
Malam itu Raksa langsung memesan tiket kepulangan untuk Raksa dan kalin. Dia sengaja pesan penerbangan malam. Supaya gerak-geriknya nggak terpantau si Arvin itu. Niat hati mau datang untuk ngomong secara langsung kalau dia besok nggak bis aantar susu karena dia akan pulang ke negara asalnya, dia mau mengundurkan diri. Tapi si bos bilang kalau dia akan menyiapkan bayaran Raksa besok pagi. Dia nggak perlu resign, anggap saja sedang cuti. Dia boleh melanjutkan bekerja setelah kembali ke negara ini.
Raksa sangat bersyukur menemukan orang baik di negeri yang jauh dari bumi pertiwi. Ternyata dibalik kecemasan dan kegusaran yang melanda dirinya, ada aja kebaikan yang diterimanya dari orang-orang yang nggak dikenal. Salah satunya dari tetangga sebelah yang katanya melihat ada orang yang sedang memarkirkan mobil nggak jauh dari rumah Raksa. Tetangganya itu menelepon lewat telepon rumah. Dia menyuruh Raksa untuk berhati-hati.
"Dunia ini yang begitu luas terasa begitu sempit buat gue dan Kalin, huuufh!" Raksa menghela nafasnya. Dia mematikan leptop dan melakukan semua pembayaran lewat semua lewat internet banking.
"Emhhh," Kalin dengan rambut yang berantakan keluar dengan memakai piyama kimononya. Dia berjalan terseok-seok seperti zombie yang bangkit dari kuburnya.
"Kenapa nggak bangunin aku sih, Sayang?" Raksa bangkit dari duduknya dan berniat mendekat.
"Jangan mendekat! tetap di tempatmu, jangan mendekat! oke?" Kalin yang dengan sikap waspada.
"Tapi aku cuma mau bantuin kamu, Sayang?!!"
"NGGAKKK BUTUUUH!!!" teriak Kalin dari dalam kamar mandi. Raks ahanya tertawa mendengar kalin yang berteriak.
Mlam itu Raksa masak seperti biasa, dia bilang kalau lusa mereka akan pulang. Itu keputusan yang terbaik. Rencana liburan musim panas disini, nggak jadi. Semuanya ambyar gara-gara si Arvin, maksud nya orang yang menyamar sebagai Arvin.
Kalin udah nggak mau ngebantah, semua keputusan ada pada Raksa. Dia juga ngeri kalau si Arvin KW itu berkeliaran dan menculik dirinya. Meskipun dia nggak tau dengan siapa sia bermasalah, tapi Kalin nggak mu ambil resiko. Dia akan menghubungi pihak kampus untuk mengambil cuti jika itu diperlukan. Kalin rasa semuanya akan mudah jika dia bisa menceritakan semuanya dengan baik-baik dengan pihak universitas.
"Besok aku mau ngembaliin sepeda. Jadi inget pesanku, ya?" ucap Raksa.
Kalin mengangguk.
"Kita kayak lagi di dalam film action, ya?" tanya Kalin.
"Ya anggap aja begitu. Biar kita nggak stres!" timpal Raksa.
"Sekarang makanlah, keburu nasi gorengnya dingin. Aku sengaja nggak mengisi kulkas karena rumah ini akan kita tinggal lumayan lama, jadi mubadzir aja kalau ada bahan-bahan yang tertinggal dan membusuk di dalam sana!"
"Sedetail itu, ya?" ucap Kalin.
"Harus!"
Malam itu sengaja Raksa nggak tidur, dia mengintip di balik tirai, apakah ada yang mencurigakan di luar snaa. Sembari dirinya terus menelepon tetangganya, dia minta tolong kalau tetangganya mendengar atau melihat sesuatu yang aneh.
Kring!
"How? there is any--- (bagaimana? disana ada sesuatu yang---)"
"Kenapa begitu berbisik, Raksa?" ucap seseorang dibalik telepon.
"Shiit!" Raksa segera menutup telepon dan membangunkan kalin yang baru aja tertidur.
"Kalin, bangun Kalin! kita harus secepatnya pergi ke bandara!" ucap Raksa terburu-buru.
__ADS_1
Kalin yang dibanguni dengan cara ala-ala militer pun kaget, dia melihat raksa memasukkan sesuatu ke dalam tas gendong milik Kalin.
"Paspor, dan dompet!" Raksa segera memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya.
"Ada apa, mas?" tanya Kalin yang gemetaran, dia gugup dan takut.
