Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Sebuah Misi


__ADS_3

"Aku mandi dulu ya? kamu disini aja, jangan kemana-mana..." perintah Raksa sebelum masuk ke kamar mandi.


"Emang aku mau kemana?" gumam Kalin saat melihat secepat kilat Raksa sudah menyampirkan handuk di pundaknya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Kalin mengganti bajunya dan rebahan aja di kasur, sambil merrmin mata bentar. Rasanya perbedaan suhu dan waktu membuatnya sedikit pusing.


"Bisa-bisanya gue nginep disini? pasti Oma ngarepinnya macem-macem. Mana mau dibikinin ramuan? emang kita hidup di jaman kerajaan?" Kalin ngoceh sedangkan matanya tetap terpejam.


Suara gemericik air dari shower membuat Kalin malah tambah ngantuk. Sedangkan Raksa di dalam menyamber handuknya dan mulai mengeringkan badannya yang butuh istirahat.


Ketika dia keluar, dia melihat Kalin tidur lagi.


"Ya ampun, nempel bantal sebentar aja udah molor bini gue!" ucap Raksa yang kemudian mengunci pintu.


Dia mulai berganti pakaian, dan ikut bergabung satu selimut dengan Kalin. Baandnya yang udah seger, membuatnya sedikit mengantuk. Tapi baru saja memejamkan matanya, pikiran Raksa malah kepikiran orang yang disinyalir mengikuti dia.


'Satu-satunya orang yang dendam sama ayah kan pak Galang, orangnya juga udah tobat. Udah nikah malah sama tante Atha. Masa iya pak Galang mau berbuat jahat lagi? apa yang pak Galang rencanakan?' gumam Raksa.


'Atau itu hanya perasaan gue aja?' lanjutnya yang masih terus berpikir.


'Tapi apapun itu, gue nggak boleh lengah. Untuk sementara biar ini menjadi rahasia, gue nggak kasih tau Kalin dulu, gue nggak mau Kalin malah ketakutan. Aku bakal bicarain ini berdua sama ayah,' batin Raksa.


Mencium aroma bantal guling hidupnya, kaki Kalin sontak naik, dan memeluk Raksa seperti memeluk guling kesayangan.


Dan pelukan Kalin pun membuat Raksa ikutan terlelap juga.


Sementara di dapur, Oma menjadi komando bik Rusmi untuk membuat sebuah ramuan mujarab.


"Mama lagi bikin apa?" tanya bunda Lia.


"Nggak tau! katanya sih ramuan..."


"Ramuan? ramuan apa?" bu Selvy pun ikut nimbrung.


Jadi, sewaktu Kalin dan Raksa dipanggil ke kamar Oma, sebenernya bunda Lia dan bu Selvy beserta suami mereka juga ikutan ke rumah tante Atha.


Tapi berhubung si cucu disuruh langsung istirahat setelah dari kamar Oma, jadi ya bunda Lia dan juga bu Selvy nggak bisa ngajak ngobrol-ngobrol lagi. Padahal mereka masih kangen. Apalagi bu Selvy yang udah bertahun-tahun hanya bia amelihat wajah sang anak dari layar hape.


"Ramuan apa sih, Ma?" tanya bunda lia pada Oma Nilam yang duduk di kursi roda.


"Ramuan supaya Kalin bisa ngasih Mama cicit!" jawab Oma Nilam.


Bunda dan bu Selvy pun saling pandang.


"Kenapa ekspresi kalian seperti itu? jangan-jangan kalian ini nggak pengen punya cucu?" tuduh Oma Nilam.


"Eh, nngggak, Mah! kami hanya kaget kok Mama sampai kepikiran kesitu..." kata bunda Lia.

__ADS_1


"Ya jelas. mama itu nggak setuju kalau Klain sama Raksa itu menunda memiliki momongan!"


"Ya kan waktu itu kan Kalin masih kuliah,"


"Loh loh loh, Kalin menunda kehamilan? memangnya Kalin memakai kontrasepsi?" tanya bu Selvy yang baru tau kalau anak dan menantunya itu menunda mempunyai anak.


