Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Kamar Mandi


__ADS_3

"Lo tinggal dimana? biar gue anterin? kali aja kita satu arah," tanya Arvin saat mereka sudah selesai.


"Kayaknya nggak deh! gue duluan, ya?" ucap Kalin yang mengambil tasnya lalu pergi. Dia berjalan berbarengan dengan mahasiswa yang lain, sampai Arvin hanya bisa melihat badan Kalin yang kian menjauh dari pandangannya.


Sementara Raksa nungguin Kalin dari sejam yang lalu, matanya mencari istrinya dari kerumunan orang yang berjalan bersama-sama.


"Dia udah pulang atau belum? atau jangan-jangan ada mata kuliah tambahan? tapi kan baru awal-awal biasanya on scedule, ya?" gumamnya.


Kalin sengaja menempel jadwal kuliahnya di kamar, tujuannya supaya Raksa tau apa aja kegiatannya di kampus. Mereka nggak ada pembicaraan lain, masih perang dingin ceunah. Jadi itu yang bisa Kalin lakuin supaya nggak ada suudzon diantara mereka.


Dan tanpa Kalin ketahui, Raksa memotret jadwal itu dan menyetting di menu alarm hapenya. Jadi dia ingat kapan waktu Kalin berangkat dan pulang. Rasanya matanya nggak bisa lepas dari gadis yang kini mulai beranjak dewasa, wajah khas Asia-nya sangat mencolok dibandingkan mahasiswa yang lainnya yang rata-rata berwajah khas bule. Jadi nggak susah buat Raksa menemukan istri kecilnya itu.


Dan dia nggak melewatkan moment itu, Raksa mengarahkan lensa di hapenya dan mulai memotret Kalin yang sedang berjalan menuju pemberhentian trem.


Raksa menaiki trem yang sama, dia menjaga jaraknya. Raksa memilih tempat paling belakang, dia duduk sambil terus memperhatikan gadisnya.


Pria itu sengaja turun, setelah Kalin. Biasalah, supaya kalin nggak curiga, Raksa sengaja berbelok dan memperhatikan istrinya itu yang berjalan ke arah rumah yang mereka sewa.


Raksa sengaja menjeda kedatangannya dengan Kalin. Dia harus menunggu 5 sampai 10 menit. Barulah pria itu bergerak dan berjalan menuju rumah yang di dominasi warna biru dan putih.


Ceklek!


Raksa masuk dan nggak ada siapa-siapa. Mungkin kalin ada di kamar. Dia segera menyimpan coatnya dan sepatunya. Lanjut dia masuk ke dalam kamar mandi dan menyiram badannya dengan kucuran air hangat.


Namun tanpa di duga, ada tangan lain yang memutar handle dan dengan badan yang lemas dia santai aja duduk di kloset sambil bertanya.


"Gue kira kemana, ternyata disini!" ucap gadis itu.

__ADS_1


Namun Raksa yang mendengar itu jsutru menengok ke arah Kalin dan berkedip, menghentikan aktivitas nyampo nya sesaat.


Flush!


Kalin memencet tombol flush saat dia sudah selesai.


Namun sesaat otaknya yang tadi ngelag karena harus menyaring mata kuliah dengan bahsa internasional itu pun akhirnya terkoneksi dengan baik.


"Aaaaaaaaaarrrrrkkk!!!!" Kalin menjerit saat melihat kondisi Raksa yang sedng penuh dengan sabun dan sampo.


Dan saat ini, Kalin nggak berani menatap suaminya barang sedikit. Raksa yang sudah mandi dan wangi, dengan cekatan memasak sup untuk makan malam mereka. Dia biarkan dagingnya direndam dalam air rebusan yang mendidih, kata bu Selvy rasanya akan medok kalau merebus kaldunya sampai keruh.


Sedangkan Raksa bersikap biasa saja, meskipun jujur dalam hati dia terkejut dengan kejadian yang menimpanya saat mandi tadi. tapi biarlah, anggap itu rejeki istri.


Kalin akan beranjak, tapi suara suaminya membuatnya kembali duduk sambil memainkangelas yang dipegangnya.


