
Raksa nggak mau ribet mikirin kenapa Rahmi bisa sampai ngikutin dia. Yang jelas sekarang waktunya buat nyamperin temen-temennya dengan ngegandeng Kalin.
"Ini kita mau makan sama siapa sih?" Kalin yang sekedar nanya.
"Sama temen-temen gue!"
Mendadak kaki Kalin ngadat, dia macet nggak mau jalan.
"Belum nyampe! ngapain lo brenti disini?" Raksa ikutan berhenti karena tunangannya itu diem kayak patung.
"Ayo masuk?!" ajak Raksa.
"Berarti isinya mamang-mamang semua?" Tanya kalin.
"Mamang lagi?! bukan, ceuceu!" Raksa mijit kepalanya.
"Lo kan tunangan gue, jadi lo harus tau sama siapa gue bergaul! sama kaya gue yang bakaln nemplok kemana pun lo pergi sama temen lo!" kata Raksa.
"Dih!"
Raksa narik tangan Kalin buat masuk, "Ya ampuun, pelan-pelan, Mas!"
Cyiiittt!
Kali ini kaki Raksa yang ngerem mendadak, "Apa tadi lo bilang?"
"Apa?"
"Yang tadi!"
"Yang mana?" Kalin muter bola matanya.
"Yang barusan lo ucapin!"
"Apa? nggak inget gue!" Kalin pura-pura amnesia.
"Sinonimnya abang..."Raksa kasih tebakan.
"Apa? mamang?"
"SINONIMNYA ABANG? KALAU MAMANG ITU PERSAMAAN NYA OM! KESEL DEH GUE!" Raksa cemberut sedangkan Kalin dbiasa aja.
"Kalau lo ngulangin panggilan itu lagi, gue janji kita nggak bakal lama-lama makan disitu!" lanjut Raksa kasih penawaran. Rasanya kupingnya gatel pengen denger Kalin manggil dia dengan panggilan 'Mas'.
"Beneran?"
"Iya! kapan gue bohongin lo! yang ada lo yang tukang bohong!" Raksa balik nuduh.
__ADS_1
"Gue kan bohong kalau kepepet doang! kalau nggak terpaksa mah nggak, nambah-nambahin dosa yang ada!" Kalin dengan tatapan yang sinis.
"Ayo cepetan bilang lagi! kita udah ditunggu loh di dalem!" Raksa maksa.
"Iya iya, Mas! ya udah kita masuk abis itu jangan kelamaan ya?" ucap kalin.
Mendengar panggilan lain yang diucapkan Kalin, menimbulkan getaran lain di hati Raksa.
"Ya udah! kita masuk sekarang!" ucap pria itu
Digandenglah si Kalin masuk ke dalam sebuah restoran yang sengaja udah dibooking sama farid. Mereka reserved satu meja panjang buat makan rame-rame.
"Akhirnyaaaaa, yang ditunggu dateng jugaaa?!!" Farid lega, akhirnya Raksa udah nongolin batang hidungnya.
"Bikin gue deg-deg an aja lo! gue kira lo nggak jadi dateng! kan alamat kita bayar masing-masing!" lanjutnya.
"Sorry, jemput dulu gue!" Raksa nunjukkin tangannya yang bertautan dengan Kalin.
"Oh ya, kenalin, Ini tunangan gue, namanya Kalin!" Raksa sengaja kerasin suaranya, dia mau temen-temennya itu denger pengumuman itu.
"Ciyeeee, selamat ya!" ucap mereka kompak.
"Gimana? udah pada mesen?" tanya Raksa.
"Udah lah! kita pesen menu share!" sahut salah satu cewek.
Siska yang ngeliat gimana imutnya Kalin pun ngebatin. 'Jadi kayak gini tipenya Raksa? yang imut-imut ngegemesin?'
Mereka sengaja makan di tempat resto yang nyediain sukiyaki, dan nggak lupa mereka juga pesen berbagai macam sushi.
"Gue pengen tamago!" Kalin berbisik di telinga Raksa.
Pria itu ngerasain bisikan itu bagaikan mantra yang bikin dia diem dan blank beberapa saat.
"Tamago!" ucap Kalin lagi, dia malu buat ngambil dan bertabrakan pandangan dengan temen-temen Raksa yang rata-rata udah pada nikah. Bahasannya juga aduhai indah di telinga. Bocil dilarang ikut sebenernya, bikin pikiran travelling abisnya. Sedangkan yang jomblo kayak Farid cuma bisa ketawa-ketawa sambil sesekali ngelempar joke receh.
