
Ngerasa privacy-nya lagi dijadikan ajang tontonan anak buah. Raksa pun bangkit dan membuka pintu. Orang-orang yang daritadi ngeliatin ke arah ruangan kaca itu pun pura-pura sibuk dengan komputernya masing-masing.
"Sebentar lagi jam makan siang, jangan sampai kalian nggak dapat bangku di kantin!" ucap Raksa dengan suara berwibawanya.
"Iya, Pak!" jawab mereka kompak.
Raksa pun kembali masuk ke dalam ruangannya dan emang sengaja nggak menutup tirai. Kalau Raksa mau, dia tinggal pencet tombol dan tirai pun bakal turun menutupi dinding tembus pandang itu.
"Beuuuhhhh?!! gue iri banget nggak sih? bisa selembut itu pak Raksa sama ceweknya! mana elap-elapan di dalem sana!" salah seorang wanita nyeletuk.
Dan itu kedengeran di telinga Rahmi. cuma ya Tania yang kebetulan ngedenger suara itu pun cuma bisa nenangin sepupunya itu dengan kata-kata, "Ya udah sih! nggak usah didengerin! mereka nggak tau aja kalau Raksa lebih bucin sama lo daripada sama cewek itu!"
"Thanks, Tan!" ucap Rahmi.
"Kantin, yuk? laper nih gue! apalagi jiwa jomblo gue meronta liat di dalem sana ada yang suap-suapan!" ucap wanita yang lain lagi.
Rahmi denger dan panas tuh hati. Daritadi aja udah jedag-jedug hawanya pengen nonjokin guling, tapi Rahmi masih berusaha sabar dan inget kalau hari ini bakalan jadi hari ujian permantanan buat dia.
Tapi ninggalin Raksa dan tunangannya sendirian di dalem ruangan tembus pandang itu, sama sekali bukan pilihan yang bagus. Karena cinta bisa makin bersemi di dalam sana, dan Rahmi nggak mau itu.
"Gue mau ke kantin," kata Tania.
Pikirannya lagi amburadul, dia pengen minum-minuman dingin yang paling nggak bisa menyejukkan hatinya. Dia lupa ada janjian sama si bos tuh.
Drrtttt!
Kan, baru juga nyariin dompet, pak Galang nelpon.
"Mi? Lo masih mau disini, kan? Ntar gue bawain makanan deh, ya?! Gue duluan!" Tania segera bangkit dan ngambil tas.
Rahmi.cuma jawab iya, tapi mata masih fokus sama bocah ingusan yang sekarang lagi ngebukain kotak makanan buat Raksa. Sedangkan tanpa Raksa ketahui, Rahmi juga udah nyiapin makanan buat dia kasih pagi tadi. Tapi Rahmi udah keburu diusir suruh pergi.
"Harusnya gue yang disana," ucapnya di ruangan yang udah sepi.
Sementara Kalin dan Raksa di dalam situ nggak tau diri, dengan memamerkan keuwuannya memiliki pasangan bocil yang gampang dikerjain.
"Tangan gue kotor nih! kena lipstik lo, susah gue buat makan!"
"Nih, sendok ada!" Kalin nunjukin sendok disposible yang masih terbungkus.
"Tapi kalau gue lupa, nyentuh makannya gimana?" Raksa nunjukin tangannya yang merah.
"Bantu tapi ujung-ujungnya nyusahin, ya?!"
"Kayak lo nggak?! hem? inget dong berapa kali lo nyusahin hidup gue!"
"Ya terusss? ya udah nggak usah jadi nikah. Repot amat!" kata Kalin, mereka ujung-ujungnya dibikin emosi sama Raksa. Padahal baru beberapa menit yang laku mereka ketawa-ketawa ngeliat hasil foto mereka yang absurd.
Raksa diem, dia nggak nyangka kalau Kalin mengancamnya dengan ancaman gagal nikah. Dia jadi keinget soal hubungannya yang kandas saat dia udah siap buat nikah.
"Mamang lupa ya ada teknologi canggih di masa kini yang bisa mengatasi semua permasalahan hidup mamang, hem?! nih, sarungin tangannya!" ucap Kalin yang ternyata ada sarung tangan vinyl transparan.
Satu sudut bibirnya terangkat keatas, "Dah, beres, kan?" ucapnya merasa lebih pintar dari Raksa. Dia memakaikan sarung tangan di tangan pria itu.
Raksa masih diem.
"Kesambet nih orang?!" Kalin dadah-dadah di depan wajah pria ganteng itu.
Hap!
Raksa menangkap tangan itu.
"Jangan pernah ngancem gue dengan bilang kita nggak jadi nikah!" ucapnya.
Kalin yang emang dasarnya masih bocah, nggak mikir kalau ucapannya iti dianggep seriua sama Raksa.
Gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari Raksa, "Ya tergantung! kalau mamang nakal ya, gue ogah nikah! ucapnya.
