
Siang itu Kalin masih jalan-jalan sama Nova, dan terpantau masih aman. Raksa pun hanya berpesan supaya pulang jangan kesorean. Namun entah kenapa, hatinya merasa gelisah.
"Kenapa, ya? padahal kan Kalin lagi sama Nova, tapi hati gue kayak nggak enak kayak gini! nggak mungkin kan gue udah kangen? kan barusan baru ketemu sama tuh dakochan?" gumam Raksa.
Sampai akhirnya dia ngeliat dari ruangan tembus pandangnya, mantannya itu berjalan menuju meja kerjanya.
"Haiishhh, ini jam berapa? kenapa dia baru dateng?!" Raksa melihat jam di tangannya yang menujukkan pukul 3 sore. Raksa mau berdiri tapi nggak jadi.
"Udahlah biarin! gue nggak mau ada urusan sama dia," ucap Raksa.
Dia menutup kaca tembus pandang itu dengan tirai yang dipencet dari remot yang digenggamnya.
"Ternyata jadi atasan lebih pusing!" gumamnya.
Dia mencoba menutup matanya sesaat, remot dia taruh di meja dan mulai menyandarkan punggungnya yang tegang. Dia merasa sedikit nyaman dengan posisinya saat ini.
Dan entah sejak kapan, Raksa merasakan sebuah pijatan di pelipis dan keningnya. Dia merasakan semua titik yang dipijat, kini membuatnya rileks, terutama di bagian alis. Dia sangat suka ketika bagian itu yang dipijat, matanya yang lelah sekarang menjadi lebih segar.
"Tapi tunggu! emang gue lagi dimana?" mata Raksa pun terbuka.
Matanya melihat mata mantannya.
"Rahmi? ng-ngapain kamu disini?" tanya Raksa, dia kaget melihat mantannya yang berada sangat dekat dengan dirinya.
"Kamu?" gumam Rahmi. Hatinya merasa senang saat mendengar kata kamu dari bibir Raksa.
'Kamu nggak bisa bohongin hati kamu Raksa. Kalau kamu sebenernya masih cinta sama aku!' batin Rahmi, dia tersenyum menatap wajah bangun tidur Raksa.
Raksa memperbaiki posisi duduknya.
Namun bahunya ditahan Rahmi, "Rileks aja, Sa! aku tau kalau kamu lagi tegang banget," ucapnya.
"Kamu salah paham! ehm," Raksa segera menyingkirkan tangan Rahmi.
Tapi gerakan itu justru dimanfaatkan Rahmi untuk mencium Raksa. Mata Raksa membulat dengan apa yang dilakukan mantannya itu. Tanpa sadar, dia membalasnya. Namun Raksa segera menahan dirinya.
Dia segera melepaskan Rahmi, "Jangan lakukan itu lagi! sekarang lebih baik kamu keluar Rahmi!" Pria itu mendorong kursi beroda nya dengan punggung. Dia segera beranjak dan menjaga jarak dengan Rahmi.
"Kenapa? kenapa kamu berubah, Sa?" tanya Rahmi dia berbalik menatap Raksa.
"Aku? astaga, kamu sadar dengan pertanyaan kamu itu, Rahmi?"
"Aku mau kita bisa---"
"Ngga bisa!" ucap Raksa.
"Kita perbaiki semuanya, aku yakin kamu masih cinta sama aku. Aku mau kita balikan lagi, Sa! aku bisa keluar dari perusahaan ini kalau kamu mau. Kita wujudkan pernikahan kita, Raksa..." Rahmi mendekat.
Raksa menunjukkan jari telujuknya, "Tetap di tempatmu, Rahmi!"
"Kenapa?"
"Karena aku udah nggak cinta sama kamu! aku udah milik orang lain!"
"Milik siapa? nyatanya kamu membalas ciumanku tadi, itu tandanya kamu masih cinta sama aku, Sa! meskipun bibir kamu menolak, tapi nyatanya hati kamu masih milikku," Rahmi menangis, dia mendekat dan menunjuk dada Raksa.
Dia memukul dada pria itu, "Aku nggak peduli dengan pertunanganku atau pertunanganmu! aku hanya ingin kita bersama!" Air mata mengalir di kedua pipi Rahmi.
