Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Kenapa Kurus?


__ADS_3

Paginya. Di Villa ke datangan ibu dan bapaknya Raksa. bu Selvy langsung meluk anaknya yang mukanya udah babak belur.


"Ya ampun anak ibu?!! ini kenapa muka bonyok begini?" tanya bu Selvy, yang pagi-pagi udah nyampe di Villa. Jadi begitu pak Hendra nyampe rumah dan cerita kejadian yang sebenernya. Dia panik dan minta buru-buru pak Hendra nganterin dia ke Villa.


Dan udah bisa dipastikan sekarang pak Hendra ngantuk berat, dia langsung duduk dan rebahan di sofa tengah begitu aja, sedangkan istrinya lagi meluk-meluk anak sulungnya sambil ngeliatin luka-luka di wajahnya yang meskipun udah ketutup tapi masih bisa keliatan kalau mukanya ini ada biru-birunya.


"Ya Allah, ini kenapa bisa bonyok kayak gini?"


"Maaf, Buk. Mas Raksa kayak gini karena nolongin Kalin," kata Kalin ngerasa bersalah.


"Nggak, nggak! bukan karena nolongin kamu kok, kalin! Tapi Noh, karena bapak angrem bae di dalam mobil, padahal tau anaknya lagi digebukin. Katanya jawara tapi anaknya digebukin diem aja!" Raksa nyalahin bapaknya.


"Jangan dusta kamu, Raksa! kan kamu sendiri yang bilang kalu bapak disuruh diem aja. Biar kamu yang keluar," pak Hendra ternyata masih nyautin.


"Jawara apaan? naik pohon aja dia takut! jangan percaya kamu sama omongan bapak!" kata bu Selvy.


"Hadeeuuuh, percuma ah ngebela diri," ucap pak Hendra yang lanjut tidur.


Sedangkan Farid yang ngeliat bu Selvy dateng dia langsung salim. Biasalah kalau sama orangtua ya langsung cium tangan, berikut juga dia mau carmuk gitu.


"Baru dateng, Tante?"


"Itu teman Raksa, Buk!" ucap Raksa yang emang nggak pernah ngajak Farid main ke rumahnya.


"Farid," ucap Farid.


"Bapak bilang kamu yang pura-pura jadi Kalin ya? makasih ya, Farid! Berkat kamu, Kalin lolos bareng Nova," ucap Bu Selvy.


'Mulai deh cari muka, yeuuh kesempatan banget nih bocah!' batin Raksa ngeliat raut wajah sahabatnya itu.


"Ibu pusing mikirin kalian! astaga, sepanjang perjalanan, ibu mikirin kamu dan Kalin! masih untung kalian masih selamat," ucap bu Selvy.


Denger bapak Raksa sudah tidur, bu Selvy cuma geleng-geleng kepala. Bisa auto pules ketemu bantal.


"Kok pagi-pagi udah kesini? bukannya bapak pulangnya juga udah malem banget?"


"Iya ibu suruh langsung nganterin kesini!"


"Pantesan langsung merem!" Raka ngelirik bapaknya yang udah pules.


"Nova mana?" kok kalian hanya bertiga?" tanmya bu Selvy nyari anak gadisnya.


"Kalin liat sih maih tidur," ucap Kalin.


"Ck ck, astagaaa kelakuan banget tuh bocah!"


"Udahlah, Buk! biarin aja. Nova mungkin kecapean, karena kNova dateng ke villa ini juga tengah malem, jadi mungkin dia masih ngantuk..." Raksa tumben-tumbenan ngebelain si Nova, padahal Raksa tau kalau Nova emang udah malem banget tidurnya. Mungkin lagi galau. Soalnya kan tuh bocah ngambek soal Farid yang ternyata bantuin Rahmi buat balikan sama Raksa dan itu berarti si Farid ini ada niat buat nyakitin Kalin. Padahal Kalin ini sahabat Nova, jadi keselnya Nova sama Farid itu bukan karena ketemu Tania dan masih terpantau masih care sama tuh perempuan, tapi lebih ke perasaan jengkel karena Farid punya maksud merusak hubungan raksa dan juga Kalin.

__ADS_1


Mereka semua ngobrol di meja makan yang estetik banget dengan aksen-aksen kayu. Kitchen setnya emang di design secantik itu supaya tamu yang menyewa villa itu nyaman dan menyatu dengan alam.


"Ibu mau bikin apa? biar kalin buatkan minuman,"


"Udah nggak usah! kamu duduk aja.Ibu yang akan masak. Meja masih bersih begini, kalian pasti belum pada makn, kan?" tanya bu Selvy.


"Ngapain masak, Bu? kita makan di restorannya aja. Nggak usah bikin capek, Bu..." kata Raksa.


"Restorannya jauh. Lebih baik ibu masak,"


"Emang ibu ada bahan makanan?"


"Nggak ada sih!" ucap bu Selvy.


"Astagaa, udah ngotot endingnya juga nggak ada juga..." ucap Raksa.


"Nanti Raksa pesen aja pake telepon. Nanti aku suruh paket sarapan kita dianterin kesini. Udah ibu nggak usah masak. Ibu duduk aja yang nyaman..." kata Raksa.


"Udah biar gue aja yang pesen! lo temenin ibu lo aja," ucap farid yang langsung ke kamarnya ngambil ahpe, seklaian dia mau ngecek si Nova udah bangun apa belum.


"Tumben baek?" gumam Raksa, tapi nggak ditanggepin sama Farid.


"Kamu sama Kalin duduk aja, biar ibu bikinin kamu kopi. Kalin mau teh apa kopi, Sayang?"


