Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Keceplosan


__ADS_3

Mungkin ini seperti pernikahan yang terkesan seperti mainan namun kenyataannya pernikahan ini sebagai wujud cinta tulus Raksa terhadap Kalin. Dia mau menyetujui pernikahan bersyarat dari orangtua Kalin.


Mungkin itu mudah untuk Kalin, tapi ini menjadi cobaan untuk Raksa yang secara umur dan mental sudah jauh lebih dewasa.


"Sayang? nanti, kalau kamu sampai di Manchester, kamu jangan lupain bunda ya?" ucap Bunda yang membantu Kalin menghapus make up nya.


"Nggak akan, Bun!"


"Nanti bunda pasti kangen banget sama kamu..."


"Kalau Bunda kangen, Bunda kan bisa nengokin Kalin sama ayah. Itung-itung bulan madu kan?" ucap Kalin.


"Halah kamu ini! bulan madu bulan madu, kayak kamu tau aja, Kalin!" ledek Bunda.


"Kalin kan sering liat di film, Bun!"


"Oh ya, ayah udah diapin satu apartemen buat kalian tempati. Meskipun katanya Raksa menolak dan dia bilang mau menyewa satu rumah buat kalian. Tapi bunda pikir, bunda pengen kamu tinggal yang nyaman..."


"Apa dia nggak tersinggung, Bun?" tanya Kalin.


"Bunda juga sempet mikir kayak gitu. Tapi ternyata nggak loh, Kalin..."


"Maksudnya gimana, Bun?"


"Ya, ternyata, Raksa nggak keberatan. Buat mewujudkan pernikahan ini. Meskipun awalnya kami yang memang menjodohkan kalian, tapi dalam benak bunda nggak menyangka kalau kamu bakaln kuliah sejauh itu. Bunda kasih kamu syarat, hanya untuk alasan supaya kamu nggak jauh dari bunda. Tapi di prediksi, ternyata ada laki-laki yang gentle yang pengen wujudin mimpi kamu itu Kalin. Dia siap menikahi kamu, dan akan menjaga kamu selama kamu kuliah disana. Dan syarat yang harus dia penuhi salah satunya menjaga kamu supaya nggak hamil dulu, Kalin..." jelas bunda.


"Kalin bingung, Bun!"


"Ya, ayah bilang sama Bunda kalau Raksa juga akan menjaga kamu supaya fokus kuliah dulu, dan menunda untuk memiliki keturunan dari kamu, Kalin. Bunda awalnya nggak percaya dengan syarat itu, tapi nyatanya Raksa mau loh menyetujui, padahal itu sangat berat, Kalin! Apalagi kalian sudah resmi menikah dan tinggal satu atap juga...." ucap bunda.


"Ya bagus dong kalau gitu!" gumam Kalin nggak sengaja.


"Bagus gimana maksudnya, Sayang?"


"Ya  .. ehm, maksudnya bagus dong?! Kalin dapetin laki-laki yang gentle kayak gitu, Bun..."Kalin ngeles, padahal dia senneg banget kalau meskipun menikah dia masih seperti gadis yang lain. Bisa kuliah tanpa harus mikir punya anak dulu.


"Tapi menurut Bunda, itu snagat sulit, Kalin! Bunda malah kasihan sama suamimu..." ucap Bunda yang memikirkan nasib kedua anaknya itu.


'Kasihan kenapa emangnya? Bunda nih ada-ada aja!' batin Kalin polos.


Sedangkan di rumah lain. Raksa menyalakan hapenya setelah seharian ini dia matikan. Dia memang sengaja nggak ingin diganggu apalagi dengan urusan kantor.


Dia mengirim pesan pada Kalin yang isinya kalau dia udah nyampe dan bersiap mau mandi. Namun Kalin yang ditunggu, malah nggak kunjung mengirim balasan .


"Ya ampun! pasti dia ketiduran! keliatan banget tadi udah capek..." gumama Raksa.

__ADS_1


Pria itu melepaskan jas berwarna putihnya. Dia tersenyum saat mengingat pengantin bocilnya yang sangat menawan.


"Astaga, gue jadi gemes banget kalau inget wajahnya itu!" gumamnya lagi.


Drrrt!


Raksa yang udah buka jas dan kemeja pun mengambil hapeya, dia kira itu panggilan dari Kalin.


"Halo! akhirnya lo nelfon gue juga! kenapa lama banget nggak bales WA gue?" Raksa langsung nyerocos.


"emang kamu WA aku?" tanya perempuan di telepon.


Raksa pun menjauhkan teleponnya, dan ngeliat siapa sebenernya nelepon dia.


"Rahmi?" lirih Raksa.


"Ehm, sorry gue kira lo Kalin! ada apa, Mi?" tanya Raksa datar, nggak seantusias tadi.


"Kamu sakit?"


"Nggak!" sahut Raksa singkat.


"Oh, aku kira kamu sakit. Ini aku mau ke rumah kamu mau jengukin.."