Raksa memeluk mantannya itu, dia mengusap punggung Rahmi, "Kamu udah terlambat, Mi! mungkin kalau kamu bilang saat aku menginginkan kita buat bersama, mungkin aku akan sangat bahagia mendengar kamu mau menerima aku. Hidup bersamaku. Tapi keadaannya sekarang sudah berubah, hatiku sekarang bukan milik kamu lagi..."
"Inget, kamu yang mencampakkan aku, Rahmi! dan aekarang kamu menginginka aeseorang yang kamu buang?"
"Ini nggaka seperti yang kamu kira, ternyata ada banyak kesalahhpahaman dan aku memang salah jadi---"
"Aku berharap kamu bisa menerima ini!" Raksa memotong ucapan Rahmi.
Dia memberi usapan di punggung Rahmi sebelum dia melepaskan pelukannya, "Tolong biarkan aku bahagia, Mi..."
"Aku udah punya tunangan dan aku sangat mencintai dia," kata Raksa yang kemudian mengambil tasnya dan keluar dari ruangan.
Rahmi yang melihat Raksa keluar pun hanya bisa tersenyum kecut, "Tapi nggak semudah itu, kamu mencampakkan aku, Sa! kalau aku nggak bisa bikin kamu ninggalin cewek itu, aku akan buat dia yang meninggalkan kamu!" ucapnya dengan penuh dendam.
__ADS_1
Sedangkan Raksa mengusap bibirnya, dia pergi meninggalkan kantor yang udah sepi. Bahkan beberapa lampu sudah dipadamkan.
"Oh ya, lebih baik gue nengokin Farid!" ucapnya sembari mempercepat langkah.
Sedangkan Rahmi yang ditinggalkan begitu saja, berjalan gontai dengan benda yang di genggamnya erat, "Gue nggak akan mundur! gue mau menebus semua yang udah gue lakuin sama lo, Sa! gue bakal balikin hari-hari bahagia kita..."
Sementara di sisi lain. Kalin nggak bersemangat seperti biasanya. Nova curiga kalau ini ada hubungannya dengan si pemilik mobil merah.
"Ada yang lagi lo pikirin?" tanya Nova dengen crepes super gede di tangannya.
Kalin mencuil crepes rasa cokelat yang ada di tangan Nova, "Nggak ada, Nov!"
"Jangan bohong! muka lo tuh kayak orang tertekan. Ada apaan? cerita sama gue," kata Nova yang berhenti mendadak. Dia menyandarkan tangannya di pegangan besi, matanya melihat ke area mall yang luas.
Kalin kembali mencuil cemilan yangereka beli untuk berdua, "Gue cuma khawatir tentang sesuatu,"
"Abang gue jangan lo khawatirin!"
"Ini bukan tentang abang lo!"
"Udah nggak usah ngeles! gue tau lo itu lagi mikirin abang gue mulu daritadi! emang ada apaan? ada hal yang terjadi hari ini? kenapa abang gue muter mulu di pikiran seorang Kalin?" Nova merepet.
"Seandainya ada orang dimasa laku abang lo yang dateng lagi?"
"Siapa?" Nova nengok ke arah Kalin.
Kalin pun berbalik, dia memunggungi pagar yang terbuat dari kaca dan besi yang setinggi dada orang dewasa.
"Siapa?" tanya Nova lagi.
Kalin menggeleng, "Gue nggak tau! gue cuma bicara seandainya!"
'Tapi mata lo itu, nggak lagi bicara seandainya, Lin! tenang aja, gue nggak bakalan perempuan mana pun bikin lo batal jadi ipar gue!' batin Nova.
"Seandainya ada orang di kehidupan dia atau di kehidupan gue yang dateng lalu mengubah semuanya!"
"Kita libas aja! apalagi kalau itu mantannya abang gue!"
"Emang abang lo punya berapa mantan?"
"Sebanyak itu?" tanya Kalin, karena Nova nggak selese juga ngitungnya.
"Ada 5 kalau nggak salah!"
"Buseeettt?!!"
"Lo kaget, kan? apalagi gue? gue aja baru tau setelah menyelidiki abang gue sendiri! tapi setau gue, semuanya uda kelar kok!" jelas Nova.
"Yakin udah kelar?" Kalin memastikan.
"Ya yakin kecuali..."
"Kecuali apa?" Kalin penasaran.
"Ya kecuali tuh cewek yang ngejar abang gue! namanya orang kan nggak bisa diprediksi!" ucap Nova.
