
Disuatu rumah mewah...
Seorang wanita usia 40 tahunan uring-uringan saat menyadari ada sesuatu yang hilang dari dalam dompetnya.
"Astaga, dimana kartu itu? perasaan aku taruh di dompet, tapi kenapa nggak ada? ya ampun malu-maluin bangeet!" ucapnya dengan masih gertaakan di kamarnya sendiri. Dia keinget tadi pas belanja nggak bisa bayar karena kartunya lenyap dan dicari
Dia berulangkali ngeluarin tas mewahnya dari dalam lemari dan memeriksa isi di dalamnya, "Kemana perginya kartu itu? kemanaaa? arggghhhhhh!"
Wanita yang bernama Rebecca itu lantas keluar dengan wajah yang awut-awutan, "Biiiiiikkk, bibiiiiiiiikkkk?!!!!!!!" suaranya seketika menggema bagaikan sebuah sirene yang membuat para pembantunya seketika berkumpul.
Rebecca sudah mengeluarkan tanduknya, dia begitu marah dengan apa yang dialaminya hari ini, "Sekarang masuk ke dalam kamarku dan bantu aku mencari sebuah kartu!"
"Kartu?" para pembantu itu saling melihat satu sama lain. Mereka saling bertanya kartu apa yang dimaksud nyonya mereka, kartu bpjs, kartu keluarga atau kartu apa.
"CEPAAATTTT CARI....!!!!" teriak Rebecca yang seketika menghantam pendengaran para asisten rumah tangganya.
"Iya Nyahhhhh!" sahut salah satu diantara mereka yang kini dengan ngibrit masuk dan ngeliat kondisi kamar yang udah berantakan.
Tiga orang yang sudah lama bekerja di rumah itu lantas memunguti barang yang berserakan di lantai.
"BLACK CARD KU HILANG. POKOKNYA CARI KE SETIAP SUDUT. DAN HARUS KETEMU, AKU NGGAK MAU TAU...!" perintah Rebecka.
Sebelumnya Rebecca nggak pernah sampai semarah ini. Meskipun dia termasuki majikan yang selalu menekankan semua harus bersih dan rapi tapi nggak pernah dia mencak-mencak pada pembantunya. Makanya ketiga pembantu di rumah itu betah bekerja di rumah Rebecca, belum lagi tukang kebun, supir dan juga satpam yang sama juga betahnya bekerja di rumah itu.
Ya gimana nggak betah, lha wong majikannya ini jarang di rumah juga, jadi sebenernya mereka nggak begitu banyak kerjaannya. Tapi kalau Rebecca pulang, baru deh pada riweuh nyiapin ini itu yang majikannya pengen.
"Kalau cuma yang ilang satu, aku nggak sampai kayak gini. Ini yang ilang tiga loh, tigaaaaa!" Rebecca pijitin keningnya sendiri.
Pembantunya itu mencari ke setiap sudut, sampai pinggang rasanya pegel karena harus tiarap dan sebagainya buat meriksa kolong-kolong lemari atau ranjang. Ya kali aja itu kartu nongol di tempat yang nggak diprediksi sebelumnya.
Sementara ada sepasang muda-mudi yang pulang ketika hari sudah beranjak malam.
"Udah sampai sini aja, Ren!" Melody nepok bahu Reno.
Reno pun melambat dan menghentikan laju motornya. dia nengok ke belakang, "Kenapa? tanggung udah di depan gerbang, nggak sekalian gue anterin masuk? dari sini ke kedepan pintu kamu aja jauh loh?!"
Melody turun dan melepas helm di kepalanya, "Nggak usah. Nggak enak udah jam segini. Akhir-akhir ini ART di rumah suka pada carmuk sama nyokap gue. Mereka suka ngelaporin gue, katanya gue suka pulang telat. Gue nggak mau mereka tau kalau gue pulang malem sama lo, ntar lebih dahsyat lagi laporannya! lo ngerti kan?"
"Ck, pecat aja sih pembantu kayak gitu! sok banget!"
__ADS_1
"Gue juga pengennya kayak gitu, tapi gue nggak ada power di rumah ini. Nanti lah, kalau mereka ada salah, pasti satu-satu dipecatin sama nyokap gue. Kalau sekarang kayaknya gue harus tahan-tahan dulu. gue cuma anak disini yang kata nyokap harus dijaga setiap waktu," Melody sesekali ngeliat ke arah gerbang, hatinya deg-deg an.
"Lo yang sabar ya, Beb?" kata Reno.
"Iya thanks, ya Beb?!" Melody senyum saat satu tangan Reno menyentuh pipinya.
"Ya udah lo pulang aja, udah malem!" Melody dengan beberapa belanjaan di tangannya.
