Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Bawaan Bayi


__ADS_3

9 bulan kemudian....


Setelah kejadian penyerangan itu dan diperiksa dibagian kepalanya, Raksa dinyatakan baik-baik saja. Tidak ada pembekuan pembuluh darah ataupun gegar otak akibat hantaman benda keras yang diterimanya. Sedangkan tawaran ayah mertuanya itu akhirnya meluluhkan hatinya. Dia ubah prinsipnya yang 'Tidak Mengandalkan Mertua menjadi Masih Membantu Mertua', dan itu artinya dia sekarang menempati jabatan direktur utama di perusahaan milik ayah Kalin.


Tentu untuk mendukung jabatannya itu, Raksa juga akhirnya memutuskan untuk kuliah lagi untuk mengambil s2 nya. Di tengah jadwal kuliahnya dan pekerjaan yang nggak mungkin ditinggal, Raksa tetap harus menjadi suami siaga, salah satunya nemenin Kalin begadang.


Karena selama kehamilan, Kalin susah buat tidur. Badannya yang nggak bisa gemuk ditambah perut yang besar, membuat Kalin lebih mirip orang cacingan dibanding orang yang hamil.


"Kamu harus makan yang banyak dong, Sayang!" kata Raksa sambil mijitin kaki istrinya yang capek menopang beban di perutnya.


"Udah banyak, mas! tapi semua makanan kayaknya lari ke anak-anak kita, Mas!" kata Kalin.


Selama mengalami kehamilan kembar ini, Kalin menjadi lebih mageran daripada biasanya. Dia selalu ngantuk di jam-jam tertentu dan selalu terbangun di jam 1 pagi dan nggak bisa tidur sampai besok pagi.


"Duh, kaki ku pegel bangeeett!" rengek Kalin.


"Ya, sabar, Sayang!"


"Sabar sabar! kamu tuh nggak tau rasanya! lutut aku rasanya sakit banget tauuuukkk!" Kalin marah sambil nangis, dia ngerasain kalau pinggang dan sekujur tubuhnya sakit semua.


"Aku kupasin buah ya? mau?"


"Nggak mauuu! aku maunya ini pegelnya ilaang!" rengek Kalin.


'Astaghfirullah! berikan kesabaran pada hamba-Mu ini ya Allah!' Raksa menyabari dirinya sendiri.


Sesekali dia nguap, Raksa ngantuk berat.


"Huhuhuhu..." Kalin nangis.


"Aku mau pualng! Mas nggak sayang sama aku!" Kalin menarik kakinya.

__ADS_1


"Pulang gimana? ini rumah kamu, Kalin! rumah kita..."


"Aku tuh lagi kesakitan, kamu malah ngantuk! kalau kamu nggak mau mijitin kaki ku, ya udah nggak usah. Aku mau pulang ke rumah bunda ajah..." Kalin berubah menajdi sangat melankolis.


"Jangan dong, Sayang! iya iya iya, aku minta maaf, ya? nih aku pejetin lagi, kamu tiduran. Jangan tegang, kasihan anak-anak kita di dalam sini, yaaa?" Raksa berusaha tetap waras mengahdapi istrinya yang sedang hamil tua.


Rasanya Klain pengen menyerah, karena sakit yang dialaminya ini sama sekali nggak bisa diwakilkan. Beban yang dia tanggung di perutnya membuatnya mudah lelah. padahal dia rutin minum vitamin dan juga ikut senam hamil. Tapi kalau udah malam kayak gini, rasa nyeri menjadi musuh terbesar Kalin. Nggak jarang dia nangis dan kesal sendiri.


Nggak jarang, Bunda menasehati Raksa supaya bisa sedikit lebih sabar dengan kalin. Yang namanya orang hamil suka beda-beda. Ada yang nggak ngerasain sakit sama sekali, ada yang badannya begitu ringkih.Anggap aja mereka lagi sama-sama berjuang, gitu kata bunda.


