
"Maksudnya? gimana Bun? nggak mungkin kan orang yang beli cincin ku abangnya Nova?" tanya Kalin dengan polosnya.
"Tanya saja sendiri..." kata bunda Lia.
Raksa menarik napasnya, seakan udah nggak ada lagi yang bisa dia sembunyikan dari orang-orang yang ada di ruangan ini. Raksa merogoh saku di celana nya dan menunjukkannya di depan Kalin.
Mata kalin membulat, dia nggak percaya dengan barang yang Raksa angkat sejajar dengan wajahnya.
Kalin yang tadinya duduk di seberang sampai mendekat, "Beneran ini cincin gue? kok lo bisa? kok ada sama lo? kok lo yang beli?"
"Kaliiiin..." tegur bunda yang mendengar Kalin kurang sopan pada Raksa.
"Ehm," wajah kalin berubah jadi salting.
"Kenapa? cincin ku ada sama abang, kenapa juga abang beli cincin ini?" tanya Kalin lebih sopan.
Raksa ngasih cincin itu pada Kalin, "Iseng,"
Plakkkk!!!
Bahu kekar Raksa digeplak emanknya, "Jawabnya yang bener!"
"Maaf ya, anakku yang ini emang agak eror!" lanjut bu Selvy.
"Ya ampuuun ibuuuk! emang bener kok, kenapa Raksa dipukul?!" Raksa ngeluh.
Kalin ngeliat lingkaran bagian dalam cincin itu yang menembus wajah Raksa, sesuatu seketika tumbuh di hati Kalin. Gadis itu kemudian menurunkan benda yang biasa menghias jari manisnya.
Raksa pun akhirnya menceritakan bagaimana bisa ciincin itu berpindah kepemilikan, "Saya ngeliat Kalin keluar dari toko emas dengan wajah yang sedih. Penasaran, akhirnya saya datengin tuh toko. Dan dari sana saya tau kalau bocah itu habis menjual cincinnya. Ya udah, saya beli lagi tuh cincin. Karena si bocah berpesan pada si pegawai kalau cincin itu jangan dijual, dia bakal balik lagi buat ngebeli itu cincin..."
"Lagipula nggak ada yang bisa menjamin, nggak ada yang tertarik dengan cincin itu. Atau bisa juga i si pemilik toko ingin mengubah bentuk atau variasinya, kita nggak pernah tau. Segala kemungkinan bisa terjadi..." lanjut Raksa bercerita dengan wajah yang ngenes.
"Nah itu namanya peduli," kata pak Hendra.
"Bukan begitu----"
"Udah nurut aja sama bapak!" tekan pak Hendra.
'Astagaaa salah banget gue beli cincin itu, ini orangtua Kalin pasti mikirnya gue suka nih sama si bocil...' batin Raksa.
"Bibir kamu mungkin bisa mengatakan kalau kamu hanya sekedar iseng, tapi tindakan kamu itu menjelaskan kalau kamu peduli dengan keadaan Kalin saat itu, dan itu udah jadi modal buat kalian berdua melanjutkan hubungan ini ke tahap yang lebih serius!" ayah Diki menimpali.
"Kalin nggak ngerti, Yah. Sebelumnya ayah bilang kalau Kalin nggak boleh pacaran, sekarang ayah malah nyuruh Kalin buat menjalin hubungan sama bang Raksa. Ayah bikin Kalin bingung,"
"Nggak usah bingung Kalin. Ayah ngebolehin karena ayah udah menilai kalau Raksa inin cocok buat jadi menantu ayah. Sebentar lagi kamu lulus SMA dan kuliah, ayah nggak mau kamu ketemu sama cowok model Reno lagi, laki-laki yang ada di depan kamu ini udah paling tepat buat kamu, kalin. Percaya sama ayah..."
__ADS_1
"Ayah dan Om Hendra sengaja mempertemukan kalian, dan ternyata semua yang terjadi melebihi ekspektasi kami berdua. Dua keluarga yang sebentar lagi akan bersatu," kata ayah Diki tersenyum pada bapaknya Raksa.
"Bener kata Om Diki, abang gue bukan orang yang aneh-aneh. Lin. Lo nggak bakal nyesel jadi ipar gue. Kita bisa jadi sahabat sekaligus kakak dan adik ipar," sambung Nova.
Sedangkan Raksayang daritadi dipelototin emak sama bapaknya, nggak berani membantah. Menjadi detektif gadungan ternyata membawa malapetaka bagi kehidupan cinta Raksa.
'Asataga kenapa situasinya jadi kayak giniii...' Raksa mijit keningnya sendiri.
"Dan berhubung, semuanya sudah berkumpul disini, mari kita mulai acaranya...." ucap ayah Diki.
'Astaghfirullaaaaah, acara apa lagi ini ya Allah?' Raksa ngenes.
Baik Kalin dan Raksa masing-masing ditarik ke kamar yang berbeda. Raksa di kamar tamu sedangkan Kalin di kamar bunda.
