
Farid bilang kalau dia lagi di parkiran, tapi Raksa nggak mau. Dia bilang kalau dia akan tunggu di lobby.
Kalau bukan karena nggak pengen kesandung restu kakak ipar, mana mungkin Farid dengan konyolnya ngaku lagi migrain berat dan butuh banget ke rumah sakit.
'Maaf, Pak! besok saya akan temui, Bapak. Sekarang saya harus secepatnya ketemu dokter. Kepala saya kayak dipukulin orang sekampung, Pak!' ucap Farid saat di telepon.
Dia yang lagi pusing karena anggaran buat operasional dipangkas karena buat menambal beban uang pesangon yang membengkak gara-gara banyak yang dipecat pun nggak bisa berkutik saat calon kakak iparnya ngotot minta dijemput, sedangkan dia harus rapat dengan senior manager dan direktur operasional yang baru.
Karena pak Galang sebulan yang laku mebgubdurkan diri, karena mau fokus pada bisnis yang baru dirintisnya. Mungkin mengikuti jejak ayah Diki yang berani keluar dari zona nyamannya. Lagian pak Galang pengen menghabiskan banyak waktu dengan istrinya, Athalia.
Manajemen perusahaan yang lagi kacau balau, ditambah banyak karyawan varu yang harus ditraining sana sini, akhirnya bikin stabilitas perusahaan sedikit mengalami kegoyangan.
"Lo dimanaaaa?" tanya Farid.
"Tunggu!" ucap Raksa laku mematikan ambungan teleponnya.
Kalin yang udah angrem di dalam kamar ganti pun dketuk lagi pintunya.
Ceklek!
Kalin keluar dengan setelan baju kerja. Celana dan juga blazer yang dipakainya, membuat aura bos nya keluar.
"Mbak tolong ditotal. Bajunya langsung dipakai!"
"Loh?"
"Udah pakai itu aja," ucap Raksa yang gandeng Kalin lagi, sementara si pelayan toko dengan gercepnya membungkus baju Kalin yang dimasukkan dengan belanjaan bajunya.
Setelah membayar, Raksa langsung pergi.
Tapi salah satu pelayan mengejarnya, "Paaaak, Paaaaak! belanjaannyaaaaaaaa!"
Raksa yang mau ngajak kabur Kalin pun mendadak ngerem kakinya dan menyambar belanjaannya yang ketinggalan.
"Terima kasih!" ucapnya yang ngajak Kalin jalan dengan kecepatan 80km/ jam.
"Mas?! kakiku sakit!" ucap Kalin yang ngeluh dia pakai high heels.
Sementara Kalin berhenti dan melepaskan tangan Raksa, si Farid nelpon dia udah diklaksonin mpbil yang ngabtri panjang di belakangnya.
"RAKSA LO SERIUSAN MAU DIJEMPUT KAGAK, SEEH?!!!!! INI GUEEEE UDAH NUNGGU UDAH DARI JAMAN MAJAPAHIT?!! BURUAANN!" teriak Farid.
Raksa nggak mau ngejawab karena itu hanya buang-buang waktu. Kalin yang ngelus kakinya pun segera digendong Raksa.
"Eh eh eh!" Kalin kaget saat suaminya itu main gemblokin dia ke pungung.
'Ni orang kenapa, sih? lagi diare apa gimana?' Batin Kalin.
Meskipun beberapa orang melihatnya dengan tatapan yang aneh, Raksa mengabaikannya dan keluar dan membuka mobil Farid.
Dia menyuruh Kalin masuk di kursi depan.
"Lo harus anterin Kalin ke rumah gue!!" ucap Raksa pada Farid, dan dia menaruh belanjaan di paha Kalin.
"Inget ke rumah gue! dan harus utuh nggak kurang suatu apapun! ingt dia kakak ipar lo!" ucap Raksa, kali ini raut wajahnya serius.
__ADS_1
Brakk!!
Raksa menutup pintu dan pergi masuk lagi ke dalam mall.
"Mas? Mas Raksaaa?!!" teriak Kalin tapi suara klakson menbuatnya menutup kembali kaca mobil.
Tiinn tiiin!
"Iya sabarrrrr elaaaah!!" keluh Farid. Dia akhirnya pun menginjak pedal gasnya dan pergi dari kawasan mall itu.
"Mas Raksa kenapa ya, Bang? kok aku jadi khawatir, ya?" tanya Kalin bingung dengan sikap suaminya yang aneh. Terakhir dia bersikap aneh kayak gini beberapa tahun yang lalu, yang akhirnya Farid menyamar menjadi dirinya.
"Bang?!" suara Kalin membuat Farid kaget.
"Eh sorryy, sorry kakak ipar! tadi ada yang nyelip, jadi nggak begitu fokus! kenapa ytadi?" Farid nanya lagi, sesekali dia melihat ke arah Kalin.
"Mas Raksa kenapa? gue jadi khawatir sama dia, Bang!" ucap Kalin.
"Nah lo aja yang istrinya nggak tau, apalagi gue?" Farid nunjuk dirinya sendiri.
"Apa mungkin ada hal yang membahayakan?" Kalin bergumam sendiri.
