
Besoknya.
Semua orang pulang kembali ke alamnya masing-masing termasuk dengan Farid. Meskipun si adek yang keukeuh dengan kesetia kawanannya itu masih ngambek, Farid nggak putus asa. Dia terus nyari celah buat dikasih maaf sama Nova.
Niat hati pengen satu mobil sama Nova tapi apa daya si Adek mintanya bareng sama Kalin.
"Nov? udah penuh disini! kamu naik mobilnya Farid aja!" kata Raksa yang ogah diganggu sama Nova. Bikin rusak suasana di belakang.
"Nova, kamu numpang di mobil Farid dulu! dan kamu Raksa, jangan enak-enakan pacaran di belakang sama Kalin! nyetir! bapak kamu udah capek dari kemarin! biar ibu duduk dibelakang sama menantu ibu!" kata bu Selvy yang udah ngatur dimana masing-masing akan duduk.
Entah urusan apa yang lagi dikerjakan ayah Diki, sampai dia nggak balik lagi ke villa. Kalau Raksa sih yakin ini semua ada hubungannya sama paka Galang, makanya ayah begitu pergi dia nggak balik lagi begitu juga dengan bunda Lia yang ngecek keadaan Kalin cuma dengan telepon. Mungkin karena disitu udah ada bapak dan ibunya Raksa jadi mereka udah tenang, sekaligus menyelesaikan permasalahan di kantor polisi.
Sementara Rahmi yang tau kalau tania di tahan, kaget bukan main. Pengacara yang juga merangkap pengacara pak galang datang di rumah Rahmi dan memberitahu kondisi Tania. Rahmi yang dapet kabar itu langsung tancap gas tanpa memberitahu ibunya yang lagi-lagi sellau ribut dengannya soal Pandu.
"Lo kenapa sih? Tan? apa yang lo perbuat sampai lo masuk ke sel tahanan kayak gini?" Rahmi menggenggam tangan Tania.
"Ngelakuin apa? gue nggak kok..."
"Nggak gimana? jelas-jelas lo disini! lo cerita sama gue, tan! gue nggak akan berpikiran jelek sama lo, masa lo nggak percaya sih sama gue?" tanya Rahmi.
"Masa?" tanya Tania.
Dan disitu rahmi ngerasa kalau tania udah bukan tania yang dia kenal. Tania yang dihadapannya ini Tania yang dingin dan berpura-pura tegar padahal dalam hatinya dia menangis.
"Tan...?" panggil Rahmi.
"Lo pulang aja, Mi. Kalau nyokap gue nyariin bilang aja gue lagi ada acara kantor!"
"Nggak mungkin lah, Mi?! Mana mungkin ada acara kantor sementara gue, ada di rumah dan ngantor seperti biasa,,,"
"Kalau gitu lo jangan ngantor dulu. Nginep di hotel kek atau dimana, yanga jelas jangan pulang ke rumah!"
"Lo kenapa sih, Mi? kenapa lo berubah kayak gini?"
"Berubah apanya? gue nggak berubah! gue masih sama," ucap Tania.
"Lo kenapa sih, tan? cerita sama gue? kenapa lo sampai ditahan kayak gini sama pak Galang?" Rahmi berurai air mata.
"Buat balikin lo sama Raksa!" sahutnya.
"Gue sama Raksa udah nggak mungkin, Tan. Kayaknya dia udah sulit gue raih, dia udah nikah..." kata Rahmi sadar diri.
"Terus?"
"Gue mungkin akan menerima Pandu!"
"Nggak! lo nggak boleh sama dia, Mi!" Tania membelalakkan matanya.
"Tapi kenapa, Tan?"
__ADS_1
"Karena gue nggak suka," ucap Tania.
"Maksud lo apa sih?"
"Orang kayak dia nggak pantes dapet kebahagiaan! gue nggak rela," ucapnya.
Rahmi menggelengkan kepalanya, dia nggak ngerti dengan arah pembicaraan Tania yang seperti orang ngelantur.
"Maksud lo tuh gimana, Tan? jangan bikin aku bingung,"
Bukannya ngejawab,Tania malah nangis.
"Kok malah nangis sih, Tan? apa ada ucapan gue yang salah?"
"Sebenernya pandu itu mantan gue waktu kuliah, Mi. Gue inget banget dia mutusin gue tanpa alasan yang jelas, dia pergi gitu aja sampai gue tau kalau dia orang yang dijodohin sama lo! gue nggak terima, gue tau kenapa dia nerima perjodohan itu. Karena dia takut nggak dapat warisan orangtuanya, dia tuh nggak sepenuhnya suka sama lo, Rahmi!" ucap Tania.