"Dibilangin jangan ngancem gue!" Raksa memegang dagu Kalin. Dia dipaksa menatap kedua bola mata Raksa .
"Ini kantor loh! mana dindingnya kaca semua!" ucap Kalin dengan lirikan ke kanan dan ke kiri.
Raksa pun melepaskan dagu gadis itu, "Kesini sama siapa tadi?" tanya Raksa.
"Pak Abdul,"
"Abis ini mau kemana? langsung pulang, kan?"
Kalin menggeleng, "Ada janji sama Nova. Mau nge-mall bareng. Lagian nanti kalau gue udah pergi kan bakalan jarang ketemu sama dia," ucap Kalin.
"Tapi makan dulu! baru lo boleh pergi!" Raksa menjejalkan sesendok makanan ke mulut Kalin.
__ADS_1
Mulut gadis itu langsung dipenuhi makanan, dia sampai kaget mendapat suapan tiba-tiba.
"Makan yang banyak!" ucap Raksa yang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan sendok yang sama.
Kalin ngeliatin aja, dia sampai berhenti ngunyah.
"Kenapa? nggak pernah liat orang makan capcay lo?" tanya Raksa.
Kalin menggeleng, dia dengan sekuat tenaga memamahbiakan makanannya dan kemudian menjawab, "Lo pake sendok bekas gue!" kata Kalin.
"Emang kenapa? jangan bilang lo punya penyakit menular?!" tuduh Raksa.
"Sembarangan! gue sehat wal'afiat ya! gue rajin cek up sama bunda, gue pilek sehari aja langsung dibawa ke dokter THT!" ucap Kalin yang selalu diperhatikan oleh ayah dan bundanya.
"Lah terus?!"
"Ya itu bekas gue makan! kan lo bis pakai sendok yang lain! jorok amat!"
"Jorok dimananya? lo itu calon istri gue! kita sudah bertukar---"
"Diiiiiihh, kalau ngomong suka vulgar banget sih?!!" Kalin menutup mulut Raksa dengan tangannya.
"Ampun, Cil! tangan lo nutupin hidung gue! kagak bisa napas gue yang ada!" ucap Raksa.
Sementara Rahmi yang ngeliat itu dari mejanya pun lama-lama nggak tahan. Dia keluar dengan pintu yang sengaja dibanting.
Brakkk!
"Astaga, apaan tuh?" Kalin mengelus dadanya, dia kaget.
Raksa ngeliat si Rahmi tadi keluar pintu itu, "Nggak apa-apa, mungkin tadi nggak sengaja kedorong angin!" kata Raksa.
"Angin?" Kalin pun menaikkan alisnya.
"Udah nggak usah dipikirin! kita lanjutin makannya! sekarang gantian lo suapin gue!" Raksa nyuruh Kalin buka sendok satu lagi. Jadi makan siang hari ini judulnya suap-suapan sama mamang.
Makanan udah abis, jam makan siang masih ada. Raksa nawarin kalin buat nganter ke mall yang dia mau.
"Nggak usah lah! kan ada pak Abdul!" kata Kalin. Dia mengemasi kotak makanannya.
"Kenapa?"
"Astaga, kenapa gue tadi makan banyak? kan Nova mau ngajakin gue jajan!" Kalin pun menyesal karena rasa laparnya yang sudah mereda.
"Kenapa emangnya? apa harus pingsan dulu di mall baru lo mau makan? bisa jadi Nova juga udah makan, tau sendiri anaknya dipantau terus sama ibuk. Nggak akan dikasih keluar dia kalau belum makan dari rumah," kata Raksa, yang yakin ibunya bakalan protective setelah Nova sering jatuh sakit.
"Udah kan? gue pulang, ya?" ucap Kalin yang berdiri dari dduduknya.
"Gue anter! ntar lu nyasar lagi disini!" Raksa alesan. Padahal dia khawatir kalau Kalin ketemu lagi sama mamas magang yang waktu itu pernah ngobrol dan tepe-tepe sama Kalin. Di kantor masih banyak yang jomblo, Raksa takut kalau jodohnya kali ini bakal diembat orang lain lagi.
"Aneh!" gumam Kalin saat pria yang lebih tua 9 tahun darinya ini menggandengnya keluar dari ruangan yang penghuninya masih pada makan di kantin.
"Jangan lupa rapihin rambutnya, biar nanti pas foto di KUA agak segeran muka lo!" kata Raksa.
"Potong pendek? nggak mau! manjangin rambut penuh perjuangan, tauuuuk?!" Kalin dengan gaya bocilnya.
"Siapee yang nyuruh potong bebek angsa? maksud gue, siape juga yang nyuruh lo potong pendek? gue cuma bilang, suruh dirapihin!" kata Raksa.
Klik!
Raksa mencet tombol lift.
pintu besi itu terbuka lebar, Raksa menarik Kalin buat masuk ke dalamnya.
"Sering-sering bawain gue makan siang!" kata Raksa setelah pintu tertutup.
"Yeuuuh, maunya!"
