
Karena besok hari bersejarah buat anaknya, Bunda Lia sengaja memanggil orang salon buat menservis kalin dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Bun? ini mau diapain?" tanya Kalin yang datang kaget saat pulang ke rumah dan udah banyak orang di kamarnya.
"Udah kamu nurut aja! ini juga demi kebaikan kamu. Biar besok lebih kinclong!"
"Mbak, tolong anak saya ya?" kata bunda lalu meninggalkan Kalin sendirian bersama orang-orang dengan seragam serba hitam.
Kalin memang jarang ke salon dan paling malas kesana, kalau nungguin bunda creambath aja dia nggak betah. Buat Kalin cukup mandi yang bersih setiap hari, nggak perlu buang waktu pergi nyalon. Makanya tiap hari dia mandi paling cepet satu jam.
Sementara Kalin sedang melakukan serangkain perawatan tubuh, bunda di bawah sengaja manggil kang decor buat menghias ruang tamu dan ruang tengah mereka. Meskipun nggak ada yang diundang tapi dia pengen ada sentuhan bunga. Balik lagi, ini moment milik putrinya dan dia nggak mau melewatkannya begitu saja,
"Tolong dipercantik saja, ya? jangan terlalu heboh! ini hanya untuk keluarga inti saja!" kata bunda.
Dia juga minta satu kamar tamu di bawah buat dihias. Karena kamar Kalin kandia ats loagi dipakai, jadi menurut bunda kamar tamu yang dibawah aja yang akan dijadikan kamar pengantin.
"Eh, tapi kan mereka nggak nganu ya?" gumam Bunda.
"Tapi nggak apa-apa lah, yang penting dihias aja. Paling nggak buat foto Kalin nanti," lanjutnya.
Sementara Raksa di kantor yang perasaannya nggak enak perkara kinder joy nya ilang pun berusaha tetap fokus pada pekerjaannya. Dia memutuskan untuk menunda pengajuan resign sampai lusa.
Drrrt!
Tiba-tiba hapenya berdering.
"Kenapa, rid?" Raksa tanpa basa-basi.
"Visa lo sama Kalin udah selese," kata Farid yang dapat info dari temannya.
"Oke, thanks ya? ntar gue transfer. Oh ya, gimana? lo udah baikan?"
"Hati gue yang nggak baik! bentar lagi makan siang, gue pengen curhat nih!" kata Farid.
"Ya udah bentar kita keluar aja!" kata Raksa.
"Oke! pakai mobil gue aja ya?"
"Siap!" sahut Raksa yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Karena dari luar nggak bisa melihat aktivitas mantan pacarnya, Rahmi pun jadi penasaran.
"Apa dia masih nyari cemilan bocilnya?" gumam Rahmi.
"Mi? lo mau makan siang dimana?" tanya Tania.
"Gue?" Rahmi mikir.
'Apa gue pesen makanan aja ya? buat gue sama Raksa? gue yakin semakin lama dia ketemu gue, cinta yang berusaha dia sembunyikan itu akhirnya juga bakal muncul juga!' batin Rahmi.
"Mi...?" panggil Tania.
Tapi belum juga Rahmi menjawab, ada chat masuk dari pak Galang. Dia menyuruhnya untuk naik ke atas.
__ADS_1
'Astagaaaa, baru juga gue mau ngajak Rahmi makan...' batin Tania sambil tangannya mengetik balasan untuk pak Galang.
"Kayaknya gue pesen makanan aja, gue banyak kerjaan..."
"Banyak kerjaan atau mau ngecengin mantan pacar?" goda Tania.
"Apan sih, Tan?"
"Nggak apa-apa, gunain kesempatan lo selagi bisa, Mi! gue yakin kok, Raksa sebenernya masih cinta sama lo, karena gue liat kalian berdua lagi---"
"Tania?!!" mata Rahmi membulat.
Jadi sewaktu Rahmi segaja pulang menunggu Raksa, Tania emang balik lagi ke kantor karema hapenya ketinggalan pun nggak sengaja mendengar dua orang yang lagi ngomong di dalam ruangan kaca.
Karena penasaran, Tani pun mendekat dan melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka saat Rahmi mencium Raksa.
'Akhirnya usaha gue membuahkan hasil!' batin Tania.
Dia senang kalau akhirnya Rahmi dan juga Raksa bisa bersama lagi.
Dan sekarang Tania merasa kalau kesempatan Rahmi semakin terbuka lebar.
"Lo harus memanfaatkan ini sebaik mungkin. Lo berhak bahagia, Mi! Selama ini lo banyak menderita, raih kebahagiaan lo sekarang!" Tania dengan segala kata-katanya untuk menguatkan sepupunya itu.
Sementara satu jam kemudian, Raksa yang udah sibuk dengan pekerjaannya pun, segera keluar saat Farid udah telfon dan dia udah nunggu di parkiran.