"kamu mandi ceeptan, terus kamu pakai baju ini," bu Selvy menunjuk sebuah batik kekinian yang pasti pas di badan Raksa.
"Emangnya kita mau kondangan pakai batik segala?"
"Udah nurut aja! sekarang kamu mandi, ini semuan keperluan kamu ada din koper ini. Ubek-ubek aja sendiri, ibu mau keluar. dan kalau ibu kesini, kamu udah harus siap, jangan lelet! ngerti?" bu Selvy menunjukkan telunjuknya pada Raksa sebelum meninggalkan kamar tamu.
Setelah pintu ditutup Raksa seketika menjambak rambutnya sendiri, "Hiiiihhh, gue harus apa kalau udah kayak gini?
Sementara Kalin nggak jauh beda sama Raksa.
"Kalau mandi kan kewajiban, Kalin! aneh kamu ini," kata bunda sembari menyembunyikan tertawa kecil.
"Bun? bunda udah nggak marah sama Kalin?"
"Nggak kalau kamu nurut sama bunda. Yakin deh, bunda sama ayah pengen kamu dapet yang terbaik," kata bunda.
"Terbaik gimana sih, Bun? ini mau apa? kok aku disuruh mandi kayak gini?" tanya Kalin saat ngeliat bath tube isinya kembang mawar.
"Biar kamu wangi, sekarang kamu mandi. Bunda tungguin disini?" bunda nutup pintu kamar mandininggalin Kalin yang kebingungan.
"Astagaaa, mau apa? mandi kembang jam segini? ini ceritanya buang sial apa gimana?" Kalin bergumam sebelum masuk ke dalam bathtube yang diisi air hangat.
Kalin berendam cuma sebentar, lumayan badannya seger. Kalin ambil handuk kimono dan menutupi badannya sebelum keluar dari kamar.
Kepala Kalin ngelongok ke luar dan hanya ada bunda disana.
"Ngapain kepala kamu nyembul kayak gitu? bikin bunda kaget aja!" Bunda ngelus dadanya.
Kalin keluar dan mengerutkan keningnya saat bunda nyuruh dia duduk di depan cermin.
"Kalin bisa nyisir rambut sendiri, Bun..." Kalin yang nggak bisa menolak saat dirinya didudukkan bunda.
__ADS_1
"Udaaah, kamu diem dan nurut aja. Bunda bakal bikin kamu tambah cantik," kata bunda.
"Bun Bun Bun, bunda mau apa? Kalin bisa sendiri, Bun..." Kalin yang menjauh saat bundanya nyolokin hairdryer dan mulai ngeringin rambut Kalin yang setengah basah.
Kalin udah nggak bisa kabur, gadis itu pasrah aja didandanin bundanya.
Kalau ada lomba agustusan cepet-cepetan ngerias, udah pasti bunda Lia bisa jadi juara. Nggak ada 10 menit, wajah Kalin udah didempul sana sini pakai lipstik merah jambu yang bikin dia keliatan tambah cucok meong.
Dengan rambut yang dibuat gelombang di bawah dan dijepit pajai jepitan yang senada dengan kebaya yang digletakin di atas tempat tidur.
"Sekarang kamu pakai kebayanya, bunda keluar dulu..." kata bunda yang kemudian ninggalin Kalin sendirian disana.
"Please? ini gue nggak akan dinikahin hari ini juga kan? OMG, gue belum siap!" Kalin yang ngeluat dirinya di depan kaca.
Gadis itu mengambil kebayanya, dia ngeluat dengan seksama, "Ya ampun, kenapa jadi kayak gini?"
Tok!
Tok!
Tok!
"Yaaaa, masuk!" ucap Kalin yang menjembreng kebaya berwarna pink salem yang begitu kalem.
Dan ternyata Nova yang ngebuka pintu dan masuk ke dalam nemuin Kalin.
"Loh? kok lo belum pakai kebayanya? udah mau mulai loh acaranya!" kata Nova.
"Acara apa sih, Nov? asli gue nggak mau nikah muda, gue belum siap. Gue pengen kuliah pengen---"
"Syyyuuuuttt!" Nova memotong ucapan Kalin.
"Lagian siapa yang bilang lo mau nikah?" tanya Kalin.
"Lah ini, gue disikuruh pakai kebaya kayak gini!" Kalin nunjukin apa yang dipegangnya.
"Emang orang nikahan doang yang pakai kebaya?" tanya Nova yang juga pakai kebaya modern yang simple dengan rok span pendek.
"Yang jelas malam ini lo bukan nikahan tapi tunangan! Noh sama abang gue!" kata Nova.
Sedangkan mata Kalin membulat saat mendengar kata 'tunangan'.
Dia shock seketika.
"Astaga, muka lo seseneng itu ternyata!" kata Nova yang berkata sebaliknya.
__ADS_1