
"Makasih ya, Sa?!" ucap teman-temannya saat udah di luar, mereka nepok bahu pria itu pelan.
"Makasih juga ya udah dateng! nanti kapan-kapan kita makan bareng lagi kalau Farid pecah telor jomblonya!" kata Raksa yang ditimpali tawa dari yang lain.
"Ah, itu kayaknya mustahal bin mustahil!" ucap salah satu pria yang hampir aja kena semburan lahar umpatan dari Farid kalau aja dia nggak cepet-cepet pergi dari sana.
Raksa dadah-dadah pada temennya yang udah mau menyambut hangat Kalin dan menerima tunangannya itu dengan baik.
"Makasih ya, Sa!" ucap Siska sebelum pergi.
"Sama-sama, Sis! ati-ati pulangnya!" Raksa tersenyum tulus.
Kalin nengok ke arah pria yang ada disampingnya, rahang tegas dan hidung mancungnya bikin dia melting sesaat.
Siska pun sama seperti teman-temannya yang lain yang juga pergi dengan kendaraannya, meninggalkan Raksa dan juga Kalin.
"Gue duluan, ya?! perut gue udah kenyang banget ini, abis ini gue mau tidur dengan nyenyak!" ucap Farid yang mengadu tangannya yang digenggam dengan buku-buku jari tangan Raksa.
"Ati-ati!" Raksa yang dadah-dadah, dia menunggu semua orang pulang sebelum akhirnya dia ngajak Kalin buat masuk ke dalam mobil.
"Astagaa, udah jam setengah 10!" Raksa yang kemudian mengeluarkan hape, dia nelfon bundanya Kalin.
Dia bilang kala mereka sebentar lagi akan pulang, dan raut wajah lega terpancar dari Raksa, "Makasih, Tante...!" ucapnya.
"Yuk, pulang!" Raksa pun menggandeng tangan Kalin yang dingin.
"Lo pasti kedinginan ya? cepet masuk!" Raksa bukain pintu dan menyuruh Kalin buat masuk dan duduk di dalam mobilnya. Namun, matanya mengarah pada satu mobil merah yang dia lihat terparkir juga disana.
'Astagaa, lo ngikutin gue sampai kesini? apa sebenernya yang lo mau, Mi?' Raksa dalam hatinya.
Dia memutar dan buka pintu dan masuk ke dalamnya..
"Rrhhh, tumben banget udara bisa dingin kayak gini!" ucap Raksa.
"Cuaca sekarang nggak bisa diprediksi seperti jaman dulu! sekarang udah global warming!" kata Kalin.
"Ya kayak cuaca di hati kita, siapa sangka gue bakal suka sama bocil kayak lo, kan?" Raksa ngejawel pipi Kalin.
"Astagaaa, ini pipi jangan dicubit?!"
"Terus harusnya diapain? dicium?" tanya Raksa, membuat gelenyar aneh di hati Kalin.
"Dih, apaan sih?" Kalin menyembunyikan senyumnya.
"Ngomong aja pengen gue sun?!" Raksa semakin seneng menggoda tunangannya.
"Sini, sini!" Raksa menangkup kedua wajah Kalin, dia mencium pipi itu dengan gemas.
"Gue bukan bayii, Oooyy!" ucap Kalin geli.
"Makanya jangan mancing!" ucap Raksa, dia melepaskan mangsanya.
__ADS_1
"Siapa juga yang mancing! wlee," kata Kalin.
Cup?!!
Raksa mengecup bibir itu sekilas sebelum bilang, "Manis!"
Pria itu mengusap pipi Kalin sekilas, dia membuat gadis itu melongo dengan ekspresi kagetnya.
"Kita pulang sekarang!" Raksa pun nginjek pedal gas dan membawa mobil itu pergi menuju rumah Kalin.
Sepanjang perjalanan merupakan penyiksaan bagi Kalin yang jantung dag dig dug macam bedug yang lagi ditabuh. Raksa hanya tersenyum ngeliat Kalin yang daritadi kepalanya miring ke kiri ngeliatin kaca mulu.
'Kenapa gue jadi gemes?! astagaaa, perasaan dulu gue suka ngumpat dia bocah setan! nah sekarang kayaknya gue ketempelan nih bocah, hawanya pengen ngusel mulu di pipinya yang lembut itu!' batin Raksa.
Mereka diem-dieman mulu, sampai akhirnya mobil Raksa masuk ke pelataran rumah Kalin.Raksa ngeliat rumah Kalin yang jauh lebih mewah darinya.
"Udah sampai!" Raksa ngetok kepala Kalin dengan telunjuknya.
"Iyaa," sahut Kalin singkat.
Dia buru-bvuru buka pintu. tapi karena Raksa belum mencet tombol buka kunci, Kalin nggak bisa ngebuka.
Klek!
Klek!
"Bukain, dong?!" ucap Kalin tanpa ngeliat ke arah tunangannya.
"Udah malem!" Kalin masih menghadap ke arah kaca.