"Jam kerja gue jadi efektif soalnya!"
"Lah jam kerja mamang efektif? nah gue? jam mager gue terganggu tau nggak!" sahut Kalin.
"Nggak!"
Kalin nggak mau membalas Raksa, karena pintu lift itu udah kebuka. Mereka keluar dan berjalan ke arah parkiran luar.
"Mana mobilnya?" Raksa celingukan nyari mobilnya yang biasa nganter jemput Kalin.
"Disitu kok tadi," Kalin menunjuk sebuah area parkir yang kosong.
"Yakin lo nggak ditinggal pak Abdul?" Raksa jalan lagi, dia absenin satu-satu mobil yang ada di parkiran depan. Untungnya banyak pohon-pohon besar yang membuat susana kantor itu menjadi lebih teduh.
__ADS_1
"Nggak ada..." ucap Kalin saat keliling tempat parkiran.
"Gue telfon Nova! lo mau ketemuan kan sama Nova? gue suruh dia kesini aja!" kata Raksa kasih solusi.
Drrrt!
"Halo? Nov? lo dimana?" tanya Raksa pada adeknya.
"Di jalan, Bang! kagak denger lo suara rame kendaraan kayak gini?"
"Lo ke kantor abang ya, Nov? jemput Kalin disini!" seru Raksa.
"APAAAAA? KAGAK DENGER, BANG?! SINYALNYA JELEK!" Nova dengan suara setengah teriak.
Raksa seketika menjauhkan hape dari telinganya, "Bahlul emang si Nova! dia kira gue budek apa gimana si?"
"APAAA, BANG? GUE KAGAK DENGER!" Nova teriak lagi.
"Bentar-bentar, gue minggir dulu!" ucap Nova lagi.
"Jadi tadi dia nerima telepon sambil nyetir motor? pantesan ngang-ngung mulu daritadi!" Raksa nggak habis pikir dengan kelakuan adiknya.
"Gimana, Bang? lo tadi ngomong apaan?" tanya Nova.
"Lo ada dimana sekarang?"
"Kan gue udah bilang tadi. Gue lagi di jalan, bang!"
"Iya, di jalan tuh dimana, Novaaa! nama jalan itu banyak!" Raksa gregetan banget sama adeknya.
"Ya kenapa? ada apaan, sih?"
"Sekarang ke kantor abang! disini ada Kalin. Kalian mau pergi nge-mall bareng, kan? kebetulan lo masih di jalan, mending lo kesini!" suruh Raksa.
"Hah? ke kantor abang?"
"Bukan! noh ke kantor walikota! ya ke kantor abang lah! tenang aja ntar bensinnya abang ganti,"
"Oke, siap meluncur!" ucap Nova saat mendengar kata ajaib dari mulut abangnya.
Begitu mendapat mandat dari abangnya, Nova pun segera putar arah dan segera menuju kantor abangnya dengan perasaan yang riang gembira. Nggak ngebut, cuma cukup jeli dalam mengambil kesempatan yang ada di jalan membuat Nova lebih cepat sampai di salah satu gedung pencakar langit yang ada di kota itu.
Sedangkan Raksa, lumayan gerah nunggu di luar.
'Kemana sih pak Abdul? pake acara ngilang segala! apa iya nggak denger kalau bunda suruh pak Abdul nungguin gue di kantornya si Mamang?' kalin dalam hatinya.
Dan nggak berapa lama, Nova datang, "Haiii!" ucapnya dengan senyum yang lebar.
Raksa ngeliat jam di tangannya, "Kok udah sampe? ngebut nih pasti!"
"Nggak kok! nggak ngebut, orang tadi jalanan kosong, makanya cepet sampe disini!" Nova.
"Pake, Lin!" Nova keluarin helm yang ada di bagasi motor.
"Sini tentengan lo, biar nggak ribet!" lanjutnya yang masukin barang bawaan ke tempat dimana dia nyimpen helm tadi.
Setelah kalin pasang helm dan naik, Nova tengadahin tangannya, "Mana?"
"Apa?"
"Duit ganti bensinnya!"
Raksa pun membuka dompet dan ngasih Nova uang ceban.
"Loh kok ceban? tambahin dong!"
"Nih!" Karena nggak ada duit kecil, dia kasih uang 50 ribuan. Novamasukin duit lalu tangannya menengadah lagi.
"Apalagiiiii?" tanya raksa.
"Duit jalan!"
"Astagaaaaa! adek gue yaaaa, mulai bandel yaaa? niiih! dah sana pergi!?" Raksa ngasih duit seratus ribu buat ngusir adeknya.
"Nah kayak gini kan amaaaann?!!" Nova dengan senyuman merekah.
"Assalamualaikuuum!" ucap Nova yang nengok ke belakang sekilas buat kasih kode, dia bakal tancap gas.
"Berangkat kitaaaa!" seru Nova.
Dan seketika dua gadis itu pun melesat menjauh dari area perkantoran, meninggalkan Raksa yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1