"Gue pulang ya? thanks loh, baju-bajunya," Reno nyentuh tas punggungnya, yang bukan hanya muat buku tapi juga muat belanjaan.
"Iya, hati-hati..." Melody dadah-dadah, ketika Reno udah melesat meninggalkan Melody.
Melody menghela nafas lega setelah Reno udah nggak keliatan lagi, "Huuufffhhhh, gue berasa abis marathon!" gadis itu kemudian diam-diam buka gerbang dan masuk ke dalam sebuah rumah yang sangat mewah.
Sementara disisi lain, Raksa dan Kalin sekarang boncengan pulang. Mereka habis reservasi tempat buat maljum romantisnya pak Tomi. Raksa juga minta tolong pihak resto buat ngedecor meja yang mereka pesan.
Dari kaca spion Raksa ngeliat Kalin beberapa kali kedapetan hampir ketiduran. dia bisa ngerasain kepala si Kalin anjluk-anjlukan, padahal bentar lagi nyampe ke rumahnya.
"Hadeeuuuhhh, udah ngantukan aja nih bocah!" gumam Raksa. Perlahan satu tangannya menarik tangan itu supaya mengunci perutnya. Dan kepala gadis itu pun akhirnya menempel punggungnya dan bersandar disana.
Raksa yang baru sebulan yang lalu putus pun, hatinya mulai menghangat. Meskipun Raksa sendiri belum begitu menerima pertunangan ini yang dirasa sangat mendadak, tapi ngeliat si Kalin udah ngantuk kayak gitu, hati Raksa nggak tega.
Satu tangan Raksa memegang satu kuncian tangan Kalin yang melingkar di perutnya, sedangkan dia memperlambat dan kini berhenti di depan rumah Kalin yang ketika Raksa nyampe langsung dibukain gerbangnya sama pak Abdul.
Dia bawa motornya masuk sampai ke pelataran.
Pria itu mematikan mesin motornya. Pak Abdul yang ngeliat Raksa diem-diem bae di atas motornya pun menghampiri.
"Lih, mbak Kalinnya tidur?!"
"Iya auk nih, Pak!" Raksa buka helmnya. Kalin sama sekali nggak bergeming, dia ngantuk berat.
"Biarin dulu aja deh, Pak! kalau tante Lia nanya, ngomong aja Kalin udah nyampe gitu..." Raksa yang masih memegang tangan Kalin.
"Oh iya iya, Mas!" pak Abdul pun masuk ke dalam rumah.
"Hoooommpph!" Kalin sedikit menunjukkan pergerakannya.
Pukk!
__ADS_1
Raksa menepuk punggung tangan Kalin, "Woy, bangun!"
"Hemmmmphhh?!" Kalin masih nemplok, dia cuma bergumam nggak jelas.
"Kok berhenti?" Kalin yang setengah sadar gerakin kepalanya. Dia kreyep-kreyep sebentar.
"Loh? kok udah nyampe masih di motor aja?" tanya bunda.
Raksa nganggukin kepalanya sopan, "Iya, Tante..."
"Kok ada suara bunda?" Kalin bergumam.
"Ya emang lo udah nyampe rumah, Kalin!" Raksa gregetan dengan nada lirih.
"Rumah?" seketika mata Kalin terbelalak.
Dia baru sadar kalau tadi dia bukan lagi meluk bantal guling, "Ya ampuuun! pantesan anget!" Kalin segera melepaskan pelukannya.
Ya, Kalin lepasin gitu aja tangan Raksa yang daritadi ngejagain dia supaya nggak jatuh.
"Kok masih di luar?" tanya bunda.
"Itu Kalin nya baru bangun!" sahut Raksa enteng.
"Yaa, ampuuuun! kamu ketiduran di motor, Kalin?" Bunda Lia geleng-geleng kepala.
Sedangkan Kalin langsung turun dengan tergesa-gesa dan menyalami bunda nya.
"Kalau ngantuk, bilang sama Raksa. Untung kamu nggak jatuh kan?" bunda ngingetin.
"Ya, Bun! perasaan daritadi aku juga melek, Bun! tapi nggak tau kenapa matanya nutup sendiri gitu," Kalin dengan suara paraunya.
"Tante..." Raksa menyalami calon mertuanya.
"Ayo, masuk!" kata bunda Lia.
"Raksa mau langsungan aja, Tante! udah malem, lain kali Raksa pasti mampir..."
"Oh gitu ya? ya sudah kamu hati-hati di jalan. Makasih ya udah nganterin Kalin pulang..." bunda menyambut tangan Raksa lagi, dia mau pamitan.
__ADS_1
"Permisi, Tante..." Raksa pakai helmnya lagi dan pergi dengan motornya.
Sedangkan Kalin, dia ikut masuk ke dalam rumah bersama bunda.