"Jangan takut, ada aku kalin! aku bakal ngelindungi kamu. Ngerti?" ucap Raksa.
Kalin mengangguk.
"Ya!"
"Pakai ini. Kita akan lompat lewat pintu belakang!" ucap Raksa yang segera memakaikan syall dan juga sweater pada istrinya.
Raksa membuka pintu perlahan.
Deg deg deg!
"Rasanya malam yang sunyi membuat Kalin bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri, bahkan terlalu jelas untuk saat ini.
Raksa menaruh jari telunjuknya di bibirnya.
Dia melihat kaki Kalin yang gemetaran.
"Naik ke punggungku!" bisiknya.
"Cepatlah!" ucap Raksa.
Hap!
Kalin dioper tas buat dia gendong, sementara Raksa yang gendong Kalin. Jadi mereka salin gendong menggendong.
Suasana begitu sepi. Raksa membuka pintu belakang yang sebenernya nggak dibelakang banget melainkan agak kesamping yang tembus ke halaman samping garasi.
Raksa melihat ada bayangan yang mendekati rumah mereka. Dia tetap bersembunyi, dia liat sepeda yangnggak tau punya siapa yang jelas sepeda itu berada dihalaman rupah. Diparkirin gitu aja.
"Naik kesini!" Raksa dengan bahasa isyarat.
Kalin pun menurut, dia turun perlahan-lahan dia menyerahkan tas pada Raksa dan dia duduk di besi penghubung antara stang dengan sadel.
Sementara Raksa langsung duduk dan siap-siap gowes tengah malam.
Ceklek!
"Kemana kalian? apa kalian tidak ingin menyambut tamu yang datang ke rumah?" ucap orang itu.
__ADS_1
Setelah mendengar pintu yang terbuka dan suara orang yang bicara sendiri di dalam rumahnya, Raksa langsung tancap gas.
Dia langaung keluar dengan membawa Kalin.
Mendengar seseorang yang pergi, pria yang menyamar menjadi Arvin pun ikut keluar.
"Shiit! mereka kabur!" Arvin melihat Raksa yang mengayuh sepedanya.
"Hahahahah, lucu sekali dua orang itu! mereka kabur dengan sepeda?!! haissshhh, sungguh menggelikan. Bahkan sekali tancap gas gue bisa memotong jalan mereka!" ucapnya dengan nada meremehkan.
"Oke, kita lihat, seberapa kuat kaki mu mengayuh sepeda itu?!" gumamnya sbari memainkan pedal gas.
Dia tersenyum sebelum mengetes kecepatan mobilnya di jalanan yang sangat sepi itu.
Wuuzzhhhh!
Arvin yang sebenarnya bernama Jonas pun mengejar Raksa dan Kalin yang udah pergi duluan. Tapi yang nanya kemampuan kaki dan kemampuan mesin ya jelas beda ya, lebih cepat mobil kemana-mana.
"Hahahahah, kalian mau kemana, hem? Suami mu utu nggak berguna Kalin?! lebih baik kamu pindah ke mobilku, lebih hangat dan lebih nyaman. Udara malam nggak baik buat seorang gadis!" ucap Jonas saat berada disamping Raksa yang masih mengayuh sepedanya.
"Maas?" panggil Kalin lirih.
"Jangan hiraukan dia, Kalin!" ucap Raksa.
Ketika Jonas akan mengarahkan pisstolnya, dan menarik pelatuknya...
Tiba-tibaa...
Dorrrrr!!!
Suara timah panas yang diluncurkan ke arah Raksa pun memecah keheningan malam itu.
"Shiiiit!"
"Masss?!!" pekik Kalin yang jantungnya berdegub sangat kencang saat Raksa mengerem sepedanya mendadak dan belok ke luar jalur track jalan.
Dengan penerangan seadanya, Raksa masuk ke dalam jalan yang penuh dengan rumput dan naik turun
Sampai akhirnya dia menemukan jalan tembus lain yang mengarah ke arah jalan raya.
"Nggak sia-sia gue ngafalin jalan, Kalin!" ucap Raksa dengan keringat yang udah bercucuran.
"Aku takut, Mas?!!" ucap kalin yang berpegangan kuat pada sepeda, dia duduk menyamping.
"jangan takut, Sayang! ada suamimu yang akan melindungi kamu!" ucap Raksa dengan kaki yang terus mengayuh, dia sengaja memakai jalan tembus yang sulit dilalui mobil.
__ADS_1
Jonas pun memukul stir mobilnya, "Breng-sek!" ucapnya saat melihat incarannya sudah kabur entah kemana.