
"Resign? lo bilang Raksa mau resign?" Rahmi mastiin lagi.
"Eh? siapa? nggak! gue nggak bilang gitu!" ucap Farid yang juga ngeles.
"Kuping lo gangguan kali. Gue cuma bilang kalau dia nggak penting dinilai baik atau buruk. Orang Raksa udah terbukti kinerjanya top markotop. Noh udah nangkring aja sekarang jadi bos!" kata Farid.
"Ya kali namanya orang kan bermanuver! bisa aja kan dia pengen mengembangkan karir ke perusahaan yang lebih gede. Kan disini dia jadi kepala divisi, bisa jadi kalau ke luar dia bisa naikin lagi jabatannya!" kata Farid yang udah nggak nyambung banget. Tapi ya udahlah yang penting Rahmi jangan banyak tanya soal Raksa. Karena dia udah nggak mau lagi jodohin Rahmi sama Raksa. Lha wong si Raksa udah mau out ke luar negeri.
'Gue yakin Farid bohong! gue yakin ucapan dia yang pertama itu yang bener! tapi kenapa? kenapa Raksa mau resign? apa karena satu divisi sama gue? kenapa?' batin Rahmi.
Farid yang tadinya mau lanjut lembur, nggak jadi, Dia milih beres-beres buat pulang. gampang besok dia dateng pagi-pagi buat lanjutin kerjaan yang belum kelar.
"Lo mau kemana? tanya Rahmi yang ngeliat Farid beres-beres.
"Ehm, ini ... gue tiba-tiba di WA sama nyokap. Disuruh bantuin saudara yang hajatan!" Farid ngarang lagi. Dia nunjukin hapenya yang layarnya udah padam.
"Tapi kok buru-buru banget?"
"Iya, soalnya nyokap gue kalau nggak langsung diturutin suka neror gue, pake miskol-miskol nggak jelas! maklum gue anak satu-satunya!" kata Farid yang udah bersihin mejanya dari kerjaan.
"Gue duluan ya, Mi!" ucap farid.
"Gue duluan! gue nggak jadi lembur!" seru nya pada temen yang lain.
Sedangkan Rahmi langsung mengejar Farid. Dengan sepatu dengan hak tinggi itu, Rahmi mencoba meraih pundak farid.
"Rid, Farid! tunggu!" Rahmi mengejarnya dengan susah payah.
Sampai klek!
Suara hak sepatu yang patah.
Farid nengok ke belakang, ternayta Rahmi duah jatuh dia pegangin kakinya yang kesleo.
"Rahmi?" farid berbalik dan melihat keadaan temannya itu. Dia berjongkok.
"Kenapa lo? lagian aneh-aneh aja, ngapain lo lari-lari buat ngejar gue?" tanya Farid yangs emula berusaha menghindarinya kini berempati dan mengkhawatirkan keadaannya.
'Apa gue harus pakai cara ini? bikin Raksa berempati sama gue. Kasihan dan khawatir sama gue? iya? gitu!' batin Rahmi.
"Lo kenapa gue tanya? gimana? masih s\=bisa berdiri nggak lo?" tanya Farid.
"Kayaknya kaki gue terkilir, Rid!" ucap rahmi dengan bibir yang mendesisi, kesakitan.
Dia mau mengetes seberapa empati orang terhadapnya.
"Sini gue bantu! gue anterin lo ke ruangan lo, ya?" ucap Farid, tapi sesaat dia inget kalau disamping meja Rahmi ada Tania. Sedangkan hatinya lagi tercabik-cabik, dia ogah ketemu mantan gebetan.
"Sorry, gue lupa! nyokap gue udah nungguin! lo minta tolong Tania aja, suruh jemput lo di lantai ini!" ucap Farid yang menyuruh Rahmi duduk tapi dia baru sadar kalau disitu nggak ada bangku sama sekali.
"Astagaa!" ucap farid gems dengan keadaan sekarang.
"Tania nggak ada, Rid!" ucap Rahmi.
__ADS_1
Tapi Farid nggak nanya, kenapa Tania nggak ada, kemana dia. Karena otaknya udah bayangin kalau tania lagi sama pak Galang.
"Ya udah gue anterin ke divisi lo.Masih banyak orang kan?" tanya Farid.
"tadi sih ada, tapi gue nggak yakin kalau sekarang!"
"Deeuhh! ada-ada sih lo, Mi!" ucap Farid yang kini membantu Rahmi berdiri dan berjalan menuju lift.
'Farid aja yang bukan siapa-siapa gue, dia akhirnya ngebantuin gue, padahal dia ada keperluan lain, apalagi Raksa? gue yakin, kalau gue dalam keadaan terdesak atau dalam bahaya atau dalam keadaan yang memprihatinkan, Raksa pasti peduli sama gue! gue yakin itu...' batin Rahmi yang udah menyusun rencana.