"Makanya gue dukung lo buat balik lagi sama Raksa. Gue nggak rela kalau dia bahagia dengan gelimang hartanya sementara gue masih sakit hati sama apa yang dia lakuin dulu. Lagian lo nggak bakal bahagia hidup sama orang yang diotaknya cuma mikirin uang. Lo nggak akan bahagia, Mi..." ucap Tania.
"Beneran gue nggak tau, Tan! gue..." Rahmu nggak bisa melanjutkan ucapannya, dia menggenggam tangan Tania.
"Gue janji sama lo, gue nggak akan terima pertunangan itu, Tan! gue janji," ucap Rahmi.
"Waktu kalian sudah habis. Nona Tania silakan ikut kami," ucap seorang petugas yang mendatangi mereka.
"Tenang aja, gue bakal keluar dari sini , lo nggak usah khawatir!" kata Tania yang kemudian pergi meninggalkan Rahmi.
Namun siapa sangka, baru satu jam kembali, Tania dipanggil untuk menemui sebuah panggilan.
"Siapa lagi? nggak mungkin orangtua gue, kan?" tanya Tania, lirih.
Dia jalan mengikuti petugas yang membawanya kembali ke tempat untuk berkunjung.
"Raksa? Kalin?" gumamnya.
Ya, dia melihat sepasang manusia yang ingin dia pisahkan.
"Halo, Tan? gimana kabar lo?" tanya Raksa basa-basi.
"Ya, seperti yang lo liat..." ucapnya datar.
"Sorry, gue..."
"Nggak apa-apa, Sa! lagian gue emang terlibat secara nggak langsung karena gue ada disana," ucap Tania.
"Gue mau minta maaf sama lo, karena gue ikut andil dalam kejahatan pak Galang. Gue nggak bisa nolak dia, dia terlalu berkuasa atas gue, Lang!" ucap Tania.
"Lo sama pak Galang udah nikah? kenapa dia berkuasa atas diri lo, Tan?"
"Nggak! cuma kan dia punya power di perusahaan," kata Tania.
__ADS_1
"Maafin gue, Kalin..." ucapnya lagi memandang istri Raksa.
"Iya, Kak! gue maafin kok," sahut Kalin.
"Gue sama Kalin akan cabut laporan jadi nanti lo bisa keluar dari sini. Dan tolong jangan berbuat kesalahan lagi, Tan! hidup lo masih panjang, lo juga bisa dapet orang yang lebih dari pak Galang. Gue kasian sama lo kalau lo dapet yang udah umur segitu,"
"Berarti hal yang sama juga berlaku buat lo!"
"Kenapa? kok gue?" tanya Raksa.
"Kan lo umurnya kejauhan sama Kalin! nggak inget yang lo nikahin baru umur berapa?"
"Ya kan gue cuma 9 tahun!"
"Cuma kok 9 taun!" ledek Tania.
"Ya daripada lo sama pak Galang? beda jauh?!"
"Jauhnya seberapa sih? orang pak Galang baru juga 40!" ucap Tania.
"Bener-bener lo ya mau-mau aja sama yang udah punya istri!"
"Siapa bilang?"
"Maksudnya?" Raksa ngerutin keningnya.
"Gue kasih tau ya, tapi ini rahasia! kalau pak Galang itu..." Tania menyuruh Kalin dan Raksa mendekat.
"Apaan?" Raksa penasaran.
"Jadi, pak Galang itu bujangan!" ucap Tania yang membuat Raksa kaget nggak percaya.
"Nggak, nggak mungkin! gue perasaan pernah liat kok istrinya!"
"Tau mana lo sama gue?" Tania memundurkan lagi badannya.
"Itu cuma orang sewaan yang disuruh pura-pura jadi bininya. Padahal mah dia fakir asmara! duitnya doang banyak, tapi hatinya sepi merana!" kata Tania.
"Kok lo tau banget?"
"Ya tau lah! makanya lo itu udah suudzon duluan sama gue!"
Kalin tambah pusing, karena dia sama sekali nggak tau siapa pak Galang dan yang kayak apa. Raksa nggak begitu detail banget ceritanya, mungkin dia udah capek juga.
"Terus lo mau-mauan gitu sama orang galak sama dia?!" tanya Raksa.
Tania mengendikkan bahunya, "Cinta sih nggak, cuma belum bisa lepas aja. Tergantung nanti lah!" ucapnya kemudian.
"Gelo dasar!"
__ADS_1