Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Tekanan Batin


__ADS_3

Karena orderan taksi juga udah dibatalin sementara matahari semakin bergerak ke arah barat, ya udah Kalin nggak ada pilihan. Dia nebeng dianterin abangnya Nova yang garang abeeesss. ya Raksa garang cuma sama yang nyebelin, kalau sama orang yang diem dan cenderung nggak rese ya Raksa biasa ajeee gitu.


Mereka berdua pun perlahan meninggalkan rumah yang udah Raksa tinggali selama lebih dari 20 tahun.


Beberapa kali Raksa ngeliat ke arah spion, bukan untuk ngeliat kendaraan di belakangnya. Tapi buat memandang wajah Kalin yang agak beda hari ini.


'Dasar bocil, dia kagak mau aja kalau dia abis diporotin sama bocah laki-laki tengil itu,' batin Raksa.


Kalin yang ngerasa ada memperhatikan pun akhirnya ngeliat juga ke arah spion. Jadi sekarang mereka tatap-tatapan lewat kaca. Mata tajam Raksa pun beralih ke depan, "Dimana rumah lo?" tanya Raksa yang nyetir motor tapi nggak tau arah yang dituju.


"Jalan majapahit," sahut Kalin.


Motor mereka yang baru keluar dari kompleks rumah pun melaju agak kencengan dikit menuju alamat yang disebutin Kalin tadi.


"Harusnya gue yang bete bukan lo!" Raksa nyeletuk.


"Apaaaa?" Kalin naikin alisnya, kupingnya nggak sempet nyaring apa yang barusan keluar dari mulutnya Raksa.


"HARUSNYAAA GUE YANG BETE BUKAAAN LO," teriak Raksa yang kebetulan mereka berhenti di depan lampu merah. Denger ada orang yang teriak pun, beberapa pengendara motor lain ngeliatin motor yang ditumpangi Raksa dan juga Kalin.


Raksa yang ngerasa diliatin cuma bisa pura-pura nggak liat, helmnya juga kebetulan nutupin mukanya yang keliatan cuma sepasang matanya yang tajam jadi buat dia nggak malu-malu amat.


Sedangkan Kalin cuma bisa nunduk di belakang punggung Raksa sambil nyengir nggak enak, "Tukang ojeknya, lagi tekanan batin, Kak! maklumin aja!" kata Kalin berusaha ngejelasin. Sementara Raksa, nggak begitu denger apa yang Kalin ucapkan, tapi dia yakin kalau cewek itu pasti ngomong yang jauh dari kata baik.


Dan ketika lampu hijau, motor Raksa kembali melaju membelah jalan raya.


Tapi mendadak tenggorokan Raksa kering kerontang bagaikan gurun pasir yang dilanda kemarau panjang. Dia melipir ke kedai minuman yang ada di pinggir jalan.


"Loh kok berhenti? rumah gue kan bukan disini!" Kalin nyerocos.

__ADS_1


"Tenggorokan gue, kering! gue haus, gue pengen minum. Ngerti?" Raksa turun dan pesen.


Sedangkan Kalin nunggu dengan cemas di atas motor, "Dasar, udah tua! masih aja hobi jajan, dia kira dia masih anak sekolah kali?!" Kalin merepet.


Padahal kan nggak ada hubungannya, mau tua mau muda. Jajan mah jajan aja, nggak ada yang ngelarang.


Setelah beberapa saat Raksa kembali dengan dua minuman di tangannya, dua ngasih Kalin satu, "Kalau lo mau!" ucapnya.


"Cih, nawarin aja pakai nada jutek gitu!" gumam Kalin.


Tapi Raksa nggak peduli, dia nyeruput aja. Dia beneran haus. Pria yang udah dewasa itu nyeruput seperti orang yang udah seharian nggak minum, dalam hitungan kurang dari dua menit. Minuman yang di tangannya udah habis. Dia lempar cup plastik itu ke dalam tong sampah dan naik lagi ke atas motor.


