Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Belum Terbiasa


__ADS_3

Pagi harinya...


Rasanya aneh bagi Raksa nyetir motor dengan sebuah cincin yang melingkar di jarinya.


Sampai di kantor juga, Raksa ngerasa kalau perasaannya nggak seperti biasa, ada yang beda dengan dirinya saat ini.


Sampai di kubikelnya, ada satu bungkusan kayak kotak makan.


Raksa duduk dan ngeliat apakah ada suau pesan di kotak makanan itu, "Dari siapa?"


"Apa ada orang yang salah naruh?" gimam Raksa.


Dia pun ngelongok ke samping kanan dan kiri, "Punya lo bukan?" tanya Raksa.


Kedua cewek yang kebetulan duduk di samping kanan dan kiri kubikel Raksapun menggeleng, "Gue nggak bawa bekel!" ucap salah satu diantara dua cewek itu.


Raksa pun akhirnya agak minggirin si kotak makanan, dan mulai nyalain komputernya.


Ketika jari jemarinya nge-klak klik mouse, sekilas Raksa ngeliat cincin putih yang baru semalem dipasangin di jarinya.


"Gue nggak habis pikir, kenapa bapak ngejodohin gue sama bocil. Mana belum lulus SMA!" gumam Raksa.


"Siapa yang dijodohin?" Farid nyamber.


"Kucing tetangga gue, napa?"


"Kucing anggora apa persia?"


"Kagak tau gue, gue kagak nanya!" kata Raksa yang mencoba mengalihkan pembicaraan laknat ini.


"Harusnya lo nanya, biar gue nggak penasaran!"


Raksa nggak nanggepin, dia mau lanjut kerja tapi dicegah Farid.


"Kayak ada yang beda!" sahabat Raksa di kantor itu pun menautkan keningnya.


"Sejak kapan lo pakai cincin?" Farid ngangjat tangan Raksa.


Raksa pun segera menarik tangannya lagi, cincin? cincin apaan?" dia menyembunyikan tangannya.


"Utu tadi, gue liat lo pakai cincin!" Farid nunjuk tangan Raksa.


"Demi apapun kalian berisik banget!" salah sath cewek yang kubikelnya berdekatan dengan Raksa.


"Sini gue pengen liat!"


"Ih apaan sih lo! dibilangin gue nggak pakai apa-apa," Raksa mencoba menyembunyikan tangannya sembari berusaha melepaskan cincin pertunangannya, tapi sialnya cinxin itu seret banget.


"Lo mau apa pagi-pagi nyamperin gue?"


"Sore nongkrong di warkop yok? gue lagi butuh temen nih!" wajah Farid seketika berubah, nelangsa.


"Kenapa muke lo begitu, bahlul? jijik gue!" Raksa nunjuk wajah Farid dengan dagunya.


"Haissshh, lo ngga pernah ngerasain apa yang namanya cemburu, sih!"

__ADS_1


"Emang lo cemburu sama siapeeee?" Raksa pun mengaligkan pikiran Farid dengan obrolan yang lain.


"Semalem, sebenernya gue ke rumah Tania. Gue niatnya mau ngembaliin jepit rambut dia yang ketinggalan di mobil gue,"


"Mobil yang cicilannya belum lunas itu, yak?" Raksa nyamber.


"Cicilannya nggak usah disebut-sebut kali!" Farid lalu melanjutkan ceritanya.


"Jadi, gue semalem mau nganterin tuh jepit rambut. Udah gue simpen-simpen, udah gue rawat dengan sepenuh hati biae nggak ada cecel bocelnya. Eh, gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Tania dibonceng sama cowok laeeeeen, Saaaa! cowokkk laeeeeen!"


Brakkk!


Farid nggebrak meja Raksa, matanya penuh dengan penderitaan.


"Wooyy, santai wooy!" Raksa kaget.


"Sesi curhatnya pindah sono! ganggu banget kalian tuh!" salah satu cewek yang ada disitu komplain.


Seketika tatapan laser Faris pun membungkam mulut si cewek supaya nggak rese.


"Terus gimana? cowok itu lebih cakep dari lo? lebih rajir dari lo? atau lebih waras dari lo? value dia sama lo gedean mana?" Raksa melipat tabgannya di depan dada, ngeluatin wajah Farid yang udah merana.


"Gue nggak yakin soal itu!"


"Soal apa?" Raksa ngerutin keningnya.


"Soal poin yang lo sebutin tadi!" Farid yang ambigu.


"Maksud lo?"


Farid gelengin kepala, "Coba, lo bayangin? liat gebetan lo turun dari motor, pegangan pundak pundak tuh cowok!"


Farid ngangguk!


"Tapi kan tetep aja, hati gue sakit pas liat tangan Tania npel di jaket ijp tuh cowok. Dia juga lepas helm warna ijo dengan wajah yang ramah tanpa dosa! gue juga pengen disenyumin kayak gitu, Raksaaaa!"


Plaaakkk!


Raksa ngegeplak lengan Farid, "Itu Tania bukan lagi dianter sama gebetan baru, dia abis naik ojol, Pe A!!!" Raksa kesel dengan Farid yang lebay.


