Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Ditilang Lagi


__ADS_3

Raksa uget-uget, "Kaliiin!" teriaknya sambil melepaskan tangan Kalin yang melingkar di perutnya.


Bukan karena anti dipeluk, tapi tangan Kalin terlalu erat memeluknya dan posisi tangan Kalin yang hampir mengenai daerah perbatasan dimana penyimpanan senjata pamungkas berada.


Sedangkan rambut Kalin berterbangan nggak jelas.


Dan dari spion keluatan ada sepeda motor yang mengejarnya.


"Masa iya mau ditilang lagi?" Raksa bergumam.


"Maaf, Pak. Mari kita main kejar-kejaran dulu! pekerjaan saya dipertaruhkan disini!" ucap Raksa lagi, sementara Kalin teriakan lagi.


Padahal dia sendiri yang minta kebut-kebutan tadi pagi, dan giliran sekarang dikebut malah tereakan kayak orang yang lagi naik halilintar.


"Ommmm, pelanin motorrrrrnyaaaaahhh!" mulut Kalin yang terbuka mendadak kemasukan angin.


"Dasar bocah labil!" Raksa tetep fokus ke depan. Sementara dia masih bisa ngerasain hapenya getar terus di saku jaket bagian dalam.


"Pasti pak Tomi nih! astaaaagaa, andai aja tadi pagi aku nggak ketemu nih bocaaaahhh! nggak bakal kayak gini nih kejadiannya. Sial bertubi-tubi!" Raksa ngedumel mulu sepanjang perjalanan menuju kantornya.


Ntttiiiinnn!


Ntiiiiiinnn!


Motor di belakangnya beberapa kalu nge-klakson. Tapi Raksa nggak peduli, dia tarik terus gas di tangannya.


"Sorry, kerjaan gue lebih penting!" Raksa sesekali ngeliat kaca spionnya.


"L-laaaaampuuuu meraaaaaaahhh!" teriak Kalin.


"Brisikkk!" Raksa setengah berteriak.


"Wong edyaaaaannnn!" Kalin geleng kepala karena Raksa yang sama sekali nggak menurunkan kecepatannya, Kalin memeluk erat pria itu sambil sesekali nyingkirin rambutnya yang kadang nutupin mata


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Kalin berdegub kencang saat menghitung waktu mundur menuju lampu yang menyuruh semua pengendara berhenti.


Tapi mata tajam Raksa melihat ke arah papan angka, "Tigaaa, duaaa, satu!"


Ting!


Lampu koneng dan...


Wuuuuuzzhhhhh!


Motor Raksa melaju meninggalkan motor pakpol yang kini mengontek temannya yang lain buat ngejar Raksa, seorang pengendara yang melanggar aturan lalu lintas.


Nttiiiiin!


Ntiiinnn!


"Astagaaaa, kagak pengertian banget sumpeh!" keluh Raksa. Dia ngeliat speedometernya sekilas, buat mastiin berapa kecepatannya saat ini.


"Bentar lagi, bentar lagi nyampe!" gumamnya yang mukai menurunkan tarikan gasnya.


Raksa pun membelokkan motornya, sementara Kalin terus aja meluk kenceng.


Sreeeeeetttt!!


Cyiiiiiiiiiiittt!


Raksa seketika ngerem mendadak, sampai Kalin rasanya hampir kebanting ke depan, saking pakemnya tuh rem motor.

__ADS_1


"Oooooommm!" teriak Kalin.


"Astaghfirllah, ya ampuuun!!!! hampir aja jatuuuh!" Kalin dengan napas yang terengah-engah.


"Turun!" suruh Raksa.


Kalin yang masih shock ditambah napasnya yang masih ngap-ngapan pun nurut aja.


Pas Raksa nengok ke belakang, "Astaghfirullaaaaaaaahhh!"


Kalin dengan rambut seperti singa membuat Raksa terkejut, pria itu mengusap dadanya kaget.


"Benerin! tuh rambut!" Raksa nunjuk kepala Kalin.


"Gue masuk, ntar gue balik lagi! jangan kemana-mana, awassss!!!!" Raksa yang parkir di halaman depan, deket pohon.


Baru juga Kalin mau mangap, Raksa udah lari masyk ke dalam sebuah gedung pencakar langit.


"Paaaak, saya parkir di depan! disana ada adek saya! tolong awasin ya, Pak! takut diambil orang!" Raksa ngomong cepet sama pak Satpam.


Sedangkan pria bertubuh tinggi itu lari masuk ke dalam lift yang baru aja terbuka.


Ting!


Pintu lift pun tertutup.


Klikk!


Raksa menekan tombol angka.


"Sorry!" ucap Raksa dengan napas yang ngos-ngosan.


"Raksa? lo kenapa?" suara Rahmi.


"Eh?" Raksa nengok ke samping dan baru nyadar kalau orang yang naik lift bareng dia sang mantan terindah.


"Ehmm, gue----"


Ting!


"Kenapa dia?" gumam Rahmi yang ngeliatin Raksa sebelum kedua sisi pintu besi itu menutup dengan sempurna.