Dengan langkah yang sulit, Farid memapah Rahmi balik ke ruangannya.
"Gue ambil tas dulu," ucap Rahmi yang masuk ke dalam ruangan yang udah sepi.
"Sementara Farid nggak melepaskan pandangannya dari mejanya Tania. Dia menarik nafas dan menghembuskannya, buat ngilangin bayang-bayang mantan gebetan.
"Udah, gue mau balik aja, Rid! udah sepi!" ucap Rahmi.
Tanpa kata, Farid meraih pinggang Rahmi dan bantu dia buat jalan.
"Gue anterin sampe lobby ya? lo naik taksi online aja!" kata Farid yang sekarang nuntun Rahmi masuk ke dalam lift, mereka turun ke bawah.
Kedua orang itu berjalan emnuju lobby.
"Pak? tolong ambilin kursi!" ucap Farid.
Satpam pun mengikuti apa yang diperintahkan padanya, dia mengambil kursi dan bertanya, "Buat apa, pak?"
"Buat duduk Rahmi..."
"Kesleo,Pak!" sahut Rahmi .
"Gue tinggal, ya?" ucap Farid saat sudah memastikan Rahmi udah duduk dengan nyaman.
"Ntar dibantu ya, Pak?" lanjut Farid pada pak Satpam.
Karena Farid udah nggak bisa diandelin, Rahmi bakal gunain caranya sendiri buat minta balikan sama Raksa.
Sedangkan hari beranjak malam.
Raksa setia dengan hapenya, karena karena lewat benda itu, dia bisa ngedengar suara bocil yang seringnya bikin kuping rasanya peng-pengan.
"Berasa nikah sama hape deh gue!" celetuk Raksa sambil meluk bantal dan npelin hape di kupingnya.
"Ya resiko!"
"Dih, bisa gitu ngomongnya!" Raksa pundung.
"Oh ya? lo lagi ngapain?" lanjut pria itu nanya.
"Lagi nerima telpon lah!"
"Ya itu juga gue udah tau! maksud gue selain itu," Raksa menggali obrolan dengan Kalin yang daritadi bikin emosi.
__ADS_1
"Napas?"
"Ya tiap orang dan makhluk di dunia ini juga napas! bukan yang kayak gitu yang gue maksud!" kata Raksa.
"Kalau marah-marah mulu, males ah! mending gue tidur!"
"Eh eh eh! kok tidur sih? jangan, dong! gue daritadi nggak marah-marah lo, ya?" Raksa mencoba selembut mungkin ngadepin si bocil.
"Abisnya daritadi nanyanya aneh-aneh!"
'Ya lo yang jawabnya anehhhhhh, bocah nakaaal!' batin Raksa.
"Kenapa? pasti lagi ngedumel dalam hati, iya? ngaku?!"
"Siapa? gue?"
"Bukan! tembok!" serobot Kalin.
"Lah kan gue nggak ngedumel, berarti bukan gue, dong?" ucap Raksa.
"Terserah!"
"Loh kok lo malah sewot?!" tanya Raksa.
"Ngantuk ah!" Kalin yang hawa-hawanya mau nutup telepon.
"Eh, eh jangan ditutup!"
"Mau ngomong apa lagi?" tanya Kalin.
"Gue masih pengen denger suara lo!" Raksa yang ngebayangin kalau gulingnya ini Kalin.
"Lagian ini malam pertama kita menjadi suami istri. Gue pengen ngobrol sama lo, kalau bisa semalam suntuk!" kata Raksa nun bisa membuat kupu-kupu yang menggelitiki perutnya.
"Catur kali semalam suntuk!"
"Bukan catur doang yang semalam suntuk!" kata Raksa.
"Terus apaan?" Kalin yang juga tiduran di kamar yang udah di hias bunga-bunga hidup yang masih kerasa banget wanginya.
"Ya ada lah! bocil mana ngerti, itu urusan orang dewasa!" kata Raksa.
"Haisshhh, nggak jelas!" suara Kalin makin parau, mungkin dia udah ngantuk.
"Lin? Kalin?" panggil Raksa.
"Yaaaaa..."
"Ini malam pertama kita lo, Lin?!" Eaksa juga setengah ngantuk.
"Iya tau..." Kalin dengan mata yang udah nggak kuat lagi untuk dibuka.
"Gue sayang sama lo," ucap Raksa, dia pun ikutan merem.Mungkin ngantuknya Kalin sekarang nular secara virtual pada Raksa.
__ADS_1
Dan mereka pun tertidur dengan panggilan yang masih terhubung, seakan mereka saling menemani satu sama lain untuk meraih mimpi.