Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Maafin Gue


__ADS_3

Pagi harinya Raksa udah bangun sekitar jam 4 pagi. Buat Raksa yang udah kebiasaan bangun subuh, itu nggak jadi masalah. Setelah melakukan kewajibannya, dia langsung pergi pakai sepeda yang udah dipinjemin si pemilik toko. Sengaja Raksa sembunyiin di bagian garasi rumah. Kebetulan mereka belum punya kendaraan, jadi Kalin jarang ngubek-ngubek garasi. Kepikiran kesana aja mungkin nggak.


Raksa segera mengayuh sepedanya, "The real nyonya yang nggak mau rugi," ucap Raksa sambil menahan dingin angin subuh.


Lumayan lama Raksa menjangkau yang biasanya dia naik trem, ini dia naik sepeda. Setelah kurang lebih setengah jam mengayuh, Raksa pun akhirnya sampai. Dia masuk ke dalam toko yang ternyata udah pada antri orang-orang yang mau nganterin pesanan susu.


Rata-rata orang ingin mengkonsumsi susu segar, daripada susu kemasan. Jadi Toko ini banyak kosnusmennya, selain udah terjamin kualitas dan harganya yang pas.


Setelah mendapatkan dua puluh botol susu, Raksa lanjut mengayuh sepedanya ke arah perumahan yang kalu di google map mah cuma 20 menitan. Lanjut dia menyusuri jalan, Raksa sengaja pakai sarung tangan biar dinginnya nggak nusuk banget di kulitnya.


"Itung-itung gue ngegym tapi dibayar!" ucapnya yang kini melihat kertas daftar nama rumah yang akan dia antarkan susu. Di tiap rumah di dekat pintu ada keranjang yang muat satu botoi. Jadi Raksa taruhin tuh satu-satu, menurut rumah nomor rumah yang emnag langganan.


Karena nggak semua di kompleks itu pesan susu, jadi Raksa harus teliti bener-bener dan nggak boleh salah.


Krekk!


Botol susu terakhir yang dia taruh di keranjang yang terbuat dari keranjang besi.


Dia ngeliat kalau sekarang udah hampir jam 6 pagi, dan itu artinya dia harus balik lagi ke rumah. Selain laporan kalau semua pesanan udah dianter semua.


Dengan sedikit santai, Raksa mencoba menikmati pemandangan kota yang masih minim orang yang hilir mudik. Sampai akhirnya Raksa pun sampai di depan rumahnya yang disewanya. Perlahn Raksa masukin sepeda ke garasi. Dia melepas mantelnya dan lanjut bikin sarapan.


Cessss!


Bumbu ulek yang  bercampur dengan minyak panas.


Dan segera tercium wangi nasi goreng yang dibuat Raksa, Kalin pun bangun dan sempat menikmati keharuman itu beberapa saat sebelum amsuk ke kamar mandi. Dia ketuk dulu sebelum akhirnya masuk. Kayaknya Kalin ada trauma-traumanya setelah kejadian membingungkan di kamar mandi dengan Raksa.


"Kenapa dia masak sepagi ini?" gumam Kalin yang perutnya udah nggak tau diri.


Kelar mandi dia jalan ke meja makan, disana Raksa udah siapin dua piring nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi.


"Sarapan dulu, sebelum berangkat kuliah!" kata Raksa.


Kalin disitu bener-bener mencium aroma-aroma pundung dari suaminya.


'Beneran dia nggak peduli lagi sama gue. Tapi nggak pernah telat masakin makanan, kok malah situasinya malah jadi kayak gini , sih?' batin Kalin.

__ADS_1


Raksa yang biasanya curi-curi cium, sekarang nggak pernah. Mereka malah terkesan bukan suami istri, mereka lebih mirip orang lain yang kebetulan hidup bersama satu atap.


Raksa juga menyadari situasi ini nggak nyaman buat kalin, cuma dia pengen kasih pelajaran aja sama si bocil yang sok-sok an nggak mau dijagain, padahal apa yang dia lakuin itu ya demi kebaikan mdia sendiri. Biar aman di negara orang.


