
Reno yang dihina oleh satu gengnya pun baru ngeh, kalau selama ini mereka berempat nggak tulus temenan sama dia. Dia jatohnya dibuat silau dengan kemewahan dan lupa darimana dia berasal supaya nilainya turun
Sebelumnya Reno nggak pernah tuh bersikap hedon, setelah bergaul sama anak orang tajir dia baru ngerasa kalau dia harus berpakaian atau bergaya sama dengan mereka. Itu juga karena beberapa kali ditraktir beli barang-barang sama temennya yang namanya Matt. Satu dua kali tapi akhirnya jadi kepengen terus, apalagi yang lain tuh ya kalau ngajak makan ke tempat yang bagus dan mahal. Sedangkan uang jajan dia aja nggak bakalan bisa nutup buat ngikutin kantong mereka yang emang pada tebel-tebel. Makanya akhirnya dia pacaran sama Kalin yang dia tau kalau si Kalin ini anaknya orang punya lah, ditambah Kalin juga anaknya royal. Ya udah langsung digas lah buat diporotin duitnya.
Tapi ternyata dia baru menyadari kalau emang bener tuh kata orang, orang baik emang buat orang baik. Jadi dia yang awalnya suka bohong sama Kalin, akhirnya dibohongin juga tuh sama Melody dan sekarang temen-temennya.
"Kenapa nilai lo bisa turun?" seseorang cowok negur Reno yang duduk lemes di salah satu tempat dudukan di sekolah, di area terbuka.
Reno cuma lihat sekilas, disana ada Aryo. Teman yang dulu akrab, tapi sekarang menjauh semenjak Reno gaul dengan geng cowok tajir.
"Kenapa lo seneng kan? gue sekarang nyungsruk di bawah?!"
"Seneng? lo liat muka gue seneng? gue bukan orang kayak gitu!" kata Aryo.
Reno terdiam sesaat.
"Akhirnya lo tau kan gimana sifat asli mereka kayak gimana? mereka deket sama lo buat jatohin lo, Ren. Padahal lo populer itu karena lo emang pinter, tapi ya namanya orang ada aja yang sirik. Gue garap lo bisa sabar dan bisa keluar dari masalah lo yang sekarang," Aryo akan bangkit namun Reno segera mencegahnya dengan sebuah kalimat yag terlontar dari mulutnya.
"Gue minta maaf. Gue udah nggak percaya sama lo..." ucapnya.
Aryo pun kembali duduk. Dia mencoba mendengarkan lagi barangkali adabyang mau Reno katakan.
"Gue kira dengan bergaul dengan mereka, gue bisa lebih keliatan setara dengan abang gue, Yo! tujuan gue bukan jadi populer disini, tapi gue pengen nunjukin sama abang kalau gue lebih baik dari dia. Lebih baik buat dapetin Vela,"
"Ya mungkin gue yang awalnya cuma aji mumpung malah terbawa arus dan gue udah jadi orang jahat buat Kalin karena udah manfaatin dia dan gue jadi anak yang nyusahin orangtua gue..." lanjutnya.
"Terutama gue udah menjelma jadi monster. Gue udah bersikap kasar sama ibu gue, Yo! Gue udah nyakitin semua orang," Reno ngomong tanpa ngeliat ke arah Aryo.
Aryo menepuk pundak temannya itu, "Kadang orang emang kudu jatuh dulu supaya tau kalau dia berada di jalan yang salah!"
"Lo minta maaf sama semua orang yang lo kecewain. Dan lo bisa mulai lagi dari awal , gue yakin meskipun lo nggak bisa kuliah di tempat yang lo impikan. Tapi mungkin ada kesempatan di tempat yang lain dengan ngeliat prestasi lo selama ini," Aryo ngasih semangat buat Reno.
"Makasih ya, Yo?! lo emang temen gue," Reno senyum dan kasih tos andalan mereka.
Sementara di kantor. Raksa yang lagi beberes meja nya, memanfaatkan situasi buat ijin keluar.
"Kan gue udah jadi kepala divisi! Jadi, power gue udah sama kayak pa Tomi!" gumam Raksa yang udah mengemasi barangnya buat pindah ruangan.
Sengaja dia panggil OB buat bantuin dia angkut barang pribadi yang paling cuma ada satu box berukuran sedeng.
"Tolong ke ruangan saya yang baru!" ucap Raksa cool.
__ADS_1
Dia menyalami temen-temennya yang lain, padahal cuma pamit beda divisi doang.
"Sukses, broo?!" ucap salah satu teman sesama pria yang ada disana.
"Thanks, ya!"
"Selamat ya, Sa! jangan sombong nanti," Siska pun menjabat tangan orang yang duduk disampingnya udah dari pertama dia kerja disitu.
"Sombong? apa nya yang mau disombongin?! gue pamit pindah ruangan," kata Raksa yang lalu mendekati Farid yang udah berdiri agak jauh darinya, ngantri buat salaman gitu sama kayak yang lainnya.
"Wweeyyyh, bapak kepala udah mau pamit aja?!" ucap Farid, yang mencoba move on dari Tania.