"Tapi---"


"Eh, gue lagi sibuk. Gue tutup dulu, ya?" ucap Raksa yang main tutup aja telepon dari Rahmi.


Dia nggak nyadar kalau sikapnya ini malah bikin rahmi semakin kecewa. Raksa nggak peduli, dia sekarang pergi mandi karena dia ngerasa badannya udah lengket.


Sementara di kantor, Rahmi dongkol banget. Udah Tania yang nggak ada, sekarang dia nelpon Raksa juga ditutup secara sepihak. Dan Farid yang dimintai info malah diem aja seribu bahasa. Berasa ngomong sama tembok. Tapi Rahmi nggak berhenti sampai disitu, perasaannya seharian ini nggak enak banget. Jadi dia pergi lagi nyamperin Farid.


dia sengaja pesenin satu pan pizza yang gede, dia tau kalau Farid suka banget pizza dengan daging yang berlimpah dengan keju mozarella yang kalau dimakan beuuh, enak banget.


Setelah ngambil pesanannya di bawah, Rahmi naik lagi ke atas. Dia tau kalau Farid masih lembur, dia udah nyuruh OB buat liatin ke divisinya Farid.


Nggak pakai lama, Rahmi naik ke atas. Dia ngeliat situasi udah sepi. Tinggal segelintir orang yang masih lembur sama kayak Farid.


"Rid,,," panggil Rahmi.


"Ada apa lagi, Mi?" Farid dengan muka yang udah kucel. Mungkin kecapean ngeliat komputer mulu.


"Kerjaan lo masih banyak banget, ya?" tanya Rahmi basa basi. dia narik kursi yang udah nggak dipake. Orangnya udah pulang.


"Masih," ucap Farid.

__ADS_1


"Ketus banget sih, Rid?" Rahmi dengan nada yang bikin farid ngerasa bersalah karena udah terlalu jutek.


"Sorry, Mi! gue lagi banyak kerjaan. Kenapa?" farid menoleh dan ngeliat Rahmi dengan satu dus pizza yang gede banget.


"Ini gue bawain lo pizza?"


"Buat nyogok gue?" tebak Farid.


"Nyogok? nyogok apan? nggak kok!" ucap Rahmi.ngeles.


"Oh ya ini temen-temen lo suruh makan, masih anget loh ini!" kata Rahmi.


Farid ngeliat ke arah Rahmi, "Aneh banget lo!" ucap Farid.


"Ya udah, thanks ya!"


Farid pun berdiri dan menerima satu loyang pizza yang gede banget, yang nggak bakalan habis kalau dimakan sendiri.


"Woy, makan! nih temen gue ultah, dia lagi bagi-bagi pizza!" seru Farid buat mengusir pikiran negatif temen-temennya. Ya kali aja dia nanti digosipin sama Rahmi kan berabe. Dia masih pengen kerja disitu, cicilannya belum lunas. Sama Tania aja dia beneran main aman banget, sok-sok an cuma temenan kalau di kantor, sedangkan kalau di luar mulai deh tebar pesona.


"Wah, selamat ya?" temen-temen Farid semua ngucapin selamat sama Rahmi. Padahal hari itu bukan ahri ulang tahunnya dia. Farid cuma ngarang bebas aja. Selain buat terbebas dari pertanyaan Rahmi yang bakalan aneh-aneh, dia juga nggak pengen ada gosip yang bikin kerjaannya terancam.


"Ambil lagi?! ini masih banyak, loh!" kata Farid dengan mulut yang penuh dengan pizza.


"Ntar ngambil lagi, Rid!" ucap yang Terry yang juga hari itu ikutan lembur bareng sama Siska dan yang lainnya. Sedangkan Siska sendiri kayak sedikit familiar dengan wajah Rahmi.


"Kayaknya gue pernah liat nih cewek, tapi dimana ya?" gumamnya sambil memutar ingatan.


"Ah! ya! gue pernah liat dia waktu makan bareng pas ditraktir Raksa. Iya ... kayaknya gue liat dia ada disana!" ucapnya dengan mencuri pandang ke arah Rahmi yang kini mencari kesempatan buat nanya ke Farid.


"Rid? lo tau kenapa Raksa nggak berangkat hari ini?" tanya Rahmi.


"Tuh kan? lo bawain ini, karena lo pengen tanya soal Raksa, kan? udah ketebak, Mi!" ucap Farid yang kini memakan sisa pizza di tangannya.


"Ya soalnya ada dokumen yang perlu gue laporin. Tapi dia nya sulit dihubungi!"


"Ya besok aja kan bisa!"


"Tapi ini mendesak, yang ada ntar Raksa dinilai buruk kinerjanya !"


"Ya besok aja, Mi! lagian dia juga nggak bakalan lama kerja di kantor ini! nggak penting buat dia dinilai baik atau buruk!" Farid dengan satu tarikan nafas.


"Rasa mau resign?" mata Rahmi menyipit.


Sedangkan Farid, "Ups! mampus gue!" gumamnya, merutuki kebodohannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2