
Kalin yang duduk persis di samping jendela, hanya bisa ngeliat langit yang gelap
Rasanya dia bosan jika harus menonton film lagi dan lagi. Sementara Raksa udah tidur. Wajah lelahnya menyiratkan banyak masalah yang dihadapinya.
Nggak tau gimana nasib Kalin kalau tadi dia melangkah maju dan nggak inget pesan ayahnya yang disuruh nurut sama suami, pasti dia sudah pergi menuju ke perancis bukan ke Inggris.
Dia mencoba untuk tidur, tapi beberapa kali gagal terus. Bayang-bayang rekaman vidio yang diperlihatkan Rahmi seolah masih terbayang di otak Kalin.
'Mungkin kah mereka pernah melakukan yang lebih dari itu? kenapa tuh cewek bilang kalau dialiatin, takut ngerusak mental gue!' Kalin dalam hatinya.
'Apa perlu gue tanya? atau gue diem aja
Gue biarin pernikahan ini sampai gue lulus? Dan setelah itu gue minta pisah sama dia?' Kalin bergumam terus dalam hati.
"Aarrggh!!! kacau banget sih hidup gue?!!" kali ini dia nggak bisa menahan suaranya.
Namun tiba-tiba kepala orang yang disampingnya, kini bersandar di tulang bahunya yang kecil dan rawan rapuh.
"Diiihhhhhh!! apa-apaan, sih?" Kalin mencoba mendorong kepala itu menjauh darinya.
Tapi Raksa justru kini memeluknya, mencari kehangatan.
"Sabar Kalin! lo cuma harus sabar mebfhadapi manusia seperti ini!" Kalin menatap ke luar jendela. Dia memejamkan matanya, meskipun rasanya belum mengantuk.
17 jam melelahkan akhirnya terlewati. Mereka akhirnya sampai juga di Manchester. Ayah Diki sudah menyewa rumah untuk Raksa dan Kalin tinggali selama disana.
Akhirnya setelah melakukan penerbangan yang cukup lama, Kalin bisa meikmati enaknya masuk ke dalam rumah. Dia melihat-lihat rumah yang kebanyakan didekor dengan aksen kayu itu.
"Hanya ada satu kamar?! Nggak mungkin sih?! nggak mungkin banget ayah nyewa rumah buat berdua tapi kamar cuma satu?" gumam Kalin yang kecewa dengan rumah yang dipesan dadakan oleh ayah Diki.
Alih-alih memberi kabar kalau mereka udah sampai dengan selamat, Kalin juga sekalian mau konfirmasi, ini beneran rumah yang disewa cuma ada satu kamar.
Raksa sibuk menata koper, dia belum ngeh dengan hal yang dipersoalkan Kalin.
"Halo, Yah! Kalin baru saja sampai," kata Kalin basa-basi.
__ADS_1
"Oh ya, alhamdulillah! kamu pasti capek bange ya, Sayang?" suara ayah dari balik telepon.
"Capek pasti, Yah! oh ya, Bunda dimana?" tanya Kalin.
"Bunda di rumah lah, Sayang! Ayah lagi mau ngegym bareng pak Hendra," ucap ayah Diki.
"Oh gitu..." Kalin manggut-manggut, matanya melirik Raksa yang melepas mantelnya.
"Oh ya, Yah! sekalian mau nanyain soal rumah, ini kok rumahnya cuma ada satu kamar ya, Yah? ayah salah sewa apa gimana?" tanya Kalin.
"Oh itu, adanya itu, Sayang. Karena kamu juga bilangnya mendadak, jadi ya cuma itu rumah yang bisa kita dapat. Jalani dulu aja, kalau sekiranya kamu udah tau dimana tempat yang lebih enak, kamu bisa kasih tau ayah.Nanti ayah sewain buat kamu," ucap ayah Diki.
"Raksa mana?" tanya ayah Diki.
"Ada, kenapa memangnya?"
"Ayah mau bicara dulu,"
Kalin pun menyerahkan hapenya pada Raksa, Kalin bilang kalau ayahnya pengen ngomong. Dan oercakapan dua manusia itu pun nggak bisa tertanggap jelas di telinga Kalin. Karena Raksa cuma bilang iya iya aja sambil sesekali terkekeh. Sungguh wajah yang menyebalkan menurut Kalin.
