
Pas banget komplotan itu memotong jalan pak Hendra di daerah yang sepi.
"Bapak tungu di dalam mobil, jangan keluar!" kata Raksa.
"Jangan konyol kamu, Raksa! begini-begini, bapak dulu jawara silat!" kata ak Hendra.
"Itu lan dulu, Pak! sekarang nabok nyamuk aja bapak suka kram!" ledek Raksa.
"Sembarangan aja nih bocah kalau ngomong!" pak Hendra keaal karena ledekan anaknya sendiri.
Dogh dogh dogh dogh!
Kaca mobil mereka digedor.
"Buka atau kita akan pecahkan kacanya!" ancam mereka dari luar.
Raksa pun akhirnya membuka pintu secara mendadak.
BRAKKKK!!!
"Upsss, sorry! gue nggak sengaja!!" ucap Raksa dengan wajah yang merasa bersalah.
Raksa ulurin tangan pada salah satu orang yang kena pintu mobilnya dan sampai nyungsruk.
"Thanks!" ucap pria itu, ketika sudah berdiri.
Namun Raksa nggak ngelepasin tangannya.
Sreeettt!
Dia malah melintir itu tangan sampai orangnya mengaduh kesakitan, lalu dia tendang dari arah belakang.
Pria itu tersungkur dengan bibir yang jontor kena aspal jalan.
Raksa menjadi pemain tunggal, sedangkan bapaknya yang katanya pernah jadi jawara silat, diem aja di dalam mobil bersama seorang gadis yang duduk di kursi belakang.
Kretekkk, kretekkk!
Raksa ngelemesin sendi-sendinya.
"Ck, udah lama nggak tarung! tangan gue kok jadi kaku begini ya?" Raksa memperhatikan tangannya
"BEDDEBBAH!" teriak seorang pria yang mengincar Raksa dari arah belakang, kakinya sudah melayang namun...
Hap!
Kaki itu Raksa tangkap dan...
"Adedah dedahhhhh! lepasin woooyyyy!!!"
"Tau nggak? kalau kaki itu dilarang nendang kepala?! pernah diajarin emak lo kagak? hah?" Raksa sengaja memegang satu kaki pria itu
__ADS_1
Sedangkan satu orang yang dekat dia pukul dengan kakinya yang dengan sigap menendak pipi orang yang akan menyerang Raksa.
Raksa memutar dan kakinya dan menendang satu persatu lawannya.
Brakk!
Brakk!
Brakk!
Empat orang terkapar. Melihat temannya dipukul habis-habisan ketiga orang yang lainnya menyerang Raksa secara keroyokan.
Dua orang memegang badan Raksa dan satu orang meninju perut Raksa secara membbabi buta.
Bugh bugh bugh!
"Aawkkkh!" Raksa memekik saat perutnya ditendang dan dipukul nggak ada jeda.
"Astaga, Raksa?! Aiiih, beraninya main keroyokan!" gumam pak Hendra yang mengomentari anaknya yang sedang dihajar habis-habisan.
Sedangkan gadis yang bersama Raksa hanya melihat bagaimana pria itu mencoba untuk bertahan hidup di tengah pukulan dan tendangan yang di terimanya.
Namun, Raksa yang sudah bercururan darah, seketika berteriak bagaikan Raksasa yang akan menunjukkan kekuatannya.
"Aaaaaarggghhh!" Dia mengaum seperti seekor harimau.
Dia melompat dan menjejakkan kakinya lurus ke depan, menendang perut orang yang sedari tadi memukuli wajahnya.
Brakkkk!!!
"Aaawkjjh!" mereka memekik kesakitan.
Dan dari arah belakang.
Prokk prok prok!
Ada satu sosok yang dia sangat kenal.
"Pak Galang?" gumam Raksa.
"Astaga, saya tidak pernah menyangka kalau kamu punya kampuan bela diri yang luar biasa!" ucapnya sembari memakai setelan jas yang parlente. Sepatunya yang kinclong dan dasinya yang npak serasi dengan warna jas dan juga celana slim fit nya.
Pak Galang menggerakkan tangannya, dan orang-orang yang datang satu mobil dengannya pun membuka paksa pintu. Dia mengeluarkan seorang gadis berambut panjang, sedangkan pak Hendra dibiarkan begitu aja.
"Jangan kabur tau kamu akan , kekkkk!!" seseorang menyentuh lehernya sendiri dengan jempolnya, memberi isyarat kalau pak Hendra berani kabur maka dia aka mati.