Raksa yang dimintain tolong, langsung ambil itu tamago dan naruh di piring kecil punya Kalin.
"Yeuuuuh, yang lagi bucin?! bikin kita ngiri!" salah satu temen Raksa yang cewek nyeletuk.
"Yeuuh jomblo sirik aja lo! sini sini gue ambilin! lo pengen apaan?!" sahut Raksa dengan niatan becandaan.
"Jangan, jangan! Nanda mah urusan gue. Ntar pulang-pulang ada yang ngambek lagi!" kata Farid yang naik turunin alisny, menggoda Nanda.
"Cih! mending gue ambil sendiri, wleee!" Nanda yang ngeri dengan Farid. Dia udah tau kalau si Farid nih tukang tepe-tepe alias tebar pesona.
"Jangan dimasukin hati, ya! kita-kita emang begitu, nggak bisa ngeliat orang seneng dikit!" kata salah satu wanuta di samping Kalin.
__ADS_1
Kalin cuma senyum aja.
"Imut banget ya ampuuuun!" ucap si wanita itu.
"Oh ya kenalin, gue Terry!"
"Kalin," Kalin ngangguk sopan.
"Kalin? kayaknya gue familiar sama wajah lo deh," Terry mencoba mengingat.
"Lo sekolah dimana?" lanjut Terry nanya-nanya.
Kalin cuma senyum doang, 'Keliatan banget ya gue masih sekolah?' batinnya.
"Sorry, lo masih sekolah, kan?" Terry dengan wajah ngerasa nggak enak.
"Soalnya gosipnya tuh orang punya cewek masih bocil soalnya!" lanjutnya.
"Baru lulus hari ini, Kak!" ucap Kalin.
"Sekolah dimana?"
"SMA Nusantara!" Kalin ngerasa diinterogasi.
"Berarti kenal sama Radit, dong?! anaknya ganteng dan mantan ketos juga!" kata Terry menepuk tangannya. Dia sekarang ngeh dimana dia ngeliat wajah Kalin. Di lukisan yang disimpan Radit di ruang khusus melukisnya.
'Pantesan gue rada familiar sama nih bocah! ternyata ini toh cewek yang ada di lukisan itu!' batin Terry.
"Lo kenal Radit? dia pinter, suka ranking tuga besar di sekolahnya!"
"Iya kenal," sahut Kalin.
"Gue kakak sepupunya! mama papa kita kakak adik, cuma papanya si Radit getol banget punya usaha jadi bisa sukses!" kata Terry, secara nggak langsung dia ngejelasin kenapa dia jadi staff di perusahaan sedangkan sepupunya itu udah terkenal sebagai anak orang kaya.
"Oh, kakak ini sepupunya Radit?!" Kalin cuma bisa 'ah oh ah oh'.
Mau nanya Kalin ini pernah punya hubungan sama Radit, nggak enak barangkali Raksa denger. Jadilah mereka berdua ngobrol asik seputar film yang kebetulan menjadi kegemaran keduanya.
Sedangkan Raksa yang tadinya ngobrol sama yang lain pun menyadari keanehan, ternyata Kalin udah nggak minta diambilin sushi lagi. Ditengoknya, ternyata tuh bocah lagi asik ngobrol sama Terry.
'Udah akrab aja nih bocil!' batin Raksa.
Sesaat dia gelengin kepala, 'Tadinya minta cepet pulang, sekarang malah keasikan ngobrol sama Terry. Dasar perempuan! susah banget buat ditebak!' Raksa dalam hatinya.
Sedangka Raksa nggak tau kalau dibelakang sana, Rahmi bisa ngeliat dengan jelas Raksa yang nengok ke arah Kalin dan melayangkan pandangan penuh cinta. Pandangan yang sebelumnya menjadi miliknya.
'Gue nggak akan biarin lo terlanjur cinta sama gadis itu! dia nggak cocok buat lo, Sa! gue bakal ngambil posisi gue lagi, ternyata gue nggak bisa liat lo bahagia dengan yang lain selain sama gue!' Rahmi yang duduk dengan makanan yang masih utuh.
__ADS_1
Sedangkan matanya masih lurus memandang Raksa yang kini tersenyum ngeliat si gadis kecilnya ngobrol asik dengan teman satu divisi Raksa.