"Nggak usah, Buk..."


"Ya udah teh aja kalau gitu, Buk..." kata Kalin.


Setelah membuatkan minuman yang hanya ada papper cup, Bu Selvy duduk di meja makan bareng anak dan menantunya.


"Makasih ya, Buk?" ucap Kalin dan Raksa kompak.


Ibu duduk dan memandang kedua naaknya itu.


"Ibu bangga sama kamu, Raksa. Meskipun kamu suka nyeleneh, tapi nyatanya kamu bisa melindungi istri kamu. Ibu kira, ucapan kamu yang bilang akan menjaga Kalin hanya ucapan remeh yang nggak ada artinya. Tapi ternyata kamu memang menjaga istrimu dengan baik. Ibu bangga sama kamu, itu baru namanya laki-laki, itu baru anak ibuk..." ucap bu Selvy.


Raksa menikmati kopi buatan ibunya, rasanya sama seperti biasanya, enak dan manis nggak berlebihan.


"Iya lah, Bu. Raksa udah bertekad buat jagain Kalin. Kalau nggak, Raksa nggak mungkin ikut kesana. Cuma kadang yang namanya anak muda suka ngeyel kalau dibilangin," kata Raksa yang ngelirik ke arah Kalin.


"Ya sama kayak Nova. Makanya sebagai suami, kamu harus bimbing istri kamu. Bukan dengan debat tapi dengan kasih sayang," kata bu Selvy yang tetep belain anak menantu.


"Tuh?!!" Kalin setuju dengan ibu mertuanya.


Dan sekarang Raksa milih diam, karena kalau dia ngomong lagi, bakal dibabat habis sama ibunya. Dia nggak akan menang melawan orang paling berkuasa di rumahnya. Bapaknya aja kalah, apalagi dia? bisa dibilang durhaka nanti yang ada.


"Kamu pasti takut banget ya, Sayang?" ucap bu Selvy ngeliat Kalin lebih kurus dari terakhir dia ketemu.

__ADS_1


"Kamu sampai kurus begini," lanjutnya.


"Kurus?" gumam Raksa.


"Iya, liat wajahnya aja kayak orang begadang berapa malam, mukanya pucet," ucap Kalin.


Lalu otak Raksa langsung terbang pada kegiatan yang beberapa kali mereka lakukan dan membuat mereka lupa makan dan minum.


"Uhukk!" Raksa terbatuk seketika, dia ngeliat ke arah lain. Takut kegiatannya itu terbongkar.


"Kamu nggakl;agi hamil kan, Kalin?" tanya ibuk yang random banget.


"H-hamil?" Kalin tergagap. Dia melihat ke arah suaminya.


"Ya nggak mungkin lah---" Raksa menyerobot.


"Kenapa nggak mungkin? kalian sudah menikah, hayoo?"


"Ya nggak ada yang nggak mungkin memang, tapi Kalin emang pucet? perasaan nggak? itu mungkin karena dia mengkhatirkan suaminya yang ngadepin penjahat!" kata Raksa mencoba mulai memutai haluan, biar pikiran ibunya jangan ke arah situ.


"Oh ya, ngomong-ngomong soal penjahat. Apa benar itu adalah bos kamu di kantor, Raksa?" tanya bu Selvy.


'Alhamdulillah, amaaan amaaan!' batin Raksa yang berhasil mengalihkan pembicaraan.


Kalin pun ngerasa sedikit lega, padahal dia juga ikutan deg-degan, meskipun mereka sudah suami istri. Tapi ditodong pertanyaan seperti itu ya tetep aja nggak siap.


"Heh, Raksa! ditanya orangtua kok nggak jawab malah bengong! kamu ini gimana sih?"


"Buk? Raksa baru aja kena tonjok sana sini loh, ibu marah-marah mulu. Kasian dikit sama anak kenapa sih, Bu?" ucap Raksa.


"Jadi emang bener, orang jahat dibalik penyerangan Kalin itu ya bos Raksa di kantor, namanya pak galang. Tapi sasarannya itu Kalin, karena Kalin anak dari ayah Diki... argh, kalau diceritain mah panjang, Buk! 200 episode juga nggak akan kelar! intinya pak Galang itu ada hubungan sama saudara kembarnya tante Lia, namanya tante Athalia. Yang ternyata sudah meninggal dan pak Galang ini salah sangka, dikira tante Lia ini tante Atha yang udah ninggalin dia dan milih menikah dengan orang lain..." lanjutnya.


"Intinya karena dendam masa lalu?" serobot bu Selvy.


"Tah eta, betoel!" ucap Raksa yang kemudian minum kopinya lagi.


"Temen kamu pesen makanan udah belum? ibu kok udah laper makanan nggak nyampe-nyampe?" tanya ibuk.


"Ntar raksa cek. Ibu sama Kalin disini aja," ucap Raksa yang bangkit dari kursinya dan jalan ke arah depan.


"Buseetttt, pantesan pesenan sarapan kagak dateng-dateng ternyata yang pesen lagi tebar pesona sama adek gueeee?" sindir raksa yang ngeliat Farid lagi ngobrol di depan sama Nova yang mukanya masih bete.


"Kamu darimana, Nov?" tanya Raksa yang ngeliat Nova udah nongol aja, padahal dia kira tuh bocah masih molor di kamarnya.


"Lari pagi!" ucap Nova yang sekarang buka sepatu dan mlengos ke kamarnya.


"Jutek amat tuh bocah?" gumama Raksa yang ngeliat adeknya ngeloyor gitu aja.

__ADS_1


"Ck! ganggu aja lo!" gumam Farid ikutan kesal.


__ADS_2