Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Bagus Ya ? Baru Pulang Jam Segini?


__ADS_3

Raksa sengaja pulang lebih awal. Dia keluar begitu saja.


Beruntungnya saat itu Rahmi sedang ke toilet, jadi mantannya itu nggak tau kalau Raksa sudah keluar dari ruangannya. Sedangkan Tania sendiri lagi ngerjain kerjaan yang numpuk, makanya dia juga nggak ngeh kalau Raksa udah cabut dari kantor.


Sedangkan Farid, dia sengaja hari ini nggak berangkat dengan alasan sakit, buat nemuin temennya. Dia bantu Raksa buat ngurus Visa. Kali ini Farid beneran lost contact dengan Tania, jadi nggak ada kesempatan Farid buat ember pada gadis yang memenuhi hatinya.


Namun sayangnya, tadi siang sewaktu Tania makan siang dengan pak Galang. Farid nggak sengaja memergoki mantan gebetannya itu di sebuah restoran. Awalnya Farid ragu, tapi saat dia nyetir dan ngeliat Tania keluar dari mobil mewah pun, akhirnya Farid berhenti dan minggirin mobilnya.


Farid dengan jelas melihat pak galang yang melingkarkan tangan di pinggang wanita yang sudah lama menjadi incarannya.


'Tega banget lo, Tan! jadi lo nggak nerima gue karena udah dapet pak Galang?' batin Farid.


Dia pun balik lagi ke mobilnya, dia nggak mau hatinya berdarah-darah melihat Tania yang mesra banget sama salah satu direktur di perusahaan tempat Farid bekerja.


Jadi, alasan sakitnya hari ini menjadi kenyataan. Meskipun secara fisik Farid udah nggak lemes lagi, tapi secara batin dia dalam keadaan merana dan menderita.


Sementara Raksa, dia pergi ke salah satu toko perhiasan. Namun disat pria itu sibuk milih mana kalung yang paling bagus, tiba-tiba ada telepon dari ibunya.


"Assalamualaikum, Sa? Ini ibuk!" kata bu Selvy.


"Iya, Waalaikumsalam. Iya Raksa udah tau, Buk!"


"Kamu dimana? kok belum pulang? kan ibu suruh pulang cepat?"


"Raksa lagi ke toko mas!" sahut Raksa, dia berbalik dan duduk di salah satu sofa. Nggak enak ngangkat telepon sambil diliatin orang.


"Sama siapa?"


"Sendirian lah!"


"Aduuuh! kenapa sendiriaaan?" tanya ibu.


"Ya emang kenapa?"


"Ck! jangan sendirian! nanti kalau dijambret gimana? dirampok di jaln? kamu ini gimana sih? nggak liat di tivi banyak tindakan kriminal?" bu Selvy khawatir.

__ADS_1


"Nggak lah, Bu! inshaa Allah nggak. Udah ibu tenang aja! ini Raksa mau pulang dulu ya?" ucap Raksa.


"Ya sudah, jangan mampir-mampir lagi! ini nasi kuning ibu belum selesai!"


Tuuut tuuut!


Bu Selvy menutup telepon itu secara sepihak.


"Nasi kuning? buat apalagi bikin nasi kuning?" Raksa gelengin kepalanya.


Kemudian, Raksa lanjut memilih cincin dan juga kalung yang rencananya buat nanti mahar dia buat Kalin. Kalau malam ini deal, maka Raksa tinggal bawa Kalin buat dapet nasihat pra nikah.


"Yang ini, Mbak!" ucap Raksa setelah menunjuk dua pasang cincin.


Dia melihat sebuah cincin polos yang berwarna putih, yang mungkin akan menjadi pengikatnya dengan kalin buat selama-lamanya.


Dia memilih perhiasan yang dia inginkan, lalu membawa benda itu bersamanya setelah membayar cincin dan kalung itu.


Pria itu pergi menuju rumahnya. Sedangkan bu Selvy marah-marah saat anak gadisnya baru belum juga pulang.


"Ini dimana?" tanya Nova dengan sebuah papper bag di tangannya.


