Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Dia Ada Dimana?


__ADS_3

Nyampe di kantor, perasaan nggak enak dan cemas masih aja bergelayut di dalam pikiran Raksa.


"Nggak mungkin kan si Caya-caya bakalan nemuin si penelepon itu?!" gumam Raksa.


Dia pun gelengin kepala, mencoba mengusir pikiran itu.


"Dia udah gede! udah tau mana yang bahaya mana yang nggak!" lanjut pria itu.


Yang pas masu masuk ke ruangannya, ketwmu sama mas Pay.


"Susu dele nya, Mas!"


"Buat mas Pay aja! atau balikin ke Farid, Farid kan yang ngirim?" Raksa ambil bungkusan itu dan kasih pada mas Pay.


Siska yang denger kalau soy milk itu ternyata dari Farid pun kaget.


'Jadi yang waktu itu dikasih ke gue???' batin Siska.


"Saya udah kenyang! balikin ke Farid aja,"


Tapi mas Pay diem, dia kayak orang keder.


"Kok diem aja?! nih mejanya Farid di sono noh!" Raksa nunjukin meja temennya.


"Atau sebenernya ini bukan dari Farid?" Raksa menatap OB yang ada di hadapannya.


"Iya, eh..." mas Pay geplak mulutnya sendiri.


"Balikin aja sama yang ngirim. Bilang kalau saya nggak mau dikirim kayak ginian lagi," Raksa narik kursi dan mulai nyalain komputernya lagi.


Sedangkan di tempat lain.


Reno lagi ngikutin Melody. Dia mau kelarin hubungannya sama tuh cewek.


"Mau kemana dia? dia udah nggak tinggal di rumah mewah itu lagi" gumam Reno saat ngeliat Melody naik ojeg ke arah lain.


"Kenapa lo pake bohong segala sih, Mel? kalau lo bukan orang kaya kan gue juga nggak mutusin Kalin cepet-cepet!" gumam Reno.


Pemuda itu memperlambat laju kendaraannya saat ngeliat targetnya juga udah mulai masuk gang rumah.


"Ini ongkosnya! makasih ya," ucap Melody yang ngasih duit ke tukang ojek.


Sementara Reno, ngumpet dulu dan ngelongok lagi setelah si tukang ojek udah pergi.


Dia gas lagi motornya sampai di depan sebuah rumah yang kemungkinan Melody tinggal di rumah itu.


"Lo ngikutin gue?!" suara perempuan yang berdiri di belakang Reno.


Reno turun dari motornya dan menatap gadis itu, "Ya, karena ada yang harus gue omobgin sama lo,"


"Gu udah tau! kita putus!" ucap Meody dingin.


Sedangkan Reno diam twrpaku, dia nggak nyangka kalau Melody bakal langsung nembak dengan kata putus.


"Tunggu, tunggu!" Reno mencegah Melody yang mau pergi.


"Tarik ucapan lo!" lanjut Reno.


"Tarik apaan?" Melody nggak ngerti.


"Ya tarik ucapan lo tadi!"


"Yang kita putus?" Melody jadi kayak orang bego.


"Iya!"


"Buat apa? emang itu yang lo pengen kan? gue tau, gue bukan orang kaya dan nggak sederajat sama mantan pacar lo itu yang---"


"Karena gue yang mutusin lo bukan lo yang mutusin gue!" serobot Reno, dengan harga dirinya yang setinggi gunung.


"Dan gue harap, kita nggak usah berhubungan lagi!" lanjut pemuda itu.


Sedangkan Melody ketawa, dia bgerasa dunia ini begitu lucu baginya, "Jadi, maksudnya lo nggak terima kalau diputusin?konyol!"

__ADS_1


"Terserah lo aja kalau gitu!" ucap Melody, sebenernya dalam hati dia nggak mau putus dari Reno. Tapi dia udah terlanjur malu karena ketauan bohong.


"Udah kan? atau ada hal lain lagi!" Melody yang mencoba tangguh menatap mata Reno.


Tanpa sepatah kata, Reno naik motornya dan pergi ninggalin cewek yang kini berubah status jadi mantan.


Reno lumayan kacau, dia nggak habis pikir si Melody bisa ngomong putus dengan segampang itu.


Dan saat dia mau ngambil hapenya di tas, dia baru nyadar kalau dia belum buka hape sejak berangkat sekolah.


"Hape gue?!!" Reno mulai cek saku deoan belakang sekaligus tasnya. Raib!


Sementara Reno balik ke sekolahnya buat nyari tuh hape, bunda Lia yang ada di rumah mulai gelisah karena anaknya nggak kunjung pulang.


"Apa lagi pergi sama Raksa, ya?" Bunda beberapa kali ngeliat jam di dinding. Dia lagi baca buku di kamar nya.


Bunda turun dari ranjang dan keluar, dia pergi menuju kamar nya Kalin yang ada di lantai dua.


Tok!


Tok!


Tok!


"Kalin...?!" panggil bunda.


Nggak ada jawaban.


"Kalin bunda masuk ya?" seru bunda lagi.


Ceklek!


Bunda perlahan membuka pintu, dan kamar itu sepi. Rapi seperti belum tersentuh.


"Kalin...?!" bunda manggil sekali lagi sembari matanya menelisik setiap sudut kamar.


"Belum pulang..." bunda keluar dan menutup pintu kamar anaknya.


"Pak? pak Abdul?!" bunda keluar, ke garasi mobil.