'Beraninya mengancamku! kalian yang akan terkapar di tangan anakku, menegerti?!' Pak Hendra dalam hatinya.
Cuma karena pak Hendra yang lagi nyamar jadi supir taksi, jadi dia manggut-manggut aja.
"Saya tidak menyangka anda dibalik semua ini!" kata Raksa menggebu.
__ADS_1
Sedangkan gadis yang memakai masker dan kacamata itu pun diam, dia sesekali membuat gerakan, sehingga orang yang memeganginya pun mengencangkan cengkramannya.
"Sebenarnya, kamu bisa saja selamat tapi sayangnya kamu terlalu lancang untuk mengetahui sesuatu yang harusnya tidak kamu ketahui!"
"Apa anda mencelakai Kalin karena dendam terhadap saya? karena saya mengetahui hubungan anda dengan Tania?" Raksa menatap tajam lawannya. Penampilan mereka bagai bumi dan langit.
Raksa yang hanya memakai jeans dan jaket berhodie pun terlihat berantakan.
"Persettan dengan gadis bodoh itu!! astaga, kakak beradik itu sama-sama bodoh! Bukankah menangkap dua tikus ini merupakan seusatu yang mudah? kenapa mereka malah gagal lagi gagal lagi. Menjebak tikus kotor sepertimu dan Kalin? bukan sesuatu yang sulit..."
"Seorang gadis yang sangat berprestasi, dan sangat menggemaskan, sayangnya dia lahir dari orang yang aku benci. Seandainya saja bukan, sudah pasti akan aku rela menjadi sugar daddy nya!" kata pak Galang.
"Bahkan dalam mimpimu, semua itu tidak akan menjadi kenyataan, Pak!" ucap Raksa meremehkan.
Dua orang body guard pak Galang bergerak, berniat memberi Raksa pelajaran , tapi tangan pak Galang terangkat ke atas.
"Biarkan dia bicara, sebelum akhirnya mulut kotor itu bungkam. Karena aku akan menghancurkan perasaannya secara permanen!" pak Galang dengan tawanya yang renyah.
Raksa ikut tertawa, "Hey, anda ini sangat lucu ya? anda dendam sama siapa, balasnya sama siapa? jaka sembung makan ikan kembung, nggak nyambung!" ucap Raksa.
Pak Galang jengkel diledek oleh Raksa, "Ya, memang sasaranku itu Diki Cayapata, dan kalau mebghancurkan Diki secara langsung itu tidak akan seru, karena dia pasti akan lebih menderita jika melihat anaknya hancur!"
"Dasar sakit jiwa! saya tidak menyangka orang yang tidak waras seperti anda bisa diangkat jadi direktur di perusahaan!" ucap Raksa.
"Hahahahahah," pak Galang malah tertawa.
"Kamu aja yang bodoh!" lanjutnya.
Pria itu berjalan menghampiri gadis yang berdiri dengan rambut panjang terurai.
"Coba kalau kamu memilih Rahmi, pasti kamu nggak akan babak belur begini. Dan lagi, kamu bisa tetap bekerja seperti biasa.Tapi karena kamu memilih menjadi bagian dari keluarga Diki, maka aku tidak bisa apa-apa lagi!" kata Pak Galang.
"Sakit jiwa emang!" gumam Raksa.
Pak Galang memegang dagu Kalin, "Lepaskan dia. Aku tidak ingin melihat tangan gadis ini kesakitan!" ucapnya.
Dan seketika kedua bodyguard itu melepaakan tangan Kalin.
"Apa sebgitu menderitanya kamu, Kalin? emh, ternyata kamu lebih tinggi dari yang aku kira," ucapnya lagi.
"Kenapa? kenapa kamu diam? apa kamu takut? lihat? suamimy sudah tidak bersaya! dia sudah kalah! bagaimanapun cerdiknya dia, dia nggak akan bisa menandingi kehebatanku!" ucap pak Galang.
Prok prok prok!
Pak Galang menepuk telapak tangannya, dan dari mobil munculah Tania.
"Kemarilah, Sayang!" ucap Pak Galang. Dan dengan tidak tau malunya dia mencium Tania di depan semua orang.
"Dan kamu! akan mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan!" ucap pak Galang yang kemudian menjambak rambut Kalin.
Namun, ternyata...
__ADS_1