
Kalin merasakan bau-bau harum yang menggelitik di indera penciuamannya.
Perutnya pun segera bereaksi. Dia bangun mengerjapkan matanya, ternyata dia sensirian di kamar.
"Kemana tuh si Om?" gumam Kalin.
Dia beringsut dan membuka pintu. Gadis itu pergi ke arah bau wangi itu berasal.
Ternyata Raksa lagi mindahin makanan.
"Akhirnya bangun juga, cuci muka terus makan! gue tadi pergi di sekitar sini, terus gue---"
"Nggak nanya!" Kalin berbalik menuju kamar mandi.
"Jangan pakai kamar mandi dulu! belum gue beresin!" kata Raksa.
"Habis makan rencananya gue mau ajak lo ke supermarket dekat sini. Kita beli peralatan rumah tangga,"
"Gue capek?" ucap Kalin yang nggak jadi ke kamar mandi.
Dia pergi ke wastafel dapur dan mencuci mukanya.
"Tapi gue nggak tenang ninggalin lo disini," ucap Raksa.
"Bodo amat!"
'Sabar sabar! bocil lagi ngambek!' Raksa dalam batinnya.
"Ya udah kalau gitu. Gue kesana sendirian, tapi kalau gue pulangnya agak malem nggak apa-apa ya?" tanya Raksa.
"Kita nggak tau loh disini keadaannya gimana, lo berani?" Raksa sengaja nakut-nakutin.
Kalin yang tadinya mau ke kamar lagi, mendadak balik dia cepetan cuci muka dan duduk anteng di meja.
'Deuuh, gemes banget gue! emang agak lain nih si bocil!' Batin Raksa yang mesam-mesem ngeliat tingkah istri kecilnya.
"Nggak ada alat makan, jadi gue beli pizza sama pasta doang!" Raksa yang ikutan dudyk.
Dia bukain air mineral buat Kalin.
'Untung gue masih punya tabungan buat ngasih makan lo, Cil...'
Kayaknya kalau minta maaf terus itu nggak akan mengubah keadaan. Jadi Raksa mencoba mengimbangi sifat Kalin yang ternyata kalau ngambek lama banget.
"Makan yang kenyang!" ucap Raksa yang lagi-lagi dicuekin.
Kalin makan tanpa kata, dia terus menikmati makanan yang masih panas. Perutnya sangat dimanjakan dengan makanan yang menjadi penolong ketika perutnya sedang kosong seperti ini.
Raksa mencatat, barang-barang apa saja yang dia butuhkan.
Sedangkan Kalin membawa satu pizzanya dan duduk enak di sofa, sementara suaminya lagi sibuk ngelist di kertas.
__ADS_1
"Lo butuh apa?" tanya Raksa.
"Apa aja!"
"Gue serius, bocil!" Raksa mengigit Pizza yang lagi dimakan Kalin.
Sedangkan Kalin shock dengan apa yang dilakukan suami dewasanya itu.
"Iya iya, ih!" Kalin cemberut dia mengantongi lagi hapenya dan fokus makan.
"Apa?" tanya Raksa.
"Apa?"
"Astaga, lo butuh apa aja, biar gue yang catet ini!"
"Nggak tau gue!" Kalin sengaja memantik emosi Raksa.
"Gue tau, lo butuh apa?" Raksa menaik turunkan alisnya, dia melihat ke arah bagian depan Kalin.
Gadis itu sontak menyumpal mulutnya dengan sisa pizza dan dia silangkan kedua tangannya.
'Dasar Om-Om piktor!' umpatnya dalam hati.
Dan akhirnya setelah melwati perdebatan yang alir, Kalin dan Raksa pergi.
"Mantelnya jangan lupa," ucapnya.
"Apa? trek?"
"Trem, Cil?! bukan trek, pasir kali naik trek!" Raksa menggelengkan kepalanya.
"Habis makan jadi jalan aja!" kata Kalin yang nggak mau digandeng.
"Tapi lumayan jauh sekitar 3 kilometeran!" ucap Raksa.
Kalin mendadak ngerem.
"Loau bikin betis gue gede?!" ucapnya dengan sekali tarikan napas.
Sedangkan Raksa geli melihat wajah Kalin yang lagi sewot. Mereka berdua naik angkutan umum berbekal maps yang ada di hapenya Raksa.
'Semoga nih peta nggak nyasarin gue sama Kalin. Jujur gue belum tau jalan,' batin Raksa.
