galang dibalik semua kejadian ini, Yah?"


"Apalagi ayah, kenal juga nggak. Tiba-tiba ada orang yang dendam sama ayah. Kayaknya aneh banget, Bun!"


"Terus gimana Hendra?"


"Dia pulang. Ditelpon sam istrinya, takut ditinggal di rumah sendirian!" kata ayah.


"Tidur, Bun! karena ayah udah lumayan ngantuk nih. Ayah udah bilang sama polisi kalau Kalin masih trauma. Ayah bilang lusa aja Raksa sama Kalin kesana, kasian juga kalau pagi-pagi mereka disuruh kesana. Biar Kalin tenang dulu lah minimal..."


"Iya, Yah! bunda pikir juga kayak gitu..." ucap Bunda yang kini benerin bantalnya dan menarik selimut. Tangannya menggenggam tangan suaminya. Dalam hati, bunda Lia masih takut sesuatu yang buruk mengintai keluarga mereka.


"Percaya aja, Bun! Allah pasti melindungi keluarga kita dari orang yang jahat. Sekarang kita lebih baik tidur,"

__ADS_1


Kalau Farid kan udah biasa tidur sendirian, beda sama Nova yang takut kalau tidur di tempat yang asing. Jadi dia melipir ke kamar kalin dia ketuk pintu kamar itu.


Dogh dogh dog!


Raksa yang udah nyaman dan mulai merem pun ogah banget buka pintu. Dia lagi pewe banget meluk istrinya.


Tapi si Nova masiiih aja ngetokin pintu. Kali ini Raks anutup kupingnya sendiri pakai bantal supaya nggak dengerb suara ketukan pintu yang dia kira makhluk astral yang lagi usil.


"Ada apa, Nov?" tanya seseorang dari arah depan, satu ruangan bersebelahan dengan Kamar Raksa dan Kalin.


"Eh, bang Farid!"


"Belom tidur lo?" tanya Farid.


"Emh, belom!"


"Sama, gue juga! kita ngobrol di ruang tengah aja yuk?"


Jadi mereka ini nginep di satu villa yang ada 4 kamar, disitu juga ada ruang tamu dan ruang tengah buat nonton tivi.


"Lo mau kopi, nggak?" tanya Farid.


"Boleh,"


Padahal Nova punya sakit magh dan dia lupa kalau yang ditawarin Farid itu kopi. Lantas Nova nyusul Farid, dia bilang kalau dia mau teh panas aja. Untungnya kopi belum dibikin, dan Farid pun membawa dua papper cup buat mereka minum di luar. sambil ngobrol-ngobrol.


Yang namanya pegunungan pasti lah dingin, Nova melipat tangannya di depan dada, dia berharap bisa menghalau udara yang seakan ingin menusuk tulangnya.


"Gimana?" tanya Nova.


"Gimana apanya?"


"Bang Farid nggak nengokin?" tanya Nova.


"Nengokin siapa?"


"Cewek yang tadi, yang sama pak galang..."


"Tania?"


"Jadi namanya Tania," ucap Nova manggut-manggut.


"Ngapain? nggak ada urusan gue sama dia," Farid menyeruput kopinya lagi.


"Mulut abang berkata seperti itu, tapi mata abang berkata lain. Gue jelas banget ngeliat bang Farid menatap tuh cewek dalem banget,"


"Ah, masa? emang tatapan gue ini mah tatapan casanova! begitu memikat, jadi nggak heran banyak orang yang mudah terpikat. Awas lo harus hati-hati, bisa jadi lo kesengsem sama gue.."


"Tapi emang bener tuh. tatapan bang Farid tuh agak lain,  gue aja sampai kesengsem!" ucap Nova.


"Hahhahaha, ada-ada aja lo, Nov!" Farid ketawa, dia merasa lagi dipedekatein sama bocil.

__ADS_1


"Tau apa lo tentang kesengsem!"


"Jadi abang sama cewek itu nggak ada hubungan? dia bukan pacar bang Farid? atau mantannya mungkin?" tanya Nova.


"Kenapa emang?" farid menatap Nova, jantung Nova langsung deg-degan.


"Ya nggak kenapa-napa, gue kan nggak mau bertepuk sebelah tangan," lirih Nova.


"Mantan sih bukan, tapi lebih ke gebetan ya. Gue nggak tau kenapa lo bisa melihat itu, tapi kalau boleh jujur emang bener gue kenal dia dan gue pernah punya rasa sama dia..."


Dan seketika Nova pun lemes. jadin kecurigaannya itu benar, kalau farid ada hubungannya dengan cewek yang tadi bersama pak Galang.


Nova mendadak hatinya terbeset-beset.


"Cewek itu aneh, ya? suka ngotot minta jawaban, tapi giliran dijawab jujur suka berubah suasana hatinya!" Farid nyeletuk.


"Hem?" Nova nengok.


"Cewek itu aneh! suka nggak ketebak maunya apa!"


"Enak aja aneh! cowok aja yang nggak peka dan nggak ngerti arah pemikiran cewek, "


"Hahhahaha, ya iyalah! kita kan beda jenis, pasti lah cowok nggak tau pemikiran cewek. Kita itu dua spesiae yang berbeda," kata Farid.


"Gue nggak ada hubungan sama Tania. Dia lebih milih orang kaya, gue tadi cuma lebih ngerasa kasian aja. kenapa dia bisa terlibat sejauh itu," lanjutnya.


"Kita satu kantor, ngeliat teman satu kantor lagi kena maslaah ya otomatis ada rasa iba lah..." Farid melihat wajah Nova.


"Kenapa? cemburu?" tanya Farid.


"Dih, cemburu? dalam rangka apa gue cemburu?"


"Dalam rangka kesengsem sama gue! kan tadio lo sendiri yang ngomong kalau lo kesengsem sama gue?"


Seketika Nova pun salting.


Farid menaruh kopi dan teh yang ada di tangannya dan tangan Nova.


Dia menggenggam tangan Nova, "Gimana kalau kita saling mengenal, Nov? gue rasa ada hal lain yang bisa gue dapetin dari lo..."


"Dari gue? apa?"


"Tatih tayang!"


Pipi Nova pun terasa panas, dia ngerasa kalau tatapan Farid padanya sangat dalam.


"Lo mau kan jadi cewek gue?" tanya Farid.


"Nggak, nggak bisa! kalau lo mau pacaran sama adik gue! minta dulu restu dari gue!" ucap raksa yang tiba-tiba nongol dari arah belakang.


Mereka berdua pun kompak menengok, melihat Raksa dengan rambut yang acakadul.

__ADS_1


__ADS_2