"din lemari gue aja, Nov! buka aja!" ucap Kalin yang lagi nutup pintu dan akan ikut menyembunyikan bunga beserta kue di dalam lemarinya. Sementara bunda Lia lagi ngendon di kantor suaminya. Beberapa hari ini emang bunda sedikit posesif, karena dia merasa kalau suaminya itu sedikit berbeda dan mulai menjauh. terbukti dengan jarangnya ayah Diki menyentuhnya.


Jadi ayah yang dikintilin mulu, nggak bisa berkutik. Dia hanya bisa nitip sama Kalin suruh beliin hadiah buat bunda. Ayah udah transfer duit, makanya Kalin cuss ngajak Nova buat belanja. Sekaligus Nova juga pengen beli tas kecil buat kalau jalan, katanya tasnya udah buluk. Tapi ya namanya bocah, belinya juga yang harga dibawah seratus ribuan. Nggak kenal juga si Nova sama barang-barang branded. Beda sama Kalin yang disuruh mampir ke salah satu stand tas yang udah menjadi idaman para wanita buat masuk ke dalam sana. beneran Nova aja sampai melongo, ngeliat harganya yang nggak masuk di akal.


Setelah menyimpan semuanya di dalam lemari, Kalin pun berbalik menatap Nova.


"Maksih ya?" ucap Kalin.


"Gue nggak bis abantu ngehias kamar bunda lo. Soalnya gue disuruh balik sekarang. Ibuk kalau bikin nasi kuning pasti riweuh minta dibantuin, ntar yang ada gue sama abang yang kena repetannya!" ucap Nova.


"Ya udah nggak apa-apa. Tapi nggak mau minum dulu?" Klain menawarkan.


"Nggak usah, udah sore juga! gue pulang, ya?"

__ADS_1


Kalin pun mengantar Nova sampai ke depan. Nova yang menjadi sahabat satu-satunya pun pergi meninggalakan rumah itu dengan vespa kesayangannya.


Kalin yang udah mempersiapkan pernak-pernik ultah pun, menyuruh pak Abdul dan istrinya buat ikutan mompa balon. Mereka agak sungkan buat masuk ke dalam kamar majikannya.


"Nggak apa-apa. Masuk aja sini!" kata Kalin.


"Saya di luar saja, Mbak!"


"Di luar bagaimana?" kalin mengernyit.


Akhirnya mereka bertiga duduk di ruang tengah dengan balon-balon yang kini di pompa Kalin, Sedangkan pak Abdul dan istrinya mulai meronce atau merangkai balon itu menjadi rantai balon yang berbentuk setengah lingkaran.


Sedangkan balon huruf, sengaja Kalin yang nempelin di dinding kamar bunda karena harus manjat spring bed di kamar itu.


Dengan susah payah kedua orang yang sudah dia anggap keluarga sendiri itu pun menempelkan rangkaian balon ke dinding. Balon yang berwarna anggur itu pun berhasil menempel dengan cantik.


Sekarang tinggal menyusun lilin-lilin kecil yang akan menerangi kamar itu dan menambah kesan romantis. Nggak lupa Kalin sengaja menabur kelopak bunga warna merah di kasur bundanya membentuk simbol hati.


"Udah selesai! tinggal nunggu ayah sama bunda pulang!" ucapnya sembari menutup pintu.


"Pak abdul dan Mbok Sinah, jangan pulang dulu! kita kasih kejutan buat bunda bareng-bareng!" kata kalin dengan raut wajah bahagianya.


Kedua orang yang sudah bekerja belasan tahun itu pun hanya mengangguk, menuruti keinginan anak majikannya.


Semenatra di rumah, kebetulan raksa dan Nova pulang dengan waktu yang hampir bersamaan.


"Lo baru pulang?" tanya raksa yang mendapati adiknya melepas helm dari kepala,


"iya,"


"Sore banget?!" mata Raksa memicing.


"Ya kan main! terus tadi nganter Kalin dulu. Masa iya gue tinggalin gitu aja?" ucap sahut Nova yang seketika ngeloyor ke dalam rumah.


Dan kedatangan mereka berdua ini disambut teriakan bu Selvy, "Bagus, ya? baru pulang jam segini?!!!" seru bu Selvy membuat Nova dan Raksa nggak berkutik.

__ADS_1


__ADS_2