
"Ah, maksud saya untuk dua porsi!" ralat si pelayan yang keliatan wajahnya aja udah pucet.
"Maaf, maaf..." dia langsung minta maaf pada Raksa.
"Untung jantung saya nggak kenapa-napa loh, Mas! mas nya suka bikin saya shock nih! ngawur!" Raksa mengelus dadanya sendiri.
"Maklum aja, Mas. Udah tua makanya kagetan, maafin yah?" Kalin yang bikin Raksa tambah jengkel dikatain udah tua.
"Saya mau ketemu sama mas Dendi, ntar salah porsi lagi! mas nya tolong panggilin, saya tunggu disini," Raksa minta pelayan tadi buat manggilin manager resto yang kemarin udah deal-deal an konsep.
"Ehm, iya, pak!" kata si pelayan sopan.
"Awas, jangan bikin orang dipecat gara-gara komplenan kita ya?" Kalin ngingetin Raksa.
Seketika Raksa menutup matanya sebentar, mencoba menyabarkan diri.
"Gue nggak sejahat itu kali! gue cuma mastiin pesanan kita sesuai, karena hubungannya sama pembayaran, Kalin! lo bayangin aja kalau beneran dia salah denger dan nyiapin 100 porsi? kita mau bayar pakai apa? gue rasa saldo pak Tomi bisa jebol seketika," kata Raksa.
"Selamat malam, Pak!" ucap pak Dendi yang kemarin ketemuan sama Raksa.
"Selamat malam, maaf tadi saya ada meeting jadi membuat anda menunggu. bagaimana? sudah sesuai atau belum?"
"Begini, Pak. Ini saya pesan kan untuk satu meja yang artinya cuma untuk dua orang. tapi tadi staff bapak bilang untuk seratus orang, saya kaget. Jadi saya ingin ketemu buat mastiin lagi kalau kita pesan candle light dinner untuk dua orang," Raksa tanpa basa-basi.
"Iya?" pak Dendi melirik kedua orang di depannya secara bergantian.
"Eh, ya! tenang saja, pak! menu yang keluar sesuai dengan pesanan, jadi pak Raksa tidak perlu khawatir,"
"Huuufhh, begitu, ya?" Raksa mengusap dadanya, dia merasa lega.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi," Raksa kemudian bangkit dari kursinya dan mengajak Kalin pergi.
"Kita nggak nungguin gitu?"
"Ngapain? kan gue cuma disuruh mesenin candle light dinner, bukan nungguin orang makan malam romantis?! lagian cincin yang kemarin kan udah gue kasihin sama pak Tomi," ucap Raksa.
"Ya bener juga sih," Kalin menggaruk kepalanya, dia dibawa pergi Raksa.
__ADS_1
Sesampainya di parkiran, Raksa nelpon pak tomi buat bilang kalau tugasnya udah selesai dan dia mau pulang.
"Loh kok pulang?" tanya pak Tomi di seberang telepon.
"Ya kan tugas saya sudah selesai, ini juga sudah malam. Kan kemarin bapak nyuruhnya begitu," Raksa ngeliat ke arah Kalin.
Kalin yang kepo pun terus mencoba menguping, apa yang dibicarakan Raksa dengan bosnya.
"Nggak, nggak! kamu harus disana, kalau ada sesuatu yang nggak sesuai gimana? yang ada istri saya bukannya seneng malah ngambek-ngambek!" kata pak Tomi.
"Kalau sudah kondusif, baru deh kamu boleh pulang," lanjut pak Tomi.
"Aduh gimana ya, Pak?" Raksa garuk kepala, dia menimbang-nimbang,
"Besok kamu boleh libur!"
"Bukan masalah itu, tapi---"
"Kamu ini susah sekali membantu orang, Raksa?! nanti modal nongkrong kamu saya bayarin, sudah kamu pesan minuman atau cemilan suka-suka kamu, nanti masuk ke tagihan saya!" pak Tomi maksa.
"Iya, pak!"
"Kenapa?"
"Pak Tomi minta gue, nungguin sampai acara makan malam itu berjalan sesuai rencana dia," kata Raksa.
"Oh," Kalin lalu pergi.
Namun dengan secepat kilat, raksa menangkap batok kepala gadis itu, "Mau kemana lo?"
"Pulang lah, kan gue udah selesai bantuinnya!" Kalin berhenti lalu menengok dengan raut wajah sinisnya.
"Nggak bisa! nanti apa kata tante Lia kalau tau lo balik ke rumah sendirian?"
"Lo kan ijin pergi sama gue, jadi pulangnya juga gue yang harus nganterin!" lanjut Raksa.
"Sekarang kita masuk lagi!" ajak Raksa.
__ADS_1
Tapi baru juga mereka mau masuk tiba-tiba Raksa denger suara yang sangat familiar.
"Telfon aja anaknya!" kata wanita itu.
Raksa semakin menajamkan pendengarannya, "Kayak suara ibu?"
"Nggak mungkin nggak mungkin! ngapain juga ibu kesini?" gumam Raksa.
"Kenapa? ada apaan?" Kalin ikutan penasaran.
Dengan tangan yang bergandengan, kayak orang mau nyebrang, Raksa membawa Kalin mendekat ke arah suara yang mirip dengan ibunya.
"Ibuuuk?" Raksa melebarkan matanya, dia ngeliat ibunya pakai baju macam orang mau kondangan.
Ibunya berdiri di samping mobil milik keluarga Raksa. dan kemudian munculah bapak nya Raksa yang menghampiri istrinya bersamaan dengan Nova.
"Ngapain kalian kesini? habis kondangan?" tanya Raksa dengan wajah bingung tapi tangan mah teteup otomatis nyalamin kedua orangtuanya.
"Tante .. Om..." Kalin ikutan salaman, tempelin dah tuh punggung tangan calon mertua di jidatnya.
"Wah, nggak nyangka ya ketemu disini. kayak gini dong, jalan berdua, kan jadi bisa tumbuh kembang-kembang cinta!" kata bu Selvy.
"Ya ampuun, Ibuuukkk!" Raksa menanggapi ucapan ibunya.
"Ehm, mumpung kalian disini. Kaliann, ehm ... ikut ibu yaaaa?" Bu Selvy narik Kalin dan Raksa. Mereka berdua dimasukin ke dalam mobil.
"Ayo, Pak! sesuai rencana!" kata bu Selvy cepat, sedangkan Nova langsung buka pintu bagian depan dan duduk anteng disana.
Sedangkan Raksa harus umpel-umpelan sama Kalin plus ibunya sendiri di jok mobil belakang.
"Buuukk? kita mau dibawa kemana?" tanya raksa.
"Udaaah, nurut ajah! demi kebaikan kalian!" kata bu Selvy.
"Jalan, pak!" bu Selvy nyuruh suaminya supaya gaspol itu mobil ke tempatr tujuan mereka.
"Buuuk, Buuuk! Raksa tapi ada kerjaaan, Buuuk!" Raksa mencoba buat keluar.
__ADS_1
"JANGAN MEMBANTAH! DOSA HUKUMNYA!" kata bu Selvy yang membungkam mulut Raksa.