Raksa menepis beberapa kemungkinan yang bakal merusak citranya sebagai cowok xool menjadi cowok grusa-grusu gara-gara file bahan meeting yang lupa dia kasihkan sama pak Tomi tempo hari.


"Sa, lo daritadi dicariin sama pak Tomi!" ucap salah satu temen cewek yang satu divisi sama dia.


"Ya, bilang gue udah dateng gitu! nih gue lagi ngopy-in file!" kata Raksa dan pas ngelongok, ternyata tuh orang udah pergi, ninggalin Raksa sendirian.


"Kuyang dasar! baru juga gue mau nitip, udah kabur duluan!" Raksa buka pc nya dan langsung klak klik mencari file yang dia simpen disana.


Pria itu sat set mindahin file, dan nyabut flasdisnya lagi.


"Disaat gentong kayak gini, Farid nongol aja nggak!" Raksa matiin komputernya dan lari lagi menuju ruang meeting.


Tap!


Tap!


Tap!


Raksa lari, ada satu ruangan yang ditujunya.


Dan pas di depan, Raksa mengatur nafasnya supaya jangan kayak orang yang habis dikejar guk-guk.


Tok!


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tangannya mencoba menyentuh handle pintu yang dingin.


Ceklek!


Semua orang yang hadir disana memberikan tatapannya pada Raksa.


"Maaf, mengganggu!" ucap Raksa.


"Cepat kemari!" pak Tomi bicara pelan dengan penuh tekanan, rasanya dia ingin mencekek Raksa karena gampir membuatnya ditendang dari jabatannya saat ini. Raksa langsung menghampiri paj Tomi yang udah pucet mukanya, udah pasti dia abis kena tegur.


"Maaf, Pak!" ucap Raksa.


"Cepat buka filenya!"


"I-iya, Pak iyaa..." Raksa dengan secepat kilat memindahkan file itu dan menampilkannya di leptop pak Tomi.


"Ehem!" suara direktur membuat perdebatan diantara Raksa dan pak Tomi pun berhenti.


"Sudah, Pak!" ucap Rajsa saat berhasil membuka filr-file yang dibutuhkan.


"Ya sudah, kamu boleh pergi!" bisik pak Tomi.


"Lain kali kalau mau ijin jangan mendadak begini! Ingat, besok kamu harus menghadap saya!" lanjutnya.


"Ehemmm?!!" pak direktur berdehem lagi.


Raksa melirik sekilas, dan mengangguk pada pak Tomi, "Siap, Pak!"


Raksa memandang ke arah Farid yang naikin kedua alisnya, mempertanyakan kenapa Raksa datang dengan keadaan yang lumayan kacau.


Pria itu hanya menggeleng dan pergi dari ruangan itu.


Dan ketika Raksa berhasil keluar, dia ngerasa lututnya lemes. dia mengusek rambutnya, "Untung aja! semoga pak Tomi nggak kasih gue surat peringatan kedua!"


Raksa kemudian pergi darisana dengan perasaan dongkol, "Kalau aja gue nggak ketemu sama bocah setan itu, pasti hari ini gue bisa nunjukin kinerja gue yang makin membaik. Ini bukannya naik, malah nyungsruk!"


Pria itu berjalan gontai menuju kotak besi, ide-ide yang udah ada di otak semuanya ambyar.


Bukannya dapet pujian karena kemaren sempet lembur di hari libur, Raksa malah dapet peringatan buat ngadep ke manager.


Ting!


Raksa yang melongo bae daritadi di dalam lift pun keluar saat udah sampai di lantai lobby.


"Loh, mas Raksa keluar lagi?" tanya pak Satpam.


"Iya, Pak!" senyum seadanya.


Dan pas liat ke arah luar, matanya menajam, "Dikejar sampai sini jugaaaa? tapi kok malah ketawa-tawa?" Alis Raksa keangkat satu.


"Waaah, nggak bener nih!" Raksa pun melangkahkan kakinya lagi menuju motornya yang diparkirin.


"Kalin!" panggil Raksa.


"Eh, Om!" sahut Kalin saat menyadari kehadiran pria dengan kemeja slim fit nya.


"Jadi dia Om kamu?" tanya orang yang berseragam cokelat.


"Om? sejak kapan gue---"


"Maaf, Om saya emang suka begitu!agak-agak suka lupa kalau saya ini keponakannya.


Raksa yang ditutup mulutnya berusaha membuka bekapan dari Kalin, "Hey!"


"Maaf, pak Raksa! lain kali jangan kebut-kebutan di jalan. Itu sabgat membahayakan, apalagi membawa adik kecil seimut ini. Kalau jatuh kan eman-eman!"

__ADS_1


"Karena anda sudah melanggar lalu lintas, jadi anda kami tilang!" ucap pria yang palingan juga seumuran sama Raksa.


"Loh, pak? kok ditilaaaanggg?" Kalin melepaskan bekepannya dan memandang memelas pada pria berseragam.


__ADS_2