Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Di Dalam Syelanahhh


__ADS_3

Sebenernya Kalin pengen dateng ke rumah bundanya, pasti Om Bagus nginep disana dan banyak bawa oleh-oleh. Terakhir pas lebaran tahun kemarin aja, Om Bagus bawain macem-macem tuh ada syall ada tas, banyak banget yang dia bawa tapi hari ini dia diangrem sama suaminya buat nggak ketemu dulu sama Om Bagus. Biasalah masih cemburu.


"Pokoknya aku mau jalan sama Nova!" kata Kalin maksa.


"Sama aku juga?"


Kalin melirik sinis.


"Boleh, tapi kamu nunggu di parkiran ya, sayang! jangan ngekorin kita," ucap Kalin yang menyapu bedak tipis di wajahnya.


Namun tiba-tiba badannya di angkat Raksa, "Kalau gitu nggak boleh!"


Pria itu menghempaskan Kalin ke ranjang bersamaan dengan dirinya yang ikutan juga rebahan, udah kayak ikan asin yang dijejer di pasar.


"Kita mager aja!" ucapnya yang meluk Kalin posesif.


"Ya ampuuun! ini apaan siiih! Maaang? Mamaaaaang?!" rengek Kalin yang berusaha melepaskan diri dari suaminya.


"Udah deh, diem aja. Ntar kita nonton di kamar,"


kata Raksa yang enggan melepaskan Kalin yang kini awut-awutan kembali, padahal tadi dia sudah rapi.


"Nova udah nungguin di bawah!"


"Bodo amat!" Raksa memeluk Kalin dengan enaknya. Sedangkan Kalin sama sekali nggak bisa bergerak.


Tok tok tok!


"Lin? Kaliiiiinnnn!!"


Raksa segera bangun dan membuka pintu, "Kalin lagi sibuk. Jadi nggak bisa jalan-jalan hari ini!"


Brakk!!


Nova baru mangap, pintu udah ditutup lagi dan dikunci. Kuncinya Raksa taruh di celana bagian paling dalem disitu ada saku doraemon. tah eta pikir sendiri dimana itu kunci.


"MAMAAAAANGGGG!!" teriak Kalin yang melihat kunci meluncur dengan indahnya ke dalam kantong syelanah Zalamnya si Mamang eta.


Raksa dengan santainya rebahan di kasur dan nyalain tivi.


"Mas? buka pintunya?!" ucap Kalin.


"Pleaseeee," dia mengatupkan kedua tangannya memohon supaya diijinkan pergi. Ini juga perginya sama adinya Raksa sendiri, bukan oranglain.


"Ambil sendiri!"


Sedangkan Kalin memandang tempan penyimpanan kunci yangembuatnya menggelengkan kepala saat mengingat apa yang tersimpan disana.

__ADS_1


"Mau pergi, kan?" tanya Raksa.


Kalin nganguk, "Mau!"


Raksa mengambil nafas sejenak, sebelum mengambil kunci yang dia taruh di tempat terlarang, "Susah! ambil sendiri aja kalau mau!" ucap Raksa.


Senyum Kalin yang udah mengembang kini meredup kembali, dia layangkan tatapan sinis pada suaminya itu.


"Dasar gelo!" gumamnya yang beranjak dari ranjang lalu pergi membuka lemari.


"Mau kemana kamu, Yang?" Raksa yang dengan santainya rebahan dengan bantal empuk yang menyangga kepalanya.


"Mau ganti baju, puas?!!"


Karena saking keselnya, Kalin ganti begitu saja di dalam kamar. ya mau ganti dimana lagi, sedangkan di kamar itu nggak ada toilet. Mata Raksa langsung terbelalak.


"Apa liat-liat?!!" tanya Kalin yang sekarang pakai baju rumahan.


"Kalin, kamu itu jangan marah-marah nanti cepet tua!"


"Bodo amat!" ucap Kalin yang mengikat asal rambutnya.


"Kamu nggak inget? waktu di Manchester, kamu kan keukeuh nggak pengen diikuti, ternyata apa?" Raksa mengungkit acara summer camp yang gagal total, dan hampir membuat Kalin terjerat dalam bahaya.


"Ungkit terooooss!" Kalin ngegas. Dia mengambil hape dan segera menelepon Nova.


"Halo, Nov?"


Nova lalu mengalihkan ke panggilan video.


"Loh? kok masih begitu? ayo? mau pergi jam berapa? ntar gosong neh gue..." Nova mengibaskan tangan di wajahnya.


"Nggak jadi!"