"Duduk! makan malam sudah jadi," kata Raksa.


Sepertinya Raksa melupakan sesuatu.


"Gue bikin sambel kecapnya!" kata Kalin yang kemudian berdiri.


Kali ini Raksa biarin kalin buat sambal sendiri. karena dia merasa cukup hanya makan dengan supnya aja. Berbeda dengan kalin yang udah ketagihan pedesnya cabe, namun anti dengan pedesnya komentar netizen.


Dan beberapa saat kemudian, kalin kembali dengan semangkuk sambal kecap lengkap dengan tomatnya.


"Selamat makan!" ucap Raksa yang kini duluan menguyur nasinya dengan sup.

__ADS_1


Memang beda masakan seorang ibu dengan masakan seorang baoak rumah tangga yang baru aja nikah. Meskipun rasanya nggak seenak di rumah, nyatanya hanya dengan sup begini dia ngerasa dekat dengan keluarganya. Ternyata perasaan itu juga sampai pada Kalin.


"Berasa lagi di rumah," ucap kalin setelah beberapa kali menyuapkan nasi dan sup ke dalam mulutnya.


"Syukurlah kalau lo suka," ucap Raksa datar, padahal dalam hatinya dia girang bukan main karena pujian sang istri.


Raksa sengaja nggak mencemplungkan sayuran ke dalam panci supnya, kata bu Selvy supaya kalau nggak habis supnya nggak cepat basi dan bisa diangetin besoknya lagi. Emang sedetail itu ibunya ngasih tau, kayaknya dia lebih pengalaman dalam hal pengiritan. Raksa menaruh irisan kol dan rebusan wortel dan juga kentang di dalam wadah dan mengguyurnya dengan kuah kaldu daging yang udah dibumbui, dan ternyata penyajian seperti itu juga Kalin suka. terbukti dengan lahapnya gadis itu makan, sepertinya dia akan menambah nasinya.


'Gue akan masak ini setiap hari kalau lo doyan, Cil...' ucap Raksa.


Sebenarnya raksa nggak betah juga diem-dieman kayak orang musuhan, tapi gimana lagi. Dia capek kalau harus berdebnat lagi dengan Kalin soal prinsip menjaga yang sesungguhnya. Raksa lupa kalau sudah sifatnya wanita ingin dibujuk dan dirayu, apalagi setelah bertengkar hebat. Mau salah mau benar, sejatinya wanita hanya makhluk biasa yang butuh tatih dan tayang.


Karena Raksa udah capek masak, dia biarkan Kalin buat cuci piring bekas makan mereka berdua. Pria itu sengaja memposisikan dirinya di depan tivi, meskipun acaranya nggak sesuai dengan selera nonton Raksa. Tapi ya udahlah, biarin itung-itung biar lancar bahasa inggrisnya.


Setelah menaruh piring, Kalin mengambil buah dan masuk ke dalam kamarnya. Dia pengen duduk di sofa, tapi sofa itu udah dikuasai Raksa duluan. Jadilah dia makan pear sambilĀ  nonton youtube di leptopnya.


Sampai akhirnya dia menguap dan pergi ek kamar mandi baut sikat gigi. Belajar dari pengalaman, saat ini kalin menegtuk pintu untuk emmeastikan di dalam sana ada orang atau setan.


"Gue disini!" ucap raksa datar dari arah sofa.


Kalin menengok dengan mata setengah wattnya, "Oh?" hanya satu kata yang melucnucr dari bibirnya.


Dia masuk dan menyikat gigi meskipun setengah mengantuk.


Sedangkan Raksa mengecek nama-nama dan nomor rumah yang besok akan dia antarkan pesanan susunya.


"20 rumah! huuufh, semnagat raksa!" gumamnya sembari menaruh hapenya di atas meja.

__ADS_1


Sedangkan Kalin keluar lalu menuju kamarnya. Dia tutup begitu saja kamarnya tanpa dikunci.


"Selamat malam istriku, tidur yang nyenyak!" gumam Raksa sambil matanya melihat sekilas pintu kamar Kalin yang sudah ditutup rapat


__ADS_2