
Berbeda dengan Kalin yang sempet menumpahkan air matanya, Reno malah happy-happy dan berasa bebas dari jeratan WA nanya kabar.
Ya, selama pacaran dengan Kalin, mereka punya kesepakatan wajib ngasih kabar dan Reno lumayan terganggu dengan hal itu. Menurutnya terlalu ribet buat selalu ngucapin selamat pagi dan met sekolah ataupun hal-hal yang dianggap cewek sangat penting, seperti ngasih tau apa yang lagi dia lakukan.
Sebelum maghrib, Reno udah pulang. Dan biasa disambut dengan suara lembut ibunya. Tapi Reno melewati bu Rini begitu saja.
"Renoo..."
"Apalagi sih, Buuu?!! Reno capek, Reno mau istirahat!" suara Reno meninggi, dia pergi begitu saja dan masuk ke dalam kamarnya.
"Renooo, Reno?! ibu belum---"
Brakkkk!
Suara pintu dibanting, membuat bu Rini kaget.
"Astaghfirullah, kamu kenapa sih, Naaak? kenapa kamu jadi berubah begini?" bu Rini sendu, dia mengelus dadanya. Matanya kini berkaca-kaca.
Ceklek!
"Assalamualaikum..." suara lembut Arkan menyapa telinga bu Rini.
"Waalaikumsalam," wanita itu segera menghapus bulir bening yang sempat jatuh ke pipinya. Dia menyambut anak sulungnya yang baru saja datang.
"Ibu? ibu kenapa, Bu?" tanya Arkan, cemas. Dia tau ibunya habis menangis.
"Nggak ada apa-apa, Arkan! tumben kamu pulang jam segini?"
Arkan meraih tangan ibunya dan menciumnya.
"Barakallah!" ucap bu Rini saat tangannya menyentuh kepala anak sulung di keluarga itu.
"Kerjaan lagi nggak begitu banyak, Bu. Makanya Arkan pulang cepat. Oh ya, ini Arkan sudah gajian..." Arkan menyerahkan sebuah amplop yang dia keluarkan dari tas kecilnya.
"Harusnya ini buat kamu, Arkan. Buat masa depan kamu, ibu kan sudah dapat dari ayah..." bu Rini tetap sungkan menerima pemberian uang dari anaknya.
"Nggak apa-apa, Bu. Itung-itung bantu sedikit keperluan rumah ini. Ibu nggak usah khawatir, Arkan juga sudah menyisihkan sebagian buat keperluan Arkan sendiri..."
"Alhamdulillah, terima kasih ya Arkan. Kamu memang anak yang baik!" kata bu Rini.
"Ayah belum pulang, Bu?"
"Belum, mungkin sebentar lagi..."
__ADS_1
"Aaaabanggg!" suara Nadila dari dalam, dia lari dan memeluk abang nya.
Hap!
Nadila langsung lompat dan digendong seperti koala, "Abang belum mandi, Nad! bauuu achemmm!"
"Abang, abang udah beli belum pesenan Nad?"
"Aduuhhh?! abang lupa!"
"Emang kamu pesen apa, Nadilaa?" tanya ibu.
"Pesen mainan. Kata abang, kalau udah gajian abang mau beliin Nad mainan yang bisa bikin eskrim,"
"Abang lupa, Nad! nanti deh kalau libur, abang beliin. Soalnya, kalau hari kerja kayak gini abang pulangnya sore dan toko mainannya udah tutup banyak yang tutup..."
Nadila cemberut.
"Gini deh, nanti akhir pekan kita pergi bareng," Arkan sambil menggendong adiknya yang masih SD.
"Ajak bang Reno juga?"
"Boleh, sekalian sama bang Reno. tapi kalau bang Reno mau ya?" kata Arkan yang kini menurunkan adiknya.
"Abang mau mandi dulu ya," lanjutnya.
"Iya Nak iya..." bu Rini menatap anaknya yang memberikan senyuman teduh, sangat berbeda dengan Reno yang selalu memasang wajah masam saat di rumah.
Sementara Reno yang denger percakapan di ruang depan cuma berdecih dan bergumam, "Cih, dasar sok baik!!"
Sekarang pemuda itu mengambil sebuah kertas dari dalam saku nya, kuitansi pembayaran, "Akhirnya satu masalah selesai juga,"
Beberapa jam yang lalu, Reno ke tempat lesnya. Dia membayarkan semua tunggakan pembayaran bimbel. Jadi udah nggak ada alasan ayahnya buat marahin apalagi mukul dia lagi.