Begitu masuk, kursi banyak yang penuh, cuma ada satu yang kosong.
Raksa nyuruh istrinya buat duduk, "Lo disini," ucapnya.
Ya udah Kalin duduk, dia berasa punya bodyguard kalau kayak gini. Wajah mereka yang asia banget, bikin beberapa orang melirik pengen melihat wajah imut Kalin yang bikin melting.
Raksa sangat protective pada Kalin, padahal sebelumnya sama Rahmi dia biasa aja. Nggak terlalu menganggap oranglain sebagai ancaman buat dia. Setelah menikah, dia lebih merasa kalau Kalin lebih membahayakan jika berada di sekitar para laki-laki, tapi dia nggak sadar kalau kemarin dia juga sempat memberi celah sang mantan untuk masuk dan mengganggu hubungannya dengan gadis yang sekarang menjadi pendamping hodupnya.
__ADS_1
Turun dari trem, mereka jalan sebentar dan masuk ke area supermarket.
Raksa mengambil troley dan mengambil barang-barang yang udah dia catet.
Kalin sibuk milih cemilan, sedangkan Raksa lebih mirip bapak rumah tangga yang secara detail mikirin warna piring yang cocok buat mereka.
"Kamu lebih suka datar oval begini atau yang ada cekungannya?"
"Terserah!" ucap Kalin berlalu dengan trolleynya.
Sedangkan Raksa pengen banget ngejitak tuh kepala, tap saat Kalin nengok ke belakang Raksa jadi salah tingkah sendiri.
Raksa mengambil piring seperlunya dan masukin ke dalam trolley, dia juga butuh alat makan yang lain, tapi ya gitu Kalin hanya menjawab dengan kata ajaibnya 'terserah'.
Dia malah sibuk milih yang lain, yang nggak ada hubungannya sama perlengkapan rumah tangga. Bukannya Kalin nggak tau mana yang akan dia butuhkan atau nggak, cuma dia masih kesel aja sama Raksa yang lagi mencoba bikin mereka seolah nggak ada apa-apa.
Setelah belanjaan sudah cukup, Raksa pun mengajak Kalin untuk membayar, mereka nggak lupa beli bahan makanan. Pokoknya sebisa mungkin Raksa mengirit uangnya selama belum dapet kerja.
Pulang belanja, mereka langsung balik ke rumah.
"Besok coba kita liat kampus lo," ucap Raksa saat mereka baru sampai.
"Kita?"
"Ya iya lah. Gue sama lo," ucap Raksa.
"Gue mau kuliah, ngapain lo ngintilin gue sampai ke kampus-kampusnya?"
"Ya gue mau mastiin lo aman aja, lin...."
"Ck, ribet!" Kalin masuk ke kamar dan ngebiarin Raksa dengan tangan yang penuh dengan belanjaan.
"Gue cuma pengen tau aja kampus lo dimana, ruangan lo dimana dan temen lo siapa aja. Lo bukan gadis lajang lagi, Kalin..." ucap Raksa dari balik pintu.
"Tapi nggak harua kayak gitu juga, kan? kesannya gue ini tahanan tau, nggak? segala gerak-gerik gue harus terpantau sama lo," ucap Kalin yang menjawab dari dalam kamarnya.
'Kayak gini nih yang bikin bundanya nggak ngijinin. Belum apa-apa udah mau nakal!' batin Raksa.
"Gue ruh kayak ngejagain anak perawan, huuufhh susah bener kalau dibilangin..." Raksa yang menaruh belanjaan di meja makan.
Nggak berapa lama Kalin keluar dengan pakaian rumahan.
Dia keluar buat ngebantuin Raksa buat nyuci sayuran dan buah dan nempatinnya di wadah khusus. Sedangkan Raksa sibuk bersihin dapur supaya bisa cepet bisa dipake.
"Inget tujuan kita kesini, Lin..." ucap Raksa yang masuk-nasukin sampai.
"Iya gue inget," ucapnya ketus.
"Pedes banget sih lo? abis nelen cabe rawit?" tanya Raksa yang kemudian meninggalkan Kalin di dapur, sedangkan gadis itu 'nye nye nye' pleyat-pleyotin bibirnya, mencibir Raksa.
"Gue pedes juga milih-milih orang keles!" gumamnya sambil terus kerja bakti.
__ADS_1