Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
takut


__ADS_3

Malam harinya...


Ini yang bikin riweuh. Kalin keukeuh nggak mau satu kamar dengan Raksa, sedangkan pria itu juga ogah tidur di sofa macam penjaga malam.


"Jangan terlalu kejam sama suami, Kalin!" seru Raksa yang menggedor pintu kamar.


Ceklek!


Raksa tersenyum senang, akhirnya wajah sang istri menyembul keluar.


"Gue udah ngantuk, udah capek habis bersih-bersih rumah,dapur, toilet---"


"Sama gue juga!" serobot Kalin.


"Ya udah, kalau gitu kita istirahat bareng!"


Ketika Raksa mau maju. Pintu segera ditutup/


Brakkk!!


"Kaliiiiin?!!!" teriak Raksa.


Ceklek!


"Jangan berisik, nanti digondol hansip, mau?!!" Kalin menaruh jarinya di bibir mungilnya.


"Ngawur! mana ada hansip disini. Suka ngada-ngada emang nih bocil?!"


Dan...


Brakkk!


Kalin menutup pintu lagi.


Sedangkan Raksa yang nggak dapet pintu kamar pun mau nggak mau ya nongkrong di depan tivi. Dia selonjoran di sofa, sambil mengganti channel yang menurutnya butuh subtittle.


"Niat mau nonton, malah harus mikir dulu!" ucapnya yang membiarkan tivi menyala, padahal tontonannya nggak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Pria itu ke belakang, dia merebus air buat bikin kopi.


"Kalau kayak gini, gue sama Kalin udah kayak the real suami istri. Tinggal sendiri, semuanya diurus sendiri. Cuma gue yang harus sabar banget ngadepin bocah ingusan yang jauh dibawah gue!" gumam Raksa.


Sedangkan Kalin yang juga masih belum tidur, merasa galau. Dia duduk sembari meloihat ke arah hapenya. Sudah jam 10 malam.


"Apa gue terlalu kejam ngebiarin dia tidur di luar hanya dengan bantal sofa?" gumam gadis itu.


Kemudian dia menggelengkan kepalanya, "Nggak, nggak! biar aja. Kalau disuruh masuk kesini, yang ada dia makin ngelunjak. Dia pikir dengan minta maaf aja cukup mengobati mata gue yang udah ternoda dari kecupan si mantan yang sama sekali nggak ada penolakan dari---"


"Arrghhh kan gue jadi mikirnya kesitu mulu! dasar tukang sosor!" lanjutnya memeluk bantal.


Sementara Raksa udah kembali dengan segelas kopi panas, dia mengambil roti kering yang dia beli saat di supermarket.


"Kayaknya mulai malam ini, gue bakal merindukan guling gue dan selimut tebal yang angetin badan gue!" ucap Raksa ngenes.


Dia nggak bisa nyalahin Kalin juga. Pernikahannya saat ini dilakukan tujuan utamanya supaya Kalin bis akuliah disini, dan itu berarti Raksa harus menjaga Kalin seutuhnya sampai nanti mereka akan kembali ke tanah air. Dan itu sangat sulit, apalagi pria dewasa seperti Raksa yang sudah pikirannya kemana-mana.

__ADS_1


Sluurrrpp!


Satu seruputan membuat lambungnya hangat.


Perlahan, Kalin membuka pintu kamarnya dan mengintip keluar. Dia mendengar suara acara tivi. Dan dari kejauhan dia juga bisa ngeliat kepala Raksa yang sebentar-sebentar menunduk.


"Hmmm, bau kopi!" gumam Kalin sembnari terus mengintip.


"Deuuh, pengeeen..." lanjutnya dengan wajah mengharap kopi panas yang akan menghangatkan perutnya.


Kalin lanjut menutup pintu. Dia balik lagi duduk di tempat tidurnya. Nuansa kamar biru ke abu-abuan menambah suasana yang sangat berbeda dengan kamarnya sewaktu di Indonesia.


Dia keinget sama ucapan suaminya yang bilang kalau bisa aja rumah itu berhantu.


"Hah, mana ada setan yang keluyuran di dunia yang serba canggih ini?!!" gumam Kalin.


Namun...


Wusshhh...


Seketika Kalin bisa mendengar hembusan angin di luar rumah.


Ada hawa lain yang Kalin rasakan. Dia langsung bangkit dan keluar kamar.


Brakk!!


Raksa dia memutar setengah badannya, dia melihat Kalin dengan wajah yang menyimpan kecemasan.


"Hem," Kalin hanya berdehem.


"Kenapa? takut?" Raksa mencoba ngeledek Kalin.


"Cih, siapa juga yang takut. Gue belum ngantuk, ternyata susah tidur kalau belum nonton tivi!" ucap Kalin yang meraih remote dan mulai mengganti channel.


Di luar sini lumayan dingin. Mereka belum beli alat penghangat ruangan.