"Bhhuaaahahahhah, betewe sakit tau geplakan lo!" Faid ngusap lengannya yang beberapa bulan ini massa ototnya naik.


"Lagian, siapa suruh loo ke meja gue pagi-pagi, nyetor muka nelangsa lo, ternyata cuma mau ngerjain gue! nggak gue jepret pake ketapel aja udah syukur lo!"


"Eh, nanti sore ngumpul, yok?" Farid tetep getol ngajakin Raksa buat nongkrong.


"Sama Tania lagi?" tebak Raksa.


"Iyalah, kan gue lagi usaha! lo kan  temen gue, ya lo bantuin gue lah, Sa! biar gue yang pengen ngeliat wajah cantiknya Tania selalu ada alasan buat ngajak dia pergi," Farid maksa lagi.


Raksa ngelirik Farid nggak enak, "Jadi kalau Tania naksirnya gue, lo jangan marah ya?!!" Raksa nakut-nakutin.


Plaaakkkk!!


Giliran Farid yang geplak lengan Raksa, "Jangan harap ! pokoknya gue tunggu dicafe biasa. Awas kalau nggak dateng!"

__ADS_1


Farid pun ninggalin Raksa. Sedangkan pria yang sedari tadi menyembunyikan tangannya dengan cara melipatnya di depan dadapun cuma bisa geleng kepala ngeliat kelakuan temennya, dan mengaikan kotak nasi yang ada di mejanya.


Sedangkan di sekolah.


Jam istirahat pertama, Kalin udah kembali menggeluti kegiatannya berdesakan di tempat yang diidam-idamkan semua murid, demi semangkok bakso yang penuh kebahagiaan.


"Wah, dari baunya aja gue udah bahagia banget!" ucap kalin yang menghirup bau bakso yang laziz ulala.


"karena habis tunangan kali, bukan karena baksonya!" Nova langsung dibekep sama Kalin.


"Jangan ngomong cem macem deh, Nov!"


Nova ngangguk-ngangguk. Dia berusaha melepaskan tangan kalin.


"Hah, hhhh ...hampir aja gue kredit napas!" kata Nova sambil megap-megap.


"Kalau ada yang denger, ntar gosipnya kemana-mana," Kalin ngingetin.


"Iya iya kakak ipar!" Nova nunjukin kedua jarinya yang membentuk huruh V.


"Berhubung lo lagi bahagia, gimana kalau sore ini kita pergi jalan. Nggak usah les, itung-itung istirahatin otak biar nggak mikir pelajaran mulu! lagian lo kan udah pinter," kata Nova.


"Ini nih orang yang membawa pada kemalasan," Kalin nyenggol Nova.


"Itung-itung ngerayain hari pensiun gue sebagai agen mata-mata sekaligus makcomblang lo, kan misi gue udah sukses!" Nova naik dan nurunin alisnya.


"Beuuuh, agen isi ulang galon kali, Nov! bukan agen mata-mata," timpal Kalin, dia mulai meracik bakso nya dengan kecap san sambel.


"Duit lo kan udah balik kan? itung-itung ngerayain berakhirnya masa penderitaan lo yang nguber utang mantan pacar. Betewe banyak hal yang bisa kita rayain, Lin. Ntar gue ijin langsung deh sama tante Lia..." Nova yang seakan udah akrab dengan bundanya Kalin.


"Emang lo pengen jalan kemana?"


"Ke mall!"


"Beeeuuuh, ngemall teruuuuuss!" Kalin  nyenggol badan Nova lagi.


Sedangkan di sekolah lain, Reno yang udah tongpes alias kantong kempes pun hanya diberi uang saku 50 ribu sama bang Arkan. tentu dengan duit segitu dia nggak bisa ngajak Melody pergi ataupun ngumpul bareng temennya.


"Ren, jalan yuk?"


"Gue? gue lagi mager, Mel...." kata Reno.


Melody yang ngeliatin Reno daritadi bengong mencoba buat ngehibur gebetannya itu, "Ya biar nggak mager, makanya jalan sama gue!"


"Les lo gimana?" tanya Reno.


"Les? gampanglah besok juga bisa les. lagian lo kan udah pinter, gue yakin gue bisa belajar dari penjelasan lo aja. Kalau lo yang jelasin malah lebih cepet ngerti gue, daripada tutor bimbel!" puji Melody.


"Ya udah terserah lo aja deh," Reno yang tadinya klentrak-klentruk kayak ayam ngantuk, sekarang lumyaan semangat lagi karena dipuji pinter.


Sebenernya ada hal yang berbeda yang Reni rasakan, dia pun nggak tau apa itu. Tapi yang jelas, beberapa kali dia liat hape lalu dimasukkannya lagi ke dalam kantong.


"Ada apa?" tanya Melody.


"Nggak ada apa-apa, lo udah kan makannya? bentar lagi bel masuk!" kata Reno.

__ADS_1


"Gue bayar dulu!" Melody pergi buat bayar makanan yang dia makan, kalau Reno daritadi minum air mineral dingin yang harganya serebu perak. Reno alasannya, lagi nggak pengen apa-apa, alhasil dia minum air mineral yang coblosan doang.


"Yuk!" Melody sengaja agak ngencengin suaranya, supaya di-notice sama cewek-cewek yang lain.


__ADS_2