"Aiishhh, abang gue udah pacaran 5 kali! sementara gue? sampai lulus SMA, gue masih aja ngejomblo! ck, emang hidup suka nggak adil!" kata Nova.
Sedangkan Kalin masih aja mikir.
"Udah, tenang aja! cewek mana yang berusaha ngerusak hubungan lo sama abang? kita lawan bareng-bareng, oke?!" Nova merangkul sahabatnya itu, mereka pergi dari sana.
"Cari minum, yuk? haus, gue!" ucap Nova.
Sementara di tempat lain. Farid yang masih sakit, merasa terkejut karena dijenguk Raksa.
"Sakit lo?" tanya Raksa saat melihat Farid yang datang dengan celana pendek dan wajah lusuhnya.
"Ya gitu, lah!" Farid ngusek kepalanya.
"Lo baru pulang kantor?" tanya Farid yang melihat jam udah menunjukkan 6 petang.
__ADS_1
"Iya,"
"Mentang-mentang sedivisi sama mantan, pulangnya langsung molor!" Farid naik turunin alisnya.
"Gue kasih obat pencahar, biar lo mules terus, mau?!" ancam Raksa.
"Sensian banget nih pak Raksa!" ledek Farid.
"Lagi sakit, masih aja suka bikin emosi orang! heran gue!"
Padahal Farid cuma mau liat reaksi Raksa kalau disindir soal mantan.
"Nih buat lo!" Raksa ngasih satu parcel buah.
"Tengkyu! padahal nggak usah repot-repot, cukup bawain gue duit segepok. Ya lumayan buat bantu cicilan mobil gue, dompet gue sekarat, Bro!"
Raksa pun narik satu sudut bibirnya, "Ogah, banget!
Farud pun ketawa sambil sesekali pegang perutnya, takut cepirit di celana.
"Rid?" panggil Raksa.
"Apaan?"
"Bantuin gue urus Visa!" ucap Raksa.
"Mau kemaneee lo? belum juga nikah udah bulan madu aja!"
"Gue mau ke lnggris!" sahut Raksa.
"Bhuahahahah, bahasa inggris lo aja yes no yes no! pake acara ke Inggris segala!"
"Sembarangan! itu mah lo kali!"
Duuttt!
Farid kelepasan kentut, "Sorry, sorry, kelepasan! mules perut gue!"
"Brengs-sek! bau banget lagi!" Raksa menutup hidungnya.
Setelah bau laknat itu mereda, barulah dia lanjut ngomong, "Gue nggak bercanda! gue bakal pergi ke Inggris bareng Kalin setelah gue resmi nikah sama dia dalam waktu dekat ini! gue nenin dia yang mau kuliah disana,"
"Seriusss, lo???" Farid menganga, dia nggak percaya.
"Serius lah! ngapain gue kesini cuma buat kasih prank buat lo?"
Percakapan mereka berhenti saat ibu Farid datang buat nyediain minum.
"Ada temen dateng bukannya dibuatin minum dulu, malah ngobrol!" ibu Farid nyeletuk.
"Hehehe, kan aku lagi sakit, Bu! nggak kuat bikinin minum!" Faris alesan.
"Silakan diminum, Nak!" ucap ibu Farid yang kemudian ke dalam lagi.
"Terima kasih, Bu!" ucap Raksa. Dia minum buat meredakan rasa hausnya.
"Gimana gimana? lo bakal cabut dari negeri kita yang tercinta ini buat ngikutin tunangan lo kuliah?" tanya Farid.
Raksa mengangguk, "Makanya lo bantuin gue!"
"Lah kerjaan lo gimana? mau lo tinggalin gitu aja?"
"Ya apa boleh buat?!"
"Bener-bener cinta itu buta, yaaa?!!" Farid geleng-geleng.
Pria itu lalu mendekat, memajukan badannya, "Kalau lo jadi pergi, bolehlah posisi lo lempar ke gue! ntar gue bantuin deh, sampai selese tuh visa!"
"Yeeuuuh, temen macam apa lo? bantuin kalau ada maunya doang!"
"Ck, ya namanya aja usaha!"
__ADS_1
"Ya udah, tapi lo tolong bantuin gue! dan jangan sampe Rahmi tau masalah ini, gue nggak mau ada masalah sebelum gue berangkat! ucap Raksa.
"Bereees, bosss!!" ucap Farid.