"Nggga, Jeng nggak! Kalin itu nggak pakai alat kontrasepsi, nggak sama sekali!"


Dan akhirnya bunda Lia cerita perjanjian yang dilakukan Raksa dengan ayah Diki. Kalau ayah Diki akan memberikan Kaln ijin kuliah di luar negeri dengan syarat Kalin nggak punya anak dulu. Bukan krena apa-apa, waktu itu Klain menikah di usia 18 tahun, masih rentan untuk mengandung dan melahirkan. Dan kalau saja Kalin itu sampai hamil, ya mereka sih nggak akan marah. Orang pernikahan Raksa cepat atau lambat juga bakal terlaksana, hanya saja ayah Diki pengennya Kalin bisa fokus kuliah dulu. Sekalian menguji cinta Raksa pada Kalin, karena hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan ego. Dan sekarang terbukti kalau Raksa bisa menepati janji itu, Klain sudah lulus kuliah bahkan sangat berprestasi disana.


Bu Selvy sampe geleng-gelenmg kepala, "Saya kecewa loh, Jeng!" ucapnya.


"Maksud kami bukan---"


"Kalian itu egois loh! hanya untuk menguji cinta anak saya pada Kalin, kalian sampai menyiksa anak saya seperti itu..." bu Selvy nggak bisa menahan air matanya.


"Bagaimana bisa? Raksa menikah tapi nggak menyentuh Kalin sama sekali? ini nggak bisa diterima..." lanjutnya, dia bisa merasakan kesulitan yang dialami Raksa selama bertahun-tahun.


"Sudah jangan terbawa emosi, Selvy! makanya kamu nurut sama saya!" ucap Oma Nilam tegas. Meskipun sudah sepuh, tapi aura tegas Oma NIlam masih terpancar. Sedangkan tante Atha memegang lengan saudari kembarnya supaya jangan ngomong apapun, udah diem dulu katanya.


"sudah jadi, Oma..." ucap Bik Rusmi.


"Ambilokan satu cangkir!" suruh Oma Nilam.


Bik Rusmi nggak berani membantah, dia bergegas mengambil satu cangkir  ramuan berwarna merah kecoklatan itu dan menaruhnya di meja saji.


"Lihat Selvy! ini ramuan yang akan membawa kebahagiaan untuk anak kamu dan cucu ku. Kamu menginginkan anakmu bahagia bukan?"


Bu Selvy menghapus air matanya yang sempat tumpah, dia mengangguk.


"Saya sudah membuat satu panci besar itu. Ini akan membangkitkan kebahgiaan Raksa dan Kalin. ramuan ini akan menyuburkan mereka. seperti tanaman yang selalu diberi pupuk dan juga air..." kata Oma Nilam.


"Kamu berada di pihakku bukan?" lanjut Oma bertanya.


"Iya, Oma!" ucap Bu Selvy.


"Bagus! jadi tugasmu adalah membuat Raksa dan Kalin sama-sama minum ramuan ini! bagaimanapun caranya!"


"Dan kamu Lia! awas saja kalau kamu menghalangi  rencana Mama!"


"Ya ampun, Mama! aku bukannya---"


"Shyyyuut diam!" Oma Nilam keliatan marah dengan salah satu anaknya.


Dan kalau udah begini, tante Atha ngeri-ngeri sedap, "Mahh, kontrol emosi, Ma. Ingat darah tinggi Mama..." ucap tante Atha lembut.


"Selvy! antar saya ke kamar!" ucap Oma NIlam menyuruh besan anaknya itu buat ngedorong kursi rodanya menuju kamar.

__ADS_1


"Jangan kalian apa-apakan ramuanku! atau kalian akan menyesal!" ancam Oma NIlam.


"Rusmi! tunggu ramuan itu dingin dan segera di packing untuk dikirim ke rumah Selvy!" perintah Oma Nilam.