Entah kenapa, makin jauh, Kalin tuh makin kangen tempelan bibir Raksa di pipinya. Sambil makan, dia mencoba menghilangkan pikiran-pikiran atau kenangan saat Kalin belum ketemu sama Rahmi. Karena jatohnya kan si pembuat onar ya si mantan pacar yang belum bisa move on.


Mungkin nggak sengaja Kalin yang mau benerin kursinya senggolan kaki sama suaminya.


"Hem," Raksa berdehem, sementara Kalin dia punya kesempatan nih buat ngomong.


"Oh ya, hari ini kayaknya gue pulang telat," ucap kalin.


"Hem," Raksa berdehem lagi.


Kalin menganggap deheman suaminya itu artinya ya disetujui.


"Terserah kamu, kamu udah gede, kan?" ucap Raksa yang menyudahi makannya.


dan jawaban Raksa itu pun mengundang rasa bersalah Kalin.


"Maafin gue, hiks..." ucap Kalin dengan sesenggukan.


Raksa diem, bukannya nggak peduli tapi dia nunggu apa yang mau Kalin omongin lagi.


"Gue tau gue salah. Lo juga salah. Kita sama-sama salah, tapi jangan diemin gue kayak gini,  hikss..."


Dan disitu Raksa putar badan, dia ngeliat wajah Kalin udah bleweran air mata. Dia mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.


"Maafin gue juga, gue udah terlalu keras sama lo!" ucap Raksa.


"Gue lupa lo masih bocil,  gue lupa lo masih belum dewasa. Maafin gue ya?" lanjutnya.


Kalin lantas menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu, membuat riasannya rusak dan baju suaminya basah.


"Huhuhuhu," Kalin masih betah memeluk Raksa, padahal pagi itu dia ada kuliah.


"Mau berangkat nggak?" tanya Raksa.

__ADS_1


Kalin menggeleng.


"Jangan bikin gue gemes, ya?" Raksa mencium istrinya. Membuat Kalin terpejam dan merasakan perlakuan lembut suaminya.


"Jangan bolosan jadi anak!" lanjutnya setelah melepaskan Kalin.


"Tapi mata gue..."


"kenapa emang mata lo? bengkak?" tanya Raksa.


Kalin ngangguk.


"Pakek kacamata!" Raksa yang ngide banget. Dia mencubit hidung istrinya.


"Kalau lo nggak mau kuliah, terus lo mau apa?" tanya Raksa.


Kalin menggeleng.


Karena saking gemasnya, Raksa menggendong istri kecilnya itu di sofa. Dia memeluk Kalin dari belakang sambil tiduran.


"Masih pagi, ntar lo gue anterin. Masuk kuliah jam berapa sih?" tanay Raksa.


"Jam berapa? jam 9..."


"Masih ada waktu, kan? kata ibu kalau mata lagi lelah atau sembab, lebih bagus di kompres air anget, lo tunggu disini biar gue rebus airnya dulu," ucap Raksa. Tapi Kalin mencegahnya berpindah.


"Nggak mau!"


"Ya udah, terus lo mau bolos terus? lo nggak inget buat kesini kita harus melalui banyak hal, Kalin?"


"Ntar lo marah lagi?" ucap Kalin polos.


"Astaga, nggak lah! gue tau gue keterlaluan kemarin. Gue cuma pengen jagain lo aja, cuma mungkin gue yang over protective, makanya bikin lo jadi nggak nyaman," ucap Raksa.


Entahlah, hari ini Kalin pengennya ngusel mulu di pelukan suaminya. Pelukan yang dia rindukan beberapa malam terakhir.


Tapi yang namanya masih bocah, beberapa saat kemudian Kalin bangun dan dia bilang mau berangkat kuliah. Dan kali ini dia sendiri yang minta dianter sama suaminya naik kendaraan umum.

__ADS_1


__ADS_2