
Yang namanya benci tapi rindu ya begini. Raksa semaleman nggak bisa tidur. Dia malah mimpi lagi kasih contekan sama Kalin. Di dalam mimpinya kalin lemes, nggak bertenaga. Wajahnya pucet.
Krekkk!
Krekkk!
Gadis yang menjadi tunangannya itu gerakin kepalanya dan mengeluarkan beberapa bunyi sendi yang seakan lagi dikretek-kretekin gitu.
"Aarrghggggg!! hhhh hhhh!" Raksa menjerit, dia terbangun dari tidurnya.
"Hhhh, hhh!" pria utu masih aja ngos-ngosan, dia ngeluat kebarah kanan dan kiri nya.
"Astaghfirullah, untung cuma mimpi," Dia mengusap keningnya yang basah keringet.
Tenggorokannya kering pengen minum, ternyata dia lupa nggak sedia air di kamarnya.
Dia pun sekilas ngeluat ke arah jam di dinding. Kamar yang tadinya remang-remang, kini dibuat terang terang benderang oleh Raksa. Kemudian dia keluar kamar dan turun ke dapur buat ambil minum.
Raksa ngambil gelas dan segera buka kulkas
Dia nuangin air ke dalam gelasnya yang masih kosong yang ada di tangannya.
Namun...
Saat Raksa menutup pintu kulkas dan berbalik badan.
Di belakangnya berdiri sosok Nova, "Haarrrrghhh!" teriak Raksa, dia kaget.
Hampir aja isi isi gelasnya tumpah gara-gara gerakan refleks dari pria itu.
"Astagaaa, Novaaaaa?!! kenapa bentukan lo kayak gituuu!" Raksa mengusap dadanya, shock ngeluat Nova dengan rambut kayak sarang burung, dengan lingkaran hitam di bawah mata seperti panda.
__ADS_1
"Abang ngapain?"
"Lo yang ngapainnn, wuoooy?!! bikin gue takut tau nggak?" Raksa masih memegang dadanya dengan satu tangan.
"Es kriim, Bang! gue butuh eskrim!" tangan Nova terjulur, lebay.
Plakkk!
"Ambil sendiri!" kata Raksa yang ngegeplak jidat adeknya yang kemudian ketawa ngeliat ekspresi abangnya yang masih kesel.
Raksa pun duduk di meja makan, "Heran gue, makin lama makin aneh si Nova!"
Nova pun ngambil es krim dan cekikikan, "Heran gue heran gue mulu!" gumamnya.
Gadis yang sebentar lagi bakalanmeninggalkan bangku SMA itu pun duduk berhadapan dengan abang yang keliatannya cuek tapi sebenrnya perhatian.
"Bentukan lo memprihatinkan!" sindir raksa.
"Ini juga lazim, Bang! apanya yang nggak lazim?" Nova bingung, dia buka eskrim yang berbentuk wadah bunder dan mulai mencicipinya.
"Rambut lo, mata lo!" Raksa nunjukin rambut dan mata panda Nova.
"Ya gimana, orang gue baru bangun tidur, mungkin ini gue usek-usek rambut pas tidur makanya kayak gini," Nova ngerapiin rambutnya dikit.
"Buat apa bangun jam segini?" tanya Raksa.
"Mau belajar lagi! lah abang sendiri kenapa juga tengah malam nongol di dapur? gue kira setan tau nggak?"
"Lo yang kayak setan!" Raksa nunjuk adeknya dengan dagunya.
"Abang haus, makanya abang kesini buat minum!" lantas Raksa minum air putih dingin yang ada di dalam gelas.
__ADS_1
"Abang kan udah bilang, belajarb sewajarnya. Nggak usah dipaksain, nanti malah bikin lo ambruk kalau kayak gitu!" lanjut pria itu.
"kayak nggak tau balada bocah SMA lagi ujian! Apalagi besok hari terakhir, gue parno! gue takut nilai gue anjlok!"
"Skring listrik kali anjlok!" Raksa kini ngetawain adeknya yang emang dari wajahnya keliatan stress banget.
"Lo nggak usah takut. Pasti lulus, abang yakin itu. Belajar yang keterlaluan cuma bikin badan drop, percaya deh sama abang!: lanjut raksa.
Sementara Nova masih menikmati eskrimnya, dia menjawab sambil terus melumerkan es di dalam mulutnya, "Lulus kalau nilainya ngepas juga apa artinya? mau dibawa kemana tuh ijazah?"
"Dibawa kemana kek! yang penting kan lulus. Emang lo mau kuliah dimana sih? ribet banget!" Raksa nyenderin punggung di kursi , dia ngeliatin adeknya dengan seksama.
"Pengennya ya di perguruan tinggi negeri lah, biar ibu sama bapak nggak berat nguliahin gue!" ucap Nova.
"Ya kalau otak lo nggak mampu harus gimana? masa iya harus dipaksain? sampai lo kayak gini, kurang tdiur, berangkat ujian penuh tekanan?!" Raks mencoba membuka pola pikir Nova.
"Lo nggak usah membebani otak lo yang nggak pinter-pinter amat itu buat PTN. tenang aja, lo kuliah ntar abang bantuin biayanya!" kata Raksa.
"Sekarang, lo abisin eskrim lo dan pergi tidur. Kalau mau belajar lagi nanti abis subuh, itu juga baca sekilas aja!" lanjutnya
Dan ngomongin soal kuliah, raksa jadi inget sama Kalin. Kira-kira tuh bocah mau kuliah dimana.
'Mau kuliah dimana juga bukan urusan gue? kenapa gue harus repot?'batin Raksa.
"Kalin mah udah diterima di beberapa universitas luar negeri, beruntung banget dia!" ucap Nova yang seakan menajwab pertanyaan di hati raksa.
"Hah? luar negeri?" mata pria itu membulat seketika.
Nova ngusap mulutnya dengan punggung tangan, "Iya kan dia pinter! tinggal milih doang dia, mau ambil yang mana. hah? sedangkan gue?"
NASIB GUE BELUM JELAS, BAAANGGG?!!" Nova mewek, dia naikin volume suaranya.
__ADS_1
"Astagaaa, Novaaaa! bikin kaget mulu perasaan?!!" Raksa ngusap dadanya lagi.