Sedangkan Raksa yakin kalau orang tadi masih berkeliaran mencarinya di mall itu.
Sreeet!!
Raksa menoleh saat dirinya berjalan di tempat parkir yang lumayan minim pencahayaan.
Sreeett!!!
Ada mobil tiba-tiba muncul bergerak ke arah Raksa.
Raksa berguling demi bisa menyelamatkan nyawanya, mobil itu bergerak seakan ingin menghabisi nyawanya saat itu juga.
"Ternyata mereka komplotan?! astaga, nggak bisa banget bikin hidup gue dan Kalin tenang sebentar aja!" Raksa abngun dan segra lari ke arah motornya.
Dia menyalakan mesin dan tancap gas keluar dari situ. Sementara Kalin sudah bersama Farid, Raksa berusaha mengejar mobil yang hampir menabraknya tadi. Dia pengen tau siapa orang yang ingin mencelakainya, siapa target mereka sebenarnya, dia atau Klain.
Namun setelah kejar-kejaran di jalan raya, Raksa kehilangan jejak mereka.
"Sial!" Raksa berhenti dan terjebak di lampu merah, sementara mobil itu sudah melenggang pergi.
Sementara Kalin yang udah sampai di rumah pun turun di depan rumah mertuanya.
"Udah disini aja, Bang!" ucap Kalin.
"Harus sampai masuk, Lin! ntar suami lo marah-marah sama gue. Ngeri dia kalau udah ngamuk!" ucap Farid yang keukeuh nganter Kalin sampai masuk ke dalam rumah.
Raksa nggak biasanya nelfon terus suruh jemput Kalin, ini pertama kalinya dan ini nggak bisa dianggap biasa aja. Ada hal yang Raksa sembunyikan, dan itu pasti berhubungan dengan keselamatan istrinya.
"Assalamualaikum..." ucap Kalin saat mengetuk pintu.
Dan setelah dibuka oleh bu Selvy, ibu mertua Kalin kaget saat Kalin muncul dengan Farid,orang yang beberapa tahun ini dekat dengan Nova.
"Loh Kalin? sudah pulang?" bu Selvy bingung.
__ADS_1
"Raksa mana?" lanjutnya.
"Tadi Raksa minta saya nganterin Kalin ke rumah. Kebetulan dia lagi ada urusan dulu, Tante...."
"Kalau begitu saya balik lagi ke kantor, Buk?" Farid mencium tangan mertuanya sebelum pergi dari rumah itu.
"Ayo masuk, masuk!" ucap bu Selvy.
Dan setelah berada di dalam rumah.
"Kamu habis belanja?"
"Iya, Buk. Tadi tuh habis makan sama velanja sama mas Raksa..." sahut Kalin.
"Kayaknya mereknya nggak asing!" Bu Selvy bergumam sendiri.
"Kamu beli apa itu, kalin?" tanya.
"Ini?"
Bu Selvy pun ikut melihat salah stau belanjaan Kalin.
"Ini kamu belanja ini sama Raksa?" tanya bu Selvu.
Kalin salting, "Iya, Buk..."
"Ckckcck, bagus bagu bagus! ibuk dukung!" kata bu Selvy yang mengusap lengan menantunya.
"Kalin naik ke kamar dulu ya, Buk? mau ganti baju..." kata Kalin.
"Iya iya, kamu istirahat! iya..." kata bu Selvy, sedangkan kalin langsung kabur ke atas.
Bu Selvy pun sama, dia masuk ke kamarnya buat kasih laporan ter-up to date buat Oma Nilam.
"Halo Oma, ini Selvy Omaaaa!" ucap buk Selvy saat elfonnya sudah tersambung, bu selvy mulai menceritakan apa yang dibeli Kalin yang katanya itu permintaan dari Raksa.
Oma pun ikut senang, ternyata besan anaknya itu bisa diandalkan. Oma masih diem-dieman dengan bunda Lia, Oma berpikir bunda Lia itu penyebab pasangan muda itu menunda mempunyai anak.
Sedangkan Raksa sendiri sampai di rumah kurang lebih jam 3 sore, dia langsung naik ke kamarnya dan pas buka pintu Kalin langsung berhambur ke pelukannya.
"Masssss!!!" pekik Kalin yang khawatirmya udah diubun-ubun.
"Mas kamu kemana aja sih?" tanya Kalin.
"Aku? aku ada urusan sebentar,"
"Urusan apa sampai kamu nyuruh Farid buat nganterin aku pulang?" Kalun melepaskan pelukannya.
Dia memicing sat melihat baju Raksa sedikit kotor.
"Ini kenapa? kamu habis jatuh?" tanya Kalin menyentuh bahu suaminya.
"Oh iya, tadi nggak sengaja jatuh!"
"Dari motor?"
__ADS_1
"Udah nggak apa-apa! aky mandi dulu ya?" Raksa pun mengelus wajah Kalin sesaat sebelum ngambil anduk dan pergu ke kamar mandi yang ada di luar kamar, kamar mandi yang biasa digunakan Nova juga.
'Apa yang kamu sembunyikan, Mang?' batin Kalin saat mendapati suaminya yang pulang dengan kemeja yang kotor. Kalin meraih kemeja itu dan mengeceknya lagi