"Lah kenapa? kan kita mau nyalon bareng, udah burik banget nih muka gue, nggak enak lah facial sendirian. Gabut banget, ngobrol sama siapa gue?"


"Kamu ajak Farid aja, Nov!" teriak Raksa yang otomatis kedengeran sama Nova.


"Farid gimana sih?" Nova ngedumel lagi.


"Emang kenapa sih lo tiba-tiba ngadat nggak bisa ikut? kata bang raks alo sibuk? sibuk apaan?"


"Noh sibuk ngurusin bayi tua!" Kalin mengarahkan  kameranya pada Raks ayang rebahan, anteng pegang remote tivi.


"Emang bang Raksa sakit? perasaan tadi seger buger aja tuh?! tadi kan dia yang bukain pintu. Nah itu masih kuat berdiri. Udah tinggal aja, ntar aku bilang sama ibuk minta tolongjagain abang!" kata Nova yang kemabli membujuk Kalin.


"Susah, Nov!" kalin menggelengkan kepalanya, dia nggak mungkin merogoh kunci di dalam sangkar ular piton.

__ADS_1


"Gue mendadak kliyengan nih! lo sama bang farid aja, ya? gue mau packing buat besok..." kata Kalin, dia udah pasrah.


"Ck! nggak setia kawan lo!" ucap nova.


"Udah abang transfer 500 ribu, buat jajan lo hari ini!"


"APAAAA BANG?" teriak Nova.


"UDAH ABANG TRANSFER 500 RIBU, CEK M-BANKING LO, NOVAA?!!" teriak Raksa.


"OKE OKE, BANG! MAKSIH,"


"Ya udah deh, Lin. Lo sibuk-sibuk aja sama abang gue! gue pergi sama bang Farid dulu ya, bye?" ucap Nova yang seketika menutup panggilan video callnya.


"Aeketika duit buat dia lupa sama gue!" gumam Kalin ngeliat hapenya sekarang udah mati.


Karena dia nggak bisa keluar ditambah Nova juga mungkin udah mencari partner buat ngemall, Kalin kini menggeret sebuah koper dan membukanya.


"Mau ngapain?" tanya Raksa.


"Packing!"


"Nanti aja. Lagian masih pagi,"


Tapi Kalin nggak dengerin Raksa, dia mending beresin baju-bajunya termasuk tas yang terakhir dia bawa saat dikejar orang.


"Nggak mau usaha ngambil kunci, Yang?" tanya Raksa.


"Nggak!"


"Kok, nggak sih?" Raksa masih rebahan sambil sesekali matanya melihat ke arah tivi.


"Ya nggak lah! ogah banget!" kata Kalin.


Raksa cuma bisa ketawa ngeliat wajah bete Kalin. Biasa dia juga ngijinin aja pergi sama Nova, tapi entah feelingnya mengatakan kalau istrinya harus di rumah. Dan kalau udah begini harusnya dia ngikutin apa kata hatinya, seperti waktu kejadian yang mereka alami dalam beberapa waktu terakhir.


'Maaf ya, Sayang! soalnya perasaanku nggak enak banget. Mending aku ngeliat kamu cemeberut gitu, daripada ngeliat kamu dalam bahaya!' kata Raksa dalam hatinya.


Kalin menyusun bajunya dan juga baju suaminya dalam satu koper, emang merrka nggak suka berlama-lama nunggu bagasi. Jadi Kalin hanya membawa apa yang perlu dibawa aja. Untuk survive di luar negeri negeri, Kalin dan Raksa sepakat buat meminimalisir pengeluaran yang nggak penting, dan untuk pekerjaan Raksa akan mencoba mencari yang dekat dan nggak perlu ninggalin Kalin terlalu lama.


Raksa ngeliatin Kalin yang sibuk milih baju mana yang akan dimasukkan dan mana yang akan ditinggal.


"Oh ya, sweater kayak gini mau dimasukkin atau nggak?" tanya Kalin.


"Masukin aja!"


Raksa kemudian melemparkan sebuah pertanyaan, "Sesampainya disana, kita akan cari rumah sewa baru yang lebih deket sama kampus kamu. Dan tang lingkungannya lebih aman,"

__ADS_1


"Sebenernya rumah sewa yang dulu aman, cuma kemarin kan emang ada orang yang disuruh, kan? menurutku sih nggak usah pindah, tapi kalau menurut kamu harus ya mau gimana lagi?" ucap Kalin.


"Ya udah, kita liat nanti!" ucap Raksa yang nggak mau egois.


__ADS_2