"Iya, Bu!" pak Abdul nyaut dari dalem mobil, lagi ngelap-ngelap.


"Pak Abdul sudah jemput Kalin?" tanya bunda pada pak Abdul yang nutup pintu mobil.


Brakk!


"Kalinnya mana, Pak?!"


"Tadi pagi mbak Kalin bilang, saya jemputnya kalau mbak Kalin nelfon aja, Bu. Daritadi saya nunggu disini. Mobil udah di cuci, luar dalem tapi mbak Kalin belum nelfon-nelfon juga..." jelas pak Abdul.


"Pak Abdul jangan pulang dulu ya? nanti saya pastiin Kalin dulu. Anak itu kalau sudah main suka lupa waktu!" bunda merepet.


Bunda lantas menjauh, dia mencoba menghubungi anaknya. Tapi nggak dijawab.


"Astagaa, udah sore! kebiasaan nih Kalin," bunda terus menghubungi anaknya, tapi sama aja nggak ada jawaban.


Nggak hilang akal, bunda pun nelpon calon mantunya.


"Assalamualaikum, Raksa?"


"Waalaikumsalam, Tante..." sahut si calon mantu.


"Tante cuma mau tanya, tadi siang hapenya Kalin udah kamu anterin belum ya?"


"Sudah kok Tante, memangnya kenapa?" Raksa pun penasaran.


"Kalin sampai jam segini belum pulang ke rumah. Tante nelfon juga nggak diangkat,"


"Tadi terakhir sama Nova. Nanti saya tanya Nova dulu,"


"Perasaan tante nggak enak, Raksa. Tolong kamu cari Kalin ya? biasanya kalau dia pulang telat, dia pasti ngasih tau tante soalnya..." ucap bunda Lia.


"Ya, Tante. Nanti saya kabari lagi,"

__ADS_1


"Terima kasih ya, Raksa? asaalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" sahut Raksa, dan panggilan pun terputus.


Raksa ngeliatin jam di tangannya, bentar lagi jam oulang kantor yang itu artinya tuh bocil udah ngelayab lebih dari 3 jam.


"Kemanaaa lagi tuh bocil-bocil?!! ngelayab mulu kerjaannya!" Raksa menggerutu.


Dia pun berniat menghubungi Nova ☎.


"Halo, Nov?"


"Ya, Bang? kenapa?" Nova nyaut dari seberang telepon.


"Lo lagi dimana sekarang?"


"Dirumah, lagi disuruh ibuk ngulek sambel! kenapa?" Nova balik nanya.


"Kalin, ehm ... Kalin lagi sama lo nggak?"


"Ciyeeeee yang udah kangen?!!" Nova ngledekin abangnya.


"Ngulek yang bener, Nova?! jangan sambil telponan?!" suara ibuk.


"Lagi ditelpon sama abang, Buk!" sahut Nova.


"Mau apa dia?!" suara ibu nun jauh disana.


"Nanyain calon istrinya?!!" suara Nova melengking.


"APAAAA??!! GIMANA? SINI-SINI IBUK MAU NGOMONG! KAMU LANJUTIN AJA NGULEKNYA, BIAR KHUSYU!" suara ibu yang tadinya cuma sayup-sayup mendadak kedengeran deket banget dan bikin pengeng.


"Gimana, Sa?!" tanya bu Selvy.


"Gimana apanya, Buk?"


"Kamu nanya apa? mau tanya apa?" bu Selvy antusias.


"Tanya apa? cuma mau nanya, si Kalin ada disitu apa nggak, emaknya nyariin!"


"Jadi kamu nanya bukan karena kangen?!"


"Ehm, ya ... ya nggak, Bu!""


"Kok nggakk?!! harusnya iyaaa!!!" bu Selvy marah.


'Loh kok gue yang dimarahin?' batin Raksa.


"Intinya Kalin ada disitu apa nggak, Bu?" Raksa mengabaikan repetan ibu nya.


"Kamu harys kangen dulu baru ibu kasih tau!"


Raksa pening seketika, "Iya, aku kangen banget nih! pengen ketemu Kalin. Kalin nya ada di rumah kita yang sangat menyenangkan itu nggak, Bu?" Raksa dengan nasa tang dibuat seolah dia sangat merindukan kekasihnya.


"Nggak ada,"


"Maksudnya nggak ada?" pria uru jadi bingung sendiri.


"Kalin nggak ada disini! hmm, hmm kok bau! astagfirullah! udah dulu ya, Sa! sayur ibu kayaknya kering nih! NOVAAAA MATIIN KOMPORRRNYAAAAAA!! KAN IBU UDAH BILANG, SAMBIL DILIATIN SAYUR IBUUUHHK!" suara bu Selvy yang riweuh.


Dan tuuuuttt! tuuuuuuuutt


Panggilan telepon pun dimatikan sepihak oleh bu Selvy.


Sedangkan Raksa, ngeri debgan nasib Nova saat ini, "Pasti jidatnya kena centong melayang abis ini!"


Beberapa saat dia baru sadar, "Astaga! kalau si Kalin nggak ada di rumah gue? terus dia ada dimana? jangan-jangan...." matanya menajam seketika.


"Gue harus cari!" Raksa segera mematikan komputernya dan bangkit dari kursinya.


"Mau kemana lo?" tanya Siska.


"Gue ada perlu!" Raksa keburu kabur.

__ADS_1


__ADS_2