Dan dengan gerakan tangannya Oma menyuruh ibu dari Raks aitu mendorong kursi rodanya, rasanya dia sudah lelah ingin beristirahat. Sesampainya di kamar, bu Selvy membantu Oma untuk pindah dari kursi roda ke tempat tidur. Oma ini tidur di lantai satu, jadi memudahkan dia untuk bermobilisasi dan sebenernya dia sendiri bisa menggerakkan kursi roda yang memiliki sensor di bagian tangannya.


"Sudah nyaman, Oma?" tanya bu Selvy.


"Ya, sudah!"


"Jadi bagaimana, Oma?" tanya bu Selvy.


"Kita harus bersatu untuk menuntaskan misi membuat cucu dan cicit ini. Saya yakin kamu bisa diandalkan. Untuk malam ini biarkan Raksa dan Kalin menginap di rumah ini, dan besok akan saya kirimkan mereka ke rumah kamu. Dan tugasmu harus memastikan mereka menghabiskan seluruh ramuan yang sudah dibuat tadi. Semua ramuan akan di packing dalam botol, kamu tinggal taruh saja di kulkas. Syukur-syukur Kalin bisa hamil sebelum ramuan itu habis..." kata Oma.


"Siap, Oma!" ucap bu Selvy dengan semangat yang membara.


Sedangkan di dapur bunda LIa jadi bingung sendiri, "Bagaimana Atha? bu Selvy sepertinya marah banget sama aku..."


"Sudahlah. Biarkan saja, nanti juga baik lagi. Wajar dia marah, dia membayangkan anaknya menikah dengan Kalin, tapi dia tersiksa dengan pernikahan itu..."


"Tapi pernikahan itu Raksa sendiri yang menghendaki, memang kita menjodohkannya tapi---"


"Sudahlah, Lia! nggak usah terlalu dipikirin, nanti bu Selvy juga baik lagi kok..." kata tante Atha mencoba menenangkan saudari kembarnya.


"Sayang?"panggil seorang pria pada tante Atha.


"Udah pulang? katanya tadi mau meeting sampai malam?"


tante Atha berjalan mendekat pada suaminya yang sehabis menjemput Raksa dan Kalin di bandara, terus langsung pergi ke kantor, katanya ada meeting dadakan.


Pak Galang menggeleng, "Ternyata meetingnya diundur, pak Steven berhalangan hadir. Istrinya sedang sakit..."


"Oh begitu...."


"Kamu kenapa, Lia? kenapa muka kamu seperti itu?" pak galang melihat ke adik iparnya.


"Nggak kenapa-napa. Aku mau ke depan," ucap bunda Lia yang kemudian membawakan dua mangkok bubur kacang untuk suaminya dan juga pak Hendra yang lagi main catur.


Sementara pak galang nanya sama istrinya, "Kenapa Lia?"


"Mau tau aja urusan perempuan?!" ucap tante Atha yang menggandeng suaminya menuju kamar yang ada di lantai bawah.


Kenapa kamarnya juga di lantai bawah, alasannya supaya bisa cepet dateng kalau Oma Nilam butuh sesuatu, kalau dia tidur di lantai atas takutnya kalau ibunya butuh sesuatu dia malah lama datengnya. Meskipun tante Atha sudah ada suster pribadi yang tugasnya menjaga ibunya, tapi tetap saja yang namanya anak pasti ingin menjaga ibunya palagi Oma nIlam sudah sangat tua.


Sementara Kalin dan Raksa masih tidur pulas, namun karena lapar, perut Kalin berbunyi. Dia membuka matanya dan melihat dirinya yang memeluk Raksa dengan sangat posesif. kalin baru saja menurunkan kakinya dari pinggang Raksa, tapi pria itu ternyata mengeratkan pelukannya lagi, seakan nggak mau terpisah dari istrinya.


'Kalau kayak gini gue bisa lemes karena kelaperan!' Kalin memberontak di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2