
Kalin terdiam. Sementara air matanya udah jatuh di karpet yang meredam derap langkah mereka.
Raksa mendekat, dia mengambil tiket yang ada di tangan Kalin.
Entah dapet duit dari mana, dia bisa beli tiket yang dipastikan harganya mahal.
Raksa mengeluarkan tiket dari amplopnya, dia mengernyit.
"Lo mau ke Paris?" tanya Raksa yang kaget dengan apa yanga dibacanya.
"Nggak lucu!" sahut Kalin ketus.
"Seriusan! gue nggak bercanda. Lo emang mau ke Paris?" Raksa meraih tangan istrinya, tapi segera ditepis oleh Kalin.
'Sabar banget gue harus ngadepin bocil yang lagi kesurupan!' Raksa dalam batinnya.
"Lin? Kalin?" panggil Raksa, dia mengetuk bahu Kalin dari belakang.
"Nih, lo baca ya? biar lo nggak nuduh gue bohongin lo!" Raksa mendekatkan tiket ke depan wajah Kalin.
"Paris? Kok bisa?" Kalin yang menyeka air matanya.
Dia merebut tiket itu dan main pergi aja.
"Hey, Kalliiin!" teriak Raksa.
"Astagaaa, kenapa lagi nih bocah?!" Raksa pergi mengejar Kalin yang membawa dya kopernya elektrik yang dinaikinya satu sedangkan satunya dia pegang dengan tangan kanannya.
Dia mencoba me-refund tiketnya.
"Kak, Kak! Tolong dong, ini saya salah pesen tiket! Harusnya ke Inggris tapi ini tiketnya malah tujuannya ke Paris?!" ucap Kalin, dia frustasi.
'Ya ampun, kenapa bisa salah beli tiket?! kenapa juga aku nggak cek ulang?!' batinnya sembari menungyu si mbak nya ngotak atik data.
Sedangkan Raksa hanya bisa melihat Kalin yang bingung sendiri.
"Lo duduk aja, biar gue yang urus!" kata Raksa yang kini di ribetkan dengan adegan salah tiket.
Mungkin kebawa emosi dan diburu-buru rasa pengwn cepet pergi dari kehidupan Raksa, Kalin sampai nggak nggak konsen saat pesan pesawat sewaktu dia di bandara. Meskipun sdunia udah canggih karena nggak harus dipesan, nyatanya Kalin yang galau melewatkan logika dan kemudahan yang bisa dia gapai saat ini.
Setelah mengurusi urusan refund tiket, Raksa mengajak kalin untuk membawa koper mereka untuk di packing. Karena lumayan ribet, bawa koper gede dan nggak akan muat juga di bagasi kabin pesawat.
__ADS_1
"Gimana? kita bakalan disini selama beberapa jam ke depan," kata Raksa. Mending kita cari makan dulu deh. Udah siang, lo pasti laper, kan?"
Kalin diem aja, dia terlalu malas buat menanggapi celotehan suaminya.
"Kalau lo diem, tandanya lo setuju!"
Raksa pun menarik tangan tapi dia ogah. Akhirnya daripada bikin drama di bandara, Raska beli minuman lewat vending machine. Dia ambil dua kaleng soda.
"Minum dulu, biar lo nggak emosi mulu," Raksa menyodorkan minuman, yang diterima Kalin dengan kasar.
Ceesss!
Bunyi soda saat kaleng penutupnya dibuka.
Glek!
Glek!
Glek!
Kalin meneguk minuman itu, air matanya sudah mengering.
"Terserah lo mau percaya atau nggak yang jelas gue cuma mau lo dengerin gue buat saat ini. Dan gue minta maaf kalau tadi gue sempet bersikap kasar sama lo. Gue sayang dan gue nggak bisa kalau lo pergi gitu aja dari kehidupan gue, Kalin..." ucap raksa.
Kalin tetap ngeliat ke arah depan, seolah suara Raksa hanya angin lalu. Tapi pria itu sepertinya nggak menyerah dengan diamnya Kalin. Dia mencoba menceritakan bagaimana posisi hubungan dia dengan Rahmi.
"Gue udah putus sama dia bahkan sebelum gue ketemu sama lo. Dan udah kita nggak pernah berhubungan, sampai suatu saat temennya dia dan temen gue , si Farid menyusun rencana buat deketin kita berdua. Gue nggak negerespon, apalagi saat gue lama-kelamaan tertarik sama lo. Pokoknya setelah perjodohan kita berlangsung, gue udah melupakan mantan gue itu. Dan kalau kenapa kita satu divisi gue juga nggak tau dan gue nggak bisa menolak. Karena itu keputusan dari atas. Gue nggak tau kenapa dia terus ngedeketin gue, padahal gue udah bilang kalau hati gue udah milih cewek lain, yaitu Lo kalin!" Raksa terus ngejelasin meskipun Kalin seolah nggak mau dengerin.
