
Malam itu mereka banyak berbincang, cuma Raksa agak aneh ngeliat ibunya yang rkesan diam dan nggak banyak bicara.
'Emak gue kenapa? kok tumben-tumbennya jadi kalem begitu,' batin Raksa.
Sementara si Kalin masih sibuk ngilangin rasa pait di lidahnya. Dia ngejogrog mulu di meja makan, ngeluarin cake, puding dan segala macam buah buat dia makan dengan harapan rasa pait itu bisa segera musnah.
Oma Nilam yang ngeliat misinya berhasil dijalankan besan dari anaknya pun merasa senang. Padahal bunda Lia juga ngak melarang kalau Kalin itu hamil, Kalin sekarang juga sudah dewasa, meskipun jiwa manjanya pasti tetep ada. Ya maklum aja, namanya juga anak tunggal.
Ketika semua orang sudah pulang ermasuk dengan bunda Lia dan juga ayah Diki, Raksa pun menghampiri Kalin yang masih betah di meja makan.
"Mau cuci mulut kamu pakai air syrup berapa galon?" tanya Raksa melihat es syrup berwarna merah di gelas yang diisi dengan beberapa es batu.
"Sampai nggak pait lah!"
"Nggak pernah minum jamu nih pasti!" tebak Raksa.
Kalin menggeleng.
"Ck, nanti juga ilang sendiri paitnya. Makin disiram pakai air yang manis, makin nggak ilang rasanya.
"Tapi aku nggak kuat. Minum itu rasanya perutku mual, lidahku ngak enak..."
"Kamu itu harus terbiasa!" ucap Oma Nilam yang bergerak dengan kursi rodanya.
Kalin jadi patung.
Nggak nyangka kalau Oma Nilam denger apa yang dia keluhkan tadi.
"Rusmi! buatkan dia air jahe!" suruh Oma.
"Nggak usah Oma. Bik Rusmi pasti capek. Biar saya aja yang bikin," kata Raksa, dia kasihan yang namanya bik Rusmi yang daritadi sibuk nyiapin macem-macem.
"Udah bik nggak usah, biar saya aja," lanjut Raksa.
Oma Nilam nyuruh Bik Rusmi balik ke kamarnya, soalnya ART yang lain udah pada istirahat juga, cuma bik Rusmi nih yang masih stand by di deket Oma.
"Nggak apa-apa, Oma. Nanti saya istirahatnya kalau Oma udah ke kamar,"
"Bik Rusmi istirahat aja. Nanti Oma biar
kita yang anterin," kata Raksa.
Lidah dia juga pait, tapi nggak seheboh Kalin juga yang sampe cuci lidahnya pake air syrup segala. Dan kebetulan si Kalin yang nggak kuat kepahitan, sekalian deh dia juga pengen minum air jahe yabg dimasak pake gula aren, biar pait di lidahnya bisa berkurang.
__ADS_1
"Sayang sekali kamu dengan Kalin Raksa?" tanya Oma, dia memperhatikan gerak-gerik cucu menantunya.
"Kalau nggak sayang. nggak mungkin ngikut sampai ke Iggris sih, Oma..." ucap Raksa.
Bik Rusmi nggak langsung pergi, dia ngambilin jahe sama gula dulu buat Raksa, niar tuh cucu menantu nggak geratakan sampe kolong-kolong meja.
Dicuci dan di kupas itu jahe, abis itu digeprek sama Raksa sebelum dimasukin ke panci yang berisi air mendidih. Ngak lupa gula dan sedikit garam.
"Kalau ibuk suka ditambahi pakai sereh, aromanya jadi lain!" kata Raksa.
"Jadi ibu kamu suka bikin minuman tradisional juga?"
"Suka Oma! kalau Kalin masuk angin, biasanya saya bikinin minuman jahe. Meskipun agak sulit ya nyari jahe emprit kayak gini. Tapi selama di Inggris, ini salah satu bahan yabg wajib ada di dapur kita..."
Oma mangut-manggut, sedangkan Kalin jangan ditanya. Perutnya mau berontak mulu.
"Beruntung sekali kamu punya suami seperti Raksa, Kalin!" kata Oma, dengan satu perhatian Raksa yang diberikan pada cucu Oma Nilam, membuat wanita sepuh itu ngak ragu dan malah menaruh dukungan sepenuhnya pada Raksa agar bisa mendapatkan keturunan dari Kalin.
Dipuji seperti itu, hati siapa sih yang nggak seneng.
"Sudah jadi!" kata Raksa yang dengan senang hati menaruh air jahe sereh ke dalam cangkir, untuk Kalin minum. Sedangkan dia malah sudah lupa dengan rasa pahit yang menyerang lidahnya.
"Makasih, Mas!" Kalin menyeruput sedikit demi sedikit minuma angetnya.
Meskipun nggak penuhnya ilang, tapi lumayan lah.
Oma senengnya bukan main, ngeliat cucu dan cucu menantunya saling menyayangi dan melindungi.
"Apa rencana kamu setelah lulus kuliah?" tanya Oma pada Kalin.
"Apa ya Oma? untuk sekarang belum ada rencana, masih diskusi dulu sama mas Raksa..." Kalin menahan jawaban yang sebenernya, kalau dia bilang maunkerja roman-romannya bakalan dapet ceramah dari Oma.