Dia memakai kembali jasnya, dan memastikan tampilannya udah rapi baru dia keluar dari ruangannya. Tania udah pergi ke ruangannya pak Galang disaat semua orang pergi untuk makan siang.
Tap!
Tap!
Tap!
Raksa masuk ke dalam lift dan memencet untuk turun ke bawah.
Pria itu keluar dan menuju parkiran basment khusus karyawan.
"Sorry!" ucap Raksa yang kemudian masuk ke dalam mobilnya Farid, temannya itu sudah anteng memegang stir kemudi dengan mesin mobil yang sudah menyala.
Dia kaget saat melihat wajah Farid yang lebih tirus dari terakhir dia ketemu.
"Sabuk pengaman lo?!" ucap Farid datar.
Raksa pun mengambil dan memasang sabuk pengaman sebelum Farid menginhak pedal gasnya, membuat mobil itu bergerak dan meninggalkan gedung perkantoran itu.
"Lo kenapa?" tanya Raksa saat melihat Farid macam orang yang putus asa.
"Mending gue yang nyetir deh! daripada gue disetirin orang yang lagi ngambang pikirannya kayak lo!" lanjutnya.
Cyiiiiitttt!!!
Farid minggir dan mengerem.
__ADS_1
"Astagaaaa!!!" badan Raksa sampai terdoring ke depan saat Farid menginjak remnya secara mendadak.
"Bener-bener lo mau nyetorin nyawa kita ya, Rid?" Raksa ngomel.
Sementara yang diomelin keluar dari mobilnya dan membuka pintu di sisi dimana Raksa sedang duduk dengan bingung.
"Setirin!" suruh Farid.
"Ya awas dulu! ngomibg dong kalau mau disetirin, ya ampunnn!" Raksa segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil itu untuk berpindah ke tempat duduk di belakang kemudi.
Farid duduk dengan wajah nelangsanya.
'Kenapa lagi nih orang?! patah hati buat yang kesekian kali?' batin Raksa yang kemudian mengemudikan mobil milik Farid.
"Mau kemana nih?" tanya Raksa.
"Kemana aja!"
"Penderitaan lo kayaknya nggak tertolong lagi ya, Rid? sampai makan aja lo udah nggak bisa nentuin!" Raksa nyeletuk. Tapi Farid diem aja, pikirannya mengawang pada wanita yang sangat dia cintai dengan tulus.
Biasanya Farid akan nyamber saat Raksa ngomong seenak udelnya sendiri, tapi kali ini Farid duduk sambil ngeliat kaca.
Sampai Raksa berhentiin mobil itu di depan retoran pizza. Karena dalam kondisi seperti ini nggak baik kalau Farid makan dengan alat makan yang tajam seperti pisau steak. Takut nih orang hilaf, nusuk-nusuk daging steak dengan cara yang bar-bar.
"Turun! udah nyampe noh!" ucap Raksa yang keluar dari mobil dan diikuti oleh Farid.
Mereka masuk ke dalam, duduk dan memesan.
Beberapa saat kemudian, Raksa meneguk minuman yang sudah datang ke meja mereka, begitu pun dengan satu pan pizza super large dengan cheese di pinggirnya.
"Makan!" suruh Raksa.
"Gimana gue bisa makan kalau hati gue kosong melompong begini? hati gue, hati gue terlukaa, Saa!" ucap Farid mengagetkan Raksa.
"Ya ampun! hampir aja pizza gue jatuh gara-gara lo, Farid! ya ampun!" Raksa yang meletakkan sepotong pizza yang baru saja mau dimakannya.
"Ya udah sekarang, lo ngomong. Sebenernya lo kenapa?" Raksa minum lagi dan menyimak apa yang akan Farid katakan padanya.
"Ternyata Tania deket sama gue cuma manfaatin gue doang, Sa!"
"Manfaatin gimana? lo diporotin? apa gimana?"
"Bukan! dia hanya deket sama gue ternyata karena cuma mau nyomblangin lo sama Rahmi. Karena ternyata yang gue liat Tania jalan sama pak Galang. Pak Galang yang udah umurnya 45 taun ituu Raksaaaaaaa!!" aeru Faris frustasi.
Raksa yang malu karena Farid mendadak kayak orang kesurupan ini pun mencoba meredakan emosi Fatid yang meledak-ledak.
'Salah gue pilih tempat! harusnya ajak makan dia di tengah hutan atau di dalam goa, jadi kalau dia mendadak aneh begini gue nggak malu!' batin Raksa yang menepuk pundak Farid.
"Sabar dulu, minum dulu lo!" ucap Raksa.
"Ceritain pelan-pelan. Kalau kayak gini gue mana ngerti apa yang mau lo bicarain!" lanjutnya. Padahal dia udah tau soal Tania dan pak Galang, tapi Raksa mencoba menyimpan itu dan mendengar dari sisi Farid.
"Jadi waktu itu gue---" ucap Farid menggantung.
__ADS_1