Gadis itu pun menjatuhkan dirinya di atas sofa, dia melihat ke sekeliling.
Kalin puyeng mikirin gimana bisa dia beryahan dengan si Mamang hanya dengan satu kamar yang terbilang luas tapi hanya satu aja. Nggak ada yang lainnya.
Matanya sesekali ngeliat ke arah Raksa yang ngobrol asik dengan ayahnya,s ekan mereka lupa kalau biaya telepon itu sangat mahal.
"Ya udah kalau gitu, Yah! Hati-hati di jalan," ucap Raksa.
"Oh ya, ayah mau ngomong sama Kalin dulu atau?" lanjutnya.
"Ngga usah! sampein salam dan bilang suruh dia telpon bundanya. Bunda pasti kangen sama dia,"
"Oh gitu? ya sudah. Kalau begitu," ucap Raksa yang kemudian panggilannya diputus oleh ayah Diki..
Raksa mendekati Kalin.
__ADS_1
"Disuruh telpon bunda katanya," Raksa menyampaikan apa yang diminta oleh mertuanya.
"Hem!" Kalin pun menyambar hape itu dan dia masuk ke dalam kamar. Dia nggak sabar buat rebahan, badannya pengen dilurusin setelah duduk di pesawat selama belasan jam.
Kalin sengaja membiarkan pintu kamar terbuka, dia masih asing dengan tempat ini dan belu. terbiasa, lebih tepatnya takut.
Setelah menutupndan mengunci pintu, Raksa pun mebyusul Kalin buat rebahan.
"Eh, kenapa lo masuk?" tanya Kalin.
"Ya karena pinggang gue pegel! Gue pengen tiduran sama kayak lo, Cil!" kata Raksa.
"Siapa yang ngebolehin lo tiduran diaini? di sofa sono!" usir Kalin.
"Ck, janfan ribut bisa nggak? badan gue pegel banget, beneran! rebahan di sofa yang ada kaki kue nggak muat!" sahut Raksa
Bukannya malah pergi karena di uair, dia malah memeluk Kalin, melingkarkan tangannya di perut kecil itu sesangkan kepalanya merangsek ke perpotongan leher istrinya.
"Ck, lepas deh!" Kalin mencoba melepaskan tangan Raksa yang berat. Tapi Raksa malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Kita istirahat dulu, lo nggak cape apa? marah-marah mulu? marah-marahnya dipending dulu napa, Lin?" ucapnya lagi.
"Lagian, kalau tidur disini sendirian apa lo nggak takut? ini rumah bisa aja ada hantunya," bisik Raksa yang seketika memunculkan jiwa-jiwa penakut Kalin.
"Lebay!"
"Nggak lebay! kalau nggak percaya, kita buktikan nanti malam! tapi sekarang biarin gue tidur dulu, gue capek capek banget, Cil?" ucap Raksa yang suaranya kian berat.
Rasanya geli dan aneh saat nafas hangat Raksa menyapu lehernya.
'Astagaaa, gue niatnya kesini cepet buat menghindar dari orang ini. Tapi kok malah kayak gini sih? gimana ceritanya gue tinggal satu atap dan satu kamar sama Mamang? orang yang nggak bisa menjaga bibirnya dari godaan mantan!' batinnya kesal.
Namun, meskipun dalam hati dia dongkol parah. Kalin pun ikut memejamkan maranya. Badannya yang tadi sangat tegang, kini mulai bisa relaks.
'Kayaknya gue istirahat dulu, sebelum nanti gue bakal cari cara supaya bisa bertahan hidup satu rumah dengan orang ini' lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Matanya mulai terpejam, dan nafasnya mulai teratur. Badan yang lelah membuat Kalin bisa cepat terbang ke alam mimpi, walaupun sebenarnya dia nggak ngantuk sama sekali, tapi ternyata ngantuk itu bisa nular juga. Jadi yang tadinya nggak ngantuk, sekarang dia bisa ijut ketiduran sama seperti Raksa.
Rasa semakin mempererat pelukannya, dia menyamankan dirinya dengan bau parfum soft milik Kalin yang membuatnya seperti di rumahnya sendiri