"Dan soal di ruangan gue, kejadian itu emang bener. Gue akui gue salah, gue nggak langsung nolak dia---"
Kalin nengok dengan tatapan yangn menghujam.
"Gue salah, tapi gue udah menolak dia, karena gue sadar. Gue punya lo, Kalin. Makanya gue pengen kita cepet nikah, karena gue nggak mau kehilangan bocil gue," lanjut Raksa.
"Maafin gue, ya?" Raksa dengan nada yang lembut.
Kalin masih diem.
"Ya udah, nggak apa-apa! lo berhak kecewa, tapi gue bakal terus ada di samping lo, Kalin..." kata Raksa.
"Gue akan terus di samping lo, sampai lo bisa maafin gue. Harusnya gue tegas sama dia, gue nggak nyangka dia akan senekat itu," lanjut Raksa.
__ADS_1
"Alesan!" gumaman Kalin masih kedengeran sama Kalin.
Raksa hanya biaa menghela nafas. Sepertinya meraih maaf dari Kalin nggak semudah yang dia pikirkan.
Dan akhirnya diem-diemannya mereka lanjut sampai di pesawat.
Beberapa kali Kalin minta tuker tempat duduk tapi nggak berhasil. Mau nggak mau dia harus duduk bersama suaminya itu. Ya, mereka akan tetap ke Manchester sore ini, bersama-sama meskipun dalam hati Kalin ngerasa kalau dia pengen pergi sendirian.
Sedangkan Raksa, sebelum terbang sempat mengabari Farid kalau dia berangkat ke Inggris hari ini. Sahabatnya itu jelas kaget, tapi untuk menemui Raksa kayaknya juga udah nggak mungkin. Jadi mereka hanya sekedar kirim chat WA buat ngasih salam perpisahan.
Sedangkan di salah satu sudut kamarnya ada seseorang yang lagi merana. Dia Rahmi.
Dia tau Raksa akan pergi, kabar itu dari Nova. Gadis yang dia anggap gadis kecil biasanya. Nyatanya begitu berani untuk melawannya jika dia nekat akan menghancurkan hubungan Raksa.
Sebenarnya, dia nggak pengen melawan siapapun. Dia hanya ingin bersama orang yang dicintainya, tapi sayangnya kini hal itu hanya menjadi mimpi belaka.
Raksa kini sudah sangat jauh.
'Harusnya gue nggak pernah lepasin dia. Harusnya appun yang terjadi, gue tetap pertahanin dia. Nggak mikirin gimana perasaan orang yang ujungnya gue sendir yang salah paham! Dan kalau udah kayak gini, gue sendiri yang terluka,' gumamnya dalam hati.
Sedangkan pak Galang yang baru tau Kalau Raksa sudah risgn pun segera mencari tau info mengenai laki-laki yang menjadi alat penuntas balas dendamnya.
Namun dia kembali harus menelan pil kekecewaaan, saat mengetahui kalau Raksa sudah menikahi putri dari Diki Arya Cayapata, ieang yang menjadi salah satu saingannya dalam berbisnis.
Plakkk!!!
"Saya suruh swperti itu saja kamu nggak becuss!!" satu tamparan melayang di pipi Tania.
"Awwkkh! maafkan saya, Pak. Saya benar-benar---"
"Sekarang mereka sudah menikah dan sudah pergi ke luar negeri! aaarerghhh!! Dasar tidak berguna!" pak Galang menunjuk wajah Tania.
"Kesempatan aku buat menyakiti Diki semakin sempit! Dasar bod-oh!"
"Keluar kamu!!!" usir pak Galang.
Tania pun yang sempat tersungkur karena tamparan Pak Galang, akhirnya bangkit dan pergi dari ruang kantor tempar mereka bertemu saat ini.
"Kamu nggak berhak bahagia, Diki! Setelah kamu merebut Athalia dariku! kamu nggak berhak bahagia sedikitpun, Aarrrrghhhhh!!" gumam pak Galang, dia memecahkan barang-barang yang ada di hadapannya.
"Aku akan menghancurkan perusahaanmu dengan tanganku sendiri! camkan itu!" lanjutnya penuh amarah.
__ADS_1