Karena mungkin ini cucu pertama di keluarga Kalin maupun di keluarga Raksa, setiap Kalin ngidam sesuatu, pasti para nenek langsung berlomba-lomba mengabulkan permintaan itu. Meskipun ujung-ujungnya Kalin mintanya harus Raksa yang nyari. Misalnya, waktu itu dia pengen banget makan peyeum bandung, Raksa harus pergi sendiri beli itu peyeum.


"Enak nggak segini mijitnya?" tanya Raksa. Tapi nggak ada jawaban.


"Jangan ngambek dong, Sayang! aku sayang banget loh sama kamu, sama anak-anak kita..." kata raksa, dia berusaha bicara lebih lembut.


Dan Kalin masih diem aja.


Tapi bukannya berehenti memijit kakai istrinya, Raksa tetap melanjutkan tugasnya.


"Maaf ya, Kalin! kamu harus ngerasain ini sendiri. Aku tau kamu pasti nggak nyaman dengan perut kamu yang semakin membesar. Sabar, ya sayang..." Raksa bicara sendiri.


Duduk terlalu lama ternyata membuat pinggang Raksa juga ikutan pegel. Lantas dia tiduran di samping istrinya, dengan terus tangannya memberi pijatan-pijatan kecil di area pinggang. Sekarang mereka tinggal di rumah sendiri, dan kalau jam segini ya hanya ada mereka berdua. Sedangkan asisten rumah tangga datang pagi dan pergi ketika Raksa udah pualng dari kantor.


Malam itu kalin tidur dengan gelisah, dia terbangun saat merasakan sakit yang luar biasa di area pinggangnya.


"AAArrghhh!" Kalin memekik.


Raksa yang baru merem satu jam yang lalu, jadi ikutan bangun.


"Kenapa, sayang? kakai kamu pegel lagi? sini aku pejetin!" ucap Raksa sambil merem, bukannya kaki yang dia pejet tapi kepala Kalin yang dia remez-remez.

__ADS_1


"Ihhh, apaan sih kamu, mas!" kalin menepis tangan Raksa. Dia fokus pada perutnya yang menegang.


Raksa yang ditepis tangannya baru menyadari kalau yang dia pegang bukan kaki, tapi kepala.


"Maaf, maaf sayang. Nggak sengaja, aku kira tadi kaki..." ucap raksa berusaha tetep melek, padahal matanya ngantuk berat.


"Aarrrgghhh, sakiiit, Mas!" kalin mencengkram kuat lengan Raksa.


"Kamu nggak lagi mau lahiran, kan?"


"AKU NGGAK TAU, MASSS!" Kalin sembari menahan rasa sakit di baagian bawahnya. Sesekali terlihat urat-urat di tangannya muncul saat Kalin mencengkram keras tangan Raksa.


Raksa panik saat melihat wajah Kalin dibanjiri keringat, dia pucat banget.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Raksa.


Raksa menggendong Kalin yang masih menggunakan daster longdressnya. Sedangkan dia sendiri hanya pakai jeans dan kaos seadanya yang dia ambil dari dalam lemari.


"Tahan sebentar, Ya?" ucap Raksa yang menaruh kalin di dalam mobil, sementara dia harus lanjut ngunci pintu. Raksa segera berlari ke arah mobilnya. Dia menyalakan mobil dan segera tancap gas ke Rumah Sakit.


Sesekali Raksa melihat ke arah Kalin yang memegang perutnya.


"Sabar ya, Sayang! sebentar lagi kita akan sampai!" ucap Raksa.


Raksa menambah lagi kecepatan mobilnya sampai akhirnya mobil itu melambat dan berbelok menuju rumah sakit, tempat Kalin biasa memeriksakan kandungannya.


Raksa segera mematikan mesin mobilnya dan keluar untuk membuka pintu, mengeluarkan Kalin dari sana.


Dengan tergesa-gesa, Raksa menggendong Kalin masuk ke dalam ruang IGD.


"Susterrr tolong istri saya, Sus!" seru Raksa membuat gaduh rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2