Perlahan langit senja kini berubah menjadi malam.
Kalin masih memikirkan orang yang nggak pantes buat dipikirin, "Gimana aku bisa bikin duitku balik? astagaaaaaaa!"
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Kaliiin, Sayang..." suara bunda.
"Yaaa, Buuun! sebentar..." Kalin bangun dari tempat tidurnya dan pergi buat buka pintu.
Ceklek!
"Ada apa, Bun?"
"Nanti jam 7 bunda sama ayah ada acara ke luar. Kamu nggak apa-apa kan sendirian?" tanya bunda.
"Nggak apa-apa, Bun. Tenang aja..." Kalin pegangan daun pintu.
Mata bunda nggak sengaja ngeliat ke arah jari Kalin, "Loh? cincin kamu mana? kok nggak dipakai?"
Kalin yang dapet pertanyaan di luar prediksi BMKG pun seketika keder, "Ehm,"
"Kenapa nggak dipakai?"
"Takut ilang, Bun! jadi Kalin lepas dulu, besok kebetulan ada pelajaran olahraga, takut lupa. Jadi mending Kalin lepas sekarang..."
"Oh, gitu! bunda kira udah nggak suka lagi. Ya sudah, bunda mau siap-siap dulu ya? inget, hati-hati di rumah. Tadi bunda udah masak buat kamu makan malem..." ucap bunda sebelum pergi.
"Ya, Buuuun! siapppp!"
Dan ketika bunda udah turun ke bawah, Kalin nutup pintu kamarnya lagi.
"Fiuuuhhh! hampir ajahhh, untung bunda percaya!" Kalin yang bersandar di pintu.
Gadis itu kembali duduk di ranjangnya, dia ngambil hape dan buka gallery foto. Banyak foto kebersamaannya bareng Reno, hampir di setiap jepretan Kalin nggak nemuin raut wajah terpaksa.
"Gue hampir nggak percaya, lo ternyata nggak tulus sama gue. Padahal selama ini gue sayang banget dan peduli sama lo. Bahkan saking pedulinya gue, saat lo bilang butuh duit buat inilah itulah. Gue nggak mikir dua kali buat bantuin lo, sampai gue harus jual cincin kesayangan gue. Dan kalau udah kayak gini, gue harus gimana?" mata Kalin panas dan mulai berair. Dia nggak bisa bohongin hatinya kalau dia itu cinta sama Reno.
Kini Kalin merebahkan dirinya, air matanya mengalir. Rasa kecewa begitu hati Kalin saat ini, apalagi dengan jelas dia ngeliat Reno ngeboncengin cewek pas dia pulang dianter Raksa.
"Cepet banget lo nemplok sama cewek laen. Apa sebegitu nggak punya perasaannya lo sama gue, Ren? apa beneran nggak ada secuil pun perasaan itu?"
"Jahat banget lo Reno sama gue! gue salah apa sama lo, sampai lo ... hiks..." Kalin memeluk gulingnya. Dia membenamkan wajahnya dan kilasan kenangan saat Reno mutusin dia di depan umum terbayang memenuhi pikirannya.
Dia nggak habis pikir, kenapa Reno tega mempermalukan dirinya, "Gue bakal buktiin kalau lo juga nggak berarti apa-apa buat gue, Ren! gue bakal buktiin kalau gue, bisa bahagia tanpa lo!"
Kenyataannya, meskipun Reno sudah menghianati hatinya tapi Kalin nggak bisa dengan gampang menghapus perasaan dan kenangannya tentang Reno.
Kalin yang semula keukeuh dengan prinsip mau fokus sekolah dan nggak mau pacaran dulu pun goyah saat ketemu sama Reno Vadela Hakim. Prinsip yang dibentuk dari kedua orangtua Kalin yang nggak pengen putri mereka satu-satunya ini dapat pengaruh buruk dari sistem pacaran anak muda Sekarang.
__ADS_1
"Apa ini karma karena gue nggak nurut sama bunda?" Kalin bangun dan mengambil hapenya lagi. Dia mengusap layarnya, dan terbuka foto dirinya dan Reno yang lagi ketawa sambil pegang eskrim cone.
Air matanya keluar lagi, "Gue bakal hapus lo dari hati gue, Reno!"