"Thanks, ya?!" Raksa menarik Farid dan menabrakkan sebelah bahunya pada Farid, sambil nepok pundak temannya itu.
"Jangan cuma boyongan doang! traktir kita kita jangan lupa!" seru Farid, yang disambut suara teman-teman yang lain. Yang pengen makan enak juga di pertengahan bulan yang merana.
"Siaaaap! Atur aja waktunya!" Raksa menunjukkan jempol kanannya, dia setuju dengan ajakan makan bersama.
"Gue pamit dulu..." Raksa pun meninggalkan ruangan yang selama ini menjadi siksaan lembur baginya.
Dan ketika berada di luar, Raksa pun jadi bimbang, "Apa gue perkenalan dulu ke bawahan gue? atau gue cabut sekarang?!" Raksa ngeliatin jam tangannya.
"Perkenalannya besok aja lah! sekarang gue harus ke sekolahnya dedek gemes gue dulu!" Raksa pun kemudian meninggalkan perusahaan untuk menjangkau sekolah tunangannya. Nggak lupa dia beli satu kuntum mawar merah yang kemudian dia sakuin di kantong jaket bagian dalem, jadi tuh mawar kecempet di dadanya.
"Halo, Nov?" Raksa nempelin hape di kupingnya.
"Lo masih di sekolah kan? maksud gue lo sama Kalin," lanjutnya.
"Masih!" sahut Nova ditengah suara tawa segerombolan anak-anak yang bikin pengengĀ kuping.
"Abang di parkiran depan. Lo kesini, ya? jangan kelamaan!" suruh Raksa.
Belum selesai ngomong, sambungan teleponnya tadi diputus oleh nova. Kayaknya tuh bocah lagi riwuh sendiri. Sementara ada banyak siswa yang mengagumi ketampanannya, Raksa mulai merasa di area yang salah.
Raksa pun segera mengetik aplikasi wgat's up-nya.
Kalin, gue ada di parkiran depan. Lo kesini cepetan!
Dan ternyata dua chat itu langsung berubah warna jadi dua centang biru.
Ngapain ke sekolah gue?
__ADS_1
Ditanya gitu pun raksa bingung. Sedangkan beberapa gadis mulai mendekat dengan baju yang penuh dengan coretan.
Ya ngapain kek! Udah kesini aja. Nggak pake lama!
Para gadis itu senyum-senyum sendiri. Mereka mulai caper sama mamang ganteng, "Oppa kita udah lulus loh!" ucap salah satu diantaranya.
Raksa senyum seadanya, "Oh gitu? Selamat ya..."
Dapet ucapan selamat, gerombolan gadis yang waktu itu pernah ngeliat Raksa ke sekolahnya pun mendekat dengan tawa-tawa sok imut.
"Minta tanda tangannya, Oppa?!!" salah satu gadis memberi Raksa spidol berwarna hitam, tapi raksa menggelangkan kepalanya..
"Buat apa? saya bukan teman kalian. Saya nggak ngerayain kelulusan, saya juga bukan artis!" kata raksa.
"Nggak apa-apa! tanda tangan aja, kita fans nya oppa! sini disini Oppaaa!1" gadis itu memberikan punggungnya, disitu masih ada space buat tanda tangan.
"Pleaseeee..." gadis itu mengharap dan ditirukan oleh temannya yang lain.
"Ya udah ya udah mana spidolnya?" Raksa pun nggak bisa apa-apa. dia hanya pengen bocah yang seumuran dengan adiknya ini pergi dan membiarkan dia sendirian.
Gadis itu ribut, "Jangan spidoll ini! spidol biru spidol biru! biar beda," gadis itu menukar spidol hitam dengan spidol berwarna biru.
Setelah dapat sidol biru, si gadis SMA yang baru lulus ini pun menyibak rambut panjangnya dan minta Raksa buat tanda tangan disitu.
"Saranghaeyoooooooooo!" si gadis memberikan finger love.
"Gue dong gue dong?!!" ucap yang lain.
Alhasil bukan hanya satu dua yang minta tanda tangan, tapi bocah-bocah yang baru lewat juga ikutan minta tanda tangan. Disitu Raksa hanya nyoret asal, bukan tanda tangan aslinya. raksa cuma kasih inisial namanya aja, tapi cewek-cewek itu udah kegirangan. Bahkan ada yang minta buat dikasih kata-kata penyemangat.
"Kata-kata apa?" Raksa ngerutin keningnya
"Apa aja, Oppa! I love you juga boleh!" ucap seorang gadis yang dijawabin sama yang lain.
"Gue juga mau gue juga mau!" ucap mereka bersamaan.
Baru juga Raksa mau nempelin spidolnya ada suara yang bikin dia berhenti.
"Sorry lama nunggunya..." suara itu begitu lembut di telinga Raksa.
Dan para gadis pun ikut menoleh dan melihat siapa yang datang, "Kalin?" ucap mereka serempak.
__ADS_1
Dan senyuman pun mengembang di bibir Raksa, "Akhirnya dateng juga!" gumamnya lirih.