"Shhh," Kalin menggerakkan kakinya, mengusir hawa dingin yang mendera badannya.


"Nonton lewat hape kan bisa. Udara makin malam makin dingin! ntar lo bisa masuk angin," Raksa ngingetin, padahal dia tau kalau Kalin saat ini sedang takut di kamar sendirian.


"Ehm, ya, nanti!" ucapnya sambil melipat tanfan di depan dada.


Sedangkan Raksa yang kopinya susah habia pun bergerak ke arah dapur dan mencucinya. Dia tau mata Kalin sedari tadi melirik ke arahnya.


"Akhirnya taktik gue berhasil juga!" Raksa bergumam lirih. Dia tersenyum penuh arti.


Pria itu masuk ke dalam kamar madni dan membuka yang cermin yang merangkap sebagai storage, dia mengambil sikat gigi yang tersimpan di sana lalu menutupnya lagi.


DSan saat dia menutup cermin itu lagi terlihat bayangan wajah Kalin.


"Astagaaa!" Raksa terkejut melihat wajah istrinya. Dia yang tadinya ingin mengerjai Kalin, sekarang malah jadi ekna batunya. Rasa memegang dadanya, jantungnya berdebar hebat.


"Astagaa, main nongol aja lo, Cil?" raksa protes dengan kemunculan istrinya.


"Gue juga mau sikat gigi!" ucapnya, padahal dia takut nunggu di sofa sendirian.

__ADS_1


"Bukannya tadi udah sikat gigi?"


"Oh iya?" Kalin pura-pura lupa.


"Oh gitu ya. Tapi udah tanggung pegang sikat gigi!" Kalin cuek aja, dia sikat gigi dengan nyaman, mengikuti tempo Raksa. Biar selesainya bareng.


Begitu Raksa kelar, Kalin juga buru-buru ngelarin sikat giginya.


Raksa ngerem mendadak dan ..


Bugh!


Gadis itu menabrak punggung Raksa.


"Ya ampun, kalau mau berhenti bilang dulu, kek!" protes Kalin.


"Bukannya kamar ada di sebelah sana? kenapa lo ngikutin gue? kenapa? kangen sama gue?" tanya raksa.


"Dih, ogah banget! nggak ada, nggak ada gue kangen, ya?" kalin mengelak dengan tuduhan Raksa.


"Ya udah masuk ke dalem kamar! ngapain lo ngikut ke ruang tivi juga?" tanya Raksa sengaja mancing.


"Kan gue bilang gue belum ngantuk dan gue pengen nonton tivi!"


"Oh ya udah! lo yang nonton tivi gue yang tidur di kamar! kalau udah nggak ditonton jangan lupa matiin, ya?!" suruh Raksa.


"Ya ampun, kenapa jadi dia yang mengusai kamar gue? ini nggak bisa dibiarin!" ucap Kalin yang setelah mematikan tivi dia ikutan masuk ke kamar.


"Ini kan kamar gue!" Kalin mulai ngajak Raksa berdebat.


"Kan lo tadi mau nonton dulu?! ya udah gantian aja, lin! nanti kalau lo udah selesai nonton, ntar gue pindah..." ucap Raksa, namun siapa sangka kalau gadis kecil itu kini menyerobot masuk.


"Nggak bisa ! ini kamar gue, ntar lo kuasai lagi!" ucap Kalin yang lebih dulu masuk ke dalam selimut, dia memposisikan badannya buat tidur.


Sedangkan Raksa cuma ketawa doang ngeliat kelakuan aneh istri kecilnya.


"Halah, ngomong aja lo pengen ditemenin! kebanyakan alasan lo, Bocil!" ucap Raks ayang kini ikutan masuk ke dalam selimut.


"Dih siapa juga yang mau ditemenin?"


"Ya udah kalau gitu! gue nggak apa-apa kok tidur di luar!


"Eh jangan! maksud gue, lo bisa tidur asal jangan melewati batas!" Kalin yang menyekat jarak diantara keduanya dengan sebuah guling.


"Eh!" pekik kalin saat dirinya merasa kalau kedua tangan suaminya itu malah memeluk dirinya dari belakang.


"Ih kan gue bilang jangan melewati batas!" Kalin protes lagi.


"Udah jangan ngomel mulu, Cil! gue ngantuk berat, nih!" ucap Raksa yang entah sengaja atau nggak, tangannya masuk ke dalam baju Kalin dan bersentuhan dengan kulit perut gadis itu.


Deg deg deg!


Jantung Raksa berdebar. Berikut dengan bangunnya sesuatu yang harusnya tetap tidur dan bersembunyi di tempatnya.


"Astagaa, gadis ini bikin gue hilang kendali!" Raks mencoba mengusai pikirannya, dia mencoba membuang jauh-jauh pikiran aneh. saat ini dia hanya ingin memeluk Kalin, dan tidur dengan nyaman, ucapnya dalam bawah sadarnya.

__ADS_1


__ADS_2