"


Minumnya sambil jalan aja!" kata Raksa lagi yang make helmnya, sedangkan Kalin cuma nyeruput minumannya dikit-dikit.


"Soal, belanjaan kemarin. Gue bakal bayar, tenang aja!" Kalin membuka pembicaraan. Nggak tau kenapa dia jadi inget utangnya.


Raksa yang nebak kalau nih bocah lagi dalam keadaan sulit pun hanya bisa menjawab, "Gue nggak ngutangin bocil, sorry!" ucapnya dengan jutek.


'Sombong banget, dasar belaguu!' batin Kalin.


Meskipun bunda belum transfer, tapi Kalin kan abis ngejual cincin. Jadi dia punya duit buat ngebayar hutangnya, saat di supermarket. Yang waktu itu dia ngaku-ngaku jadi pacarnya Raksa, dan ngegesek atm tuh orang.


Masih untung ada lebihnya, jadi dia bisa tuh bertahan buat nggak minta uang bulanan sama bunda, meskipun jatohnya mepet banget dan harus extra ngirit. Tapi itu lebih baik daripada seminggu nggak bisa jajan di sekolah sama sekali.


Selama diperjalanan, Raksa cuma nanya arah. Tanpa ngebalas ucapan Kalin yang tadi bilangnya mau bayar utang. Dan bener kata ibunya Nova, jalanan macet banget. Nggak tau deh kalau misalnya dia jadi naik taksi online, pasti kejebak di jalan yang padat merayap ini.


"Wwwiuuuuhhh!" bibir Kalin sontak kagum, saat Raksa dengan mudahnya selap selip di keramaian kendaraan tanpa bikin ngeri.

__ADS_1


Dan pria itu yang tau gadis kecil di belakangnya memuji kelihaiannya di jalanan pun hanya tersenyum kecil, dia mengangkat satu sudut bibirnya, senang.


Singkatnya, mereka sampai di depan sebuah rumah yang bisa dibilang bagus namun ngga lebih mewah dari rumah yang disamperin Reno. Yang waktu Raksa nguntit cowok yang habis nerima duit dari Kalin.


'Jadi ini rumahnya! bagus, keliatan dari keluarga yang mampu!' ucap Raksa, otaknya mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.


Kalin yang nyuruh Raksa berhenti di depan gerbang rumahnya pun turun dari motor, "Maaf gue nggak nawarin masuk!" kata Kalin.


"Gue juga ngga tertarik buat bertamu jam segini," sahut Raksa.


"Oh ya, ini. Gue kembaliin duit belanjaan yang gue paksa pinjem kemaren. Tenang aja, gue hafal nomiinal belanjan gue. Kalau lo nggak percaya, bisa cek di struk yang kemarin ada di keresek belanjaan lo!" kata Kalin.


"La lo la lo, nggak ada sopan santunya sama sekali!" protes Raksa.


"Oh iya, maaf Om Raksa. Ini duitnya, bisa diitung dulu. Kali aja kurang," Kalin dengan santai nunjukin beberapa lembar yang yang ada di tangannya, sambil sesekali nyeruput minuman coklat dingin yang dia punya.


"Dengernya bocil, pertama gue nggak ngutangin dan yang kedua gue bukan om om jadi stop panggil gue Om!" Raksa tegas, dia ngebuka helmnya.


"Gue nggak biasa hutang budi!" kata Kalin.


"Oke, kalau lo maksa! lo bisa ngelunasin hutang lo dengan hal lain!" ucap Raksa.


"Ntar gue kasih tau, sekarang sana masuk udah mau maghrib!" Raksa yang kembali make helmnya.


"Dah sana masuuk!" Raksa nunjuk gerbang dengan dagunya.


"Thanks!" Kalin lirih sebelum dia berjalan masuk dan membuka pintu gerbang kemudian hilang dari pandangan Raksa.


Pria itu pun segera pergi, menuju rumahnya. Kalin yang belum masuk ke dalam pun keluar lagi ngeliatin motor Raksa yang kian menjauh, "Galak tapi lumayan baik!" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2