"Ya emang udah malem," Raksa enteng.
"Buka pintunya, "Kalin nengok kearah kanan dengan bibir dicebikan.
Raksa meraup bibir itu dengan cepat, "Lo pakai pelet apa sih?!" ucap Raksa setelah melepaskan Kalin.
Kalin diem aja.
Dia nggak tau mau jawab apa, yang jelas dia malu saat ini.
Raksa mengusap pipi itu lebut, dia selipin rambut Kalin ke belakang kuping.
"Gue pengen tau, kenapa lo dengan mudahnya nyerah buat stay disini?"
"Gue nggak ngerti..." Kalin masih nunduk.
"Lo nggak percaya sama gue? atau lo belum ngerti pembicaraan kita di lapangan basket siang tadi?" Raksa mengangkat dagu gadis yang daritadi ngeliat ke bawah terus.
"Bunda nggak akan kasih ijin!"
"Kenapa? bukannya lo kesana kan buat belajar, kenapa juga nggak dikasih ijin? karena jauh?" Kali ini Raksa begitu kepo.
__ADS_1
"Lo nakal kali, makanya bunda lo nggak ngasih ijin. Ngaku lo?" Raksa dorong mencet hidung Kalin dengan telunjuknya, sampai bolongan hidung gadis itu keliatan lebih besar.
Kalin segera menangkis jari itu, "Haiishhh, nakal apaan?! nggak ada ya, nggak ada tuh catetan gue nakal!"
"Terus kenapa?"
"Karena bunda nggak mau gue jauh, dia khawatir ada apa-apa sama gue apalagi di negeri orang. Nggak ada siapa-siapa, kecuali ada yang jagain.." kata kalin.
"Kalau gue mau jagain, gimana?"
"Nggak mungkin lah!" kata Kalin.
"Nggak mungkin gimana? bocil nih ngeremehin aja bisanya!" Raksa naikin sudut bibir, kesel dia.
"jagain yang dimaksud bunda itu---"
"Iya gue tau! gue bukan Nova yang pikirannya belom nyampe! gue tau, gue harus jagain lo sebagai suami. Iya, kan?" Raksa to the poin.
"Iya?" Kalin dengan lirih.
"Lo nggak inget kita udah tunangan? dan itu artinya bukan hal yang sulit buat gue minta sama yah lo buat--"
"Tapi gue nggak mau nikah muda! gue nggak siap! jadi mendingan gue kuliah aja disini," kata Kalin berubah pikiran.
"Yang bikin lo nggak siap itu apa? toh cepat atau lambat kita nikah-nikah juga kan?" Raksa kali ini yang ngebet.
"Ya gue nggak siap aja! gue masih pengen main-main sama temen..." ucap Kalin.
Dan disitu Raksa tepok jidat, 'Gue lupa, tunangan gue masih bocil! astagaaaaa, kenapa gue yang kebawa perasaan!" batinnya.
Raksa pun kali ini melepaskan tangannya dari kalin, dia duduk aja anteng menatap lurus ke depan. Jujur dalam hatinya udah mulai menerima Kalin, dan akhir-akhir ini dia nggak bisa menahan diri ketika lagi berduaan sama tunangannya itu. Dia pikir, menikah akan menjadi win-win solution buat dia dan juga Kalin.
Dia jadi bebas kalau mau berduaan, bagaimana pun Raksa ini udah dewasa ya jadi dia lebih amanlah kalau udah resmi menikah. Mau tiam-tium juga nggak takut kepergok sama orang gitu. Sedangkan Kalin itu butuh orang yang bisa mengantarkan dia menjemput cita-citanya sekolah di luar negeri, negerinya orang bule.
"Gue, gue nggak mau punya anak di usia muda..." ucap Kalin tiba-tiba.
Raksa pun menoleh, dia ngerutin keningnya, "Maksud lo?"
"Ya kan kalau orang nikah pasti punya anak. Gue nggak bisa kalau kuliah tapi gue harus ngurus anak kecil. Gue nggak pengalaman..." kata Kalin.
"Ya udah nggak usah bikin, gampang kan?" ucap raksa.
"Bikin?" Kalin memutar bola matanya.
"Lo belajar reproduksi nggak sih di sekolah? itu bayi kagak jadi kalau kagak dibikin! udah pokoknya lo harus tetep kejar cita-cita lo, dan gue harus tetep bisa nikahin lo!" ucap raksa tegas.
"Malam ini kita ngadep orangtua!" lanjutnya yang kemudian menekan tombol buka kunci. Pria itu keluar buat ngebukain pintu buat Kalin.
"Eh, eh maksudnya gimana nih?!! Mang? Mamang?!!" Kalin usek-usek kepalanya sendiri.
"Ayo!" Raksa ulurin tangan dan ngajak kalin buat keluar.
__ADS_1
"jangan sampe lo nyesel nanti! kesempatan nggak akan dateng dua kali," ucap Raksa dengan senyum yang nggak bisa disembunyikan.