"Kalau kamu Raksa?"
Giliran Raksa yang ditanya.
"Yang pasti cari kerja lagi, Oma..." sahut Raksa sopan.
"Di Inggris saya juga kerja, meskipun hanya kerja paruh waktu. Tapi itu lumayan bisa menjadi penghasilan buat kita berdua untuk bertahan hidup,"
"Memangnya Diki tidak membiayai hidup kalian disana? bukannya kamu meninggalkan pekerjaanmu disini untuk menjaga Kalin di Inggris?" Oma masih kepo aja.
"Ayah kasih uang, Oma! tapi mas Raksa bersikeras tetep kerja. Katanya uang itu buat Kalin jajan aja," kata Kalin.
__ADS_1
"Berarti kamu dapet suami yang bertanggung jawab, Kalin! itu baru nanya laki-laki!" Oma semakin suka dengan Raksa, karena dia begitu menyayangi Kalin. Jarang laki-laki yang mau menurunkan egonya untk membahagiakan pasangannya, apalagi sampai harus mengorbankan pekerjaan.
"Dan sekarang giliran kamu yang menyenangkan hati suami kamu, Kalin. Kamu sudah lulus, dan jangan berpikir untuk menunda kehamilan. Wanita memang harus mandiri, tapi bukan berarti dia bebas dari kodratnya. Kmau mengerti kan maksud Oma?" tanya Oma Nilam.
Jleb!
Makjleb banget kata-kata Oma. Nggak ada basa-basi untuk mengatakan hal yang sangat senistif.
"Jangan keras kepala. Jangan seperti Oma..." kata Oma Nilam.
"Oma pengen melihat kamu bahagia, Kalin..." lanjut wanita yang sudah semakin tua.
"Kita berdua nggak akan menunda kebaikan, Oma. Oma jangan khawatir. Sekarang sudah malam, Oma. Kalin antar Oma ke dalam kamar ya?" Kalin menaruh cangkir ke dalam wastafel dan berjalan ke arah Oma Nilam.
"Aku nganter Oma dulu, mas..." lanjutnya memberitahu Raksa.
Dan Kalin pikir ceramah Oma akan berakhir di meja makan itu pupus, saat Oma melanjutkan ceramahnya saat sudah sampai di kamarnya. Bahkan dia menyuruh Kalin buat duduk sebentar di samping ranjangnya.
"Dengarkan Oma, Kalin...." Oma Nilam memegang tangan cucunya.
"Apa yang kita rencanakan terkadang tidak bisa mulus seratus persen. Kamu tau? kenapa Oma dan kakek kamu berpisah? karena kami sama-sama keras. Sama-sama tidak bisa melawan ego. Dan itu yang menghancurkan rumah tangga kami berdua," Oma Nilam ingin bicara dari hati ke hati.
"kalau saja tidak ada tante Atha, mungkin hidup Oma sudah nggak ada artinya. Oma bisa kuat karena ada anak. Perpisahan dengan kakek Dewangga memang menjadi pukulan, tapi ternayta melihat anak sakit parah lebih menyakitkan dari apapun. Masih beruntung, Oma punya uang banyak. Oma bisa bertahan menjaga tante Atha sendirian..."
Kalin nggak mau tanya kenapa Oma sempet memeberi kabar kalau saudara kembar bundanya itu sudah meninggal, karena sedikit banyak Kalin sudah mendengarnya dari bunda. Dan Kalin nggak mau Oma bersedih karena pertanyaannya itu.
"Kamu lihat, dia begitu sayang dengan kamu. Jadi, sekarang waktunya kamu berbakti pada suamimu, Kalin. Oma marah saat tau kalau Diki yang membuat perjanjian konyol dengan Raksa. Bisa-bisanya dia membuat perjanjian menunda momongan! apa-apaan itu!" Oma mulai emosi lagi.
"Iya, Oma. Kalin nggak menunda, Oma..."
"Bagus!" Oma yang tadinya sempat marah, sekarang raut wajahnya begitu senang.
"Kamu harus menjadi wanita yang punya pendirian. Wanita itu dekat dengan rasa pahit dan rasa sakit, itulah kenapa wanita dimuliakan. Percaya sama Oma, Kalin. Hidup mu akan semakin lengkap dengan kehadiran anak," kata Oma memberikan motivasi pada cucunya.
"Iya Oma...." Kalin hanya bisa iya iya aja. Kalau ngebantah bisa habis dia saat itu juga, dibantai Oma dengan kata-kata pedasnya.
"Sudah malam, kamu kembali lah ke kamarmu. Dan jangan lupa berusaha!" kata Oma.
"Iya Oma!" ucap Kalin dengan raut wajah yang salah tingkah.
"Kalin keluar dulu ya Oma. Selamat malam..." Kalin kemudian keluar setalah setengah jam diceramahin sama Oma Nilam.
"Lama banget? ngapain aja di dalam?" tanya Raksa saat Kalin keluar.
__ADS_1
"Ya ampuuun! bikin kaget, tau ngga?!!" Kalin memegang dadanya sendiri.
"Ke kamar aja yuk, ngantuk!" lanjut Kalin menggandeng tangan suaminya buat ngikutin dia ke lantai atas.